basmalah Pictures, Images and Photos
Bani Israil: Ketika Janji kepada Allah Diperlakukan Main-Main - Our Islamic Story

Ketika Janji kepada Allah Diperlakukan Main-Main Al-Qur’an kemudian membawa kita...

Bani Israil: Ketika Janji kepada Allah Diperlakukan Main-Main

Ketika Janji kepada Allah Diperlakukan Main-Main




Al-Qur’an kemudian membawa kita kepada sebuah peristiwa yang memperlihatkan bagaimana Bani Israel menghadapi perjanjian mereka dengan Allah. Kisah ini bukan sekadar rekaman sejarah. Ia adalah cermin yang diarahkan kepada setiap generasi: bagaimana seharusnya manusia memperlakukan janji kepada Allah?

Allah berfirman:

> وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝ ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ



> “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa.’ Kemudian, kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu. Maka, kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”
(Al-Baqarah: 63–64)



Rincian perjanjian tersebut dijelaskan Al-Qur’an di berbagai tempat. Namun, yang penting untuk direnungkan di sini bukan sekadar rincian perjanjiannya.

Perhatikanlah gambaran yang diberikan Al-Qur’an.

Gunung diangkat di atas mereka.

Lalu mereka diperintahkan:

“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu.”

Seakan-akan ada hubungan yang sangat kuat antara beratnya gunung di atas kepala dan beratnya amanah di dalam hati.

Mengapa harus dengan kekuatan?

Mengapa harus dipegang teguh?

Karena perjanjian dengan Allah bukan permainan. Akidah bukan sesuatu yang dapat dilenturkan sesuai kepentingan. Ia bukan sesuatu yang dapat dicairkan ketika hawa nafsu menuntut, lalu ditegakkan kembali ketika keadaan menguntungkan.

Perjanjian dengan Allah adalah perkara serius.

Dan keseriusan itu mempunyai konsekuensi.


---

Akidah Tidak Boleh Dipermainkan

Bukankah manusia sering memperlakukan agama sesuai suasana hatinya?

Ketika agama mendukung kepentingannya, ia merasa dekat dengannya. Namun ketika agama menuntut pengorbanan, ia mulai mencari alasan.

Ketika syariat menguntungkan, ia menerimanya. Tetapi ketika syariat menghalangi keinginannya, ia mencoba menafsirkannya agar sesuai dengan hawa nafsunya.

Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan sebuah prinsip:

Akidah tidak boleh diperlakukan secara main-main.

Ia adalah perkara besar—bahkan lebih besar daripada seluruh kepentingan duniawi manusia.

Karena itu, seseorang yang menerima amanah iman harus menghadapinya dengan kesungguhan, kemauan keras, kesadaran terhadap konsekuensi, dan kebulatan tekad.

Bukankah Rasulullah ﷺ sendiri, ketika menerima tugas risalah, memasuki kehidupan yang jauh dari kehidupan santai sebelumnya?

Dikatakan kepada beliau:

> “Telah berlalu waktu tidur, wahai Khadijah.”



Dan Allah berfirman:

> إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا



> “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”
(Al-Muzzammil: 5)



Perkataan yang berat.

Mengapa berat?

Karena wahyu bukan sekadar informasi untuk diketahui. Ia adalah amanah untuk dipikul, diyakini, diamalkan, dan disampaikan.

Maka Allah berfirman kepada Bani Israel:

> خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ



“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu.”


---

Bukan Sekadar Memegang, tetapi Mengingat

Namun ada sesuatu yang menarik.

Allah tidak hanya memerintahkan mereka untuk memegang teguh perjanjian. Allah juga berfirman:

> وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ



“Dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya.”

Mengapa?

Sebab kekuatan tanpa pemahaman dapat berubah menjadi sekadar keberanian kosong. Gengsi tidak sama dengan ketakwaan. Fanatisme tidak sama dengan ketaatan.

Maka manusia tidak cukup hanya memegang ajaran. Ia harus mengingat isinya, memahami hakikatnya, meresapinya, dan menjalankannya.

Perjanjian dengan Allah bukan sekadar ikatan formal.

Ia harus menjadi manhaj kehidupan.

Masuk ke dalam hati sebagai keyakinan.

Masuk ke dalam pikiran sebagai cara pandang.

Masuk ke dalam perasaan sebagai kesadaran.

Masuk ke dalam kehidupan sebagai aturan.

Masuk ke dalam perilaku sebagai adab dan akhlak.

Dan akhirnya mengantarkan manusia kepada:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kamu bertakwa.”

Inilah tujuan akhirnya.

Bukan sekadar memiliki kitab.

Bukan sekadar mengetahui hukum.

Bukan sekadar menghafal perjanjian.

Tetapi berubah menjadi manusia yang merasa selalu berada dalam pengawasan Allah.


---

Lalu Apa yang Terjadi?

Namun setelah semua itu?

Allah berfirman:

> ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ



“Kemudian, kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu.”

Betapa singkat kalimatnya.

Tetapi betapa dalam maknanya.

Mereka telah menerima perjanjian.

Mereka telah melihat tanda yang dahsyat.

Mereka telah diperintah memegang teguh wahyu.

Namun kemudian mereka berpaling.

Dan sekali lagi, manusia menyaksikan keluasan rahmat Allah.

> فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ



> “Maka, kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”



Artinya, bahkan ketika manusia gagal memenuhi amanah, Allah masih memberikan kesempatan.

Betapa sering manusia jatuh bukan karena kurangnya petunjuk, melainkan karena tidak bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk yang telah diberikan.


---

Ketika Larangan Dihadapi dengan Akal-Akalan

Kemudian Al-Qur’an menghadapkan mereka kepada fakta lain yang lebih konkret:

> وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ ۝ فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ



> “Dan sungguh, telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Baqarah: 65–66)



Kisah ini dijelaskan lebih rinci dalam Surah Al-A‘raf. Allah menguji mereka dengan ikan yang berdatangan ke permukaan pada hari Sabtu, sedangkan pada hari-hari lainnya ikan-ikan itu tidak datang.

Di sinilah ujian sebenarnya dimulai.

Apakah mereka akan menaati Allah ketika ketaatan itu terasa berat?

Ataukah mereka akan mencari celah?

Mereka memilih mencari celah.

Mereka tidak menangkap ikan secara langsung pada hari Sabtu. Mereka memasang perangkap sehingga ikan masuk ke dalamnya. Setelah hari Sabtu berlalu, ikan-ikan itu mereka ambil.

Secara lahiriah mereka mencoba mengatakan:

“Kami tidak menangkap ikan pada hari Sabtu.”

Tetapi bukankah inti larangan bukan sekadar gerakan tangan?

Bukankah Allah mengetahui maksud di balik tindakan?

Di sinilah kita belajar bahwa akal yang digunakan untuk mencari jalan keluar dari ketaatan dapat berubah menjadi alat untuk membungkus kemaksiatan dengan penampilan kepatuhan.


---

Ketika Hukum Dipatuhi Secara Formal, tetapi Dikhianati Secara Substansial

Bukankah ini bahaya yang selalu mungkin terjadi?

Manusia dapat mematuhi huruf, tetapi mengkhianati ruh.

Ia dapat mempertahankan bentuk, tetapi menghancurkan substansi.

Ia dapat mencari celah dalam aturan, sementara hatinya sebenarnya sedang mencari jalan untuk menghindari kehendak Allah.

Karena itu pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Apakah saya menemukan celah untuk melakukannya?”

Tetapi:

“Apakah Allah menghendaki saya melakukannya?”

Perbedaannya sangat besar.

Orang yang takut kepada Allah bertanya tentang kehendak-Nya.

Orang yang dikuasai hawa nafsu bertanya tentang celah dari aturan-Nya.


---

“Jadilah Kamu Kera yang Hina”

Kemudian datanglah hukuman:

> كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ



“Jadilah kamu kera yang hina.”

Tafsir yang dikutip dalam teks menekankan makna yang sangat dalam dari hukuman tersebut: mereka telah merendahkan martabat manusia karena melepaskan diri dari ciri utama manusia, yaitu iradah—kemampuan memilih dan menundukkan keinginan demi ketaatan kepada Allah.

Binatang mengikuti dorongan nalurinya.

Lapar, ia mencari makan.

Tertarik, ia mengejar.

Menginginkan sesuatu, ia mengambilnya sejauh nalurinya memungkinkan.

Manusia berbeda.

Manusia memiliki kehendak.

Ia mampu berkata:

“Aku menginginkannya, tetapi Allah melarangnya.”

Lalu ia menahan diri.

Di situlah kemuliaan manusia.

Karena itu, ketika manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada hawa nafsu, ia sebenarnya sedang kehilangan salah satu ciri kemanusiaannya.

Maka pertanyaannya menjadi sangat menggetarkan:

Apakah manusia masih manusia ketika ia tidak lagi mampu mengatakan “tidak” kepada keinginannya sendiri?


---

Pelajaran yang Tidak Berhenti pada Bani Israel

Al-Qur’an tidak menghadirkan kisah ini agar kaum Muslim sekadar berkata:

“Lihatlah kesalahan Bani Israel.”

Tidak.

Perhatikan penutup ayatnya:

> فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ



> “Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”



Perhatikan dua kata terakhir:

وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

“Menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Jadi, kisah ini bukan hanya tentang mereka.

Ia juga tentang kita.

Setiap kali kita menerima perintah Allah, lalu mencari-cari celah untuk menghindarinya, kita sedang berhadapan dengan penyakit yang sama.

Setiap kali kita lebih tunduk kepada hawa nafsu daripada kepada wahyu, kita sedang mendekati pola yang sama.

Setiap kali kita mempertahankan bentuk ketaatan sambil mengkhianati maksudnya, kita perlu berhenti dan bertanya:

Apakah aku sedang menaati Allah, atau hanya sedang mencari cara agar terlihat menaati-Nya?

Di situlah kisah Bani Israel berubah dari sekadar sejarah menjadi cermin bagi jiwa.

Dan mungkin inilah alasan Al-Qur’an terus mengulang kisah mereka.

Bukan agar kita sibuk menghitung kesalahan mereka,

tetapi agar kita belajar mengenali kesalahan yang sama ketika ia mulai tumbuh di dalam diri kita sendiri.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (16) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (1) Ekonomi (6) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (112) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (292) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (707) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (321) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)