Istilah "Tanah yang Dijanjikan" telah lama menjadi narasi sentral yang menggerakkan imajinasi spiritual jutaan orang, sebuah visi luhur tentang kepulangan dan berkah ilahiah. Namun, di balik selubung kesucian tersebut, tersimpan realitas politik yang keras, di mana teologi sering kali diseret untuk menjustifikasi penaklukan militer dan pengusiran sistematis.
Ketegangan antara klaim suci dan realitas teritorial yang berdarah ini memicu sebuah pertanyaan fundamental: apakah "janji" ini merupakan mandat langit yang mutlak, ataukah ia merupakan konstruksi sejarah yang disusun untuk melayani ambisi kekuasaan? Dari manakah sebenarnya asal-usul klaim teritorial yang kini mengoyak kemanusiaan ini?
Realitas Nomaden: Janji untuk Menetap, Bukan Menaklukkan
Berdasarkan analisis Albert de Pury, Profesor Perjanjian Lama, tema bibel mengenai penganugerahan negeri pada awalnya memiliki makna yang jauh dari ambisi kedaulatan nasional modern. Janji awal yang ditujukan kepada para wali seperti Abraham sebenarnya adalah janji sedentarisasi—sebuah kerinduan sederhana dari kaum nomaden penggembala untuk menetap di wilayah yang layak huni.
Dalam tinjauan sosio-teologis, terdapat perbedaan krusial yang sering diabaikan:
Visi Ante Eventum (Sebelum Kejadian): Janji awal kepada kelompok nomaden ini bersifat murni untuk bertahan hidup. Menariknya, sumber sejarah menunjukkan bahwa "Tuhan" yang memberikan janji ini kemungkinan besar bukanlah Yahweh, melainkan El, dewa lokal Kanaan. Sebagai "pemilik" wilayah tersebut, hanya dewa lokal yang memiliki otoritas untuk menawarkan hak menetap bagi kaum pendatang.
Reinterpretasi Post Eventum (Setelah Kejadian): Ketika klan-klan ini bergabung menjadi bangsa Israel, janji "menetap" yang bersahaja ini mengalami pergeseran makna yang drastis. Apa yang tadinya merupakan kebutuhan hunian diubah menjadi klaim kekuasaan politik, militer, dan nasionalisme yang ekspansif.
Ternyata Semua Bangsa Memiliki "Janji" yang Sama
Klaim mengenai "akta tanah ilahiah" bukanlah fenomena unik milik bangsa Ibrani. Data komparatif dari kawasan Timur Tengah Kuno menunjukkan bahwa hampir setiap bangsa besar mengklaim memiliki mandat serupa dari dewa mereka:
Bangsa Mesir: Firaun Thutmoses III, dalam prasasti di Karnak, menyatakan bahwa Tuhannya telah menetapkan bagi dirinya "tanah yang panjang dan lebar" serta memberikan izin untuk menghancurkan wilayah Barat.
Mesopotamia: Dalam tablet ke-6 "Puisi Penciptaan Babilonia", Dewa Marduk digambarkan menetapkan kavling tanah bagi setiap orang dan memerintahkan pembangunan Babilon sebagai pusat aliansi.
Bangsa Hittit: Mereka melantunkan pujian kepada Arinna, Dewi Matahari, yang diyakini sebagai penjaga keamanan langit dan bumi serta penetap perbatasan negeri mereka.
Fakta ini mengungkap bahwa klaim atas tanah berbasis "mandat langit" adalah pola umum dalam geopolitik kuno, di mana agama berfungsi sebagai legitimasi utama atas kepemilikan wilayah.
Historiografi yang "Disiapkan": Antara Fakta dan Fiksi
Sejarawan seperti Françoise Smyth, Albrecht Alt, dan Martin Noth berargumen bahwa narasi Bibel mengenai asal-usul Israel adalah sebuah konstruksi historiografi yang "disiapkan dengan cermat". Sejarah yang tampak kronologis—mulai dari eksodus hingga penaklukan Kanaan—sering kali bersifat artifisial dan fiktif.
Konsep yang berlaku di sini adalah vaticinium ex eventu, yaitu nubuat atau janji yang sebenarnya ditulis setelah peristiwa tersebut terjadi. Sosok sentral di balik narasi ini adalah editor yang dikenal sebagai "Yahvis" (Jahwist), yang hidup pada era Solomon. Sang Yahvis menginterpretasikan kembali ingatan kuno para leluhur untuk melegitimasi kekaisaran David.
Tidak mengherankan jika batas-batas "Tanah yang Dijanjikan" dalam Kejadian XV: 18—yang membentang dari Wadi Arish (sungai Mesir) hingga Sungai Euphrates—kebetulan sangat akurat mencerminkan luas wilayah taklukan militer David pada masa kejayaannya.
Suara Kenabian: Kesucian Terletak pada Keadilan, Bukan Darah
Perspektif kritis juga muncul dari dalam tradisi Yahudi sendiri melalui Rabi Elmer Berger. Ia menyerang apa yang disebutnya sebagai "demagogi murni tentang tanah dan darah". Menurutnya, Zionisme modern telah berubah menjadi bentuk totaliterisme yang memperlakukan bangsa Yahudi sebagai "bangsa seperti bangsa-bangsa lain", yang terobsesi pada superioritas militer dan kedaulatan fisik.
Berger menekankan bahwa tanah tidak memiliki kesucian intrinsik. Kesucian hanya ada jika ada keadilan dan kepatuhan pada aliansi moral. Ia menyatakan:
"Zion tidak akan suci kecuali jika hukum Tuhan berkuasa atasnya... kesucian bumi tidak bergantung pada tanahnya, tidak pula pada kesucian bangsanya."
Dalam pandangan kenabian ini, sebuah negara yang didirikan di atas darah dan kejahatan justru menghancurkan signifikansi spiritual dari nama "Israel" itu sendiri.
Logika Fatal: Ketika Mitos Memakan Korbannya Sendiri
Tragedi pembunuhan Perdana Menteri Ytzhak Rabin oleh Ygal Amir pada tahun 1995 adalah konsekuensi logis dari pendidikan fundamentalis yang memuja mitos "Tanah yang Dijanjikan".
Ygal Amir bukanlah seorang individu yang kehilangan akal sehat; ia adalah produk intelektual dari kelompok radikal Eyal (Ksatria Israel) dan pengikut setia doktrin kekerasan yang terinspirasi oleh figur seperti Baruch Goldstein, pelaku pembantaian di Hebron.
Akar pemikiran ini tercermin dalam pernyataan Jenderal Moshe Dayan pada tahun 1967:
"Jika Anda memiliki Kitab Bibel dan jika kita menganggap diri kita sebagai bangsa Bibel, kita seharusnya memiliki semua tanah Bibel."
Amir bertindak atas keyakinan bahwa menyerahkan "tanah suci" Judea dan Samaria adalah pengkhianatan terhadap perintah Tuhan.
Logika fundamentalis ini menciptakan lingkaran kekerasan di mana darah dianggap sebagai harga yang pantas untuk mempertahankan tanah, bahkan jika itu berarti membunuh pemimpin sendiri.
Penutup: Pelajaran Berharga dari Masa Lalu untuk Masa Depan
Meninjau kembali sejarah "Tanah yang Dijanjikan" memberikan pelajaran pahit tentang bagaimana teologi dapat dipersenjatai.
Kita melihat sosok Ytzhak Rabin sebagai personifikasi dari ambiguitas ini: di satu sisi ia adalah korban dari mitos yang ia besarkan, namun di sisi lain, ia adalah komandan yang pernah memerintahkan militer untuk "menghancurkan tulang lengan" anak-anak Palestina dalam Intifada.
Perdamaian yang sejati menuntut keberanian untuk menanggalkan mitologi kolonial yang eksklusif dan radikal. Tanpa penghapusan koloni-koloni yang menjadi sumber provokasi, perdamaian hanya akan menjadi fatamorgana. Kita harus berani menghadapi kenyataan sejarah bahwa klaim suci sering kali hanyalah refleksi dari ambisi manusia.
Jika setiap bangsa terus mengklaim "mandat langit" untuk tanah yang sama, di manakah kita akan menyisakan ruang bagi kemanusiaan?
0 komentar: