Membicarakan kedatangan Islam ke dunia Melayu tidak cukup hanya dengan bertanya:
“Kapan Islam pertama kali datang?”
Pertanyaan itu penting, tetapi belum menyentuh keseluruhan persoalan.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Siapa yang membawa Islam? Dari mana mereka datang? Siapa yang menerima Islam? Bagaimana mereka berinteraksi? Jaringan apa yang mereka gunakan? Dan mengapa masyarakat setempat akhirnya menerima Islam?
Di sinilah kita memahami bahwa kedatangan Islam dan proses islamisasi adalah dua hal yang berbeda.
Kedatangan menunjuk pada kehadiran orang-orang Muslim di suatu wilayah. Adapun islamisasi merupakan proses yang jauh lebih panjang: proses ketika ajaran Islam mulai dikenal, dipahami, diterima, dihayati, kemudian menjadi bagian dari kehidupan sosial, politik, intelektual, dan kebudayaan masyarakat.
Karena itu, jarak antara kedatangan Islam dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam tidak dapat dipahami sebagai sebuah peristiwa yang berlangsung seketika.
Ia adalah sebuah proses sejarah yang panjang.
Dan proses tersebut berlangsung melalui banyak jaringan.
Ada perdagangan.
Ada perkawinan.
Ada pendidikan.
Ada birokrasi.
Ada tasawuf.
Ada dakwah para ulama.
Ada seni dan kebudayaan.
Bahkan ada interaksi sehari-hari yang tampaknya sederhana, tetapi justru perlahan-lahan mengubah masyarakat.
Lalu, bagaimana semua jalur itu bekerja?
---
Perdagangan: Ketika Jalur Barang Menjadi Jalur Iman
Salah satu jalur terpenting kedatangan Islam ke dunia Melayu adalah perdagangan.
Rute pelayaran yang menghubungkan Arab–Persia–India–dunia Melayu–Tiongkok menjadi bagian dari jaringan mobilitas manusia, barang, dan gagasan.
Pedagang Muslim memang datang untuk berdagang.
Mereka membeli.
Mereka menjual.
Mereka mencari keuntungan.
Namun, apakah manusia yang datang membawa barang hanya membawa barang?
Tentu tidak.
Mereka juga membawa bahasa, kebiasaan, etika, jaringan sosial, dan keyakinan.
Karena itu, ketika seorang pedagang Muslim tinggal cukup lama di sebuah pelabuhan asing, hubungan yang terbangun dengan masyarakat setempat tidak berhenti pada transaksi ekonomi.
Mereka berbicara.
Mereka bertetangga.
Mereka bekerja sama.
Mereka menikah.
Mereka membangun tempat tinggal.
Mereka mendirikan masjid.
Dan dalam proses interaksi tersebut, Islam mulai dikenal.
J.C. van Leur melihat hubungan antara perdagangan dan penyebaran Islam ini dengan sangat menarik. Menurutnya, Islam memiliki karakter dakwah yang membuat setiap Muslim memiliki potensi menjadi penyampai keyakinannya. Karena itu, pedagang Muslim menjadi salah satu sosok yang paling umum memperkenalkan Islam di wilayah asing.
Maka lahirlah sebuah ungkapan yang sangat menarik:
keimanan mengikuti jalur perdagangan.
Namun, apakah ini berarti para pedagang datang ke Nusantara terutama untuk mengislamkan masyarakat?
Tidak harus demikian.
Mereka datang untuk berdagang, tetapi kehidupan mereka sendiri menjadi bagian dari proses islamisasi.
Bukankah dakwah terkadang tidak dimulai dari mimbar?
Kadang-kadang dakwah dimulai dari sebuah pasar.
Dari sebuah rumah.
Dari sebuah hubungan persahabatan.
Dari kejujuran dalam berdagang.
Dari cara seseorang memperlakukan tetangganya.
---
Tinggal di Pelabuhan, Membangun Komunitas
Perdagangan juga membuat para pedagang Muslim tidak selalu dapat segera kembali ke negeri asal.
Mereka harus menunggu barang dagangan terjual.
Mereka harus membeli komoditas lokal untuk dibawa pulang.
Mereka juga harus menunggu musim yang tepat untuk berlayar kembali.
Akibatnya, masa tinggal mereka bisa berlangsung berbulan-bulan.
Di sekitar pelabuhan kemudian terbentuk komunitas-komunitas pedagang Muslim.
Di sejumlah tempat, komunitas semacam ini dikenal sebagai Pakojan, yaitu perkampungan yang dihuni pedagang Muslim dari berbagai wilayah seperti Arab, Persia, India, dan Tamil.
Jejak komunitas semacam ini masih dapat ditemukan dalam toponimi maupun peninggalan sejarah di sejumlah kota, seperti Banten dan Jayakarta.
Apa arti penting sebuah kampung pedagang?
Jauh lebih besar daripada sekadar tempat tinggal.
Ia menjadi ruang perjumpaan antara pendatang dan masyarakat lokal.
Di situlah proses islamisasi berlangsung secara perlahan.
Bukan melalui satu peristiwa spektakuler, melainkan melalui ribuan interaksi sehari-hari.
---
Perkawinan: Ketika Dakwah Masuk ke Dalam Keluarga
Dari interaksi yang terus berlangsung, lahirlah hubungan yang lebih dekat.
Salah satunya adalah perkawinan.
Pedagang Muslim menikah dengan perempuan lokal.
Mubaligh menikah dengan keluarga bangsawan.
Bahkan dalam beberapa kasus, perkawinan terjadi di antara keluarga kerajaan.
Apa yang terjadi setelah perkawinan?
Terbentuk keluarga Muslim.
Anak-anak tumbuh dalam lingkungan Islam.
Hubungan kekerabatan semakin luas.
Dan perlahan-lahan Islam masuk ke dalam struktur sosial masyarakat.
Catatan Tome Pires tentang Malaka menunjukkan adanya praktik perkawinan antara Muslim dan masyarakat yang sebelumnya menganut keyakinan lain.
Ini memperlihatkan bahwa proses islamisasi tidak selalu berlangsung melalui konfrontasi.
Sering kali ia berlangsung melalui hubungan sosial yang intim dan damai.
Bukankah keluarga merupakan salah satu lembaga paling kuat dalam membentuk keyakinan seseorang?
Karena itu, perkawinan menjadi salah satu saluran islamisasi yang sangat efektif.
---
Ketika Raja Masuk Islam
Jika perkawinan antara masyarakat biasa memperluas jaringan keluarga, bagaimana jika yang menikah adalah keluarga kerajaan?
Dampaknya tentu jauh lebih luas.
Dalam tradisi politik masyarakat Melayu, raja memiliki posisi sosial yang sangat tinggi. Ketika seorang raja memeluk Islam, keputusan itu dapat memengaruhi keluarga istana, bangsawan, birokrasi, dan bahkan masyarakat luas.
Tradisi Patani memberikan contoh menarik.
Hikayat Patani mengisahkan kedatangan Syekh Said dari Pasai. Ia membantu Raja Patani yang sedang sakit. Setelah sang raja sembuh, Syekh Said mengajaknya memeluk Islam.
Raja kemudian mengucapkan syahadat dan mengambil nama Sultan Ismail Shah Zillullah fil-'Alam.
Setelah itu, anggota keluarganya juga diberi nama-nama Islam.
Islam kemudian memperoleh ruang yang semakin luas di Patani dengan dukungan penguasa.
Namun, apakah semua islamisasi bermula dari raja?
Tidak.
Kasus Brunei justru menunjukkan bahwa prosesnya lebih kompleks.
Tradisi lokal menghubungkan islamisasi Brunei dengan Awang Alak Batatar dan hubungan perkawinannya dengan keluarga kerajaan Melayu. Akan tetapi, bukti arkeologis berupa batu nisan yang bertanggal jauh lebih awal menunjukkan bahwa kehadiran Islam di Brunei mungkin telah berlangsung sebelum masa pemerintahannya.
Artinya, kita harus berhati-hati.
Islamisasi tidak selalu dimulai dari istana.
Bisa jadi masyarakat Muslim telah hadir lebih dahulu, kemudian kerajaan mengikuti perkembangan tersebut.
Bisa juga sebaliknya: penguasa masuk Islam, lalu memberikan dukungan besar terhadap penyebaran Islam.
Karena itu, islamisasi harus dipahami sebagai interaksi antara masyarakat, pedagang, ulama, keluarga bangsawan, dan penguasa.
---
Sulu dan Filipina Selatan: Islam Mengikuti Jalur Perdagangan
Pola serupa terlihat di Kepulauan Sulu dan Filipina Selatan.
Wilayah ini berada dekat dengan jalur perdagangan yang menghubungkan Malaka dan Filipina.
Temuan batu nisan menunjukkan keberadaan komunitas Muslim di kawasan tersebut setidaknya sejak masa awal islamisasi.
Di antara tokoh yang disebut dalam tradisi lokal adalah Tuan Mashaikh dan Sharif Karim al-Makhdum.
Tradisi setempat menceritakan bahwa al-Makhdum tinggal di Bwansa dan masyarakat kemudian membangun masjid untuknya. Masjid tersebut menjadi tempat berkumpul masyarakat dan kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran Islam.
Kemudian muncul Abu Bakar, seorang pengajar Islam yang dikaitkan dengan Malaka. Ia datang melalui jaringan Palembang dan Brunei, menikah dengan keluarga penguasa lokal, dan kemudian memainkan peran politik dalam pembentukan kesultanan.
Di Mindanao, muncul pula nama Muhammad Kabungsuwan, yang dalam tradisi genealogis dikaitkan dengan jaringan keluarga kerajaan Melayu dan keturunan Arab.
Apa yang terlihat dari semua kisah ini?
Islam tidak bergerak dalam satu garis lurus.
Ia bergerak melalui jaringan manusia.
Pedagang bertemu penguasa.
Ulama bertemu masyarakat.
Pendatang menikah dengan penduduk lokal.
Keluarga kerajaan membentuk hubungan baru.
Dari jaringan-jaringan itulah islamisasi berkembang.
---
Para Mubaligh: Ketika Perdagangan Bertemu Dakwah
Namun, apakah para pedagang merupakan satu-satunya aktor islamisasi?
Tentu tidak.
Ada pula mullah, syekh, makhdum, kiai, sunan, khatib, datu, wali, dan berbagai gelar lainnya yang menunjukkan keberadaan para pengajar dan penyebar Islam.
Tome Pires mencatat keberadaan para mullah yang datang bersama pedagang Muslim ke pelabuhan-pelabuhan di Malaka, Jawa, dan wilayah lainnya.
Di Jawa, para pedagang Muslim membentuk komunitas yang semakin besar. Mereka membangun masjid. Para pengajar agama datang. Komunitas Muslim berkembang. Bahkan sebagian penguasa pesisir kemudian memeluk Islam.
Maka kita melihat sebuah rangkaian:
perdagangan membuka pintu, komunitas menciptakan ruang, ulama memberikan pemahaman, dan penguasa kemudian memberikan dukungan politik.
Tetapi apakah pola tersebut selalu sama di setiap daerah?
Tidak.
Setiap wilayah mempunyai keadaan sosial dan budaya sendiri.
Karena itu, para pelopor Islam harus menyesuaikan metode dakwah mereka dengan masyarakat setempat.
---
Para Pelopor Lokal: Islam Tidak Selamanya Dibawa Pendatang
Hal penting yang sering terlupakan adalah bahwa islamisasi tidak terus-menerus bergantung pada orang asing.
Setelah sebagian masyarakat menerima Islam, orang-orang lokal mulai menjadi pelaku utama islamisasi.
Mengapa peran mereka penting?
Karena mereka memahami bahasa masyarakat.
Mereka memahami adat.
Mereka mengetahui struktur sosial.
Mereka memahami psikologi masyarakat.
Dan yang paling penting, mereka mengetahui bagaimana menyampaikan Islam tanpa menciptakan benturan budaya yang tidak perlu.
Dengan demikian, islamisasi secara perlahan berubah.
Pada awalnya, Islam mungkin diperkenalkan oleh pedagang dan ulama dari luar.
Namun setelah terbentuk komunitas Muslim, masyarakat lokal mengambil alih peran tersebut.
Islam kemudian berakar dari dalam masyarakat sendiri.
---
Sulawesi Selatan: Dato' Tallu
Salah satu contoh penting adalah islamisasi Sulawesi Selatan melalui tiga mubaligh yang dikenal sebagai Dato' Tallu atau Datu' Tellu.
Mereka adalah:
- Dato' ri Bandang, Abdul Makmur atau Khatib Tunggal;
- Dato' ri Pattimang, Sulaiman atau Khatib Sulung;
- Dato' ri Tiro, Abdul Jawad atau Khatib Bungsu.
Ketiganya memainkan peranan penting dalam islamisasi Sulawesi Selatan.
Menurut sumber lokal, Raja Luwu, La Patiware Daeng Parabung, memeluk Islam pada 1013 H/1605 M dan mengambil nama Sultan Muhammad.
Kemudian Raja Tallo, Karaeng Matoaya, juga memeluk Islam dan mengambil nama Sultan Abdullah.
Ketika para penguasa tersebut menerima Islam, masyarakat mengikuti.
Dari Gowa, Tallo, dan Luwu, Islam kemudian menyebar lebih luas.
Apa yang kita lihat?
Islamisasi tidak hanya berlangsung dari bawah ke atas.
Dalam kondisi tertentu, ia juga bergerak dari atas ke bawah.
Namun, dukungan penguasa saja tidak cukup. Islam baru benar-benar menjadi bagian dari masyarakat ketika ia diterima, dipelajari, dan dijalankan oleh rakyat.
---
Wali Sanga: Dakwah Melalui Kebudayaan
Di Jawa, proses islamisasi sangat sering dikaitkan dengan Wali Sanga.
Nama-nama seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, dan Syekh Lemah Abang/Siti Jenar hidup dalam tradisi sejarah dan kisah masyarakat Jawa dengan tingkat kepastian historis yang berbeda-beda.
Salah satu tokoh yang paling sering dikaitkan dengan pendekatan budaya adalah Sunan Kalijaga.
Mengapa pendekatan budaya menjadi penting?
Karena dakwah tidak berlangsung di ruang kosong.
Masyarakat telah memiliki kebudayaan.
Mereka telah memiliki seni.
Mereka memiliki bahasa simbol.
Mereka memiliki tradisi.
Maka dakwah yang bijaksana tidak harus menghancurkan seluruh bentuk budaya yang ada.
Ia dapat mengolah, mengarahkan, dan memberi makna baru selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
Wayang, gamelan, dan berbagai bentuk kesenian menjadi bagian dari tradisi dakwah yang dalam legenda Jawa dikaitkan dengan Sunan Kalijaga.
Di sinilah kita melihat bahwa islamisasi bukan hanya proses teologis.
Ia juga merupakan proses kebudayaan.
---
Tasawuf: Menyentuh Dunia Batin Manusia
Selain pedagang dan mubaligh, ada kelompok lain yang memainkan peranan penting: para sufi.
Mengapa tasawuf memiliki daya tarik?
Karena tasawuf berbicara tentang dunia batin.
Tentang penyucian jiwa.
Tentang cinta kepada Allah.
Tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Tentang perjalanan spiritual.
A.H. Johns melihat sufisme sebagai salah satu unsur penting dalam proses islamisasi Indonesia dan dunia Melayu, terutama melalui karya sastra, jaringan sosial, dan para pengajar agama.
Di pusat-pusat kota pelabuhan, para sufi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim.
Mereka tidak hanya mengajarkan doktrin.
Mereka juga membentuk kehidupan spiritual masyarakat.
Di Aceh, nama Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani sangat dikenal dalam sejarah tasawuf Melayu.
Kemudian muncul Nuruddin al-Raniri dan Abdurrauf al-Singkili, yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam di dunia Melayu.
Namun, tasawuf juga melahirkan perdebatan.
Doktrin tertentu dipandang berbeda oleh para ulama. Hamzah Fansuri, misalnya, menghadapi kritik dari al-Raniri yang kemudian mendapat dukungan politik pada masa Sultan Iskandar Tsani.
Apa yang dapat kita pelajari?
Islamisasi bukan proses yang selalu tenang tanpa perdebatan.
Di dalamnya terdapat dinamika intelektual, perbedaan pemikiran, bahkan pertarungan pengaruh di lingkungan kerajaan.
Namun, justru dari dinamika itulah tradisi intelektual Islam Melayu berkembang.
---
Perkawinan, Birokrasi, dan Jalan Menuju Kekuasaan
Para pedagang dan mubaligh Muslim yang menikah dengan keluarga bangsawan memperoleh akses sosial yang lebih luas.
Jika seorang Muslim menikah dengan keluarga penguasa, ia dapat memasuki lingkungan istana.
Dari sana, ia mungkin memperoleh kedudukan dalam birokrasi.
Jika penguasa kemudian memeluk Islam, proses islamisasi memperoleh dukungan politik.
Maka muncul sebuah jaringan:
perkawinan → keluarga bangsawan → birokrasi → istana → masyarakat.
Namun, jangan dibayangkan bahwa semua orang masuk Islam hanya karena mengikuti raja.
Prosesnya jauh lebih kompleks.
Raja dapat membuka ruang.
Birokrasi dapat memperluas pengaruh.
Tetapi keyakinan harus diterima oleh masyarakat.
Karena itu, islamisasi tetap membutuhkan pendidikan, dakwah, interaksi sosial, dan keteladanan.
---
Pesantren: Membentuk Generasi Penerus
Setelah Islam diterima oleh masyarakat, muncul kebutuhan yang lebih mendasar:
Siapa yang akan mengajarkan Islam kepada generasi berikutnya?
Di sinilah lembaga pendidikan memainkan peranan penting.
Di Indonesia, lembaga tersebut dikenal sebagai pesantren.
Santri belajar kepada guru agama, kiai, ajengan, atau guru ngaji. Setelah selesai belajar, mereka kembali ke daerah asal dan mendirikan pusat-pusat pendidikan baru.
Sunan Giri, misalnya, secara tradisional dikaitkan dengan pesantren di Giri, Gresik, yang murid-muridnya datang dari berbagai wilayah, termasuk Maluku.
Apa yang terjadi ketika seorang santri kembali ke daerah asal?
Ia tidak hanya membawa pengetahuan.
Ia membawa jaringan.
Ia membawa tradisi pendidikan.
Ia membawa kitab.
Ia membawa metode dakwah.
Dan ia dapat membangun pesantren baru.
Dengan demikian, islamisasi berkembang seperti jaringan akar:
satu pusat melahirkan murid, murid melahirkan pusat baru, pusat baru melahirkan murid baru.
Inilah salah satu alasan mengapa pendidikan menjadi saluran islamisasi yang sangat kuat.
---
Seni dan Arsitektur: Ketika Islam Berbicara dalam Bahasa Budaya
Apakah dakwah hanya disampaikan melalui ceramah dan pengajaran?
Tidak.
Islam juga hadir melalui seni.
Lihatlah masjid-masjid tua di Indonesia dan Malaysia.
Banyak di antaranya memiliki bentuk atap bertingkat, berbeda dari pola arsitektur masjid di Timur Tengah.
Masjid Agung Demak.
Masjid Agung Banten.
Masjid Agung Cirebon.
Masjid Agung Palembang.
Masjid Agung Ternate.
Di Malaysia juga ditemukan masjid tua dengan karakter serupa.
Mengapa bentuk lokal tetap dipertahankan?
Salah satu penjelasan adalah bahwa para pelopor Islam tidak serta-merta memutus masyarakat dari seluruh tradisi budaya mereka.
Sebaliknya, unsur budaya yang dianggap dapat dipertahankan diolah dan diberi fungsi baru.
Bentuk atap bertingkat, misalnya, memiliki kemiripan dengan tradisi arsitektur pra-Islam di Nusantara.
Lalu apa dampaknya?
Masyarakat tidak mengalami cultural shock yang terlalu besar.
Masjid tetap terasa sebagai bagian dari lingkungan budaya mereka.
Namun fungsinya berubah.
Tempat ibadah baru hadir dalam bentuk yang secara visual masih dapat dipahami masyarakat.
Di sinilah seni dapat menjadi jembatan.
Bukan menghapus seluruh budaya, tetapi mengarahkan budaya kepada makna yang baru.
---
Kaligrafi dan Tulisan Jawi
Seni juga hadir dalam bentuk kaligrafi.
Tulisan Arab ditemukan pada batu nisan, dinding masjid, papan kayu, dan berbagai benda lainnya.
Di Brunei, misalnya, kaligrafi Arab dan tulisan Jawi menjadi bagian dari peninggalan sejarah Islam.
Apa fungsi tulisan tersebut?
Ia bukan hanya dekorasi.
Tulisan menjadi media pendidikan dan identitas.
Ayat al-Qur'an, syahadat, nama tokoh, dan berbagai ungkapan keislaman menjadi bagian dari ruang publik.
Dengan demikian, masyarakat mulai melihat Islam bukan hanya sebagai keyakinan pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan mereka.
---
Wayang: Ketika Dakwah Memasuki Dunia Imajinasi
Contoh yang lebih menarik adalah seni pertunjukan.
Wayang telah dikenal di Jawa jauh sebelum kedatangan Islam. Ceritanya berhubungan dengan tradisi Mahabharata dan Ramayana.
Lalu bagaimana Islam masuk ke dunia wayang?
Dalam legenda Jawa, Sunan Kalijaga dikaitkan dengan penggunaan wayang sebagai sarana dakwah.
Cerita dan tokoh-tokohnya disesuaikan.
Nilai moral disampaikan.
Pesan keagamaan diperkenalkan.
Tokoh-tokoh seperti Ali, Umar, dan Amir Hamzah bahkan muncul dalam perkembangan tradisi pertunjukan tertentu.
Di sini kita menemukan sebuah prinsip dakwah yang menarik:
masyarakat tidak selalu harus diajak meninggalkan dunianya terlebih dahulu untuk kemudian mengenal Islam.
Kadang-kadang Islam diperkenalkan melalui bahasa budaya yang sudah mereka pahami.
---
Sastra: Mengubah Cara Manusia Memahami Dunia
Selain arsitektur dan pertunjukan, sastra juga menjadi sarana penting.
Karya-karya keagamaan dari masa peralihan memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat perlahan-lahan menerima konsep-konsep Islam.
Sastra tidak hanya menyampaikan informasi.
Ia membentuk imajinasi.
Ia mengajarkan nilai.
Ia memengaruhi emosi.
Ia memberikan gambaran tentang Tuhan, manusia, kehidupan, kematian, dan akhirat.
Karena itu, kesusastraan periode islamisasi penting dikaji bukan hanya dari sisi bahasa dan sejarah, tetapi juga dari sisi psikologi dan pedagogi dakwah.
Bagaimana sebuah masyarakat yang sebelumnya memiliki pandangan dunia tertentu perlahan-lahan membangun cara pandang baru?
Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam karya sastra mereka.
---
Islamisasi: Bukan Satu Jalan, tetapi Jaringan Jalan
Setelah seluruh saluran tersebut kita lihat, apakah masih tepat mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara hanya melalui perdagangan?
Tentu terlalu sederhana.
Perdagangan memang penting.
Tetapi perdagangan bukan satu-satunya jalan.
Ada perkawinan.
Ada dakwah para mubaligh.
Ada tasawuf.
Ada pendidikan pesantren.
Ada birokrasi dan kerajaan.
Ada seni dan arsitektur.
Ada sastra.
Ada pula interaksi sosial sehari-hari yang sulit dicatat oleh sejarah, tetapi mungkin justru menjadi bagian terbesar dari proses tersebut.
Karena itu, islamisasi lebih tepat dipahami sebagai jaringan proses, bukan sebuah peristiwa tunggal.
---
Siapa yang Membawa Islam?
Pertanyaan tentang asal-usul pembawa Islam juga belum dapat dijawab secara mutlak.
Apakah mereka berasal dari Arab?
Persia?
India?
Tiongkok?
Ataukah semuanya?
Sampai sekarang, sumber sejarah yang tersedia belum memungkinkan kita memberikan satu jawaban sederhana untuk seluruh wilayah dunia Melayu.
Karena itu, lebih hati-hati jika dikatakan bahwa Muslim yang datang dan berinteraksi dengan masyarakat dunia Melayu berasal dari berbagai wilayah, terutama Arab, Persia, India, dan mungkin juga Tiongkok.
Mereka terdiri atas pedagang, mubaligh, ulama, pengajar agama, dan sufi.
Namun, ada satu hal yang lebih penting.
Islamisasi tidak selamanya menjadi pekerjaan orang asing.
Setelah Islam diterima, masyarakat lokal mengambil peranan semakin besar.
Mereka menjadi ulama.
Mereka menjadi kiai.
Mereka menjadi guru.
Mereka menjadi mubaligh.
Mereka menjadi penguasa Muslim.
Mereka mendirikan pesantren.
Mereka menulis kitab.
Mereka mengembangkan seni dan budaya Islam.
Dengan demikian, Islam yang awalnya datang melalui jaringan luar akhirnya menjadi bagian dari identitas masyarakat lokal.
---
Dari Pendatang Menjadi Pemilik Tradisi
Inilah mungkin salah satu transformasi terbesar dalam sejarah islamisasi.
Pada awalnya:
Islam datang dari luar.
Kemudian:
Islam dipelajari oleh masyarakat lokal.
Selanjutnya:
Islam diajarkan kembali oleh masyarakat lokal.
Akhirnya:
Islam menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Di sinilah islamisasi benar-benar menemukan akarnya.
Ia tidak lagi bergantung pada pedagang dari Arab, Persia, atau India.
Ia telah melahirkan ulama-ulama lokal.
Ia telah membentuk lembaga pendidikan.
Ia telah masuk ke dalam kerajaan.
Ia telah melahirkan kesusastraan.
Ia telah membentuk arsitektur.
Ia telah masuk ke dalam seni.
Dan yang paling penting:
ia telah menjadi cara hidup.
---
Penutup: Islamisasi sebagai Proses Peradaban
Dari seluruh pembahasan ini, kita dapat menarik beberapa kesimpulan.
Pertama, kedatangan Islam dan islamisasi adalah dua proses yang berbeda. Kehadiran Muslim di dunia Melayu mungkin telah berlangsung sejak abad-abad awal, tetapi proses islamisasi membutuhkan waktu yang panjang hingga terbentuk komunitas dan kerajaan-kerajaan Islam.
Kedua, pembawa Islam berasal dari jaringan yang beragam. Pedagang, mubaligh, ulama, pengajar agama, dan sufi datang dari berbagai wilayah seperti Arab, Persia, India, dan kemungkinan Tiongkok.
Ketiga, penerima Islam juga berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Raja, bangsawan, pedagang, masyarakat pesisir, hingga masyarakat pedalaman secara bertahap menjadi bagian dari komunitas Muslim.
Keempat, islamisasi berlangsung melalui banyak saluran: perdagangan, perkawinan, birokrasi, pendidikan, tasawuf, seni, sastra, dan dakwah.
Kelima, peran masyarakat lokal sangat menentukan. Para pendatang mungkin membuka pintu, tetapi para pelopor lokal yang kemudian memperluas dan mengakarkan Islam di tengah masyarakat.
Keenam, dukungan kerajaan mempercepat proses islamisasi, tetapi kerajaan bukan satu-satunya faktor. Islam menjadi kuat karena didukung oleh jaringan sosial, pendidikan, perdagangan, keluarga, ulama, dan kebudayaan.
Ketujuh, munculnya kerajaan-kerajaan Islam memberikan pijakan politik dan kelembagaan bagi perkembangan Islam. Kota-kota pelabuhan kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat kebudayaan Islam.
Lalu, setelah semua ini kita renungkan, mungkin pertanyaan yang paling menarik bukan lagi:
“Siapa yang pertama kali membawa Islam ke Nusantara?”
Melainkan:
“Bagaimana Islam yang pada awalnya datang melalui jaringan perdagangan dan perjumpaan manusia akhirnya berubah menjadi peradaban yang berakar di tanah Nusantara?”
Jawabannya tidak berada pada satu tokoh.
Tidak pula pada satu bangsa.
Tidak pada satu pelabuhan.
Dan tidak pada satu jalur.
Jawabannya terdapat dalam jaringan panjang manusia yang berdagang, menikah, belajar, mengajar, berdakwah, membangun keluarga, mendirikan pesantren, memasuki istana, menciptakan karya seni, dan membentuk kebudayaan baru.
Dengan demikian, islamisasi dunia Melayu bukanlah kisah tentang satu rombongan yang datang lalu sebuah masyarakat tiba-tiba berubah.
Ia adalah kisah tentang perjumpaan.
Perjumpaan antara pendatang dan penduduk lokal.
Antara perdagangan dan dakwah.
Antara ulama dan masyarakat.
Antara istana dan rakyat.
Antara Islam dan kebudayaan lokal.
Dan dari perjumpaan-perjumpaan itulah, perlahan-lahan, lahir sebuah dunia baru:
dunia Melayu-Islam.
0 komentar: