Ketika Janji kepada Allah Diperlakukan Main-Main
Al-Qur’an kemudian membawa kita kepada sebuah peristiwa yang memperlihatkan bagaimana Bani Israel menghadapi perjanjian mereka dengan Allah. Kisah ini bukan sekadar rekaman sejarah. Ia adalah cermin yang diarahkan kepada setiap generasi: bagaimana seharusnya manusia memperlakukan janji kepada Allah?
Allah berfirman:
> وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ
> “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa.’ Kemudian, kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu. Maka, kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”
(Al-Baqarah: 63–64)
Rincian perjanjian tersebut dijelaskan Al-Qur’an di berbagai tempat. Namun, yang penting untuk direnungkan di sini bukan sekadar rincian perjanjiannya.
Perhatikanlah gambaran yang diberikan Al-Qur’an.
Gunung diangkat di atas mereka.
Lalu mereka diperintahkan:
“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu.”
Seakan-akan ada hubungan yang sangat kuat antara beratnya gunung di atas kepala dan beratnya amanah di dalam hati.
Mengapa harus dengan kekuatan?
Mengapa harus dipegang teguh?
Karena perjanjian dengan Allah bukan permainan. Akidah bukan sesuatu yang dapat dilenturkan sesuai kepentingan. Ia bukan sesuatu yang dapat dicairkan ketika hawa nafsu menuntut, lalu ditegakkan kembali ketika keadaan menguntungkan.
Perjanjian dengan Allah adalah perkara serius.
Dan keseriusan itu mempunyai konsekuensi.
---
Akidah Tidak Boleh Dipermainkan
Bukankah manusia sering memperlakukan agama sesuai suasana hatinya?
Ketika agama mendukung kepentingannya, ia merasa dekat dengannya. Namun ketika agama menuntut pengorbanan, ia mulai mencari alasan.
Ketika syariat menguntungkan, ia menerimanya. Tetapi ketika syariat menghalangi keinginannya, ia mencoba menafsirkannya agar sesuai dengan hawa nafsunya.
Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan sebuah prinsip:
Akidah tidak boleh diperlakukan secara main-main.
Ia adalah perkara besar—bahkan lebih besar daripada seluruh kepentingan duniawi manusia.
Karena itu, seseorang yang menerima amanah iman harus menghadapinya dengan kesungguhan, kemauan keras, kesadaran terhadap konsekuensi, dan kebulatan tekad.
Bukankah Rasulullah ﷺ sendiri, ketika menerima tugas risalah, memasuki kehidupan yang jauh dari kehidupan santai sebelumnya?
Dikatakan kepada beliau:
> “Telah berlalu waktu tidur, wahai Khadijah.”
Dan Allah berfirman:
> إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
> “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”
(Al-Muzzammil: 5)
Perkataan yang berat.
Mengapa berat?
Karena wahyu bukan sekadar informasi untuk diketahui. Ia adalah amanah untuk dipikul, diyakini, diamalkan, dan disampaikan.
Maka Allah berfirman kepada Bani Israel:
> خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ
“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu.”
---
Bukan Sekadar Memegang, tetapi Mengingat
Namun ada sesuatu yang menarik.
Allah tidak hanya memerintahkan mereka untuk memegang teguh perjanjian. Allah juga berfirman:
> وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ
“Dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya.”
Mengapa?
Sebab kekuatan tanpa pemahaman dapat berubah menjadi sekadar keberanian kosong. Gengsi tidak sama dengan ketakwaan. Fanatisme tidak sama dengan ketaatan.
Maka manusia tidak cukup hanya memegang ajaran. Ia harus mengingat isinya, memahami hakikatnya, meresapinya, dan menjalankannya.
Perjanjian dengan Allah bukan sekadar ikatan formal.
Ia harus menjadi manhaj kehidupan.
Masuk ke dalam hati sebagai keyakinan.
Masuk ke dalam pikiran sebagai cara pandang.
Masuk ke dalam perasaan sebagai kesadaran.
Masuk ke dalam kehidupan sebagai aturan.
Masuk ke dalam perilaku sebagai adab dan akhlak.
Dan akhirnya mengantarkan manusia kepada:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.”
Inilah tujuan akhirnya.
Bukan sekadar memiliki kitab.
Bukan sekadar mengetahui hukum.
Bukan sekadar menghafal perjanjian.
Tetapi berubah menjadi manusia yang merasa selalu berada dalam pengawasan Allah.
---
Lalu Apa yang Terjadi?
Namun setelah semua itu?
Allah berfirman:
> ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ
“Kemudian, kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu.”
Betapa singkat kalimatnya.
Tetapi betapa dalam maknanya.
Mereka telah menerima perjanjian.
Mereka telah melihat tanda yang dahsyat.
Mereka telah diperintah memegang teguh wahyu.
Namun kemudian mereka berpaling.
Dan sekali lagi, manusia menyaksikan keluasan rahmat Allah.
> فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ
> “Maka, kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”
Artinya, bahkan ketika manusia gagal memenuhi amanah, Allah masih memberikan kesempatan.
Betapa sering manusia jatuh bukan karena kurangnya petunjuk, melainkan karena tidak bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk yang telah diberikan.
---
Ketika Larangan Dihadapi dengan Akal-Akalan
Kemudian Al-Qur’an menghadapkan mereka kepada fakta lain yang lebih konkret:
> وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
> “Dan sungguh, telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Baqarah: 65–66)
Kisah ini dijelaskan lebih rinci dalam Surah Al-A‘raf. Allah menguji mereka dengan ikan yang berdatangan ke permukaan pada hari Sabtu, sedangkan pada hari-hari lainnya ikan-ikan itu tidak datang.
Di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
Apakah mereka akan menaati Allah ketika ketaatan itu terasa berat?
Ataukah mereka akan mencari celah?
Mereka memilih mencari celah.
Mereka tidak menangkap ikan secara langsung pada hari Sabtu. Mereka memasang perangkap sehingga ikan masuk ke dalamnya. Setelah hari Sabtu berlalu, ikan-ikan itu mereka ambil.
Secara lahiriah mereka mencoba mengatakan:
“Kami tidak menangkap ikan pada hari Sabtu.”
Tetapi bukankah inti larangan bukan sekadar gerakan tangan?
Bukankah Allah mengetahui maksud di balik tindakan?
Di sinilah kita belajar bahwa akal yang digunakan untuk mencari jalan keluar dari ketaatan dapat berubah menjadi alat untuk membungkus kemaksiatan dengan penampilan kepatuhan.
---
Ketika Hukum Dipatuhi Secara Formal, tetapi Dikhianati Secara Substansial
Bukankah ini bahaya yang selalu mungkin terjadi?
Manusia dapat mematuhi huruf, tetapi mengkhianati ruh.
Ia dapat mempertahankan bentuk, tetapi menghancurkan substansi.
Ia dapat mencari celah dalam aturan, sementara hatinya sebenarnya sedang mencari jalan untuk menghindari kehendak Allah.
Karena itu pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah saya menemukan celah untuk melakukannya?”
Tetapi:
“Apakah Allah menghendaki saya melakukannya?”
Perbedaannya sangat besar.
Orang yang takut kepada Allah bertanya tentang kehendak-Nya.
Orang yang dikuasai hawa nafsu bertanya tentang celah dari aturan-Nya.
---
“Jadilah Kamu Kera yang Hina”
Kemudian datanglah hukuman:
> كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
“Jadilah kamu kera yang hina.”
Tafsir yang dikutip dalam teks menekankan makna yang sangat dalam dari hukuman tersebut: mereka telah merendahkan martabat manusia karena melepaskan diri dari ciri utama manusia, yaitu iradah—kemampuan memilih dan menundukkan keinginan demi ketaatan kepada Allah.
Binatang mengikuti dorongan nalurinya.
Lapar, ia mencari makan.
Tertarik, ia mengejar.
Menginginkan sesuatu, ia mengambilnya sejauh nalurinya memungkinkan.
Manusia berbeda.
Manusia memiliki kehendak.
Ia mampu berkata:
“Aku menginginkannya, tetapi Allah melarangnya.”
Lalu ia menahan diri.
Di situlah kemuliaan manusia.
Karena itu, ketika manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada hawa nafsu, ia sebenarnya sedang kehilangan salah satu ciri kemanusiaannya.
Maka pertanyaannya menjadi sangat menggetarkan:
Apakah manusia masih manusia ketika ia tidak lagi mampu mengatakan “tidak” kepada keinginannya sendiri?
---
Pelajaran yang Tidak Berhenti pada Bani Israel
Al-Qur’an tidak menghadirkan kisah ini agar kaum Muslim sekadar berkata:
“Lihatlah kesalahan Bani Israel.”
Tidak.
Perhatikan penutup ayatnya:
> فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
> “Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
Perhatikan dua kata terakhir:
وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
“Menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
Jadi, kisah ini bukan hanya tentang mereka.
Ia juga tentang kita.
Setiap kali kita menerima perintah Allah, lalu mencari-cari celah untuk menghindarinya, kita sedang berhadapan dengan penyakit yang sama.
Setiap kali kita lebih tunduk kepada hawa nafsu daripada kepada wahyu, kita sedang mendekati pola yang sama.
Setiap kali kita mempertahankan bentuk ketaatan sambil mengkhianati maksudnya, kita perlu berhenti dan bertanya:
Apakah aku sedang menaati Allah, atau hanya sedang mencari cara agar terlihat menaati-Nya?
Di situlah kisah Bani Israel berubah dari sekadar sejarah menjadi cermin bagi jiwa.
Dan mungkin inilah alasan Al-Qur’an terus mengulang kisah mereka.
Bukan agar kita sibuk menghitung kesalahan mereka,
tetapi agar kita belajar mengenali kesalahan yang sama ketika ia mulai tumbuh di dalam diri kita sendiri.
0 komentar: