Al-Qur’an adalah ruh dan sumber energi hidup. Ia adalah tiang yang menopang eksistensinya, penjaga yang memeliharanya, penjelas yang menerangkan arah perjalanannya, sekaligus juru bicara yang menyampaikan risalahnya.
Ia adalah undang-undangnya dan manhajnya.
Kepada Al-Qur’an-lah dakwah ini kembali. Dari Al-Qur’an pula para dai menyimpulkan prinsip-prinsip perjuangan, sarana dan prasarana amal, metode pergerakan, serta bekal yang diperlukan dalam menempuh perjalanan panjang dakwah.
Namun, mengapa terkadang kita membaca Al-Qur’an begitu banyak, tetapi pengaruhnya terhadap kehidupan kita terasa begitu sedikit?
Mengapa ayat-ayatnya dapat menyentuh lisan, tetapi belum tentu mengguncang hati?
Di sinilah persoalannya.
Ketika Al-Qur’an Terasa Jauh
Akan selalu ada kesenjangan yang lebar antara kita dan Al-Qur’an selama kita belum menghadirkan dalam benak bahwa kitab ini pada awalnya ditujukan kepada sebuah umat yang hidup.
Bukan umat yang berada dalam ruang abstrak.
Bukan manusia tanpa sejarah.
Bukan masyarakat tanpa persoalan.
Al-Qur’an turun kepada manusia yang benar-benar hidup, menghadapi peristiwa yang benar-benar terjadi, mempunyai kelemahan dan kekuatan, memiliki harapan dan ketakutan, berhadapan dengan musuh, bergulat dengan hawa nafsu, mengalami kemenangan dan kekalahan, melakukan kesalahan lalu diperbaiki, tergelincir lalu diarahkan untuk bangkit kembali.
Al-Qur’an turun untuk menghadapi realitas.
Ia turun menjawab tantangan kehidupan manusia yang nyata.
Ia turun untuk mengobarkan pertempuran besar—bukan hanya di medan kehidupan, tetapi juga di dalam jiwa manusia.
Maka, bagaimana mungkin kita memahami Al-Qur’an hanya sebagai kumpulan bacaan yang indah?
Bagaimana mungkin kita memandangnya sekadar sebagai teks yang dibaca secara tartil, lalu ditutup setelah selesai?
Bukankah ayat-ayatnya dahulu turun untuk berdialog dengan jiwa, peristiwa, dan kehidupan yang nyata?
Al-Qur’an bukan kitab yang turun di luar sejarah manusia. Ia turun di tengah-tengah sejarah manusia, membimbing manusia ketika sejarah itu sedang berlangsung.
Al-Qur’an dan Pertempuran Kehidupan
Kemukjizatan Al-Qur’an yang sangat menonjol dapat kita lihat dari kenyataan bahwa ia diturunkan untuk menghadapi realitas tertentu, kepada umat tertentu, dalam fase tertentu.
Namun, pada saat yang sama, Al-Qur’an tidak pernah menjadi sekadar dokumen sejarah.
Mengapa?
Karena setelah membimbing generasi pertama, ia tetap mampu membimbing generasi-generasi sesudahnya.
Inilah yang menakjubkan.
Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur bersama perjalanan dakwah Rasulullah ï·º. Ia hadir ketika kaum Muslimin menghadapi tekanan di Makkah. Ia hadir ketika mereka berhijrah. Ia hadir ketika masyarakat Islam dibangun di Madinah. Ia hadir ketika mereka menghadapi musuh, mengatur kehidupan sosial, menyelesaikan perselisihan, menghadapi godaan dunia, mengalami kemenangan, menghadapi kekalahan, dan belajar bangkit dari kesalahan.
Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar berbicara tentang kehidupan.
Ia dahulu hadir di dalam kehidupan.
Dan karena manusia hari ini tetap manusia, petunjuknya tetap memiliki daya hidup.
Hadirkan Generasi Pertama
Jika kita ingin memperoleh energi Al-Qur’an, merasakan gelora yang tersembunyi di dalamnya, dan menangkap nasihat yang tersimpan bagi umat Islam di setiap generasi, ada satu hal penting yang perlu dilakukan:
Hadirkan kembali generasi pertama Islam di dalam benak kita.
Bayangkan mereka sebagai manusia yang nyata.
Lihat mereka bukan hanya sebagai nama-nama besar dalam buku sejarah, tetapi sebagai manusia yang mempunyai perasaan, ketakutan, harapan, kelemahan, dan perjuangan.
Lihat bagaimana mereka bergerak dalam realitas kehidupan.
Mereka berada di Makkah.
Kemudian berhijrah ke Madinah.
Mereka berinteraksi dengan sahabat, keluarga, dan masyarakat.
Mereka menghadapi musuh.
Mereka berhadapan dengan berbagai godaan.
Mereka juga harus berperang melawan musuh yang paling dekat: hawa nafsu di dalam diri mereka sendiri.
Dan dalam seluruh perjalanan itu, Al-Qur’an turun membimbing mereka.
Ayat turun ketika mereka membutuhkan arahan.
Ayat turun ketika mereka melakukan kesalahan.
Ayat turun ketika mereka mengalami tekanan.
Ayat turun ketika mereka menghadapi musuh.
Ayat turun ketika mereka memperoleh kemenangan.
Ayat turun untuk menguatkan mereka ketika mereka lemah dan mengingatkan mereka ketika mereka mulai menyimpang.
Bukankah dengan cara seperti itu kita dapat memahami bagaimana Al-Qur’an membentuk manusia?
Bukan sekaligus.
Tetapi selangkah demi selangkah.
Mereka Bukan Malaikat
Di sinilah kita perlu melihat generasi pertama umat Islam dengan pandangan yang lebih manusiawi.
Mereka bukan malaikat.
Mereka manusia.
Mereka dapat terpeleset, kemudian bangkit.
Mereka dapat menyeleweng, kemudian bertobat.
Mereka dapat merasa lemah, kemudian kembali menguat.
Mereka dapat mengalami kesakitan, kemudian belajar bersabar.
Mereka menaiki anak tangga perubahan satu demi satu—dengan perlahan, penuh keletihan, ketabahan, dan perjuangan.
Justru di situlah kita menemukan relevansi Al-Qur’an bagi kehidupan kita.
Sebab bukankah kita juga manusia?
Bukankah kita juga mengalami kelemahan?
Bukankah kita juga pernah jatuh dan harus bangkit?
Bukankah kita juga bergulat dengan hawa nafsu?
Bukankah kita juga menghadapi tekanan kehidupan, konflik, kegagalan, godaan, dan berbagai persoalan?
Jika demikian, mengapa kita merasa bahwa Al-Qur’an hanya ditujukan kepada generasi yang telah berlalu?
Bukankah kita juga termasuk manusia yang menjadi sasaran petunjuknya?
Kita Juga Obyek Sasaran Al-Qur’an
Karena alasan itulah, kita perlu menempatkan diri kita di hadapan Al-Qur’an sebagaimana generasi pertama menempatkan diri mereka.
Ketika membaca ayat tentang kesabaran, jangan hanya bertanya:
“Kepada siapa ayat ini dahulu turun?”
Tanyakan juga:
“Apa yang sedang dikatakan Allah kepada saya?”
Ketika membaca ayat tentang kesalahan, tanyakan:
“Kesalahan apa dalam diri saya yang sedang disentuh oleh ayat ini?”
Ketika membaca ayat tentang perjuangan, tanyakan:
“Perjuangan apa yang sedang saya hadapi?”
Ketika membaca ayat tentang keteguhan, tanyakan:
“Di bagian mana kehidupan saya membutuhkan keteguhan?”
Inilah cara agar Al-Qur’an kembali hidup dalam kesadaran kita.
Kita tidak lagi membacanya sebagai cerita yang telah selesai.
Kita membacanya sebagai firman Allah yang sedang berbicara kepada manusia—dan manusia itu adalah kita.
Al-Qur’an Bukan Sekadar Penggalan Sejarah
Dengan cara pandang seperti ini, kita akan melihat Al-Qur’an hidup di dalam kehidupan generasi pertama.
Dan jika ia hidup di dalam kehidupan mereka, mengapa ia tidak dapat hidup dalam kehidupan kita?
Kita akan merasakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya milik kemarin.
Ia bersama kita hari ini.
Ia juga akan bersama kita esok hari.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan dengan tartil tanpa hubungan dengan realitas kehidupan.
Ia bukan pula sekadar penggalan sejarah yang telah selesai, lalu berhenti memberikan pengaruh setelah generasi pertama berlalu.
Al-Qur’an adalah firman Allah untuk manusia.
Dan selama manusia masih menjadi manusia, kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah tidak pernah berakhir.
Kitab Allah yang Dibaca
Al-Qur’an adalah sebuah hakikat yang memiliki eksistensi permanen.
Semesta raya adalah Kitab Allah yang terlihat, sedangkan Al-Qur’an adalah Kitab Allah yang dibaca.
Keduanya sama-sama menunjukkan kebesaran Penciptanya.
Lihatlah alam semesta.
Matahari bergerak sesuai ketentuan-Nya.
Bulan beredar pada ketentuannya.
Bumi menjalankan perannya.
Bintang-bintang dan planet-planet bergerak dalam keteraturan yang ditetapkan Allah.
Waktu berlalu, tetapi sunnatullah tetap berlangsung.
Lalu bagaimana dengan Al-Qur’an?
Apakah karena manusia mengalami perubahan zaman, maka firman Allah juga kehilangan relevansinya?
Tentu tidak.
Al-Qur’an tetap menjalankan perannya sebagai petunjuk manusia.
Sebab yang menjadi sasaran utama petunjuk Al-Qur’an adalah hakikat manusia dan fitrahnya.
Manusia dapat berpindah tempat.
Peradaban dapat berubah.
Teknologi dapat berkembang.
Sistem ekonomi dapat berganti.
Cara manusia berkomunikasi dapat berubah secara drastis.
Tetapi manusia tetap memiliki kebutuhan mendasar yang sama: kebutuhan kepada kebenaran, keadilan, makna, kasih sayang, pengendalian diri, keluarga, kehidupan sosial, dan hubungan dengan Penciptanya.
Manusia tetap memiliki hawa nafsu.
Tetap memiliki kesombongan.
Tetap memiliki rasa takut.
Tetap memiliki cinta terhadap dunia.
Tetap dapat berbuat zalim.
Tetap dapat bertobat.
Tetap dapat mencintai kebaikan.
Inilah wilayah yang disentuh Al-Qur’an.
Apakah Al-Qur’an Sudah Ketinggalan Zaman?
Bayangkan seseorang berkata:
«“Matahari itu benda langit yang sudah kuno. Karena sudah sangat tua, ia harus diganti dengan matahari yang baru dan modern.”»
Bukankah perkataan itu terdengar menggelikan?
Atau seseorang berkata:
«“Manusia adalah makhluk kuno. Ia sudah hidup terlalu lama. Karena itu, kita membutuhkan makhluk baru yang lebih modern untuk menggantikannya.”»
Bukankah itu juga terdengar absurd?
Jika demikian, bagaimana mungkin kita mengatakan:
“Al-Qur’an sudah terlalu tua untuk zaman modern.”
Bukankah Al-Qur’an adalah firman Allah yang terakhir bagi manusia?
Usianya tidak membuatnya usang.
Sebagaimana usia manusia tidak membuat hakikat kemanusiaannya berubah menjadi makhluk lain, perubahan zaman juga tidak mengubah kebutuhan manusia kepada petunjuk Allah.
Yang berubah adalah situasinya.
Yang berubah adalah sarananya.
Yang berubah adalah bentuk persoalannya.
Tetapi manusia tetap manusia.
Dan karena Al-Qur’an adalah firman Allah untuk manusia, ia tetap memiliki kemampuan untuk membimbing manusia dalam menghadapi zaman yang terus berubah.
Membaca Al-Qur’an dengan Kesadaran Dakwah
Maka persoalannya bukan:
“Apakah Al-Qur’an masih relevan?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apakah kita membacanya dengan cara yang membuat relevansinya hidup dalam diri kita?”
Bisa jadi masalahnya bukan pada Al-Qur’an.
Bisa jadi masalahnya ada pada cara kita mendekatinya.
Kita membacanya, tetapi tidak menghadirkan realitas manusia.
Kita menghafalnya, tetapi tidak menghadirkan pesan perubahan.
Kita melantunkannya, tetapi tidak membiarkan ayat-ayatnya berdialog dengan kehidupan.
Kita menyelesaikan satu juz, tetapi belum tentu membiarkan satu ayat menyelesaikan satu persoalan dalam diri kita.
Padahal generasi pertama tidak berinteraksi dengan Al-Qur’an seperti itu.
Mereka membaca untuk bergerak.
Mereka mendengar untuk berubah.
Mereka menerima petunjuk untuk menjalankannya.
Karena itu, jika kita ingin merasakan kembali kekuatan Al-Qur’an, mari kita kembali kepadanya dengan pertanyaan yang hidup:
Apa yang Allah kehendaki dari saya melalui ayat ini?
Apa yang harus saya ubah?
Apa yang harus saya tinggalkan?
Apa yang harus saya perjuangkan?
Bagaimana ayat ini membimbing saya menghadapi kehidupan nyata?
Di situlah Al-Qur’an berhenti menjadi sekadar teks yang kita baca.
Ia berubah menjadi petunjuk yang menggerakkan.
Ia menjadi ruh bagi dakwah.
Ia menjadi cahaya bagi perjalanan.
Ia menjadi teman dalam perjuangan.
Dan ia kembali hadir sebagai kitab yang hidup—sebagaimana dahulu ia hidup di tengah generasi pertama umat Islam.
Al-Qur’an bukan penggalan masa lalu yang telah selesai.
Ia adalah firman Allah yang terus berbicara kepada manusia selama manusia masih hidup di muka bumi.
(Diadaptasi dari Fiqh Pergerakan Sayid Qutb, Pustaka Uswah, 2007)
0 komentar: