basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Kebutuhan Kehadiran Negara Berdasarkan  Dalil dari Karakter Islam Adapun karakte...


Kebutuhan Kehadiran Negara Berdasarkan 
Dalil dari Karakter Islam

Adapun karakter Islam dan risalahnya sudah jelas bagi kita. Islam adalah agama yang umum dan syariat yang komprehensif. Karena itu, syariat Islam harus mencakup seluruh dimensi kehidupan. Tidak dapat dibayangkan bahwa syariat Islam mengabaikan masalah kenegaraan dan menyerahkan pengelolaannya kepada orang-orang fasik dan ateis.

Di samping itu, Islam mengajarkan pentingnya menata dan merinci tanggung jawab. Islam membenci kesemrawutan dan kekacauan dalam segala hal. Bahkan, kita melihat Rasulullah saw. menyuruh kita merapikan dan menyamakan shaf dalam shalat serta mendahulukan orang yang paling berpengetahuan untuk menjadi imam. Dalam melakukan perjalanan pun beliau bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ، فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Bila tiga orang mengadakan perjalanan, maka mereka diminta untuk menunjuk salah seorang menjadi ketua.”
(Diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadis Abu Sa'id dan Abu Hurairah.)⁸

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam bukunya Kebijaksanaan Syariat:

“Perlu diketahui bahwa penunjukan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan, agama tidak akan tegak dan dunia tidak akan baik tanpa pemimpin tersebut. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial. Karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Sedangkan kehidupan sosial itu harus ada yang memimpinnya.”⁹

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi saw. bersabda:

لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ أَنْ يَكُونُوا بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

“Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali bila mereka mengangkat salah seorang sebagai Amir (pemimpin).”

Rasulullah saw. mengharuskan pengangkatan pemimpin dalam kehidupan sosial, bahkan dalam perjalanan. Hal itu merupakan peringatan bagi semua bentuk perkumpulan bahwa keteraturan membutuhkan kepemimpinan.

Sesungguhnya Allah mengharuskan amar ma'ruf dan nahi mungkar, sementara hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan kekuatan dan kekuasaan. Begitu juga semua yang diwajibkan Allah, seperti jihad, berlaku adil, menunaikan ibadah haji, mendirikan shalat Jumat dan shalat hari raya, menolong orang yang teraniaya, serta menerapkan hukum hudud. Semua itu tidak akan terlaksana tanpa kekuatan dan kekuasaan.

Karena itu diriwayatkan: “Penguasa adalah ‘bayangan’ Allah di muka bumi.” Karena itu pula kaum salaf, seperti Fudhail bin 'Iyadh, Ahmad bin Hambal, dan lainnya, mengatakan: “Kiranya kami mempunyai dakwah yang ampuh, tentu kami akan mengarahkan dakwah itu kepada penguasa.” Sebab, Allah memperbaiki keadaan makhluk dengan kebaikan penguasa.

Di lain pihak, Islam, sesuai dengan karakternya sebagai sebuah sistem, ingin mengarahkan kehidupan sosial secara keseluruhan dan menata tindak-tanduk manusia sesuai dengan tatanan Allah. Agaknya, Islam tidak akan puas hanya dengan memberikan peringatan dan pelajaran. Islam juga tidak akan puas hanya dengan menyerahkan berbagai hukum, nilai, dan pengarahan kepada nurani individu.

Sebab, bila nurani itu sakit atau mati, berbagai hukum, nilai, dan pengarahan tersebut akan mati pula bersamanya. Khalifah ketiga ra. mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

“Sesungguhnya Allah mencegah dengan penguasa apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur'an.”

Sebagian manusia dapat dituntun dengan Al-Qur'an dan neraca, namun sebagian yang lain hanya dapat diluruskan dengan kekuatan. Karena itu Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia...” (al-Hadid: 25)

Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Siapa yang tidak bisa diluruskan dengan Al-Qur'an, maka diluruskan dengan kekuatan. Karena itu, agama ditegakkan dengan Al-Qur'an dan senjata.”¹⁰

Imam Ghazali mengatakan:

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَلَا يَتِمُّ الدِّينُ إِلَّا بِالدُّنْيَا، وَالْمُلْكُ وَالدِّينُ تَوْءَمَانِ، فَالدِّينُ أَصْلٌ، وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ، وَلَا يَتِمُّ الْمُلْكُ وَالضَّبْطُ إِلَّا بِالسُّلْطَانِ

“Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang, sementara penguasa adalah penjaga. Bangunan tanpa tiang akan rubuh, dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan penguasa.”¹¹

Walaupun berbagai teks Islam tidak mengungkapkan secara terus terang keharusan mendirikan negara Islam, dan sejarah Rasul serta para sahabatnya tidak pula memperlihatkan penerapan praktis atas apa yang dihimbau oleh berbagai teks tersebut, tentu karakter risalah Islamiyah sendiri pasti akan menegaskan pentingnya mendirikan negara Islam yang mempunyai keistimewaan dari segi akidah, syiar, ajaran, pemahaman, moral, tata krama, tradisi, dan legislasi.

Kapan pun Islam tetap membutuhkan suatu negara yang akan menjadi pusat pengembangan dakwahnya. Namun, di zaman sekarang kebutuhan itu sangat mendesak. Di zaman sekarang telah muncul “negara ideologi”, yaitu suatu negara yang mengadopsi suatu pemikiran. Berdasarkan pemikiran inilah negara tersebut dibangun, dan berdasarkan pemikiran itu pula dikembangkan ajaran, kebudayaan, legislasi, hukum berbagai persoalan dalam dan luar negeri, serta ekonomi dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat.

Hal ini dapat kita lihat dengan jelas pada negara komunis dan sosialis. Dengan dukungan ilmu pengetahuan modern dan kemajuan teknologi, negara mampu memengaruhi akidah, pemikiran, perasaan, perilaku, dan cara berpikir masyarakat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, negara dengan berbagai aparatnya yang modern mampu mengubah nilai-nilai dan moral masyarakat secara total. Hal ini akan terus berlangsung bila tidak ada kekuatan yang lebih hebat untuk menentangnya.

Negara Islam adalah “negara yang berlandaskan akidah dan pemikiran”. Suatu negara yang ditegakkan berdasarkan akidah dan sistem, bukan hanya sebagai sarana keamanan yang menjamin masyarakat dari serangan luar maupun dalam. Bahkan, tugas negara tersebut jauh lebih berarti dan lebih besar dari itu.

Tugasnya adalah mendidik umat dengan berbagai ajaran dan prinsip Islam serta menyiapkan situasi yang cocok untuk mentransformasikan akidah, pemikiran, dan ajaran Islam ke dalam kehidupan praktis. Hal itu akan menjadi suri teladan bagi mereka yang mencari petunjuk dan menjadi pedoman bagi mereka yang menempuh jalan yang sesat.

Karena itu, Ibnu Khaldun memberikan definisi kekuasaan sebagai berikut:

“Mengarahkan semua orang sesuai dengan konsep syariat demi kebaikan dunia dan akhirat mereka. Menurut pandangan pembuat syariat, seluruh kepentingan duniawi harus dinilai dengan kepentingan ukhrawi. Kekuasaan itu pada dasarnya merupakan pengganti dari pemilik legislasi (Allah) untuk menjaga agama dan melindungi kepentingan dunia.”¹²

Karena itu pula Allah berfirman ketika Dia mengukuhkan kekuasaan orang-orang mukmin di muka bumi—dengan kata lain, ketika mereka mempunyai negara:

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan munkar...” (al-Hajj: 41)

Semboyan negara Islam adalah seperti yang diungkapkan Rib'i bin 'Amir kepada Rustum, panglima Persia:

“Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari menyembah sesama kepada menyembah Allah saja, dari kesempitan dunia kepada kelapangannya, dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam.”

Selain itu, negara Islam yang ditegakkan berdasarkan akidah dan pemikiran bukanlah negara lokal, tetapi negara yang mempunyai misi internasional. Sebab, Allah swt. sendiri menugaskan umat Islam untuk berdakwah kepada seluruh umat manusia dengan petunjuk dan cahaya yang ada pada mereka. Di samping itu, Allah juga menjadikan umat Islam sebagai saksi dan pengasuh umat manusia.

Umat Islam bukanlah umat yang tumbuh dengan sendirinya dan hanya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, mereka diutus Allah untuk manusia sekalian dan dijadikan-Nya sebaik-baik umat, seperti yang tercantum dalam firman-Nya:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia...” (al-Baqarah: 143)

Karena itu, kita melihat Rasulullah saw. ketika beliau mendapatkan kesempatan setelah Perjanjian Hudaibiyah, menulis surat kepada berbagai raja dan kepala negara di seluruh penjuru dunia. Beliau mengajak mereka untuk beriman kepada Allah dan bergabung di bawah bendera tauhid. Beliau membebankan kepada mereka dosa rakyat dan dosa diri mereka sendiri bila mereka tidak mengindahkan ajakan beliau.

Beliau selalu menutup suratnya dengan ayat berikut:

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’” (Ali 'Imran: 64)



Menggali Sejarah dari Al-Qur'an  JIKA berkenan dan tidak terlalu merepotkan,...

Menggali Sejarah dari Al-Qur'an 

JIKA berkenan dan tidak terlalu merepotkan, kiranya Anda meletakkan satu mushaf Al-Qur'an di hadapan Anda. Tidak menjadi soal ukuran mushaf atau penerbitnya. Bahkan, jika Anda mengambil Al-Qur'an terjemahan sekalipun—misalnya karena sedang dalam keadaan berhadats—hal itu pun tidak mengapa. Jika sudah, nanti kita akan kembali kepada mushaf atau Al-Qur'an terjemahan tersebut.

Sebagian besar kandungan Al-Qur'an bersinggungan dengan informasi sejarah, baik melalui kisah para nabi dan umat terdahulu, peristiwa masa lalu, maupun pelajaran yang dapat dipetik untuk memahami prinsip-prinsip sejarah. Bahkan, jika dilihat dari keseluruhan kandungannya, lembaran-lembaran mushaf Al-Qur'an yang memuat informasi sejarah lebih banyak daripada yang sama sekali tidak bersinggungan dengannya, baik secara eksplisit maupun melalui penjelasan dan tafsiran para ulama. Artinya, jika kita membuka mushaf Al-Qur'an secara acak, kemungkinan kita menemukan informasi sejarah lebih besar daripada sebaliknya.

Sekarang, bukalah mushaf atau Al-Qur'an terjemahan secara acak, lalu arahkan pandangan Anda kepada salah satu dari dua lembar yang terbuka. Anda dapat langsung mencobanya saat ini juga.

Saat menulis paragraf ini, Penulis memiliki sebuah mushaf dan Al-Qur'an terjemahan di atas meja. Baru saja Penulis membuka mushaf Al-Qur'an secara acak pada bagian awal, lalu pandangan Penulis tertuju kepada lembaran sebelah kiri. Ayat pertama yang terlihat adalah Surah Ali 'Imran ayat 93, yang berbunyi,

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِن قَبْلِ أَن تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ ۗ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Semua makanan halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israel (Yaqub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.’” (Ali 'Imran: 93)

Tak pelak lagi, ayat di atas mengandung sejumlah informasi tentang masa lalu. Ayat tersebut menyebutkan bahwa seluruh makanan pada dasarnya halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Nabi Yaqub) atas dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Pengharaman tersebut berlaku khusus bagi beliau sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Setelah masa Nabi Yaqub berlalu dan Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, barulah terdapat sejumlah pengharaman makanan yang berkaitan dengan dosa dan kemaksiatan Bani Israil.

Bukankah uraian tersebut bersinggungan dengan kisah dan peristiwa umat terdahulu? Dengan demikian, bahkan satu ayat yang tampak berbicara tentang hukum makanan pun dapat membawa kita menelusuri informasi sejarah.

Penulis kemudian kembali membuka mushaf secara acak, kali ini pada bagian tengah. Pandangan Penulis jatuh pada lembaran sebelah kanan, tepatnya Surah Maryam. Pada ayat ke-77 disebutkan,

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا

“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kufur kepada ayat-ayat Kami dan mengatakan, ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak.’” (Maryam: 77)

Sekilas, ayat ini tidak menyuguhkan informasi sejarah secara gamblang. Namun, apabila kita melihat salah satu uraian tafsir, ayat tersebut ditujukan kepada Al-'Ash bin Wa'il As-Sahmi. Ia mengingkari ayat-ayat Allah dan berdusta dengan mengatakan bahwa dirinya pasti akan diberi harta dan keturunan di akhirat kelak. Bukankah keterangan mengenai seorang tokoh tersebut juga merupakan bagian dari informasi sejarah?

Selain itu, Surah Maryam sendiri memuat kisah tentang salah satu wanita paling mulia, yaitu Maryam. Kisah, pada dasarnya, merupakan salah satu unsur penting dalam pengetahuan sejarah. Dengan demikian, ayat yang secara sekilas tidak tampak historis pun dapat membuka pintu menuju penelusuran sejarah melalui tafsir dan konteksnya.

Penulis kembali membuka mushaf Al-Qur'an secara acak, kali ini pada bagian akhir. Pandangan Penulis sampai pada lembaran sebelah kanan, yaitu Surah Al-Hasyr. Pada ayat pertama disebutkan,

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasyr: 1)

Lalu pada ayat kedua disebutkan,

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang yang kufur di antara Ahli Kitab dari kampung halaman mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar. Mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat menjaganya dari (azab) Allah. Maka, (azab) Allah datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka. Dia menanamkan rasa takut di dalam hati mereka sehingga mereka menghancurkan rumah-rumahnya dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka, ambillah pelajaran (dari kejadian itu), wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Al-Hasyr: 1–2)

Ayat kedua Surah Al-Hasyr di atas sudah tidak memerlukan penjelasan panjang untuk menunjukkan kandungan sejarahnya. Ayat tersebut bahkan merupakan bagian penting dari sirah Nabi yang membahas peristiwa pengusiran kaum Yahudi dari Madinah, khususnya Bani Nadhir. Di sini, Al-Qur'an bukan sekadar menyebut sebuah peristiwa masa lalu, tetapi juga mengarahkan manusia untuk mengambil pelajaran darinya: “Maka, ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan.”

Dari beberapa contoh tersebut, terlihat bahwa hubungan Al-Qur'an dengan sejarah tidak hanya terdapat pada ayat-ayat yang secara langsung menceritakan kisah dan peristiwa masa lalu. Bahkan ayat-ayat yang secara lahiriah berbicara tentang hukum atau akidah pun terkadang memiliki relevansi sejarah.

Tentu saja ada ayat-ayat Al-Qur'an yang secara lahiriah tidak bersinggungan langsung dengan sejarah, seperti ayat-ayat tentang hukum waris, utang-piutang, talak, atau qishash. Namun demikian, ayat-ayat hukum tersebut pun terkadang memiliki relevansi sejarah. Hukum qishash, misalnya, merupakan salah satu syariat yang secara umum juga pernah berlaku pada umat terdahulu. Bani Israil diwajibkan qishash, sedangkan umat Nasrani diwajibkan memaafkan. Adapun umat Islam diberi pilihan antara qishash dan memaafkan. Dengan demikian, penyebutan qishash dalam Al-Qur'an juga dapat membuka pintu penelusuran sejarah, terutama dalam rangka melihat perbandingan syariat antarumat.

Demikian pula surah yang secara gamblang tidak mengandung informasi sejarah, seperti Surah Al-Ikhlas. Surah yang menegaskan aspek tauhid ini tetap memiliki relevansi sejarah melalui uraian para ulama tafsir. Sebagai contoh, dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan sejumlah pendapat mengenai sebab turunnya ayat pertama Surah Al-Ikhlas, “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.” Di antaranya dikaitkan dengan keyakinan orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan kaum musyrik mengenai Tuhan dan sesembahan mereka.

Tidak sedikit cendekiawan Muslim belakangan juga mengaitkan Surah Al-Ikhlas dengan perkembangan perdebatan teologis dalam sejarah Kristen, termasuk Konsili Nicea pada tahun 325 M yang melahirkan rumusan mengenai hubungan antara Yesus dan Tuhan Bapa. Dengan demikian, bahkan surah yang sangat singkat dan secara langsung berbicara tentang tauhid pun dapat bersinggungan dengan sejarah melalui konteks turunnya ayat dan penjelasan para ulama.

Bahkan jika kita kembali ke awal mushaf, di sana terdapat Surah Al-Fatihah. Surah ini pun tidak secara gamblang menyajikan informasi sejarah. Namun, jika melihat uraian para ulama tafsir, ayat terakhirnya—tentang orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang tersesat—dikaitkan dengan umat-umat terdahulu, khususnya Yahudi dan Nasrani. Pengaitan tersebut, dari ranah tafsir, membawa kita kembali kepada sejarah umat-umat terdahulu sebelum Rasulullah saw. diutus sebagai nabi terakhir.

Apa yang menyebabkan suatu umat memperoleh kemurkaan? Apa yang menyebabkan umat lainnya tersesat? Bagaimana sikap mereka terhadap petunjuk Allah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya membawa kita kepada penelusuran sejarah. Sejarah tidak hanya berfungsi untuk mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi juga untuk memahami sebab-sebab yang mengantarkan suatu umat kepada kemuliaan atau kehinaan.

Terlebih lagi ketika kita membahas hadits Nabi. Sejatinya, ilmu hadits memiliki dimensi yang sangat kuat dalam verifikasi riwayat masa lalu. Para ulama hadits mengembangkan metode yang sistematis untuk mengumpulkan, mencatat, menghafal, memverifikasi, mengklasifikasi, membukukan, dan mengajarkan hadits-hadits Nabi.

Mereka juga meneliti rantai periwayatan hadits, baik dengan menyelidiki individu-individu yang terdapat dalam sanad maupun dengan mengkaji isi hadits atau matan. Mereka meneliti siapa yang meriwayatkan, kepada siapa ia meriwayatkan, apakah hubungan antarperawi memungkinkan, bagaimana kualitas masing-masing perawi, serta bagaimana kesesuaian matan dengan berbagai riwayat lainnya. Karena itu, ilmu hadits dapat dipandang sebagai salah satu tradisi verifikasi riwayat yang sangat berkembang dalam khazanah keilmuan Islam.

Selain tampak dalam Al-Qur'an dan hadits, kedudukan sejarah dalam Islam juga dapat dilihat dari karya-karya para ulama. Ibnu Jarir Ath-Thabari menyusun karya ensiklopedik berjilid-jilid tentang sejarah yang berjudul Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk. Ibnu Katsir juga menyusun karya sejarah yang sangat luas berjudul Al-Bidayah wa An-Nihayah. Ibnu Khaldun merupakan sejarawan lainnya melalui karya monumentalnya, Al-'Ibar wa Diwan Al-Mubtada' wa Al-Khabar. Bagian pendahuluan atau Muqaddimah dari karya tersebut, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hampir mencapai seribu halaman.

Karya Ibnu Khaldun bahkan sering dibahas dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran tentang masyarakat dan metode penulisan sejarah. Belum lagi karya-karya berjilid-jilid dari Al-Mas'udi (Muruj Adz-Dzahab wa Ma'adin Al-Jawhar), Ibnul Atsir (Al-Kamil fi At-Tarikh), Al-Ya'qubi (Tarikh Al-Ya'qubi), dan para ulama lainnya.

Menarik untuk dicatat bahwa Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir merupakan dua di antara ulama tafsir yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam. Keduanya bukan hanya dikenal melalui karya tafsir yang monumental, tetapi juga melalui karya sejarah yang fenomenal. Fakta ini memperlihatkan adanya keterkaitan erat antara Al-Qur'an, tafsir, hadits, dan sejarah dalam tradisi keilmuan Islam.

Seorang ulama tafsir dapat melahirkan karya besar di bidang sejarah. Demikian pula seorang ulama hadits dapat menghasilkan karya yang menjadi rujukan dalam penelusuran masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah bukan ilmu yang berada di luar bangunan keilmuan Islam, melainkan telah lama menjadi bagian dari tradisi intelektual umat Islam.

Karena sejarah memiliki kedudukan yang penting dalam Islam, sebagaimana tampak dalam Al-Qur'an, hadits Nabi, dan karya-karya para ulama, setiap Muslim semestinya memiliki kepekaan sejarah. Tidak setiap Muslim harus menjadi sejarawan dalam pengertian profesi, tetapi setiap Muslim perlu memahami bagaimana umat-umat terdahulu menjalani kehidupan, menghadapi ujian, memperoleh kemuliaan, atau mengalami kehinaan.

Sebaliknya, amnesia sejarah dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat karena seseorang lalai mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi kepada umat-umat terdahulu. Bukankah di akhirat nanti manusia akan diperlihatkan apa yang telah dikerjakannya? Amal saleh maupun amal buruk yang dilakukan di dunia tidak berhenti pada masa lalu. Konsekuensinya dapat terus mengikuti manusia hingga kehidupan akhirat.

Dengan kata lain, masa lalu tidak pernah benar-benar usai. Peristiwa boleh berlalu, tokoh boleh meninggal, dan zaman boleh berganti, tetapi konsekuensi dari perbuatan tetap dapat berlanjut. Karena itu, mempelajari sejarah bukan sekadar menengok ke belakang. Sejarah juga merupakan upaya memahami sebab dan akibat, mengambil ibrah, serta membaca pola kehidupan manusia.

Buku yang ada di tangan Anda sekarang ini merupakan ikhtiar kedua tangan Penulis untuk meraup beberapa tetes dari samudera faedah Al-Qur'an yang luasnya tak bertepi. Al-Qur'an adalah petunjuk dan penjelas bagi manusia, serta menjadi sumber yang sangat kaya bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Dalam konteks sejarah, Al-Qur'an menghadirkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh sumber sejarah biasa: bukan sekadar informasi tentang apa yang terjadi, tetapi juga penjelasan tentang makna, sebab, akibat, dan pelajaran dari berbagai peristiwa.

Sejarawan atau penuntut ilmu sejarah yang mengabaikan kandungan Al-Qur'an sesungguhnya telah meninggalkan salah satu sumber penting dalam memahami manusia dan perjalanan peradaban. Sebaliknya, para ulama terdahulu yang menghabiskan usia dan tenaga untuk mempelajari Al-Qur'an telah melahirkan karya-karya yang tidak hanya menerangi kehidupan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari khazanah sejarah intelektual umat manusia.

Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan sebab berpegang teguh kepada Kitab ini (Al-Qur'an) dan merendahkan kaum lainnya dengan sebab menelantarkan Kitab ini.” (HR. Muslim)

Maka, menyelami kandungan sejarah dalam Al-Qur'an bukan hanya berarti menguak realitas masa lalu. Ia juga dapat menjadi jalan untuk memperoleh berbagai faedah dari interaksi dengan Al-Qur'an: ketenangan hati, pahala pada setiap huruf yang dibaca, penyembuhan penyakit hati dan badan, harapan untuk menjadi bagian dari keluarga Allah, perlindungan rumah dari gangguan setan, keberkahan waktu, serta ketajaman kepekaan spiritual dan intelektual.

Pada akhirnya, mempelajari sejarah melalui Al-Qur'an bukanlah sekadar kegiatan mengumpulkan cerita tentang orang-orang yang telah berlalu. Ia adalah usaha membaca perjalanan manusia dengan bimbingan wahyu: memahami apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, apa akibatnya, dan pelajaran apa yang harus dibawa ke masa depan. Sebab, masa lalu yang dibaca dengan petunjuk Al-Qur'an tidak berhenti menjadi kenangan; ia berubah menjadi ibrah, bekal, dan peta untuk menapaki masa depan.

Selanjutnya, apa yang Yahudi lakukan setelah melemparkan Kitab Allah yang membenarkan kitab yang ada pad...




Selanjutnya, apa yang Yahudi lakukan setelah melemparkan Kitab Allah yang membenarkan kitab yang ada pada mereka? Apakah mereka kemudian berlindung kepada sesuatu yang lebih baik daripada Kitab Allah? Apakah mereka berpijak pada kebenaran yang tidak mengandung keraguan? Ataukah mereka berpegang teguh pada kitab yang justru dibenarkan oleh Al-Qur'an?

Tidak. Sama sekali tidak.

Mereka justru melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, lalu mengikuti dongeng-dongeng dan cerita-cerita yang samar, yang tidak bersandar pada hakikat yang pasti. Al-Qur'an menggambarkan pilihan mereka itu dengan firman-Nya:

«وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ»

«فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ۝ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ»

«“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal, Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka, mereka mempelajari dari keduanya apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dan istrinya. Dan mereka tidak dapat membahayakan seseorang dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang membahayakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya dengan sihir itu, tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat. Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui. Dan sekiranya mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. al-Baqarah: 102–103)»

Mereka meninggalkan Kitab Allah yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, kemudian mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Setan-setan itu menyebarkan berbagai tuduhan dan kebohongan mengenai Nabi Sulaiman, di antaranya dengan menuduh bahwa beliau adalah seorang tukang sihir dan bahwa kekuasaannya diperoleh melalui sihir.

Al-Qur'an dengan tegas membantah tuduhan tersebut:

«وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ

“Padahal, Sulaiman itu tidak kafir.”»

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Nabi Sulaiman tidak melakukan sihir. Sebaliknya, Al-Qur'an mengaitkan kekafiran itu dengan setan-setan:

«وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.”»

Dengan demikian, Al-Qur'an membersihkan Nabi Sulaiman dari tuduhan tersebut sekaligus menunjukkan kebatilan sumber cerita yang mereka ikuti.

Harut dan Marut sebagai Ujian

Al-Qur'an kemudian menyebut Harut dan Marut. Dalam konteks ayat ini, Al-Qur'an menjelaskan bahwa keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang tanpa terlebih dahulu memberikan peringatan:

«إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir.”»

Artinya, siapa pun yang datang untuk mempelajari sesuatu dari keduanya terlebih dahulu diberi tahu bahwa hal tersebut merupakan ujian. Mereka diperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam kekafiran.

Namun, sebagian manusia tetap memilih untuk mempelajarinya. Mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut dan kemudian menggunakan apa yang mereka pelajari untuk melakukan keburukan:

«فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dan istrinya.”»

Inilah salah satu bentuk bahaya yang diperingatkan kepada mereka. Sesuatu yang sejak awal telah diperingatkan sebagai ujian justru mereka pilih dan gunakan untuk merusak hubungan manusia.

Semua Sebab Berjalan dengan Izin Allah

Setelah menjelaskan pengaruh sihir, Al-Qur'an segera menetapkan sebuah hakikat yang sangat penting dalam pandangan Islam:

«وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan mereka tidak dapat membahayakan seseorang dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah.”»

Dengan demikian, tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan pengaruh secara mandiri di luar kehendak dan izin Allah. Sebab-sebab yang ada di alam ini bekerja dan menghasilkan pengaruh karena Allah memberikan kemampuan tersebut kepadanya.

Inilah salah satu kaidah penting dalam tashawwur Islam yang harus tertanam dalam hati seorang mukmin.

Contoh yang paling dekat adalah api. Ketika seseorang menyodorkan tangannya kepada api, secara normal tangannya akan terbakar. Namun, kemampuan api untuk membakar bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Allah-lah yang memberikan karakteristik tertentu kepada api dan menjadikannya sebagai sebab terjadinya pembakaran.

Karena itu, Allah juga berkuasa menghentikan pengaruh tersebut apabila Dia menghendakinya karena suatu hikmah tertentu. Hal itu, misalnya, terjadi ketika Allah memerintahkan api agar menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim a.s.

Demikian pula dengan sihir. Jika sihir menimbulkan suatu pengaruh, pengaruh tersebut tidak terjadi secara independen dari Allah. Ia tetap berada di bawah izin dan kehendak-Nya. Allah dapat membiarkan suatu sebab menghasilkan pengaruh sebagaimana biasanya, dan Allah pula berkuasa menghentikan pengaruh tersebut apabila Dia menghendakinya.

Demikianlah keadaan seluruh sebab yang kita ketahui dapat memberikan pengaruh. Setiap sebab memiliki karakteristik tertentu yang memungkinkan munculnya suatu pengaruh, tetapi semua itu tetap berada di bawah kehendak dan izin Allah.

Sesuatu yang Membahayakan dan Tidak Memberi Manfaat

Setelah menetapkan hakikat tersebut, Al-Qur'an kembali kepada hakikat lain yang tidak kalah penting: apa yang mereka pelajari itu pada akhirnya hanya membawa mudarat dan tidak memberikan manfaat.

Allah berfirman:

«وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ

“Mereka mempelajari sesuatu yang membahayakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka.”»

Mereka memilih sesuatu yang sejak awal telah diperingatkan sebagai ujian. Mereka menggunakannya untuk melakukan keburukan, bahkan untuk merusak hubungan antara suami dan istri. Karena itu, pilihan tersebut pada hakikatnya tidak membawa manfaat, melainkan kerugian bagi diri mereka sendiri.

Kerugian itu tidak hanya berkaitan dengan kehidupan dunia. Al-Qur'an menegaskan bahwa mereka sebenarnya telah mengetahui akibat yang akan mereka terima di akhirat:

«وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

“Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya dengan sihir itu, tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat.”»

Mereka mengetahui bahwa pilihan tersebut akan menyebabkan mereka kehilangan bagian kebaikan di akhirat. Namun, mereka tetap memilihnya.

Karena itu, Al-Qur'an menggambarkan pilihan tersebut sebagai transaksi yang sangat buruk:

«وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.”»

Mereka seakan-akan menjual diri mereka sendiri demi sesuatu yang tidak memberi manfaat hakiki. Mereka meninggalkan apa yang berasal dari Allah dan memilih sesuatu yang justru merusak kehidupan dunia dan menghilangkan keuntungan di akhirat.

Padahal, jalan yang tersedia bagi mereka sebenarnya jauh lebih baik:

«وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ

“Dan sekiranya mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik.”»

Iman dan takwa akan membawa mereka kepada pahala dari Allah. Itulah pilihan yang lebih baik daripada segala sesuatu yang mereka kejar melalui sihir dan kebatilan.

Pilihan antara Kitab Allah dan Kebatilan

Dengan demikian, rangkaian ayat ini memperlihatkan kontras yang sangat jelas. Di satu sisi terdapat Kitab Allah yang datang membawa kebenaran dan membenarkan kitab yang ada pada mereka. Di sisi lain, mereka memilih mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan, mempercayai tuduhan terhadap Nabi Sulaiman, mempelajari sihir, dan menggunakan sesuatu yang membahayakan serta tidak memberi manfaat.

Persoalannya bukan semata-mata tentang sihir. Persoalan yang lebih mendasar adalah pilihan mereka terhadap sumber kebenaran. Mereka meninggalkan wahyu yang berasal dari Allah, lalu mengikuti kebatilan yang disebarkan oleh setan.

Karena itu, peringatan ayat ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang mempelajari sihir di Babil, atau orang-orang yang mengikuti apa yang diceritakan oleh setan-setan pada masa Nabi Sulaiman dan kerajaannya. Peringatan ini juga berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, kemudian memilih untuk mengikuti kebatilan dan keburukan yang tercela itu.

Pada akhirnya, ayat ini mengembalikan manusia kepada satu pilihan mendasar: berpegang kepada wahyu Allah atau mengikuti kebatilan yang menjauhkan manusia dari kebenaran.

Dua Juta Target Zionis Israel di Gaza: Saat Garis Perang dan Kemanusiaan Tidak Ada Lagi ...


Dua Juta Target Zionis Israel di Gaza: Saat Garis Perang dan Kemanusiaan Tidak Ada Lagi

Di dalam ruang kendali drone yang steril, perang sering kali tersaji sebagai abstraksi digital—titik-titik panas pada sensor termal dan koordinat matematis yang bersih.

Namun, pengakuan mengejutkan dari seorang veteran operator drone baru-baru ini merobek tirai optik tersebut, menyingkap apa yang terjadi ketika teknologi mutakhir tidak lagi melayani presisi militer, melainkan memfasilitasi penghapusan kemanusiaan secara sistemis. 

Ini bukan kesaksian seorang amatir yang naif; operator ini adalah seorang prajurit yang telah bertugas sejak 2008 dan telah mengeksekusi 54 target sebelum Oktober 2023.

Namun, apa yang ia saksikan dalam inkursi terbaru ini adalah runtuhnya segala aturan keterlibatan (rules of engagement) yang pernah ia kenal.


Arsitektur Kematian Masal: Melampaui Target Militer

Ketika sang operator kembali dari cuti singkat pada April 2025, ia menemukan sebuah paradigma militer yang telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.

Dalam sebuah interaksi yang dingin, seorang perwira intelijen menjelaskan bahwa daftar target tidak lagi terbatas pada faksi bersenjata atau infrastruktur militer. Baginya, status "warga sipil" telah dihapus secara retoris dan operasional dalam struktur berpikir militer saat ini.

“You have two million targets in Gaza.”

Pernyataan ini bukan sekadar hiperbola; ini adalah kebijakan. Dengan menganggap seluruh populasi sebagai sasaran potensial, militer secara efektif melegalkan kekerasan tanpa batas.

Bagi seorang veteran yang telah membunuh puluhan orang dalam "perang konvensional" sebelumnya, pergeseran ini menandakan hilangnya batasan moral yang membedakan operasi militer dengan penghancuran massal yang terorganisir.


Ketika Tanda Bulan Sabit Menjadi Sasaran

Tragedi di lingkungan Tel al-Sultan, Rafah, pada Maret 2025, menjadi bukti nyata dari hilangnya akuntabilitas tersebut. Sebuah konvoi medis yang membawa tanda identifikasi yang sangat jelas—bahkan saat tembakan mulai dilepaskan—diserang secara brutal oleh pasukan darat.

Lima belas pekerja medis dan bantuan tewas dalam insiden yang disaksikan langsung oleh operator melalui kamera drone-nya.

"Tanpa alasan yang jelas, pasukan darat menyerbu konvoi itu. Mereka menembaki kendaraan pertama. Staf medis keluar, bersembunyi di balik ambulans dan memohon dengan sangat demi nyawa mereka, namun tentara menembak mereka satu demi satu."

Setelah malam itu, sang operator menyadari sebuah kebenaran pahit: siapa pun bisa membunuh siapa pun yang mereka inginkan, sebanyak apa pun yang mereka inginkan, tanpa perlu takut akan konsekuensi hukum.

Janji investigasi internal sering kali hanyalah prosedur birokrasi yang berakhir di laci-laci kosong, sementara banalitas kejahatan terus berlanjut di daratan.


Garis Kuning dan Manipulasi Presisi Mekanis

Mekanisme teknis yang seharusnya memberikan batas keamanan, seperti "Yellow Line" (Garis Kuning), telah dipersenjatai menjadi jebakan maut. Komandan divisi memiliki otoritas sepihak untuk menggeser batas demarkasi militer ini hingga ratusan meter tanpa pemberitahuan kepada warga sipil.

Hasilnya adalah zona maut yang tidak terlihat, di mana warga yang tidak tahu apa-apa bisa ditembak hanya karena berdiri di tempat yang beberapa jam sebelumnya dianggap aman.

Di sinilah "inkriminasi retroaktif" bekerja. Militer sering kali mencari pembenaran intelijen atau bukti-bukti yang dipaksakan setelah penembakan dilakukan. 

Ini adalah upaya untuk menciptakan legitimasi hukum atas tindakan yang bersifat impulsif dan acak, mengubah setiap nyawa yang melayang menjadi angka dalam laporan yang "terjustifikasi" secara teknis.


Banalitas Kekerasan dalam Riuh Rendah "Stadion"

Mungkin yang paling merisaukan adalah atmosfer di dalam unit serangan drone itu sendiri.

Alih-alih ketenangan profesional yang diharapkan dari pemegang kendali senjata mematikan, sang operator menggambarkan suasana yang menyerupai tribun stadion sepak bola. Ada dorongan kolektif dan sorak-sorai saat sebuah target "terkena".

"Sama seperti mereka berteriak kepada pemain, 'Ayo, cetak gol', mereka berteriak kepada seorang tentara, 'Bunuh dia, serang dia'."

Dalam ekosistem seperti ini, dehumanisasi telah mencapai puncaknya. Nyawa manusia di layar monitor telah direduksi menjadi sekadar poin dalam sebuah permainan.

Ketika membunuh menjadi sebuah tontonan yang memacu adrenalin, nurani tidak lagi memiliki tempat di depan konsol kendali.


Dari Ketinggian: Menyaksikan Pengulangan Sejarah

Melalui lensa kamera drone yang mampu melihat hingga detail terkecil, sang operator juga menyaksikan bagaimana militer membiarkan tindak kriminal dilakukan oleh elemen-elemen yang mereka dukung.

Ia melihat pembakaran rumah secara masal, penjarahan, dan penembakan yang dilakukan oleh milisi yang terdiri dari tentara bayaran, geng kriminal, hingga bandar narkoba.

Militer memantau semua ini secara real-time dari atas, namun tidak ada perintah untuk mengintervensi. Pola pembiaran ini membangkitkan memori kelam pada tragedi Sabra dan Shatila tahun 1982.

Dengan membiarkan kelompok-kelompok non-reguler melakukan pekerjaan kotor di bawah pengawasan drone, otoritas resmi seolah mencuci tangan dari kebiadaban yang terjadi tepat di depan mata mereka.


Hukum yang Lumpuh di Balik Kemajuan Teknologi

Hingga September 2026, statistik mencatat lebih dari 73.658 warga Palestina telah kehilangan nyawa. Angka yang lebih mengerikan adalah kenyataan bahwa lebih dari 1.300 orang terbunuh setelah gencatan senjata ditandatangani pada Oktober lalu.

Fakta ini menunjukkan bahwa hukum internasional dan kesepakatan diplomatik menjadi tidak berdaya di hadapan mesin perang yang sudah tidak lagi mengenal aturan.

Gaza hari ini adalah cermin masa depan yang menakutkan: sebuah wilayah di mana teknologi perang paling presisi di dunia bertemu dengan hilangnya aturan hukum yang paling mendasar.

Tragedi ini mengajarkan kita bahwa tanpa nurani dan akuntabilitas, kemajuan teknologi hanyalah alat yang mempercepat kebiadaban manusia.

Jika seluruh populasi telah dianggap sebagai target yang sah, apa yang sebenarnya tersisa dari konsep "perang yang adil" di masa depan kita?

Masa Kelam Dunia yang Disebabkan Oleh Kemunduran Umat Islam  Abad ke...


Masa Kelam Dunia yang Disebabkan Oleh Kemunduran Umat Islam 


Abad ke-6 dan ke-7 Masehi merupakan abad-abad yang paling suram. Kenyataan ini tidaklah diperselisihkan di kalangan para ahli. Sejak berabad-abad sebelumnya, kemanusiaan telah meluncur dan jatuh secara drastis. Di persada bumi ini tidak ada lagi kekuatan yang sanggup menahan serta mencegahnya.

Perputaran waktu semakin hari semakin mempercepat kejatuhan dan menambah kerusakan dengan hebatnya. Peradaban manusia pada abad-abad tersebut seolah-olah telah melupakan Khaliknya (Penciptanya), sehingga manusia pun lupa pada dirinya sendiri dan hari depannya. Kesadaran manusia telah hilang. Kebijaksanaannya pun telah lenyap. Dengan demikian, hilang pula kesanggupannya untuk membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah, serta antara yang mulia dan yang hina.

Apa yang telah diserukan oleh para Nabi 'Alaihimus Salam telah lama pudar. Pelita-pelita yang dinyalakan oleh para nabi pun telah lama padam, tertiup angin kencang yang datang sepeninggal mereka. Sekiranya masih ada yang menyala, cahayanya pun sangat kecil dan hanya remang-remang. Cahaya itu tidak lagi mampu menerangi hati, bahkan menerangi rumah-rumah, apalagi sebuah negeri.

Para agamawan telah melarikan diri dari kehidupan dan berlindung di dalam biara-biara, gereja-gereja, bahkan goa-goa untuk memencilkan diri. Bersama agamanya, mereka lari menghindari segala bencana dan fitnah untuk menyelamatkan diri. Mereka juga lari karena dorongan untuk dapat hidup tenang, ataupun karena gagal dalam perjuangan mempertahankan agama, politik, kemerdekaan rohani, serta kebendaan.

Adapun mereka yang masih tinggal dalam kehidupan ramai telah menjalin persekutuan dengan para raja dan penguasa dunia. Mereka membantu para penguasa tersebut dalam perbuatan dosa dan kedurhakaan, bahkan turut serta memakan harta orang lain secara zalim. Semua itu mereka lakukan terhadap orang-orang yang lemah dan orang-orang yang menjadi budak.

Sesungguhnya, kemanusiaan tidaklah menderita hanya karena terjadinya perpindahan pemerintahan, kekuasaan, kesejahteraan, dan kenikmatan dari tangan orang-orang demikian ke tangan orang lain yang sejenis. Begitu pula dengan perpindahan semua itu dari tangan satu kelompok kepada kelompok lainnya yang serupa kezalimannya, yang selalu diwarnai oleh penindasan dan pemerasan manusia atas manusia lainnya.

Dunia ini nyatanya tidaklah menderita dan bersedih hanya karena kemerosotan suatu umat yang sudah tua dan lemah, maupun karena jatuhnya suatu negara yang memang telah keropos akar-akarnya serta rontok tiang-tiangnya. Semua itu terjadi karena adanya hukum alam.

Justru air mata yang bercucuran dari manusia setiap saat dan setiap harinya jauh lebih besar artinya daripada matinya seorang raja atau lenyapnya suatu kekuasaan.

Manusia tidak membutuhkan dan tidak memedulikan adanya pengganti raja maupun penguasa yang hilang jika penggantinya itu sehari pun tidak pernah berbuat demi kebahagiaan umat manusia, ataupun bekerja keras barang sedetik dengan memeras pikiran demi kepentingan umat manusia.

Sungguh, bumi dan langit telah muak atas terjadinya peristiwa-peristiwa semacam itu setiap harinya, bahkan yang telah terjadi ribuan kali. Renungkanlah firman Allah SWT. berikut ini:

كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ۝ وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ ۝ وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ ۝ كَذَٰلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ ۝ فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

Artinya:

"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka nikmati, demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh."

(Q.S. Ad-Dukhan [44]: 25–29)

Sungguh, alangkah banyaknya penguasa dan bangsa seperti itu yang sebenarnya hanya menjadi beban di persada bumi ini, mengancam kelestarian umat manusia, serta mendatangkan siksaan bagi bangsa-bangsa kecil dan lemah. Mereka juga menjadi bibit kerusakan dan sumber penyakit, bagaikan racun yang menggerogoti seluruh jaringan saraf serta pembuluh darah sehingga mengancam bagian-bagian tubuh yang sehat.

Tidak ada jalan lain kecuali melakukan operasi besar-besaran, yaitu dengan membuang bagian-bagian yang sakit untuk menyelamatkan bagian-bagian yang masih sehat. Semua itu merupakan pertanda keagungan Allah Ta'ala serta rahmat-Nya yang lurus, yang wajib disyukuri dan selalu diingat oleh seluruh umat manusia dalam kehidupan ini.

Allah SWT. berfirman:

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۖ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:

"Maka orang-orang zalim itu dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

(Q.S. Al-An'am [6]: 45)

Akan tetapi, sangatlah berbeda dengan semua itu. Kemerosotan umat Islam sebagai pembawa panji-panji risalah para Nabi serta sebagai jaminan bagi sehatnya seluruh tubuh manusia, tidaklah sama dengan kemerosotan dan keterbelakangan suatu bangsa atau golongan tertentu, jatuhnya kewibawaan mereka, maupun hilangnya kedaulatan mereka di dunia ini.

Kemerosotan umat Islam justru merupakan jatuhnya suatu risalah yang berfungsi sebagai ruh atau nyawa. Kemerosotan mereka adalah ambruknya tiang pancang yang menjadi penopang utama bagi berbagai permasalahan keagamaan dan keduniaan.

Setelah beberapa abad lamanya kaum muslimin mengalami kemerosotan, keterasingan, maupun keterpinggiran, timbul pertanyaan: apakah keadaan tersebut merupakan sesuatu yang menyedihkan umat manusia di belahan timur dan barat? Adakah yang menyesalinya?

Kerugian apakah sebenarnya yang diderita dunia dengan mundurnya umat Islam?

Bukankah di dunia ini masih banyak umat dan bangsa-bangsa lain? Kalau memang rugi, sampai di manakah kerugiannya?

Bagaimanakah keadaan dunia, terutama setelah kendali dunia dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa (Barat) sebagai pengganti kedudukan umat Islam yang sebelumnya mempunyai pengaruh internasional, dan setelah mereka berhasil mendirikan kekuasaan di atas puing-puing reruntuhan kekuasaan Islam?

Pengaruh apakah yang terjadi dengan adanya perubahan besar dalam kepemimpinan bangsa-bangsa dan pimpinan dunia, baik di bidang agama, akhlak, politik, kehidupan, maupun masa depan kemanusiaan?

Bagaimanakah keadaannya bila dunia Islam bangun dari tidurnya, keluar dari kemerosotannya, serta kembali mengendalikan tampuk kekuasaan kehidupan?

Itulah semua pertanyaan yang hendak kami usahakan jawabannya dalam halaman-halaman buku kami ini.


Kerugian yang Diderita Dunia dengan Kemunduran Umat Islam

Kemunduran umat Islam yang kemudian diikuti kegagalan serta tersingkirnya mereka dari kepemimpinan bangsa, hingga terasing dari medan kehidupan dan perjuangan, apakah sejenis dengan kemerosotan suatu bangsa yang telah terjadi berulang-ulang dalam sejarah?

Apakah ia sama dengan runtuhnya pemerintahan atau negara, ambruknya para raja dan kaum penakluk, terkalahkannya para penyerbu yang sebelumnya menang, atau lenyapnya penindasan politik yang dulunya toleran (tasamuh)?

Sungguh bukan!

Kemunduran umat Islam bukanlah sejenis dengan kesemuanya itu. Alangkah banyaknya kejadian dan peristiwa seperti itu dalam sejarah setiap bangsa maupun sejarah manusia pada umumnya.

Kemunduran umat Islam adalah suatu peristiwa yang sungguh aneh dan mengherankan, dan tidak ada padanannya dalam sejarah. Kemunduran umat Islam itu bukan hanya dialami oleh bangsa Arab, bukan hanya dialami oleh rakyat serta bangsa yang dekat dengan agama Islam, dan bukan pula hanya dialami oleh suatu dinasti ataupun istana yang telah kehilangan kekuasaan dan negara.

Kemunduran umat Islam merupakan suatu tragedi yang sesungguhnya dialami oleh seluruh umat manusia. Sejarah belum pernah mencatat suatu peristiwa yang lebih memprihatinkan dan menyedihkan daripada peristiwa itu.

Seandainya dunia memahami hakikat bencana yang sedang terjadi dan mengetahui betapa besar kerugian serta malapetaka yang menimpanya, sehingga tirai fanatisme tersingkap, tentulah dunia akan menjadikan hari kemunduran umat Islam sebagai hari berkabung, hari duka cita, hari belasungkawa, bahkan hari yang penuh tangisan. Bangsa-bangsa sedunia tentu akan saling bertukar pernyataan duka cita dan dunia itu sendiri akan mengenakan pakaian berkabung.

Akan tetapi, sungguh, peristiwa yang menyedihkan tersebut tidak terjadi dalam satu hari. Peristiwa itu terjadi setapak demi setapak dan berangsur-angsur dalam waktu bertahun-tahun.

Sungguh, hingga saat ini dunia belum pernah menghitung dengan tepat kapan peristiwa itu terjadi. Dunia juga tidak dapat memperkirakan seberapa besar nilai kerugiannya, sebab dunia tidak memiliki alat yang tepat untuk mendeteksi seberapa besar penderitaan dan kesengsaraan yang ditimbulkannya.

Perlu ditegaskan bahwa dunia tidaklah menderita kerugian sedikit pun dengan runtuhnya suatu negara yang sekian lama pernah berjaya dan berkuasa, menaklukkan sejumlah negeri dan daerah, serta memperbudak rakyatnya sambil menikmati kehidupan berfoya-foya dan berlimpah kekayaan.

Semua Jalan Menuju Konstantinopel Bukan Roma Selama berabad-abad, pe...


Semua Jalan Menuju Konstantinopel Bukan Roma

Selama berabad-abad, pepatah "semua jalan menuju Roma" telah membeku dalam kesadaran kolektif kita sebagai simbol absolutisme kekuasaan dan kecemerlangan teknik sipil kuno. Pada tahun 20 SM, Kaisar Augustus memperkuat citra ini dengan memancangkan Milliarium Aureum—Batu Penanda Emas—di jantung Forum Romawi. Monumen berlapis emas ini bukan sekadar penanda jarak, melainkan pernyataan teologis bahwa Roma adalah pusar dunia. 

Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications (September 2026) mengungkapkan sebuah realitas yang lebih kompleks: sebuah de-sentralisasi Kota Abadi yang mengejutkan, di mana pusat gravitasi kekaisaran sebenarnya telah bergeser ke arah timur, jauh sebelum keruntuhan resminya.


Konstantinopel: Hub Transportasi yang Sebenarnya

Analisis struktural mutakhir terhadap 190.000 mil (sekitar 300.000 kilometer) jaringan jalan Romawi yang mencakup tiga benua menunjukkan bahwa jika ada kota yang benar-benar berhak menyandang status sebagai pusat jaringan, kota itu adalah Konstantinopel.

Melalui pemodelan konektivitas lintas benua, para peneliti menemukan bahwa Istanbul modern secara objektif jauh lebih sentral daripada Roma untuk perjalanan darat skala besar.

"Ibu kota baru ini berlokasi strategis di titik temu antara Eropa dan Asia. Penelitian kami mengungkapkan bahwa Konstantinopel secara luar biasa menjadi pusat perjalanan darat di seluruh kekaisaran—jauh melampaui Roma," ungkap Tom Brughmans, arkeolog klasik dari Universitas Aarhus.

"Kota ini terletak di Bosporus, dan kita mengetahui adanya layanan feri yang menyeberangi selat ini di masa kuno, yang secara efektif menyambungkan aliran lalu lintas antara jalan-jalan Eropa dan Asia."


Kejutan di Italia: Mengapa Roma Bukan Pusat di Rumahnya Sendiri

Temuan yang paling provokatif dari studi ini justru muncul dari tanah air bangsa Romawi sendiri. Secara tradisional, Roma mendominasi pantai Tyrrhenian, menjadikannya pusat pengiriman Mediterania yang tak tertandingi.

Namun, jika kita melihat pergerakan di seluruh semenanjung Italia, data menunjukkan bahwa tulang punggung transportasi yang sebenarnya bukanlah jalur menuju Roma. Pusat pergerakan yang paling intens justru mengikuti garis pantai Adriatik di sisi timur, melewati Roma sama sekali.

Lebih jauh lagi, kekaisaran ini ternyata merupakan sebuah "jaringan dari jaringan-jaringan." Ibu kota provinsi seperti Ankara, London, dan Korintus bukan sekadar pos terdepan; mereka adalah simpul komunikasi yang optimal bagi wilayahnya masing-masing.

Efektivitas administrasi dan pemungutan pajak justru bergantung pada otonomi simpul-simpul ini, menunjukkan bahwa stabilitas Romawi tidak bergantung pada sentralitas Roma, melainkan pada distribusi konektivitas yang efisien di tingkat lokal.

Diplomasi Alam: Batasan Teknik Insinyur Romawi

Ada semacam arogansi yang mengagumkan dalam desain jalan Romawi; keinginan untuk menaklukkan bentang alam dengan garis-garis lurus yang kaku, seperti yang terlihat pada Via Appia.

Namun, sejarah teknik ini adalah sejarah tentang diplomasi dengan alam. Para insinyur Romawi, meski ambisius, tetap memiliki kerendahan hati untuk "tunduk pada alam" ketika tantangan topografi menjadi terlalu berat.

Keberhasilan Geometris: Jalan-jalan lurus yang legendaris ini memang berhasil diwujudkan, namun terbatas pada wilayah dengan topografi datar seperti dataran rendah Belgia, Prancis utara, atau Lembah Po di Italia utara.

Negosiasi Medan: Di wilayah pegunungan, ambisi untuk membangun jalan lurus sering kali kandas. Para insinyur Romawi tidak akan memindahkan gunung hanya demi sebuah garis lurus; mereka memilih untuk menyesuaikan jalur dengan lekuk alam, sebuah pengakuan realistis terhadap keterbatasan teknologi kuno.


Jejak Abadi: Dari Kereta Kuda ke Jalan Tol Modern

Kualitas material jalan Romawi—perpaduan batu pecah, semen kapur, dan kerikil—telah menciptakan warisan yang melampaui usia kekaisaran itu sendiri. Jaringan ini bertahan selama dua milenium, menjadi urat nadi komunikasi dunia hingga kemunculan kereta api pada abad ke-19.

Hingga hari ini, kita masih berkendara di atas hantu-hantu infrastruktur Romawi. Contoh paling nyata adalah Via Augusta di Spanyol yang membentang dari Cadiz hingga Pyrenees. Di antara Tarragona dan Barcelona, jalur kuno ini tetap menjadi rute paling efisien yang pernah ditemukan manusia, sehingga kini digunakan sebagai jalur jalan tol modern N-340.

Ini adalah bukti bahwa kecerdasan spasial bangsa Romawi dalam memilih rute tetap tak terkalahkan oleh waktu.


Membangun "Roma Baru": Lebih dari Sekadar Replika

Pada tahun 330 M, Kaisar Konstantinus Agung melakukan sebuah langkah yang secara radikal mengubah wajah sejarah: meresmikan Konstantinopel sebagai Nova Roma.

Secara visual, kota ini memang dibangun untuk meniru kemegahan aslinya—berdiri di atas tujuh bukit, dibagi menjadi empat belas distrik administratif, dan dihiasi dengan jarahan karya seni terbaik dari seluruh kuil pagan di kekaisaran.

Namun, di balik fasad marmernya, Konstantinopel adalah sebuah "reboot" spiritual dan psikologis bagi Kekaisaran Romawi. Jika Roma lama berakar pada tradisi pagan dan sejarah senat yang panjang, Konstantinopel sejak awal didedikasikan sebagai kota Kristen.

Pembangunan basilika dan gereja yang masif bukan sekadar tambahan arsitektural, melainkan simbol pemutusan hubungan dengan masa lalu pagan Roma.

Mengenai transisi ini, sejarawan A. Sutherland dalam laman Ancient Pages menekankan: "Dedikasi Konstantinus atas kota baru ini kemungkinan besar merupakan momen paling krusial dalam pemerintahannya. 

Konstantinopel bukan sekadar cadangan bagi Roma; lokasinya yang sempurna untuk mengontrol rute perdagangan antara dua benua serta jalur dari Laut Hitam ke Mediterania menjadikannya metropolis kekaisaran yang sebenarnya."


Infrastruktur Romawi adalah bukti nyata bagaimana integrasi fisik dapat menyatukan manusia, barang, hingga gagasan radikal seperti Kekristenan awal dalam skala benua.

Jalan-jalan ini telah membentuk interaksi ratusan juta orang jauh setelah kaisar terakhir turun takhta.

Saat kita merenungkan bagaimana jalan tol modern kita masih menapak setia di atas jalur-jalur legiun Romawi, muncul sebuah pertanyaan reflektif: di era di mana pusat gravitasi kita bergeser ke jaringan digital dan algoritma yang melampaui batas geografis, apakah konektivitas fisik yang dibangun Romawi masih menjadi fondasi utama dunia modern, ataukah kita sedang membangun "Milliarium Aureum" baru di ruang virtual yang tidak lagi memerlukan jalan setapak di atas bumi?

Bentuk lain dari karakteristik keuniversalan konsep Islam adalah bah...


Bentuk lain dari karakteristik keuniversalan konsep Islam adalah bahwa, sebagaimana ia berbicara tentang hakikat uluhiyah dengan segala karakteristik, pengaruh, dan sifatnya—dengan menempatkan hakikat tersebut sebagai hakikat pertama, terbesar, dan fundamental dalam konsep Islam—ia juga berbicara tentang hakikat 'ubudiyah beserta karakteristik dan sifatnya.

Konsep Islam tidak hanya menjelaskan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga berbicara tentang hakikat 'ubudiyah yang terdapat dalam alam, kehidupan, dan diri manusia. Karena itu, konsep ini sekaligus berbicara tentang hakikat alam, hakikat kehidupan, dan hakikat manusia. Pembahasannya meliputi tabiat, kejadian, sifat, keadaan, hubungan di antara ketiganya, serta hubungan semuanya dengan hakikat Ilahi yang Mahabesar itu.

Dengan demikian, berbagai hakikat tersebut dipadukan dari segala sisinya dalam satu konsep yang logis dan fitri. Konsep itu berinteraksi dengan insting, pikiran, perasaan, dan seluruh unsur eksistensi manusia dengan cara yang mudah dan selaras.

Dari keseluruhan hakikat yang dikandung oleh konsep Islam—yang bersifat universal, luas, mendalam, sekaligus terperinci—terbentuklah suatu gambaran yang sempurna dan menyeluruh serta penafsiran yang lengkap dan terperinci. Konsep ini tidak memerlukan tambahan dari sumber lain. Bahkan, tambahan dari konsep lain berpotensi merusak kesatuan dan keharmonisannya, karena konsep Islam telah mencakup wilayah yang luas dan menyeluruh, cermat dan mendalam, serta harmonis dan integral.

Kerusakan dan keruwetan dalam memahami konsep Islam pernah terjadi ketika sejumlah orang yang dalam sejarah dikenal sebagai "filosof-filosof Islam" berusaha meminjam beberapa konsep dan istilah dari filsafat Yunani, khususnya dari Aristoteles, Plato, dan sejumlah teolog Masehi, lalu memasukkannya ke dalam bangunan konsep Islam.

Padahal, konsep Islam demikian universal dan luas, demikian cermat dan mendalam, serta demikian orisinal dan harmonis, sehingga ia menolak setiap unsur asing yang dimasukkan ke dalamnya, bahkan ketika unsur tersebut hanya berupa istilah yang digunakan dalam pola-pola pemikiran asing.

Hal ini berkaitan dengan karakter istilah itu sendiri. Setiap istilah memiliki sejarah dan konotasi tertentu yang bersumber dari lingkungan pemikiran tempat istilah tersebut lahir. Makna itu tidak selalu dapat dilepaskan begitu saja dari sejarahnya, kemudian ditempatkan dalam suatu medan pemikiran baru seolah-olah terbebas dari konotasi asalnya.

Konsep Islam memiliki istilah-istilah khusus yang sejalan dengan watak etimologi bahasanya, kondisi sejarahnya, permasalahannya, tabiatnya, dan konotasi yang dikandungnya. Karena itu, memahami konsep Islam memerlukan kepekaan yang mampu menangkap tuntutan-tuntutan konsep tersebut, baik dalam rasa maupun dalam cara pengungkapannya.

Konsep Islam sejak semula ditegakkan di atas landasan pengenalan manusia kepada Tuhannya secara cermat, sempurna, dan menyeluruh. Konsep ini mengenalkan kepada manusia Zat Allah SWT, sifat-sifat-Nya, serta karakteristik uluhiyah-Nya yang unik dan benar-benar berbeda dari karakteristik 'ubudiyah.

Konsep ini juga mengenalkan pengaruh uluhiyah tersebut terhadap alam, diri manusia, kehidupan, dan seluruh dunia makhluk hidup. Pengenalan itu disampaikan demikian luas di dalam Al-Qur'an sehingga wujud Ilahi dalam jiwa manusia menjadi sesuatu yang kokoh, jelas, inspiratif, berpengaruh, dan menguasai jiwa dari berbagai sisinya.

Jiwa hidup dan terikat dengan wujud ini. Ia tidak dapat berpaling darinya, melupakannya, ataupun melalaikannya, karena gambaran tentang wujud Ilahi itu demikian kuat, jelas, dan aktif. Ia senantiasa hadir di hadapan jiwa, memperlihatkan tanda-tanda-Nya, dan memberikan pengaruh kepadanya.

Hal tersebut antara lain tergambar dalam berbagai ayat Al-Qur'an berikut.

"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan."
(QS. al-Fatihah, 1:2–4)

"Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
(QS. al-Baqarah, 2:255)

"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (al-Qur'an) untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Ali 'Imran, 3:2–6)

"Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau beri kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab."
(QS. Ali 'Imran, 3:26–27)

"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?' Katakanlah: 'Kepunyaan Allah'. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan diri mereka, mereka itu tidak beriman. Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Katakanlah: 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah: 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik'.

Katakanlah: 'Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.

Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Katakanlah: 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakanlah: 'Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Al-Qur'an kepadanya.' Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Katakanlah: 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah: 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)."

(QS. al-An'am, 6:12–19)

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang gaib dan yang tampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.

Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya. Dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan mereka berbantah-bantah tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Mahakeras siksa-Nya.

Hanya bagi Allah-lah dakwah yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.

Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan sujud pula bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang.

Katakanlah: 'Siapakah Tuhan langit dan bumi?' Jawablah: 'Allah'. Katakanlah: 'Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri?'

Katakanlah: 'Samakah orang yang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?' Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa'."

(QS. ar-Ra'd, 13:8–16)

"Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai."

(QS. al-Anbiya', 21:19–23)

"Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati."

(QS. al-Hadid, 57:1–6)

Dan masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan bagaimana Al-Qur'an membangun pengenalan manusia terhadap hakikat uluhiyah secara luas, mendalam, dan menyeluruh.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (16) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (64) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (123) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (332) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (811) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (255) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)