Pertanyaan ini tampak sederhana. Namun, semakin kita menelusurinya, semakin banyak persoalan yang muncul.
Bagi pembaca yang selama ini mendengar berbagai ceramah, nasihat keagamaan, khutbah, dan tulisan tentang kehidupan Rasulullah ﷺ, mungkin telah terbentuk sebuah gambaran yang sangat kuat: Rasulullah adalah sosok yang hidup dalam kefakiran, mengalami penderitaan ekonomi, menjauh dari harta benda, meminimalkan kepemilikan, dan berpaling dari kenikmatan dunia.
Tentu, kisah-kisah tentang kesederhanaan dan penderitaan beliau memang benar adanya. Rasulullah ﷺ pernah mengalami kelaparan. Beliau pernah mengikatkan batu pada perut karena lapar. Beliau juga pernah menjalani kehidupan yang sangat sederhana.
Namun, apakah seluruh kehidupan finansial beliau dapat dijelaskan hanya dengan satu sisi tersebut?
Apakah Rasulullah ﷺ identik dengan kefakiran?
Jika demikian, bagaimana kita memahami doa beliau yang memohon perlindungan kepada Allah dari kefakiran yang tercela? Bagaimana pula kita memahami kedudukan beliau sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab memberikan nafkah? Bagaimana kita menjelaskan berbagai harta, tanah, hewan ternak, kendaraan, senjata, hasil usaha, fai, dan ghanimah yang berada di bawah pengelolaan beliau?
Dan ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Jika Rasulullah ﷺ hidup sepenuhnya bergantung kepada kekayaan Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha, lalu bagaimana menjelaskan tanggung jawab beliau sebagai suami dan pemimpin keluarga? Ke mana harta kekayaan Khadijah setelah beliau wafat? Dan bagaimana pula menjelaskan berbagai sumber pendapatan Rasulullah ﷺ setelah hijrah?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk mempertentangkan antara kesederhanaan dan kekayaan. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita memahami kehidupan Rasulullah ﷺ secara lebih utuh.
Sebab, persoalan sesungguhnya bukanlah apakah Rasulullah ﷺ pernah kaya atau pernah mengalami kesulitan. Beliau mengalami keduanya.
Yang perlu kita pahami adalah:
Bagaimana beliau memperlakukan harta ketika harta itu berada di tangannya?
Di sinilah letak persoalan yang sering terlewatkan.
Banyak penulis, juru dakwah, dan penyampai khutbah lebih sering menampilkan dimensi kefakiran dan kesederhanaan Rasulullah ﷺ, tetapi kurang memberi perhatian kepada dimensi lain dari kehidupan beliau: kepemilikan, usaha, perdagangan, pengelolaan harta, pemberian nafkah, kedermawanan, sedekah, wakaf, pembiayaan keluarga, pemberian hadiah, serta pengelolaan sumber-sumber keuangan umat.
Padahal, seluruh dimensi tersebut memiliki dasar dalam kitab-kitab hadis, sirah, sejarah, biografi para sahabat, dan berbagai karya ulama.
Karena itu, diperlukan pembacaan yang lebih menyeluruh.
Bukan untuk mengubah Rasulullah ﷺ menjadi simbol kemewahan.
Bukan pula untuk menjadikan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.
Melainkan untuk mengembalikan keseimbangan dalam memahami kehidupan beliau.
Allah berfirman:
«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(QS. Adh-Dhuha: 8)»
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kecukupan kepada Rasulullah ﷺ.
Al-Qur'an juga berbicara tentang harta rampasan dan fai yang berada dalam pengaturan Rasulullah ﷺ:
«"Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul...'"
(QS. Al-Anfal: 1)»
Dan Allah berfirman:
«"Harta rampasan (fai') dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya..."
(QS. Al-Hasyr: 7)»
Lalu, bagaimana seluruh informasi tersebut harus kita satukan dengan riwayat-riwayat tentang kesederhanaan, kelaparan, dan kezuhudan Rasulullah ﷺ?
Inilah persoalan yang harus dijawab secara ilmiah dan proporsional.
---
Membaca Islam Secara Utuh
Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami ajaran Islam adalah mengambil satu bagian lalu menjadikannya sebagai keseluruhan.
Islam tidak hanya berbicara tentang akidah. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah. Islam juga tidak hanya berbicara tentang akhlak.
Islam merupakan kesatuan antara akidah, ibadah, akhlak, dan syariat.
Semua saling berkaitan dan saling menyempurnakan.
Jika satu bagian dipisahkan dari bagian lainnya, maka pemahaman kita berpotensi menjadi timpang. Dari ketimpangan itulah lahir informasi yang tidak utuh, persepsi yang keliru, bahkan kesimpulan yang bertentangan dengan tujuan syariat.
Bukankah kita dapat melihat sebagian dampaknya dalam kehidupan umat Islam hari ini?
Ada yang memahami agama hanya sebagai ritual.
Ada yang memahami zuhud sebagai kemiskinan.
Ada yang memahami tawakkal sebagai kepasrahan tanpa usaha.
Ada pula yang memandang kekayaan sebagai sesuatu yang hampir selalu bertentangan dengan kesalehan.
Padahal, benarkah demikian?
Allah sendiri berfirman:
«"Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?'"
(QS. Al-A'raf: 32)»
Dan Allah juga berfirman:
«"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu."
(QS. Al-Ma'idah: 87)»
Ayat-ayat ini mengajarkan satu prinsip penting:
Islam tidak mengharamkan kenikmatan dunia yang halal. Yang dilarang adalah ketika dunia menguasai manusia, bukan ketika manusia memiliki dunia.
Maka pertanyaannya berubah.
Bukan lagi:
"Apakah seorang muslim boleh memiliki harta?"
Tetapi:
"Untuk apa harta itu dimiliki?"
Bukan:
"Apakah seorang muslim boleh menikmati kekayaan?"
Tetapi:
"Apakah kekayaan itu berada di tangannya atau sudah menguasai hatinya?"
Di sinilah kita menemukan hakikat zuhud.
Zuhud bukan berarti tidak memiliki harta.
Orang yang tidak memiliki harta belum tentu zuhud.
Zuhud adalah ketika harta berada di tangan, tetapi tidak menjadi penguasa hati. Harta digunakan, tetapi tidak disembah. Kekayaan dimanfaatkan, tetapi tidak dijadikan ukuran utama kemuliaan manusia.
---
Harta dan Tujuan Syariat
Harta bukan sesuatu yang asing dalam syariat.
Sebaliknya, hifzh al-mal, yaitu menjaga harta, merupakan salah satu dari lima kebutuhan primer dalam maqashid asy-syari'ah: menjaga agama (hifzh ad-din), jiwa (hifzh an-nafs), akal (hifzh al-'aql), keturunan atau kehormatan (hifzh an-nasl/al-'irdh), dan harta (hifzh al-mal).
Karena itu, Islam mengatur kepemilikan, perdagangan, utang-piutang, warisan, sedekah, zakat, wakaf, distribusi kekayaan, larangan riba, larangan penipuan, larangan mengambil harta orang lain secara batil, serta berbagai bentuk transaksi finansial.
Mengapa?
Karena harta merupakan salah satu urat nadi kehidupan manusia.
Manusia bekerja untuk mendapatkannya. Manusia menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan. Negara membangun perekonomiannya dengan mengelolanya. Bahkan banyak konflik sosial, politik, dan peperangan dalam sejarah manusia berkaitan erat dengan perebutan sumber daya dan kekayaan.
Karena itu, harta bukan perkara kecil.
Harta membutuhkan aturan.
Harta membutuhkan etika.
Harta membutuhkan pertanggungjawaban.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
"Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia meninggal sebagai syahid."»
Hadis ini menunjukkan betapa Islam memberikan perlindungan terhadap hak kepemilikan.
Pada masa Rasulullah ﷺ, pengelolaan keuangan umat juga mulai mendapatkan fondasi kelembagaan melalui konsep Baitul Mal. Rasulullah ﷺ meletakkan dasar-dasarnya, kemudian pada masa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu sistem tersebut dikembangkan dan ditata lebih luas sesuai kebutuhan negara yang terus berkembang.
Dengan demikian, Islam tidak pernah mengabaikan persoalan finansial.
Islam justru mengaturnya.
---
Rasulullah ﷺ dan Kehidupan Finansial
Rasulullah ﷺ berasal dari Quraisy, suku yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat Arab. Makkah sendiri merupakan pusat perdagangan dengan jaringan perjalanan dagang yang terkenal melalui jalur musim panas dan musim dingin.
Beliau tumbuh sebagai manusia sebagaimana manusia lainnya.
Beliau bekerja.
Beliau menggembala kambing.
Beliau berdagang.
Beliau menikah.
Beliau membangun keluarga.
Beliau memberikan nafkah.
Beliau mengelola harta.
Kemudian beliau menerima wahyu dan diangkat menjadi nabi dan rasul.
Setelah hijrah, beliau menjadi pemimpin masyarakat dan negara di Madinah.
Bukankah justru di sinilah keistimewaan keteladanan beliau?
Beliau tidak mengajarkan Islam hanya melalui kata-kata.
Beliau menjalani seluruh spektrum kehidupan manusia.
Sebagai seorang hamba, beliau adalah teladan dalam ibadah.
Sebagai suami, beliau adalah teladan dalam keluarga.
Sebagai pedagang, beliau adalah teladan dalam mencari penghidupan.
Sebagai pemimpin, beliau adalah teladan dalam mengelola masyarakat.
Sebagai kepala negara, beliau adalah teladan dalam mengelola urusan publik.
Sebagai manusia yang memiliki harta, beliau adalah teladan dalam menggunakan dan mendistribusikannya.
Karena itu, menghilangkan dimensi finansial dari kehidupan Rasulullah ﷺ justru membuat keteladanan beliau menjadi tidak lengkap.
---
Antara Kefakiran, Zuhud, dan Tawakkal
Salah satu persoalan yang paling membutuhkan pelurusan adalah hubungan antara kefakiran, zuhud, dan tawakkal.
Sering kali ketiganya dicampuradukkan.
Kefakiran dianggap sebagai tanda kesalehan.
Zuhud dianggap berarti tidak memiliki harta.
Tawakkal dianggap berarti berhenti berusaha karena rezeki telah ditentukan Allah.
Padahal, apakah demikian yang diajarkan Rasulullah ﷺ?
Tawakkal bukanlah tawakul.
Tawakkal berarti melakukan usaha terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Adapun tawakul adalah meninggalkan usaha dengan berlindung di balik alasan "Allah telah menentukan rezeki".
Perbedaan keduanya sangat mendasar.
Tawakkal melahirkan kerja. Tawakul melahirkan kemalasan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan umat untuk bekerja, berusaha, berdagang, bercocok tanam, mencari rezeki, dan menggunakan sebab-sebab yang Allah sediakan.
Pada saat yang sama, beliau mengajarkan agar hati tidak bergantung kepada sebab.
Sebab adalah sarana.
Allah adalah Pemberi rezeki.
Inilah keseimbangan yang harus dipahami.
---
Rasulullah ﷺ: Teladan dalam Bekerja dan Berusaha
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam bekerja.
Beliau menggembalakan kambing, sebagaimana para nabi sebelumnya.
Kemudian beliau menjalankan perdagangan. Pengalaman, kejujuran, kompetensi, dan reputasi beliau membuat Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha mempercayakan urusan perdagangan kepadanya.
Beliau bukan pribadi yang pasif.
Beliau bekerja.
Beliau berusaha.
Beliau mengembangkan kemampuan.
Beliau membangun reputasi.
Dan setelah menikah, beliau tetap memiliki tanggung jawab finansial sebagai suami dan kepala keluarga.
Di sinilah kita memperoleh pelajaran penting:
Kesalehan tidak menghapus tanggung jawab ekonomi.
Seorang muslim boleh kaya.
Seorang muslim boleh memiliki usaha.
Seorang muslim boleh menikmati rezeki yang halal.
Namun semuanya harus berada di bawah kendali iman dan syariat.
---
Kekayaan yang Mengalir, Bukan Kekayaan yang Membelenggu
Rasulullah ﷺ adalah pribadi yang sangat dermawan.
Beliau digambarkan lebih dermawan daripada angin yang berhembus.
Mengapa seseorang yang hidup sederhana dapat menjadi orang yang begitu dermawan?
Karena kesederhanaan beliau bukan berarti tidak memiliki apa-apa.
Kesederhanaan beliau berarti tidak menjadikan harta sebagai tujuan akhir.
Harta datang kepada beliau, kemudian mengalir kepada orang lain.
Beliau memberi makan tamu.
Beliau memuliakan delegasi.
Beliau memberikan hadiah.
Beliau membantu orang miskin.
Beliau memberikan kepada para muallaf.
Beliau membantu para sahabat.
Beliau membiayai berbagai kepentingan umat.
Beliau juga memperhatikan keluarga dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya.
Inilah salah satu prinsip penting dalam memahami kekayaan Rasulullah ﷺ:
Kekayaan beliau bukan kekayaan yang berhenti pada dirinya. Ia menjadi sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.
---
Harta, Wakaf, dan Baitul Mal
Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian besar kepada wakaf dan kepentingan publik.
Sebagian harta yang berada dalam pengelolaan beliau digunakan untuk kepentingan umat. Setelah beliau wafat, pengelolaan sejumlah harta dan wakaf tersebut menjadi persoalan yang harus ditangani oleh para khalifah dan keluarga beliau.
Karena itu, pembahasan mengenai harta peninggalan Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan pertanyaan:
"Berapa banyak harta yang beliau tinggalkan?"
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
"Untuk apa harta itu digunakan, bagaimana dikelola, dan siapa yang memperoleh manfaat darinya?"
Di sinilah kita memahami bahwa persoalan harta Rasulullah ﷺ bukan sekadar persoalan kekayaan pribadi.
Ia juga berkaitan dengan sejarah institusi sosial, ekonomi, wakaf, dan pengelolaan keuangan umat.
Sejumlah ulama dan sejarawan telah membahas persoalan tersebut dalam karya-karya mereka. Di antaranya terdapat pembahasan mengenai rumah-rumah beliau, tanah, hewan tunggangan, persenjataan, wakaf, dan berbagai aset lainnya.
Dengan demikian, dimensi finansial kehidupan Rasulullah ﷺ bukanlah sesuatu yang tidak dikenal dalam khazanah Islam.
Ia hanya membutuhkan pembacaan yang lebih serius dan menyeluruh.
---
Rasulullah ﷺ dan Tanggung Jawab Sosial
Salah satu sisi kehidupan beliau yang sering terlupakan adalah tanggung jawab sosial.
Rasulullah ﷺ tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Beliau bahkan mengambil tanggung jawab terhadap orang-orang beriman yang meninggal dunia dengan meninggalkan hutang.
Beliau bersabda:
«"Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya. Dan barangsiapa meninggalkan beban atau hutang, maka menjadi tanggung jawab kami."»
Dalam hadis lain, beliau menegaskan bahwa seorang mukmin memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan beliau dan bahwa beliau lebih utama bagi mereka daripada diri mereka sendiri.
Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Rasulullah ﷺ bukan sekadar kekuasaan.
Kepemimpinan adalah tanggung jawab.
Semakin besar kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap manusia.
---
Membaca Sirah Secara Utuh
Pada akhirnya, persoalan ini membawa kita kepada satu prinsip metodologis yang sangat penting:
Jangan membaca sirah secara sepotong-sepotong.
Jangan mengambil satu hadis lalu membangun seluruh gambaran kehidupan Rasulullah ﷺ hanya berdasarkan hadis tersebut.
Jangan mengambil satu peristiwa kelaparan lalu menyimpulkan bahwa seluruh hidup beliau adalah kemiskinan.
Jangan melihat satu bentuk kesederhanaan lalu menganggap bahwa Islam mengajarkan umat untuk menjauhi seluruh bentuk kekayaan.
Sebaliknya, kita harus mempertemukan seluruh riwayat.
Kita harus memperhatikan konteks.
Kita harus membedakan antara kondisi khusus dan kondisi umum.
Kita harus memahami perubahan situasi antara Makkah dan Madinah.
Kita harus melihat perkembangan kehidupan Rasulullah ﷺ sebelum dan sesudah kenabian, sebelum dan sesudah hijrah, sebelum dan sesudah berbagai peperangan, serta perubahan kondisi ekonomi umat Islam.
Bukankah kehidupan manusia memang demikian?
Ada masa sulit.
Ada masa lapang.
Ada masa kekurangan.
Ada masa kecukupan.
Demikian pula kehidupan Rasulullah ﷺ.
Beliau mengalami blokade Quraisy.
Beliau mengalami kelaparan.
Beliau mengalami tekanan ekonomi.
Namun beliau juga mengalami masa ketika sumber daya umat Islam berkembang, ketika berbagai wilayah ditaklukkan, ketika fai dan ghanimah tersedia, dan ketika kemampuan ekonomi masyarakat Muslim meningkat.
Keseluruhan fase itu merupakan bagian dari sirah beliau.
---
Mengapa Kajian Ini Penting?
Kajian mengenai harta Rasulullah ﷺ bukanlah upaya untuk menjadikan beliau sebagai simbol materialisme.
Sama sekali bukan.
Justru sebaliknya.
Kajian ini hendak menunjukkan bahwa Islam tidak memusuhi kekayaan; Islam mengajarkan bagaimana kekayaan seharusnya ditempatkan.
Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai tujuan.
Islam juga tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan.
Islam mengajarkan tanggung jawab.
Harta boleh berada di tangan.
Tetapi iman harus berada di hati.
Harta boleh bertambah.
Tetapi keserakahan tidak boleh bertambah.
Kekayaan boleh luas.
Tetapi kepedulian harus lebih luas.
Seseorang boleh memiliki banyak.
Tetapi ia harus mampu memberi lebih banyak.
Inilah yang kita lihat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.
Beliau bukan teladan karena tidak memiliki apa-apa.
Beliau adalah teladan karena apa pun yang beliau miliki tidak pernah menjadikan beliau budak harta.
---
Penutup
Karena itu, membaca kehidupan finansial Rasulullah ﷺ secara utuh menjadi sebuah kebutuhan ilmiah sekaligus kebutuhan dakwah.
Kita membutuhkan pembacaan yang mampu mempertemukan hadis, sirah, sejarah, fikih, maqashid asy-syari'ah, dan realitas kehidupan beliau.
Kita membutuhkan pembacaan yang tidak terjebak pada romantisme kemiskinan.
Kita juga membutuhkan pembacaan yang tidak terjerumus kepada pemujaan kekayaan.
Kita membutuhkan keseimbangan.
Sebab Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam seluruh aspek kehidupan yang memang dimaksudkan sebagai keteladanan bagi umat, kecuali perkara-perkara yang secara tegas dinyatakan sebagai kekhususan beliau.
Beliau adalah teladan dalam bekerja.
Beliau adalah teladan dalam mencari rezeki.
Beliau adalah teladan dalam memberikan nafkah.
Beliau adalah teladan dalam mengelola kekayaan.
Beliau adalah teladan dalam menerima dan memberikan hadiah.
Beliau adalah teladan dalam memuliakan tamu.
Beliau adalah teladan dalam bersedekah.
Beliau adalah teladan dalam berwakaf.
Beliau adalah teladan dalam mengelola kepentingan umat.
Dan yang paling penting, beliau adalah teladan dalam meletakkan harta pada tempat yang semestinya.
Harta berada di tangan beliau, tetapi tidak menguasai hati beliau.
Dunia berada dalam genggaman beliau, tetapi akhirat tetap menjadi orientasi beliau.
Beliau bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap bertawakkal kepada Allah.
Beliau memiliki harta, tetapi tidak diperbudak oleh harta.
Beliau memperoleh kekayaan, tetapi kekayaan itu mengalir kembali menjadi sedekah, bantuan, nafkah, wakaf, dan kemaslahatan.
Maka, mungkin pertanyaan yang selama ini kita ajukan perlu diubah.
Bukan lagi:
"Apakah Rasulullah ﷺ kaya atau miskin?"
Melainkan:
"Bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan kekayaan ketika Allah memberikannya kepada beliau?"
Dan bukan pula:
"Mengapa Rasulullah ﷺ pernah hidup dalam kesulitan?"
Melainkan:
"Apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada kita ketika berada dalam kesulitan maupun ketika berada dalam kelapangan?"
Di situlah letak keteladanan beliau.
Bukan pada jumlah harta yang dimiliki.
Bukan pula pada sedikitnya harta yang berada di tangan.
Tetapi pada cara memperoleh, mengelola, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan harta di hadapan Allah.
Sumber:
Muhammad Mustafa Az-Zuhaili, Harta Nabi, Pustaka Al-Kautsar, 2018
0 komentar: