Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
«"Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.' Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.' Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.' Allah berfirman, 'Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu.' Maka setelah Adam memberitahukan nama-nama itu kepada mereka, Allah berfirman, 'Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?'"
(QS. Al-Baqarah: 31–33)»
Melalui ayat-ayat ini, dengan mata hati yang diterangi cahaya wahyu, kita diajak menyaksikan sekelumit rahasia Ilahi yang diperlihatkan kepada para malaikat. Di hadapan mereka, Allah menampakkan salah satu keistimewaan manusia yang menjadi dasar penugasannya sebagai khalifah di bumi.
Rahasia itu adalah kemampuan yang Allah anugerahkan kepada Nabi Adam untuk mengetahui dan menyebut nama-nama segala sesuatu. Inilah salah satu kunci kekhalifahan manusia. Kemampuan memberi nama bukan sekadar menghafal kata-kata, tetapi kemampuan menggunakan simbol, bahasa, dan konsep untuk mewakili realitas. Melalui nama, manusia dapat mengenali, mengingat, mengajarkan, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Nilai kemampuan ini baru benar-benar terasa apabila kita membayangkan kehidupan tanpa bahasa dan tanpa nama.
Bayangkan jika setiap kali seseorang ingin menjelaskan tentang kurma, ia harus menghadirkan buah kurma itu di hadapan orang lain. Jika ingin menjelaskan gunung, ia harus membawa orang tersebut ke gunung. Jika ingin memperkenalkan seseorang, orang itu harus selalu hadir secara fisik. Tanpa kemampuan memberi nama dan menggunakan simbol bahasa, hampir mustahil manusia dapat bertukar pengetahuan, menyusun pengalaman, atau membangun peradaban.
Kehidupan akan dipenuhi kesulitan yang nyaris tidak terbayangkan. Proses belajar, mengajar, berdagang, bermusyawarah, hingga menyusun ilmu pengetahuan tidak akan dapat berlangsung sebagaimana yang kita kenal sekarang. Karena itulah, kemampuan memberi nama merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia.
Adapun para malaikat tidak diberikan kemampuan khusus ini, bukan karena adanya kekurangan pada diri mereka, melainkan karena kemampuan tersebut tidak berkaitan dengan tugas yang Allah bebankan kepada mereka. Setiap makhluk memperoleh bekal yang sesuai dengan misi penciptaannya.
Ketika Allah memperlihatkan kepada para malaikat apa yang telah Dia ajarkan kepada Adam, mereka tidak mampu menyebutkan nama-nama benda tersebut. Mereka tidak mengetahui bagaimana simbol-simbol bahasa digunakan untuk mewakili berbagai objek dan makna.
Maka mereka pun berkata:
«"Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."»
Jawaban ini bukan sekadar pengakuan atas keterbatasan ilmu mereka, tetapi juga pengakuan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari Allah. Mereka menyucikan-Nya, mengakui kebijaksanaan-Nya, dan menerima bahwa setiap makhluk diberi kemampuan sesuai dengan hikmah dan tugas yang telah ditetapkan-Nya.
Melalui peristiwa ini, Allah memperlihatkan kepada para malaikat hikmah di balik penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Manusia dibekali kemampuan berpikir, berbahasa, memberi nama, dan mengembangkan pengetahuan. Kemampuan inilah yang menjadi salah satu fondasi utama lahirnya ilmu pengetahuan, komunikasi, dan seluruh bangunan peradaban manusia.
0 komentar: