basmalah Pictures, Images and Photos
Tauhid sebagai Poros Kehidupan - Our Islamic Story

Tauhid sebagai Poros Kehidupan Orang yang menelaah seluruh ayat Makkiyyah secara...

Tauhid sebagai Poros Kehidupan


Tauhid sebagai Poros Kehidupan


Orang yang menelaah seluruh ayat Makkiyyah secara saksama akan menemukan satu garis besar yang tegas, orisinal, mengakar, dan terus berulang. Garis itu bukan sekadar salah satu tema al-Qur'an, melainkan poros tempat seluruh ajaran agama ini berputar.

Apakah garis itu?

Ia adalah akidah.

Akidahlah yang menjadi pusat seluruh kegiatan agama. Dari sanalah lahir pandangan hidup, ibadah, akhlak, hukum, dan seluruh manhaj rabbani dalam mengatur kehidupan manusia, baik dalam persoalan yang besar maupun yang terperinci.

Karena itu, ketika kita membaca surat Hûd, kita perlu berhenti sejenak di hadapan poros besar tersebut. Mengapa? Karena surat ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana al-Qur'an menegakkan tauhid sebagai fondasi kehidupan manusia.

Surat Hûd dan Hakikat Tauhid

Hakikat utama yang menonjol dalam keseluruhan surat Hûd dapat kita lihat sejak mukadimahnya, kemudian dalam kisah-kisah para nabi, hingga pada penutupnya.

Mukadimah surat ini memperkenalkan Kitab yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Kisah-kisah di dalamnya memperlihatkan perjalanan akidah Islam sepanjang sejarah manusia. Adapun bagian penutupnya mengarahkan Rasulullah ﷺ untuk menghadapi orang-orang musyrik dengan mengambil pelajaran dan kesimpulan dari kisah-kisah tersebut.

Jika seluruh rangkaian itu kita renungkan, apa yang sebenarnya menjadi titik temunya?

Ibadah hanya kepada Allah.

Inilah inti yang terus ditegaskan: beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, serta meyakini adanya hisab, pembalasan, pahala, dan siksa berdasarkan ketauhidan tersebut.

Dengan demikian, tauhid bukan sekadar pembahasan tentang siapa yang menciptakan alam. Tauhid adalah persoalan kepada siapa manusia mengarahkan seluruh ibadahnya.

Lalu, bagaimana al-Qur'an menanamkan hakikat sebesar ini ke dalam jiwa manusia?

Di sinilah kita menemukan metode yang sangat menarik.

Mengapa Al-Qur'an Menggunakan Perintah Sekaligus Larangan?

Perhatikan dua bentuk ungkapan berikut.

«قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ»

«“Hai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia...”
(QS. Hûd [11]: 50)»

Di sini terdapat perintah:

“Sembahlah Allah.”

Namun perhatikan ayat lainnya:

«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ»

«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari-Nya.”
(QS. Hûd [11]: 2)»

Di sini terdapat larangan:

“Jangan menyembah selain Allah.”

Sekilas keduanya tampak sama. Bukankah orang yang diperintahkan menyembah Allah berarti secara otomatis tidak boleh menyembah selain-Nya?

Benar.

Tetapi mengapa al-Qur'an tetap menyebutkan keduanya?

Di sinilah terdapat pelajaran yang sangat dalam.

Perintah untuk menyembah Allah menunjukkan sisi positif tauhid: manusia mengarahkan ibadahnya kepada Allah.

Sedangkan larangan menyembah selain Allah menunjukkan sisi negatif tauhid: manusia harus membersihkan ibadahnya dari segala bentuk kemusyrikan.

Yang pertama menegaskan apa yang harus dilakukan.

Yang kedua menegaskan apa yang harus ditinggalkan.

Yang pertama merupakan makna yang tampak secara eksplisit (manthûq), sedangkan larangan menyembah selain Allah sebenarnya sudah dapat dipahami secara implisit dari perintah menyembah Allah. Namun Allah tidak membiarkan sisi tersebut hanya bergantung pada pemahaman tersirat.

Mengapa?

Karena manusia membutuhkan penegasan.

Manusia Bisa Mengaku Bertauhid, tetapi Tetap Berbuat Syirik

Coba kita renungkan keadaan manusia.

Bukankah seseorang bisa mengatakan, “Saya percaya kepada Allah”?

Bukankah seseorang bisa tetap melakukan ibadah kepada Allah?

Namun pada saat yang sama, bukankah ia bisa mengarahkan sebagian bentuk penghambaan kepada selain Allah?

Di sinilah letak persoalannya.

Manusia bisa merasa dirinya tidak mengingkari Allah, tetapi pada saat yang sama melakukan kemusyrikan.

Karena itu, al-Qur'an tidak hanya mengatakan:

“Sembahlah Allah.”

Tetapi juga menegaskan:

“Jangan menyembah selain Allah.”

Mengapa?

Agar tidak ada ruang bagi jiwa manusia untuk menyelipkan sesuatu yang lain ke dalam pengabdiannya kepada Allah.

Tauhid membutuhkan dua gerakan sekaligus:

mendekat kepada Allah dan menjauh dari selain Allah;

menetapkan ibadah hanya untuk Allah dan menolak ibadah kepada selain-Nya.

Bukankah ini jauh lebih kokoh?

Perintah dan larangan saling menguatkan. Yang satu menetapkan tauhid, sementara yang lain menutup jalan menuju syirik.

Dengan cara inilah al-Qur'an menjaga hakikat tauhid dari berbagai bentuk penyimpangan yang mungkin muncul dalam kehidupan manusia.

Pola yang Berulang dalam Al-Qur'an

Pola ini bukan hanya terdapat dalam surat Hûd. Ia muncul berulang kali dalam al-Qur'an.

Allah berfirman:

«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ»

«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah.”
(QS. Hûd [11]: 2)»

Kemudian dalam kisah Nabi Nuh:

«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ»

«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah.”
(QS. Hûd [11]: 26)»

Dalam kisah Nabi Hûd:

«اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ»

«“Sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.”
(QS. Hûd [11]: 50)»

Allah juga berfirman:

«لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ»

«“Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dia hanyalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”
(QS. an-Nahl [16]: 51)»

Demikian pula ketika al-Qur'an berbicara tentang Nabi Ibrahim:

«وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

«“Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Âli ‘Imrân [3]: 67)»

Dan Nabi Ibrahim sendiri berkata:

«وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

«“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
(QS. al-An‘âm [6]: 79)»

Perhatikan polanya.

Tauhid ditegaskan dengan menetapkan dan menafikan.

Menyembah Allah.

Tidak menyembah selain Allah.

Mengakui keesaan-Nya.

Menolak segala bentuk kemusyrikan.

Mengapa Penegasan Ini Begitu Penting?

Sekarang mari kita bertanya lebih dalam.

Mengapa Allah mengulang pola ini dalam berbagai tempat?

Apakah pengulangan itu sekadar pengulangan bahasa?

Tentu tidak.

Di dalamnya terdapat pengetahuan yang sempurna tentang tabiat manusia.

Manusia membutuhkan ungkapan yang jelas. Ia mudah terjebak dalam kesamaran. Ia bisa memahami suatu prinsip secara umum, tetapi kemudian memberikan pengecualian dalam praktik.

Ia bisa berkata:

“Saya beriman kepada Allah.”

Tetapi kemudian muncul pertanyaan:

Apakah seluruh ibadah benar-benar hanya ditujukan kepada Allah?

Ia bisa berkata:

“Saya menyembah Allah.”

Tetapi:

Apakah ia juga menggantungkan penghambaan, ketundukan, rasa takut, harapan, doa, atau bentuk ibadah lainnya kepada selain Allah?

Di sinilah pentingnya penegasan al-Qur'an.

Tauhid tidak boleh dibiarkan berada dalam wilayah yang samar. Ia harus dinyatakan dengan terang.

Allah disembah. Selain Allah tidak disembah.

Tidak cukup hanya mengatakan:

“Allah adalah Tuhan saya.”

Tetapi harus dilanjutkan dengan konsekuensinya:

“Karena itu, hanya Allah yang berhak menerima seluruh ibadah.”

Tauhid: Menetapkan dan Membersihkan

Dengan demikian, tauhid memiliki dua sisi yang tidak boleh dipisahkan.

Pertama, itsbât—menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah.

Kedua, nafy—menolak seluruh bentuk ibadah kepada selain Allah.

Keduanya seperti dua sisi dari satu kesatuan.

Jika hanya menetapkan tanpa menolak, seseorang bisa mengakui Allah tetapi masih mencampurkan ibadah kepada selain-Nya.

Jika hanya menolak tanpa menetapkan, seseorang memang meninggalkan berbagai sesembahan, tetapi belum tentu mengarahkan ibadahnya kepada Allah.

Karena itu tauhid yang sempurna mengandung keduanya:

“Hanya kepada Allah aku beribadah, dan kepada selain Allah aku tidak beribadah.”

Inilah kekuatan metode al-Qur'an.

Ia tidak hanya menunjukkan jalan menuju Allah, tetapi sekaligus memperingatkan manusia terhadap jalan-jalan yang menjauhkannya dari Allah.

Ia tidak hanya membangun.

Ia juga membersihkan.

Ia tidak hanya menetapkan.

Ia juga menolak.

Dan bukankah kehidupan manusia memang membutuhkan keduanya?

Kita bukan hanya membutuhkan sesuatu yang harus dilakukan, tetapi juga sesuatu yang harus ditinggalkan.

Ketelitian Ilahi dalam Menjaga Tauhid

Pada akhirnya, metode al-Qur'an dalam mengungkapkan hakikat tauhid menunjukkan ketelitian yang luar biasa.

Allah mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. Allah mengetahui bagaimana manusia berpikir, bagaimana manusia mudah terjebak dalam kesamaran, dan bagaimana manusia dapat mencampurkan kebenaran dengan kebatilan.

Karena itu, hakikat tauhid disampaikan dengan ungkapan yang tegas, berulang, dan dari berbagai sisi.

Perintahnya jelas.

Larangan-Nya jelas.

Yang disembah jelas.

Yang tidak boleh disembah juga jelas.

Seakan-akan al-Qur'an mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri:

Siapa yang sebenarnya menjadi tujuan seluruh ibadahku?

Kepada siapa aku berdoa?

Kepada siapa aku menggantungkan pengharapan tertinggi?

Kepada siapa ketundukan mutlak itu diberikan?

Dan akhirnya:

Apakah pengakuanku kepada Allah sebagai Tuhan benar-benar telah dibuktikan dengan memurnikan seluruh ibadah hanya kepada-Nya?

Di sinilah kita memahami mengapa tauhid menjadi poros seluruh dakwah para nabi.

Ia bukan sekadar teori tentang keesaan Tuhan.

Ia adalah perubahan arah kehidupan manusia.

Dari menyembah banyak kepada menyembah Yang Esa.

Dari bergantung kepada makhluk menuju bergantung kepada Allah.

Dari tunduk kepada berbagai sesembahan menuju ketundukan hanya kepada Rabb semesta alam.

Maka tepatlah bahwa dalam metode al-Qur'an terlihat ketelitian, kesengajaan, dan hikmah yang sempurna.

Allah paling mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Dan hanya milik Allah hikmah yang sempurna.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (14) Dakwah (16) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (1) Ekonomi (7) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (112) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (294) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (708) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (321) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)