basmalah Pictures, Images and Photos
Mengapa Para Nabi pun Berbisnis? - Our Islamic Story

Arti Penting Usaha Para Nabi Selain Berdakwah Apakah para nabi hidup...

Mengapa Para Nabi pun Berbisnis?

Arti Penting Usaha Para Nabi Selain Berdakwah

Apakah para nabi hidup dengan bergantung kepada harta kaumnya?

Pertanyaan ini penting, bukan sekadar untuk mengetahui bagaimana para nabi memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk memahami wibawa dakwah. Sebab, bagaimana mungkin seseorang menyeru manusia agar hanya bergantung kepada Allah, sementara kehidupannya sendiri bergantung kepada pemberian orang-orang yang menjadi sasaran dakwahnya?

Al-Qur’an justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Para nabi tidak menjadikan dakwah sebagai jalan untuk memperoleh harta, upah, atau fasilitas dari kaumnya. Mereka bekerja, berusaha, dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan karunia Allah.

Inilah salah satu sisi penting dari kehidupan para nabi: mereka berdakwah kepada manusia, tetapi tidak menggantungkan kehidupan kepada manusia.

Dakwah Tanpa Meminta Imbalan

Perhatikan jawaban para nabi ketika kaumnya menuduh bahwa mereka berdakwah demi memperoleh keuntungan.

Nabi Nuh berkata,

«“Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu sebagai imbalan atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah.”
(Hud: 29)»

Nabi Hud juga berkata,

«“Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas seruanku ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku.”
(Hud: 51)»

Jawaban serupa juga disampaikan Nabi Saleh, Nabi Luth, dan para rasul lainnya. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa para rasul tidak meminta upah atas dakwah mereka.

Mengapa hal ini begitu penting?

Karena manusia pada umumnya sulit menghormati seseorang yang hidupnya sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan mereka. Orang yang terus-menerus menerima pemberian dari orang lain akan lebih mudah kehilangan posisi tawar. Bahkan, dalam konteks dakwah, ketergantungan semacam itu dapat menjadi celah bagi orang-orang yang menolak kebenaran untuk menyerang pribadi sang dai.

Mereka bisa berkata:

“Jangan-jangan ia berdakwah karena menginginkan harta kita.”

Jika tuduhan semacam itu muncul, bagaimana dakwah akan memiliki wibawa?

Karena itulah para nabi menunjukkan sesuatu yang sangat mendasar: dakwah bukan profesi untuk memperkaya diri. Dakwah adalah amanah yang dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Allah berfirman,

«“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’”
(Asy-Syura: 23)»

Dan Allah juga berfirman,

«“Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu lebih baik, karena Dia Pemberi Rezeki yang terbaik.”
(Al-Mu’minun: 72)»

Maka, dari sini kita memahami prinsip yang sangat penting:

Seorang dai boleh menerima rezeki Allah melalui berbagai jalan yang halal, tetapi jangan menjadikan manusia yang menjadi sasaran dakwah sebagai tempat menggantungkan kebutuhan hidupnya.

Mengapa Para Nabi Tetap Bekerja?

Bukankah Allah mampu langsung mencukupi kebutuhan para nabi?

Tentu.

Namun Allah tetap memperlihatkan kepada manusia bahwa kehidupan berjalan melalui sunnatullah: ada sebab, ada usaha, ada pekerjaan, dan ada proses memperoleh rezeki.

Allah berfirman,

«“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”
(Al-Furqan: 20)»

Perhatikan ungkapan “memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”

Para nabi bukan makhluk yang hidup di luar realitas manusia. Mereka makan sebagaimana manusia makan. Mereka membutuhkan tempat tinggal. Mereka berkeluarga. Mereka bekerja dan berusaha.

Mengapa?

Agar manusia memahami bahwa iman tidak berarti meninggalkan usaha.

Tawakal bukan berarti pasif.

Berdoa bukan berarti berhenti bekerja.

Bergantung kepada Allah bukan berarti menolak sebab-sebab yang Allah ciptakan.

Justru para nabi mengajarkan bagaimana seseorang menggunakan sebab tanpa menggantungkan hatinya kepada sebab tersebut.

Tangannya bekerja, tetapi hatinya bergantung kepada Allah.

Nabi Ibrahim: Berdakwah Tanpa Menjadi Beban

Perhatikan kehidupan Nabi Ibrahim.

Ketika para tamu datang kepadanya, ia tidak menunggu pemberian mereka. Ia justru segera menyiapkan hidangan untuk mereka.

Allah berfirman,

«“Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”
(Hud: 69)»

Dalam ayat lain disebutkan,

«“Maka diam-diam dia pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk yang dibakar.”
(Adz-Dzariyat: 26)»

Ibrahim memberi makan dari apa yang ia miliki.

Bukankah ini menarik?

Seorang nabi yang menyeru manusia agar menyembah Allah tidak tampil sebagai orang yang selalu menunggu pemberian masyarakat. Ia justru menjadi orang yang memberi.

Di sinilah terdapat perbedaan antara dua posisi:

orang yang hidup dari pemberian manusia, dan

orang yang menggunakan apa yang Allah berikan kepadanya untuk memberi manfaat kepada manusia.

Posisi kedua jauh lebih kuat bagi seorang pembawa risalah.

“Yang Memberi Makan dan Minum Kepadaku Adalah Allah”

Nabi Ibrahim sendiri menjelaskan sumber ketergantungannya:

«“Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku.”
(Asy-Syu'ara: 79)»

Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam.

Ibrahim tidak mengatakan bahwa kaumnya yang memberi makan kepadanya.

Ia mengembalikan seluruh rezeki kepada Allah.

Apakah ini berarti ia tidak bekerja?

Tidak.

Justru ia bekerja, memiliki harta, menyediakan makanan, dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia. Tetapi ia tidak menjadikan pekerjaannya sebagai sesembahan, dan tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung.

Usaha berada di tangannya; rezeki berada di tangan Allah.

Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam kehidupan manusia.

Ada orang yang meninggalkan usaha dengan alasan tawakal. Ada pula yang bekerja sedemikian keras hingga lupa bahwa pemberi rezeki sesungguhnya adalah Allah.

Para nabi mengajarkan jalan tengah:

berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi menggantungkan hati hanya kepada Allah.

Ibrahim dan Pembelian Tanah Pemakaman

Sikap Nabi Ibrahim juga dapat dilihat dalam kisah pembelian gua Makhpela untuk pemakaman Sarah.

Dalam tradisi Kitab Kejadian disebutkan bahwa Ibrahim membeli tempat pemakaman tersebut dari Efron bin Zohar, orang Het, dengan harga penuh, bukan mengambilnya sebagai hadiah.

Terlepas dari rincian sumber tersebut, pelajaran yang hendak ditunjukkan adalah sikap menjaga kehormatan dan kemandirian.

Ketika masyarakat menghormatinya, Ibrahim tidak menjadikan penghormatan itu sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan.

Bukankah ini pelajaran penting bagi para pemimpin dan juru dakwah?

Ketika masyarakat mencintai kita, apakah cinta itu akan kita manfaatkan untuk memperoleh keuntungan pribadi?

Ataukah justru cinta itu kita jaga agar tetap bersih?

Seorang dai seharusnya mampu mengatakan dalam hatinya:

“Aku menghargai cintamu, tetapi aku tidak ingin mengeksploitasinya.”

Nabi Dawud: Kekuasaan, Ibadah, dan Keterampilan

Kisah Nabi Dawud memberikan gambaran lain.

Allah berfirman,

«“Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. ‘Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud.’ Dan Kami telah melunakkan besi untuknya. ‘Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah kebajikan.’”
(Saba’: 10-11)»

Perhatikan: Allah mengajarkan Dawud sebuah keterampilan.

Besi dilunakkan untuknya. Ia membuat baju besi. Dengan demikian, seorang nabi sekaligus menjalankan aktivitas produktif.

Ini bukan sekadar cerita tentang seorang nabi yang memiliki keterampilan.

Ini adalah pendidikan ekonomi.

Islam tidak mengajarkan manusia menjadi beban bagi orang lain. Islam mengajarkan produktivitas, keterampilan, kerja, dan kebermanfaatan.

Bahkan ketika seseorang memiliki kedudukan tinggi, ia tetap dapat bekerja dengan tangannya.

Nabi Sulaiman dan Karunia yang Melampaui Usaha Manusia

Nabi Sulaiman memperoleh karunia yang jauh lebih besar. Allah menundukkan angin dan sebagian jin untuknya.

Allah berfirman,

«“Dan Kami tundukkan kepada Sulaiman angin yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan pula...”
(Saba’: 12)»

Sebagian jin bekerja untuknya atas izin Allah.

Namun seluruh karunia itu justru berujung pada satu perintah:

«“Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah.”
(Saba’: 13)»

Betapa menarik.

Semakin besar karunia, semakin besar pula tuntutan syukur.

Kekayaan bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Kekuasaan bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Kemampuan bukan alasan untuk hidup tanpa tujuan.

Semua karunia harus dikembalikan kepada Allah dalam bentuk amal dan manfaat.

Rezeki Tidak Diminta dari Berhala, Apalagi dari Manusia

Nabi Ibrahim berkata kepada kaumnya,

«“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.”
(Al-Ankabut: 17)»

Perhatikan logikanya.

Jika seseorang benar-benar yakin bahwa rezeki berasal dari Allah, mengapa ia harus merendahkan dirinya di hadapan makhluk demi mendapatkan rezeki?

Bukankah itu justru bertentangan dengan tauhid?

Karena itu, seorang mukmin boleh menerima pemberian manusia, tetapi hatinya tidak boleh menggantungkan rezeki kepada manusia.

Manusia hanya sebab.

Allah adalah Pemberi Rezeki.

Para Nabi dan Kemandirian Ekonomi

Al-Qur’an juga memperlihatkan bahwa Allah memberikan kepada Nabi Ibrahim berbagai karunia duniawi.

Allah berfirman,

«“Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh.”
(An-Nahl: 122)»

Allah juga berfirman,

«“Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Yakub sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang saleh.”
(Al-Anbiya’: 72)»

Kebaikan dunia yang Allah berikan kepada Ibrahim tidak hanya berupa harta, tetapi juga keluarga, kehormatan, keturunan, kesehatan, kehidupan yang baik, dan berbagai karunia lainnya.

Maka tidak tepat jika kehidupan seorang nabi dibayangkan sebagai kehidupan seseorang yang sengaja menjadi miskin dan menggantungkan kebutuhan kepada masyarakat.

Yang lebih tepat adalah:

mereka hidup sederhana dalam hati, tetapi tidak menjadikan kefakiran sebagai identitas dan ketergantungan kepada manusia sebagai jalan hidup.

Para Nabi Tidak Menjadikan Dakwah sebagai Sumber Kekayaan

Di sinilah kita perlu membedakan dua hal yang sering tercampur.

Mencari rezeki melalui pekerjaan yang halal adalah sesuatu yang wajar.

Sedangkan menjadikan dakwah sebagai sarana mengambil harta manusia adalah persoalan yang berbeda.

Para nabi menolak yang kedua.

Mereka tidak berkata:

«“Kami berdakwah kepada kalian, maka bayarlah kami.”»

Mereka justru berkata:

«“Imbalanku hanyalah dari Allah.”»

Mengapa?

Karena risalah harus tetap bersih.

Ketika seorang dai terlalu bergantung kepada orang yang ia dakwahi, hubungan dakwah dapat berubah secara halus: dari hubungan antara pemberi nasihat dan penerima nasihat menjadi hubungan antara penerima fasilitas dan pemberi fasilitas.

Pada titik itu, keberanian menyampaikan kebenaran bisa melemah.

Bagaimana mungkin seseorang dengan mudah menegur orang yang menjadi sumber kehidupannya?

Inilah salah satu hikmah besar dari kemandirian ekonomi seorang dai.

Kemandirian ekonomi menjaga kebebasan moral.

Ketika Masyarakat Tidak Memberi Jamuan

Al-Qur’an bahkan menggambarkan bagaimana manusia bisa bersikap ketika diminta memenuhi kebutuhan orang lain.

Dalam kisah Musa dan Khidr disebutkan,

«“Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka tidak mau menjamu mereka.”
(Al-Kahfi: 77)»

Ayat ini menunjukkan kenyataan yang sangat manusiawi:

tidak semua masyarakat akan menyambut kita.

Tidak semua orang akan memberi.

Tidak semua orang akan menghargai.

Tidak semua orang akan membantu.

Kalau seorang dai menggantungkan keberlangsungan hidupnya kepada sambutan masyarakat, apa yang terjadi ketika masyarakat menolak?

Dakwah akan terguncang.

Karena itu, seorang dai harus memiliki kekuatan batin dan kemandirian hidup agar penolakan masyarakat tidak mengubah arah perjuangannya.

Nabi Sulaiman Menolak Hadiah yang Menggeser Prinsip

Perhatikan pula sikap Nabi Sulaiman ketika Ratu Saba’ mengirim hadiah.

Sulaiman berkata,

«“Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu.”
(An-Naml: 36)»

Sulaiman tidak silau oleh hadiah.

Mengapa?

Karena seseorang yang sudah merasa cukup dengan karunia Allah tidak mudah dibeli oleh pemberian manusia.

Bukankah ini prinsip penting bagi setiap pemimpin?

Semakin mudah seseorang dibeli, semakin sulit ia mempertahankan independensinya.

Sebaliknya, orang yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan akan lebih mampu mengatakan “tidak” ketika sebuah pemberian ternyata membawa kepentingan tersembunyi.

Rezeki Para Nabi: Allah sebagai Sumber Utama

Allah berfirman,

«“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”
(Fathir: 15)»

Inilah fondasinya.

Manusia membutuhkan Allah.

Allah tidak membutuhkan manusia.

Maka para nabi datang untuk mengembalikan manusia kepada posisi yang benar: menjadi hamba Allah, bukan hamba harta, bukan hamba kekuasaan, dan bukan hamba manusia.

Karena itu, ketika para nabi bekerja dan memperoleh harta, mereka tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir.

Harta berada di tangan mereka, bukan di dalam hati mereka.

Karunia Allah Melalui Para Nabi

Allah juga memperlihatkan berbagai bentuk karunia-Nya kepada umat melalui para nabi.

Kepada Bani Israil, Allah memberikan manna dan salwa melalui Nabi Musa.

Allah juga memberikan air ketika Musa memukulkan tongkatnya ke batu hingga memancar dua belas mata air.

Kepada kaum Nabi Saleh, Allah memberikan unta sebagai tanda kekuasaan-Nya. Mereka mendapatkan susu unta itu sesuai ketentuan yang telah ditetapkan Allah.

Kepada para pengikut Nabi Isa, Allah menurunkan hidangan dari langit sebagai tanda kekuasaan-Nya setelah mereka memintanya.

Semua itu memperlihatkan satu hakikat:

rezeki pada akhirnya berasal dari Allah.

Para nabi adalah pembawa risalah dan sebab datangnya berbagai petunjuk serta karunia Allah kepada manusia, tetapi mereka sendiri tidak mengklaim sebagai sumber rezeki.

Mengapa Para Nabi Berjalan di Pasar?

Sekarang kita kembali kepada firman Allah:

«“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”
(Al-Furqan: 20)»

Mengapa Al-Qur’an menyebut pasar?

Karena pasar adalah tempat manusia bekerja.

Di sana ada pedagang.

Ada pembeli.

Ada produsen.

Ada pekerja.

Ada distribusi.

Ada pertukaran.

Ada kebutuhan.

Dengan kata lain, kehidupan ekonomi manusia berlangsung di sana.

Para nabi tidak hidup terputus dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Mereka berada di tengah kehidupan manusia.

Mereka bekerja.

Mereka berinteraksi.

Mereka memenuhi kebutuhan.

Namun di tengah semua itu, mereka tetap menjaga hubungan dengan Allah.

Inilah model kehidupan yang seimbang.

Dari Kerja Individu Menuju Peradaban

Bukankah ekonomi sebuah masyarakat tumbuh karena manusia memiliki berbagai keterampilan?

Ada petani yang menghasilkan makanan.

Ada peternak yang menghasilkan ternak.

Ada pandai besi yang menghasilkan peralatan.

Ada pedagang yang mendistribusikan barang.

Ada pengrajin yang membuat berbagai kebutuhan.

Ada pekerja yang menyediakan jasa.

Masing-masing memiliki keahlian.

Dari keberagaman pekerjaan itulah terjadi pertukaran manfaat.

Seseorang tidak mungkin menghasilkan seluruh kebutuhannya sendiri.

Ia membutuhkan orang lain.

Petani membutuhkan pandai besi.

Pandai besi membutuhkan petani.

Pedagang membutuhkan produsen.

Produsen membutuhkan konsumen.

Dari sinilah muncul spesialisasi, perdagangan, distribusi, dan pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, ketika para nabi bekerja dan berusaha, mereka bukan sekadar memenuhi kebutuhan pribadi.

Mereka juga memberikan teladan bahwa kehidupan manusia harus dibangun melalui kerja dan produktivitas.

Pelajaran untuk Para Juru Dakwah

Lalu bagaimana dengan para dai hari ini?

Apakah mereka harus menjadi orang kaya?

Tidak.

Apakah setiap dai harus memiliki bisnis?

Tidak selalu.

Apakah seorang dai haram menerima bantuan?

Tidak demikian.

Persoalannya bukan sekadar memiliki atau tidak memiliki harta.

Persoalan utamanya adalah:

kepada siapa hati bergantung?

Seorang dai boleh menerima gaji yang halal atas pekerjaan profesionalnya. Ia boleh memiliki usaha. Ia boleh menerima pemberian yang halal. Tetapi jangan sampai kehidupan dakwahnya membuatnya menjadi orang yang selalu menunggu pemberian dari orang yang ia dakwahi.

Sebab ketika kebutuhan hidup terlalu bergantung kepada manusia, independensi dakwah dapat terancam.

Seorang dai harus mampu mengatakan kebenaran meskipun kebenaran itu tidak menyenangkan orang yang selama ini membantunya.

Bukankah itulah salah satu makna “Imbalanku hanyalah dari Allah”?

Kemandirian Bukan Kesombongan

Namun ada satu hal yang harus diluruskan.

Kemandirian ekonomi tidak berarti seseorang harus menolak semua bantuan.

Islam tidak mengajarkan kesombongan.

Tangan di atas memang lebih baik daripada tangan di bawah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

«الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Tetapi menerima bantuan dalam kondisi membutuhkan bukanlah kehinaan. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang sengaja membangun ketergantungan kepada manusia dan menjadikan pemberian mereka sebagai fondasi kehidupannya.

Karena itu, kemandirian yang dimaksud adalah kemandirian yang melahirkan kehormatan, bukan kesombongan.

Ia bekerja karena Allah.

Ia menerima rezeki karena Allah.

Ia memberi karena Allah.

Ia menolak sesuatu karena Allah.

Dan ketika manusia memberi kepadanya, ia tetap mengetahui bahwa yang sebenarnya memberi adalah Allah.

Usaha adalah Bagian dari Dakwah

Pada akhirnya, usaha para nabi selain berdakwah bukanlah bagian yang terpisah dari risalah mereka.

Cara mereka hidup juga merupakan dakwah.

Nabi Dawud mengajarkan keterampilan.

Nabi Ibrahim menunjukkan kedermawanan.

Nabi Muhammad ﷺ berjalan di pasar dan menjalani kehidupan manusia.

Para nabi bekerja, makan, berkeluarga, dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup.

Mengapa?

Agar manusia memahami bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan manusia meninggalkan dunia, tetapi agama yang mengajarkan manusia mengelola dunia tanpa diperbudak olehnya.

Dunia digunakan.

Bukan disembah.

Harta dicari.

Bukan dipertuhankan.

Pekerjaan dilakukan.

Bukan dijadikan tujuan hidup.

Dan dakwah disampaikan.

Bukan dijadikan alat untuk mengambil keuntungan dari manusia.

Maka barangkali inilah salah satu pesan terpenting dari kehidupan ekonomi para nabi:

Jadilah manusia yang produktif, tetapi jangan menjadi hamba harta. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menggantungkan hati kepada usaha. Terimalah rezeki dari Allah melalui berbagai sebab, tetapi jangan menjadikan manusia sebagai tempat bergantung.

Sebab pada akhirnya, seorang dai yang paling bebas adalah orang yang tidak mudah dibeli.

Dan seorang manusia yang paling mulia adalah orang yang, ketika tangannya mampu memberi, tidak menjadikan pemberiannya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi; dan ketika tangannya menerima, ia tidak menjadikan pemberian itu sebagai alasan untuk merendahkan dirinya.

Tangannya bekerja untuk dunia, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (17) Dakwah (18) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (13) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (9) Nusantara (298) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (717) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (323) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)