Berbagai Kepedihan dan Penderitaan di Jalan Risalah di Makkah
Bagaimana sebuah kebenaran dilawan ketika ia mulai mengguncang kepentingan orang-orang yang selama ini menikmati kekuasaan?
Tidak selalu dengan pedang.
Tidak selalu dengan kekerasan terbuka.
Sering kali, perang dimulai dari kata-kata.
Sebuah tuduhan dilemparkan. Sebuah berita direkayasa. Sebuah persepsi dibentuk. Kemudian masyarakat diarahkan untuk membenci seseorang sebelum mereka sempat mendengar apa yang sebenarnya ia sampaikan.
Demikianlah salah satu bentuk penderitaan yang dihadapi Rasulullah ﷺ di Makkah.
Ketika dakwah tauhid mulai mengguncang fondasi kemusyrikan dan kepentingan para pembesar Quraisy, mereka tidak hanya menghadangnya secara langsung. Mereka juga membangun perang propaganda untuk menjauhkan masyarakat dari Rasulullah ﷺ dan dari Al-Qur'an.
Allah menggambarkan ucapan mereka:
«وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Orang ini adalah pesihir yang banyak berdusta.’”
(QS. Shad: 4)»
Perhatikan tuduhannya:
penyihir dan pendusta.
Mengapa dua label itu dipilih?
Karena mereka ingin menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada pembawa risalah sebelum masyarakat memberikan kesempatan kepada risalah itu untuk berbicara.
Padahal, siapa yang mereka tuduh?
Muhammad bin Abdullah.
Orang yang telah mereka kenal selama puluhan tahun.
Mereka mengetahui kejujurannya. Mereka mengetahui amanahnya. Mereka mengetahui akhlaknya.
Lalu, mengapa tiba-tiba orang yang selama ini dikenal jujur disebut pendusta?
Karena persoalannya bukan lagi tentang karakter Muhammad ﷺ.
Persoalannya adalah kepentingan yang terancam oleh risalah Muhammad ﷺ.
---
1. Ketika Kebenaran Mengancam Kepentingan
Para pembesar Quraisy sebenarnya memahami bahwa seruan Muhammad ﷺ bukanlah perkara kecil.
Seruan beliau bukan sekadar mengajak masyarakat mengganti satu ritual dengan ritual lainnya.
Beliau menyerukan:
Tidak ada Tuhan selain Allah.
Seruan ini tampak sederhana.
Namun, mengapa mereka begitu terguncang?
Karena tauhid bukan hanya mengubah cara manusia menyembah.
Tauhid juga menghancurkan berbagai legitimasi palsu yang dibangun di atas kemusyrikan.
Ketika manusia hanya tunduk kepada Allah, kepada siapa lagi ia harus tunduk secara mutlak?
Ketika manusia menyadari bahwa semua manusia sama-sama hamba Allah, lalu apa dasar kesombongan para pembesar?
Karena itu, mereka berkata:
«أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”
(QS. Shad: 5)»
Perhatikan nada keheranan mereka.
“Tuhan-tuhan menjadi satu?”
Bagi mereka, justru tauhidlah yang dianggap aneh.
Padahal dari sudut pandang fitrah, bukankah menyembah satu Tuhan jauh lebih sederhana daripada menyembah banyak tuhan?
Namun, ketika sebuah masyarakat telah lama hidup di atas tradisi tertentu, sesuatu yang benar dapat terlihat asing hanya karena ia bertentangan dengan kebiasaan.
Di sinilah propaganda bekerja.
Ia tidak perlu membuktikan bahwa kebatilan itu benar.
Cukup membuat kebenaran tampak asing.
Cukup membuat orang takut mendengarnya.
Cukup membuat masyarakat sibuk mempertahankan sesuatu hanya karena ia merupakan warisan nenek moyang.
---
2. “Berpeganglah pada Tuhan-Tuhan Kalian”
Para pembesar Quraisy kemudian berusaha membentuk opini masyarakat.
Mereka mengatakan:
«أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ»
“Berjalanlah dan bersabarlah terhadap tuhan-tuhan kalian. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang dikehendaki.”
Pesan tersiratnya jelas:
Jangan dengarkan Muhammad. Jangan pertanyakan tradisi. Jangan mencari lebih jauh. Tetaplah bersama keyakinan yang telah diwariskan kepada kalian.
Mengapa?
Karena masyarakat yang mulai bertanya adalah masyarakat yang mulai sulit dikendalikan.
Masyarakat yang mulai mencari kebenaran dengan pikirannya sendiri dapat menemukan kebatilan yang selama ini disembunyikan di balik tradisi.
Bukankah ini salah satu ciri tirani?
Tirani tidak selalu takut kepada orang yang melawan dengan kekuatan.
Kadang-kadang tirani lebih takut kepada orang yang mulai berpikir.
Sebab ketika manusia mulai bertanya:
“Mengapa saya harus percaya?”
“Apa buktinya?”
“Benarkah yang selama ini kita lakukan?”
maka bangunan kebatilan mulai kehilangan fondasinya.
---
3. Mengalihkan Masyarakat dari Pencarian Kebenaran
Inilah salah satu pola propaganda yang berulang dalam sejarah.
Ketika para penguasa atau pembesar tidak mampu menjawab substansi sebuah gagasan, mereka mengalihkan perhatian masyarakat dari gagasan tersebut.
Jangan bahas pesannya.
Serang pembawanya.
Jangan periksa kebenarannya.
Berikan label kepadanya.
Jangan biarkan masyarakat berpikir.
Buat mereka takut.
Pola seperti ini bukan hanya terjadi di Makkah.
Ia dapat muncul kapan saja ketika sebuah kepentingan merasa terancam oleh kebenaran.
Sebab bagi orang-orang yang hidup dari kebatilan, masyarakat yang mulai memahami hakikat merupakan ancaman.
Kebenaran yang dipahami masyarakat akan membuka kebatilan.
Dan ketika kebatilan tersingkap, kekuasaan yang dibangun di atasnya pun mulai goyah.
---
4. Al-Qur'an Bukan Syair dan Bukan Perdukunan
Setelah gagal menghentikan dakwah dengan cara tersebut, mereka mencoba memberikan label lain kepada Al-Qur'an dan Rasulullah ﷺ.
Mereka menyebut beliau penyair, dukun, bahkan penyihir.
Mengapa label-label tersebut terasa masuk akal bagi sebagian masyarakat Arab saat itu?
Karena masyarakat mengenal penyair dan dukun sebagai orang-orang yang dianggap memiliki hubungan dengan dunia gaib.
Penyair dianggap memperoleh inspirasi dari jin.
Dukun dianggap memiliki hubungan dengan jin dan memperoleh informasi tersembunyi melalui mereka.
Maka, ketika masyarakat mendengar perkataan Al-Qur'an yang sangat kuat dan berbeda dari perkataan manusia biasa, mereka mencoba memasukkannya ke dalam kategori yang telah mereka kenal.
Namun, apakah Al-Qur'an benar-benar seperti syair?
Al-Qur'an menjawab:
«“Dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-Haqqah: 41–43)»
Perbedaannya sangat mendasar.
Syair dapat menggambarkan perasaan.
Dapat menggugah emosi.
Dapat menghadirkan keindahan.
Namun Al-Qur'an membawa sesuatu yang jauh lebih luas:
pandangan hidup.
Ia berbicara tentang Tuhan, manusia, alam semesta, kehidupan, kematian, moralitas, masyarakat, sejarah, akhirat, dan tujuan keberadaan manusia.
Ia tidak sekadar menggugah perasaan.
Ia membentuk cara manusia memandang seluruh kehidupan.
---
5. Syair Menggambarkan Perasaan; Al-Qur'an Membentuk Pandangan Hidup
Perasaan manusia berubah.
Hari ini seseorang bahagia.
Besok ia sedih.
Hari ini ia mencintai.
Besok ia mungkin marah.
Hari ini ia memuji.
Besok ia mungkin mencela.
Syair sering kali bergerak mengikuti gelombang emosi tersebut.
Tetapi Al-Qur'an membawa konsepsi yang konsisten tentang kehidupan.
Ia tidak berubah karena manusia sedang senang atau sedih.
Ia tidak berubah karena manusia sedang mencintai atau membenci.
Ia membawa satu pandangan yang utuh tentang:
siapa Allah,
siapa manusia,
apa itu kehidupan,
mengapa manusia diciptakan,
ke mana manusia akan kembali,
dan
bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya.
Karena itu, perbedaan antara Al-Qur'an dan syair bukan hanya persoalan gaya bahasa.
Perbedaannya terletak pada sumber, tujuan, dan konsepsi yang dibawanya.
---
6. Al-Qur'an Membuka Cakrawala Alam Semesta
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an berbicara tentang ilmu Allah:
«“Dan pada-Nya kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya...”
(QS. Al-An'am: 59)»
Kemudian:
«“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana...”
(QS. Al-Hadid: 4)»
Dan:
«“Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya...”
(QS. Fatir: 11)»
Apa yang sedang dilakukan Al-Qur'an?
Ia sedang mengajak manusia melihat kehidupan dalam cakrawala yang sangat luas.
Daun yang jatuh.
Benih yang tersembunyi di dalam tanah.
Air yang turun dari langit.
Sesuatu yang naik menuju langit.
Kehidupan manusia sejak dalam kandungan.
Semua berada dalam pengetahuan Allah.
Ini bukan sekadar rangkaian kalimat indah.
Ia adalah pandangan menyeluruh tentang alam semesta yang berpusat pada tauhid.
---
7. Dari Daun yang Gugur hingga Langit yang Tegak
Al-Qur'an juga mengarahkan perhatian manusia kepada kekuasaan Allah dalam menjaga alam semesta:
«“Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap...”
(QS. Fatir: 41)»
Kemudian Al-Qur'an mengajak manusia memperhatikan siklus kehidupan:
«“Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir dan biji. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup...”
(QS. Al-An'am: 95)»
Allah menjadikan malam untuk beristirahat, matahari dan bulan sebagai perhitungan, bintang-bintang sebagai petunjuk dalam kegelapan darat dan laut, menciptakan manusia dari satu jiwa, serta menurunkan air dari langit yang menghidupkan berbagai tumbuhan.
Lalu Al-Qur'an berkata:
«“Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak.”»
Perhatikan.
Bukan sekadar lihat.
Perhatikan.
Renungkan.
Hubungkan.
Temukan tanda-tanda kekuasaan Allah di balik apa yang setiap hari kita lihat.
Inilah salah satu karakter penting Al-Qur'an.
Ia tidak hanya memberi manusia informasi.
Ia mendidik cara manusia memandang realitas.
---
8. Tuduhan Mereka Semakin Lemah
Semakin Al-Qur'an turun, semakin sulit tuduhan bahwa ia adalah syair atau perkataan dukun dipertahankan.
Sebab bahkan ketika Al-Qur'an belum sempurna diturunkan, ayat-ayat yang telah turun sudah memperlihatkan karakter yang berbeda.
Ia berbicara tentang tauhid.
Ia membangun akhlak.
Ia membongkar kesyirikan.
Ia menjelaskan sejarah umat terdahulu.
Ia membentuk pandangan tentang kehidupan dan akhirat.
Ia mengarahkan manusia kepada perubahan moral dan sosial.
Maka persoalan sebenarnya bukan lagi:
“Apakah Al-Qur'an seperti syair?”
Tetapi:
“Apakah mereka bersedia menerima kebenaran yang dibawanya?”
Dan di sinilah masalah sesungguhnya.
Bukan kurangnya bukti.
Melainkan kepentingan yang membuat mata enggan melihat.
---
9. Ketika Kepentingan Membutakan
Para pembesar Quraisy berulang kali berusaha mencari penjelasan untuk menolak Al-Qur'an.
Namun, tujuan telah menguasai mereka.
Ketika seseorang telah menjadikan kepentingan sebagai tujuan utama, fakta dapat menjadi sesuatu yang mengganggu.
Ia tidak lagi bertanya:
“Apa yang benar?”
Ia bertanya:
“Bagaimana agar kepentinganku tetap selamat?”
Inilah yang membuat propaganda menjadi berbahaya.
Propaganda tidak selalu bertujuan membuat kebohongan tampak benar.
Kadang-kadang tujuannya hanya satu:
mencegah manusia menemukan kebenaran.
---
10. Abu Lahab: Propaganda yang Menyerang dari Dekat
Jika para pembesar Quraisy menggunakan berbagai bentuk propaganda, Abu Lahab adalah salah satu contoh paling nyata.
Ia bukan orang jauh.
Ia adalah paman Rasulullah ﷺ.
Namanya Abdul 'Uzza bin Abdul Muththalib.
Ia dikenal dengan nama Abu Lahab karena wajahnya yang cerah.
Namun kedekatan hubungan keluarga tidak membuatnya menerima dakwah Rasulullah ﷺ.
Sebaliknya, ia termasuk orang yang paling keras memusuhi beliau.
Mengapa ini penting?
Karena terkadang penderitaan terbesar bukan datang dari orang asing.
Ia justru datang dari orang yang paling dekat.
Orang yang mengetahui siapa diri kita.
Orang yang mengetahui masa lalu kita.
Orang yang seharusnya menjadi pelindung.
Tetapi ketika kepentingan bertabrakan dengan kebenaran, hubungan darah pun tidak selalu mampu mengalahkan kesombongan.
---
11. Abu Lahab Mengikuti Rasulullah untuk Membantahnya
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ mendatangi berbagai kabilah dan mengajak mereka menyembah Allah, Abu Lahab mengikuti beliau dari belakang.
Rasulullah ﷺ menyeru:
«“Wahai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian. Aku memerintahkan kalian agar menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”»
Tetapi setelah Rasulullah ﷺ selesai berbicara, Abu Lahab segera menyusul dengan pesan yang berlawanan.
Ia berusaha meyakinkan masyarakat agar tidak mendengarkan Muhammad ﷺ dan menuduh dakwah beliau sebagai kesesatan.
Bayangkan situasinya.
Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan.
Abu Lahab langsung membayangi pesan itu dengan pesan tandingan.
Inilah propaganda dalam bentuk yang sangat sederhana:
jangan biarkan masyarakat mendengar satu suara terlalu lama.
Jika Muhammad ﷺ mengatakan A, Abu Lahab segera mengatakan B.
Jika Rasulullah ﷺ membangun kepercayaan, Abu Lahab berusaha merusaknya.
Jika Rasulullah ﷺ menyeru kepada tauhid, Abu Lahab menakut-nakuti masyarakat dengan kehilangan tuhan-tuhan mereka.
---
12. Surat Al-Lahab: Ketika Propaganda Berbalik Menjadi Aib
Allah kemudian menurunkan Surah Al-Lahab:
«تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!”
مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
“Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.”
سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.”
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
“Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.”
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ
“Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”
(QS. Al-Lahab: 1–5)»
Abu Lahab telah mendeklarasikan perang terhadap dakwah.
Tetapi Allah menjawab perang itu dengan wahyu.
Ia ingin mempermalukan Rasulullah ﷺ.
Namun justru dirinya yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai simbol permusuhan terhadap risalah.
Ia ingin menjatuhkan nama Muhammad ﷺ.
Tetapi yang tercatat dalam sejarah justru adalah kehinaan Abu Lahab.
Bukankah ini sebuah ironi yang luar biasa?
Orang yang ingin menghapus dakwah justru namanya menjadi bagian dari sejarah dakwah itu sendiri.
---
13. “Tidak Berguna Hartanya”
Allah berfirman:
«مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ»
“Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.”
Abu Lahab memiliki kekayaan.
Ia memiliki kedudukan.
Ia memiliki keluarga.
Ia memiliki jaringan sosial.
Namun, apa gunanya semua itu ketika digunakan untuk memerangi kebenaran?
Ayat ini menyentuh satu prinsip penting:
kekayaan bukan ukuran keselamatan manusia.
Harta dapat menjadi kekuatan.
Tetapi harta tidak dapat membeli kebenaran.
Harta dapat membangun pengaruh.
Tetapi harta tidak dapat membeli keselamatan akhirat.
Harta dapat digunakan untuk membela kebenaran.
Namun ketika digunakan untuk memerangi kebenaran, harta itu justru dapat menjadi saksi yang memberatkan pemiliknya.
---
14. Ummu Jamil: Propaganda yang Disertai Fitnah
Abu Lahab tidak sendirian.
Istrinya, Ummu Jamil, juga terlibat aktif dalam memusuhi Rasulullah ﷺ.
Allah menyebutnya:
«حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
“Pembawa kayu bakar.”»
Ungkapan ini dapat dipahami secara literal maupun sebagai gambaran metaforis tentang seseorang yang membawa keburukan, fitnah, dan permusuhan.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa ia membawa duri dan meletakkannya di jalan yang biasa dilalui Rasulullah ﷺ.
Rumah mereka bahkan berdekatan dengan rumah Rasulullah ﷺ.
Bayangkan tekanan psikologisnya.
Gangguan bukan datang sesekali dari tempat yang jauh.
Ia datang dari lingkungan terdekat.
Setiap hari.
Terus-menerus.
Tanpa gencatan.
Namun Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan dakwah.
---
15. Boikot dan Tekanan terhadap Bani Hasyim
Ketika Bani Hasyim di bawah kepemimpinan Abu Thalib sepakat melindungi Rasulullah ﷺ—meskipun tidak seluruhnya mengikuti agama beliau—Abu Lahab justru mengambil posisi berlawanan.
Ia bergabung dengan Quraisy dalam upaya menekan Bani Hasyim.
Mereka membuat kesepakatan untuk melakukan pemboikotan agar Bani Hasyim menyerahkan Muhammad ﷺ.
Tujuannya jelas:
tekan keluarganya, isolasi dirinya, dan buat dakwahnya berhenti.
Bahkan, sebelum kerasulan, Abu Lahab pernah memiliki hubungan keluarga dengan Rasulullah ﷺ melalui pernikahan anak-anak mereka.
Namun setelah Rasulullah ﷺ membawa risalah, ia memerintahkan kedua putranya menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Tekanan itu diarahkan bukan hanya kepada Rasulullah ﷺ secara pribadi.
Ia juga diarahkan kepada keluarga beliau.
---
16. Surat Al-Lahab: Balasan yang Selaras dengan Perbuatan
Perhatikan susunan Surah Al-Lahab.
Abu Lahab memerangi Rasulullah ﷺ dengan kebencian.
Allah menyatakan kebinasaannya.
Ia mengandalkan harta dan usahanya.
Allah menegaskan bahwa semua itu tidak akan menyelamatkannya.
Ia dan istrinya menyebarkan permusuhan.
Allah menggambarkan istrinya sebagai pembawa kayu bakar.
Ia mengikat dan membawa kayu.
Allah menggambarkan tali sabut pada lehernya.
Ada semacam keselarasan antara perbuatan dan balasan.
Kayu bakar.
Api.
Tali.
Leher.
Semua terhubung dalam satu gambaran yang kuat.
Bukan sekadar informasi tentang azab.
Tetapi sebuah gambaran yang membuat pembaca seolah-olah melihat akibat dari permusuhan itu.
---
17. Kekuatan Bahasa Al-Qur'an
Surah Al-Lahab juga menunjukkan kekuatan ekspresi Al-Qur'an.
Lima ayat yang sangat pendek mampu menghadirkan suasana yang kuat.
Ada bunyi kata yang keras.
Ada pengulangan.
Ada gambaran api.
Ada kayu bakar.
Ada tali.
Ada gerakan.
Semua berpadu membentuk suasana yang sesuai dengan tema surat.
Seakan-akan kata-katanya sendiri menggambarkan kerasnya permusuhan dan akibat yang menunggu pelakunya.
Inilah salah satu keistimewaan bahasa Al-Qur'an.
Ia bukan sekadar menyampaikan apa yang terjadi.
Ia juga menghadirkan suasana dari apa yang terjadi.
---
18. Ummu Jamil Datang dengan Kemarahan
Ketika mendengar ayat-ayat tersebut, Ummu Jamil datang mencari Rasulullah ﷺ.
Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ia datang ke Ka'bah ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ia membawa batu sebesar genggaman tangan.
Ia marah.
Ia merasa Rasulullah ﷺ telah mencemoohnya.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi.
Ia tidak dapat melihat Rasulullah ﷺ.
Yang tampak baginya hanyalah Abu Bakar.
Ia kemudian bertanya kepada Abu Bakar tentang “sahabatnya” dan mengancam akan memukul Rasulullah ﷺ jika menemukannya.
Abu Bakar kemudian bertanya:
“Tidakkah ia melihatmu?”
Rasulullah ﷺ menjawab bahwa Allah telah menghalangi pandangannya dari beliau.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa malaikat menjadi penghalang sehingga Ummu Jamil tidak melihat Rasulullah ﷺ.
---
19. Dari Cemoohan Menjadi Catatan Abadi
Ummu Jamil menganggap ayat-ayat tersebut sebagai bentuk penghinaan dan bahkan mengira Rasulullah ﷺ menyampaikannya dalam bentuk syair.
Tetapi Abu Bakar menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyair dan tidak mengucapkan syair.
Ada ironi yang mendalam di sini.
Ummu Jamil ingin membalas sebuah penghinaan.
Tetapi justru karena kemarahannya, ia semakin memperlihatkan betapa dalam permusuhannya terhadap Rasulullah ﷺ.
Ia ingin menghapus citra buruk dirinya.
Namun lima ayat Surah Al-Lahab justru mengabadikan perbuatannya dalam sejarah manusia.
Ia ingin membungkam dakwah.
Tetapi suaranya sendiri menjadi bagian dari kisah dakwah.
---
20. Ketika Propaganda Tidak Mampu Mengalahkan Kebenaran
Dari rangkaian peristiwa di Makkah ini kita menemukan satu pola yang sangat jelas.
Ketika kebenaran datang dan mengancam kepentingan yang telah mapan, akan muncul berbagai upaya untuk menghentikannya.
Pertama, beri label kepada pembawanya.
“Penyihir.”
“Pendusta.”
“Penyair.”
“Dukun.”
Kedua, buat masyarakat takut terhadap pesan yang dibawanya.
Ketiga, bangkitkan kembali fanatisme terhadap tradisi lama.
Keempat, serang keluarga dan lingkungan pendukungnya.
Kelima, gunakan tekanan sosial dan ekonomi.
Namun Rasulullah ﷺ tidak membalas propaganda dengan propaganda.
Beliau terus menyampaikan risalah.
Beliau terus membaca Al-Qur'an.
Beliau terus mengajak manusia kepada tauhid.
Karena kebenaran tidak membutuhkan kebohongan untuk mempertahankan dirinya.
---
Penutup: Jalan Risalah Memang Tidak Selalu Dihampari Kemudahan
Kita sering membayangkan bahwa jika seseorang membawa kebenaran, maka manusia akan segera menerimanya.
Sejarah Makkah mengajarkan hal yang berbeda.
Kebenaran dapat ditolak justru karena ia mengganggu kepentingan.
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling jujur di tengah masyarakatnya.
Namun beliau disebut pendusta.
Beliau membawa wahyu Allah.
Namun disebut penyihir dan dukun.
Beliau menyeru manusia kepada satu Tuhan.
Namun seruan tauhid dianggap sesuatu yang “sangat mengherankan”.
Beliau berdakwah dengan kasih sayang.
Namun dibalas dengan propaganda, penghinaan, pemboikotan, dan gangguan fisik.
Mengapa?
Karena masalah utama sering kali bukan pada kurangnya bukti, melainkan pada ketidakmauan menerima konsekuensi dari kebenaran.
Kebenaran menuntut perubahan.
Dan perubahan selalu mengancam mereka yang terlalu nyaman dengan keadaan lama.
Maka jalan risalah di Makkah memberikan sebuah pelajaran:
«Jangan mengukur kebenaran dari banyak atau sedikitnya orang yang menerimanya.»
Jangan pula mengira bahwa banyaknya propaganda berarti kuatnya sebuah argumen.
Kadang-kadang kebisingan propaganda justru merupakan tanda bahwa sebuah kebenaran mulai menyentuh sesuatu yang sangat sensitif.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa tugas pembawa risalah bukan memenangkan setiap perdebatan.
Tugasnya adalah menyampaikan kebenaran dengan teguh, sabar, dan amanah.
Sebab manusia dapat menutupi kebenaran dengan berita palsu.
Dapat mengelilinginya dengan ejekan.
Dapat menyerangnya dengan propaganda.
Tetapi mereka tidak pernah benar-benar mampu menghapus kebenaran itu sendiri.
Dan sejarah Abu Lahab menjadi salah satu buktinya:
orang yang ingin menghancurkan dakwah akhirnya justru dikenang sebagai salah satu contoh paling jelas tentang kegagalan melawan kebenaran dengan kebencian dan tipu daya.
0 komentar: