Tauhid sebagai Poros Kehidupan
Orang yang menelaah seluruh ayat Makkiyyah secara saksama akan menemukan satu garis besar yang tegas, orisinal, mengakar, dan terus berulang. Garis itu bukan sekadar salah satu tema al-Qur'an, melainkan poros tempat seluruh ajaran agama ini berputar.
Apakah garis itu?
Ia adalah akidah.
Akidahlah yang menjadi pusat seluruh kegiatan agama. Dari sanalah lahir pandangan hidup, ibadah, akhlak, hukum, dan seluruh manhaj rabbani dalam mengatur kehidupan manusia, baik dalam persoalan yang besar maupun yang terperinci.
Karena itu, ketika kita membaca surat Hûd, kita perlu berhenti sejenak di hadapan poros besar tersebut. Mengapa? Karena surat ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana al-Qur'an menegakkan tauhid sebagai fondasi kehidupan manusia.
Surat Hûd dan Hakikat Tauhid
Hakikat utama yang menonjol dalam keseluruhan surat Hûd dapat kita lihat sejak mukadimahnya, kemudian dalam kisah-kisah para nabi, hingga pada penutupnya.
Mukadimah surat ini memperkenalkan Kitab yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Kisah-kisah di dalamnya memperlihatkan perjalanan akidah Islam sepanjang sejarah manusia. Adapun bagian penutupnya mengarahkan Rasulullah ﷺ untuk menghadapi orang-orang musyrik dengan mengambil pelajaran dan kesimpulan dari kisah-kisah tersebut.
Jika seluruh rangkaian itu kita renungkan, apa yang sebenarnya menjadi titik temunya?
Ibadah hanya kepada Allah.
Inilah inti yang terus ditegaskan: beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, serta meyakini adanya hisab, pembalasan, pahala, dan siksa berdasarkan ketauhidan tersebut.
Dengan demikian, tauhid bukan sekadar pembahasan tentang siapa yang menciptakan alam. Tauhid adalah persoalan kepada siapa manusia mengarahkan seluruh ibadahnya.
Lalu, bagaimana al-Qur'an menanamkan hakikat sebesar ini ke dalam jiwa manusia?
Di sinilah kita menemukan metode yang sangat menarik.
Mengapa Al-Qur'an Menggunakan Perintah Sekaligus Larangan?
Perhatikan dua bentuk ungkapan berikut.
«قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ»
«“Hai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia...”
(QS. Hûd [11]: 50)»
Di sini terdapat perintah:
“Sembahlah Allah.”
Namun perhatikan ayat lainnya:
«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ»
«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari-Nya.”
(QS. Hûd [11]: 2)»
Di sini terdapat larangan:
“Jangan menyembah selain Allah.”
Sekilas keduanya tampak sama. Bukankah orang yang diperintahkan menyembah Allah berarti secara otomatis tidak boleh menyembah selain-Nya?
Benar.
Tetapi mengapa al-Qur'an tetap menyebutkan keduanya?
Di sinilah terdapat pelajaran yang sangat dalam.
Perintah untuk menyembah Allah menunjukkan sisi positif tauhid: manusia mengarahkan ibadahnya kepada Allah.
Sedangkan larangan menyembah selain Allah menunjukkan sisi negatif tauhid: manusia harus membersihkan ibadahnya dari segala bentuk kemusyrikan.
Yang pertama menegaskan apa yang harus dilakukan.
Yang kedua menegaskan apa yang harus ditinggalkan.
Yang pertama merupakan makna yang tampak secara eksplisit (manthûq), sedangkan larangan menyembah selain Allah sebenarnya sudah dapat dipahami secara implisit dari perintah menyembah Allah. Namun Allah tidak membiarkan sisi tersebut hanya bergantung pada pemahaman tersirat.
Mengapa?
Karena manusia membutuhkan penegasan.
Manusia Bisa Mengaku Bertauhid, tetapi Tetap Berbuat Syirik
Coba kita renungkan keadaan manusia.
Bukankah seseorang bisa mengatakan, “Saya percaya kepada Allah”?
Bukankah seseorang bisa tetap melakukan ibadah kepada Allah?
Namun pada saat yang sama, bukankah ia bisa mengarahkan sebagian bentuk penghambaan kepada selain Allah?
Di sinilah letak persoalannya.
Manusia bisa merasa dirinya tidak mengingkari Allah, tetapi pada saat yang sama melakukan kemusyrikan.
Karena itu, al-Qur'an tidak hanya mengatakan:
“Sembahlah Allah.”
Tetapi juga menegaskan:
“Jangan menyembah selain Allah.”
Mengapa?
Agar tidak ada ruang bagi jiwa manusia untuk menyelipkan sesuatu yang lain ke dalam pengabdiannya kepada Allah.
Tauhid membutuhkan dua gerakan sekaligus:
mendekat kepada Allah dan menjauh dari selain Allah;
menetapkan ibadah hanya untuk Allah dan menolak ibadah kepada selain-Nya.
Bukankah ini jauh lebih kokoh?
Perintah dan larangan saling menguatkan. Yang satu menetapkan tauhid, sementara yang lain menutup jalan menuju syirik.
Dengan cara inilah al-Qur'an menjaga hakikat tauhid dari berbagai bentuk penyimpangan yang mungkin muncul dalam kehidupan manusia.
Pola yang Berulang dalam Al-Qur'an
Pola ini bukan hanya terdapat dalam surat Hûd. Ia muncul berulang kali dalam al-Qur'an.
Allah berfirman:
«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ»
«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah.”
(QS. Hûd [11]: 2)»
Kemudian dalam kisah Nabi Nuh:
«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ»
«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah.”
(QS. Hûd [11]: 26)»
Dalam kisah Nabi Hûd:
«اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ»
«“Sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.”
(QS. Hûd [11]: 50)»
Allah juga berfirman:
«لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ»
«“Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dia hanyalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”
(QS. an-Nahl [16]: 51)»
Demikian pula ketika al-Qur'an berbicara tentang Nabi Ibrahim:
«وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ»
«“Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Âli ‘Imrân [3]: 67)»
Dan Nabi Ibrahim sendiri berkata:
«وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ»
«“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
(QS. al-An‘âm [6]: 79)»
Perhatikan polanya.
Tauhid ditegaskan dengan menetapkan dan menafikan.
Menyembah Allah.
Tidak menyembah selain Allah.
Mengakui keesaan-Nya.
Menolak segala bentuk kemusyrikan.
Mengapa Penegasan Ini Begitu Penting?
Sekarang mari kita bertanya lebih dalam.
Mengapa Allah mengulang pola ini dalam berbagai tempat?
Apakah pengulangan itu sekadar pengulangan bahasa?
Tentu tidak.
Di dalamnya terdapat pengetahuan yang sempurna tentang tabiat manusia.
Manusia membutuhkan ungkapan yang jelas. Ia mudah terjebak dalam kesamaran. Ia bisa memahami suatu prinsip secara umum, tetapi kemudian memberikan pengecualian dalam praktik.
Ia bisa berkata:
“Saya beriman kepada Allah.”
Tetapi kemudian muncul pertanyaan:
Apakah seluruh ibadah benar-benar hanya ditujukan kepada Allah?
Ia bisa berkata:
“Saya menyembah Allah.”
Tetapi:
Apakah ia juga menggantungkan penghambaan, ketundukan, rasa takut, harapan, doa, atau bentuk ibadah lainnya kepada selain Allah?
Di sinilah pentingnya penegasan al-Qur'an.
Tauhid tidak boleh dibiarkan berada dalam wilayah yang samar. Ia harus dinyatakan dengan terang.
Allah disembah. Selain Allah tidak disembah.
Tidak cukup hanya mengatakan:
“Allah adalah Tuhan saya.”
Tetapi harus dilanjutkan dengan konsekuensinya:
“Karena itu, hanya Allah yang berhak menerima seluruh ibadah.”
Tauhid: Menetapkan dan Membersihkan
Dengan demikian, tauhid memiliki dua sisi yang tidak boleh dipisahkan.
Pertama, itsbât—menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah.
Kedua, nafy—menolak seluruh bentuk ibadah kepada selain Allah.
Keduanya seperti dua sisi dari satu kesatuan.
Jika hanya menetapkan tanpa menolak, seseorang bisa mengakui Allah tetapi masih mencampurkan ibadah kepada selain-Nya.
Jika hanya menolak tanpa menetapkan, seseorang memang meninggalkan berbagai sesembahan, tetapi belum tentu mengarahkan ibadahnya kepada Allah.
Karena itu tauhid yang sempurna mengandung keduanya:
“Hanya kepada Allah aku beribadah, dan kepada selain Allah aku tidak beribadah.”
Inilah kekuatan metode al-Qur'an.
Ia tidak hanya menunjukkan jalan menuju Allah, tetapi sekaligus memperingatkan manusia terhadap jalan-jalan yang menjauhkannya dari Allah.
Ia tidak hanya membangun.
Ia juga membersihkan.
Ia tidak hanya menetapkan.
Ia juga menolak.
Dan bukankah kehidupan manusia memang membutuhkan keduanya?
Kita bukan hanya membutuhkan sesuatu yang harus dilakukan, tetapi juga sesuatu yang harus ditinggalkan.
Ketelitian Ilahi dalam Menjaga Tauhid
Pada akhirnya, metode al-Qur'an dalam mengungkapkan hakikat tauhid menunjukkan ketelitian yang luar biasa.
Allah mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. Allah mengetahui bagaimana manusia berpikir, bagaimana manusia mudah terjebak dalam kesamaran, dan bagaimana manusia dapat mencampurkan kebenaran dengan kebatilan.
Karena itu, hakikat tauhid disampaikan dengan ungkapan yang tegas, berulang, dan dari berbagai sisi.
Perintahnya jelas.
Larangan-Nya jelas.
Yang disembah jelas.
Yang tidak boleh disembah juga jelas.
Seakan-akan al-Qur'an mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri:
Siapa yang sebenarnya menjadi tujuan seluruh ibadahku?
Kepada siapa aku berdoa?
Kepada siapa aku menggantungkan pengharapan tertinggi?
Kepada siapa ketundukan mutlak itu diberikan?
Dan akhirnya:
Apakah pengakuanku kepada Allah sebagai Tuhan benar-benar telah dibuktikan dengan memurnikan seluruh ibadah hanya kepada-Nya?
Di sinilah kita memahami mengapa tauhid menjadi poros seluruh dakwah para nabi.
Ia bukan sekadar teori tentang keesaan Tuhan.
Ia adalah perubahan arah kehidupan manusia.
Dari menyembah banyak kepada menyembah Yang Esa.
Dari bergantung kepada makhluk menuju bergantung kepada Allah.
Dari tunduk kepada berbagai sesembahan menuju ketundukan hanya kepada Rabb semesta alam.
Maka tepatlah bahwa dalam metode al-Qur'an terlihat ketelitian, kesengajaan, dan hikmah yang sempurna.
Allah paling mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Dan hanya milik Allah hikmah yang sempurna.
0 komentar: