MELACAK JEJAK ARKEOLOGIS BANTEN
Jejak arkeologis Banten yang pernah dilacak, dicatat, diinventarisasi, dan didokumentasikan antara lain dapat ditelusuri dalam Inventaris der Hindoe-Oudheden, ROD 1914, yang diterbitkan oleh Batavia's-Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 1915, khususnya halaman 1–15 dan 20. Dalam inventaris tersebut tercatat berbagai benda peninggalan yang sebagian telah dipindahkan dan disimpan di museum, sementara sebagian lainnya masih berada di lokasi penemuannya.
Salah satu contohnya adalah sebuah candi yang bagian bawah dan kepalanya telah mengalami kerusakan. Candi tersebut semula ditempatkan di Pancaniti Kabupaten, kemudian hilang. Jejaknya ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian kanal di Karangantu dan kini disimpan di Museum Banten. Contoh lainnya adalah temuan arca-arca batu, yaitu Brahma, Mahadewa, Guru, Durga, dan Ganesha, yang berasal dari Caringin dan kini telah disimpan di Museum Jakarta.
Berbeda dengan benda-benda yang telah dipindahkan ke museum, beberapa jejak arkeologis lainnya masih dapat ditemukan di tempat asalnya. Di antaranya adalah punden berundak di Si Bedug dan Cibeo yang merupakan jejak arkeologis megalitik (B. van Tricht, 1929: 43–120).
Jejak-jejak arkeologis dari wilayah Provinsi Banten setelah tahun 1915 pun masih banyak ditemukan dalam berbagai catatan yang dihimpun oleh lembaga-lembaga yang menangani peninggalan sejarah dan purbakala atau benda cagar budaya, baik di tingkat pusat maupun daerah. Catatan-catatan tersebut memperlihatkan bahwa tinggalan arkeologis Banten tidak hanya berasal dari satu periode sejarah, tetapi mencakup rentang waktu yang panjang, mulai dari masa prasejarah hingga masa Islam.
Pada masa prasejarah, misalnya, berbagai alat batu seperti kapak, pahat, beliung, dan benda-benda sejenis dari periode batu baru (Neolitikum) atau masa bercocok tanam telah ditemukan di sejumlah tempat di Banten. Temuan tersebut antara lain berasal dari Serpong, Cihuni, Ciledug (Serang), dan Pandeglang. Sebagian alat batu itu telah diinventarisasi dan disimpan di museum, sebagaimana tercatat dalam koleksi Praehistorische Verzameling yang dihimpun oleh A.N.J. Th. van der Hoop dan diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 1941 (van der Hoop, 1941).
Jejak arkeologis dari masa Neolitikum tidak hanya berupa alat-alat batu. Dari Serpong, misalnya, ditemukan pula benda-benda dari tanah liat berupa gerabah atau periuk belanga. Selain itu, ditemukan pula tinggalan dari masa perunggu dan besi berupa berbagai alat yang dibuat dari kedua jenis logam tersebut. Salah satu temuan penting adalah sebuah nekara atau genderang perunggu tipe Heger IV yang berasal dari daerah Banten.
Apabila benda-benda dan situs-situs yang tercatat dalam Inventaris der Hindoe-Oudheden ditelusuri lebih jauh, terlihat bahwa tinggalan Banten juga mencakup jejak arkeologis megalitik berupa punden berundak. Punden-punden tersebut antara lain terdapat di Si Bedug, Cibeo, dan beberapa tempat lainnya.
Memasuki masa Indonesia Hindu-Buddha, jejak arkeologis Banten semakin beragam. Temuan dari Caringin, Karangantu, dan beberapa tempat lainnya menunjukkan keberadaan tinggalan dari periode tersebut. Salah satu temuan yang penting adalah prasasti yang ditemukan pada 1947 di Cidangiang, Desa Munjul, Pandeglang. Prasasti tersebut merupakan salah satu jejak arkeologis masa Tarumanagara yang memuat nama Sri Maharaja Purnawarman. Nama Purnawarman juga tercantum dalam sejumlah prasasti lainnya, seperti Prasasti Tugu, Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu, dan Pasir Awi. Di antara ahli yang pernah membicarakan prasasti-prasasti Tarumanagara tersebut adalah R.M. Ng. Poerbatjaraka dalam Riwayat Indonesia I, yang diterbitkan Yayasan Pembangunan, Jakarta, pada 1952.
Jejak arkeologis dari masa Indonesia Hindu juga ditemukan di Ujung Kulon, antara lain berupa arca Siwa dan arca lainnya. Kini benda-benda tersebut disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.
Sementara itu, tinggalan dari masa Indonesia-Hindu yang lebih akhir tampak pada jejak hunian yang diduga berkaitan dengan situs Keraton Banten Girang. Menurut Sejarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, tempat tersebut merupakan lokasi Keraton Prabu Pucuk Umun. Untuk menemukan dan memastikan jejak arkeologisnya, situs Banten Girang beberapa kali diteliti melalui ekskavasi arkeologis yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1967–1977 (Hoesein Djajadiningrat, 1913; Jan Edel, 1938).
Ekskavasi di Banten Girang juga menghasilkan sejumlah pecahan keramik asing dari masa Dinasti Sung, sekitar abad ke-10 sampai ke-13 M, dan Dinasti Ming, sekitar abad ke-14 sampai ke-15 M. Temuan keramik tersebut menjadi salah satu petunjuk penting yang menunjang keberadaan situs Banten Girang sebagai sebuah kawasan yang telah memiliki hubungan dengan dunia luar. Situs ini diduga merupakan sebuah kadipaten dalam lingkungan Kerajaan Sunda Pajajaran (Mundardjito, 1978).
Dengan demikian, jejak arkeologis yang terdapat di wilayah Provinsi Banten sesungguhnya telah lama menjadi objek inventarisasi, penelitian, pemeliharaan, dan pemugaran. Upaya tersebut dilakukan untuk memahami berbagai tinggalan budaya yang tersebar di wilayah Banten sekaligus menempatkannya dalam konteks sejarah yang lebih luas (Uka Tjandrasasmita, 1982).
Namun, dalam penelitian arkeologi-sejarah (historical archaeology), terutama ketika meneliti masa Hindu-Buddha dan masa Islam, pelacakan jejak arkeologis tidak cukup hanya mengandalkan benda atau bangunan yang masih tersisa. Para peneliti juga perlu menelusuri sumber-sumber tertulis yang dapat memberikan petunjuk mengenai keberadaan suatu situs atau tinggalan arkeologis.
Sumber tertulis tersebut dapat berupa naskah-naskah kuno, khususnya hikayat dan babad, yang sering memberikan gambaran mengenai lokasi pertempuran, bangunan, kawasan perkotaan, makam, istana, pasar, dan berbagai tempat lainnya. Demikian pula berita-berita asing dari Tiongkok, Portugis, Belanda, Inggris, Prancis, dan bangsa-bangsa lainnya tidak kalah penting. Daghregister, arsip, laporan perjalanan, perjanjian, serta berbagai catatan lainnya sering kali menyimpan informasi yang dapat menjadi petunjuk untuk melacak kembali jejak arkeologis yang telah hilang atau berubah.
Dalam konteks Kesultanan Banten, misalnya, jejak arkeologis sejak awal abad ke-16 hingga akhir abad ke-19 dapat ditelusuri melalui berbagai sumber naskah kuno. Di antaranya adalah Sejarah Banten, Hikayat Hasanuddin, Babad Cirebon, Babad Tanah Jawi, dan Carita Purwaka Caruban Nagari. Kajian terhadap sumber-sumber tersebut tidak dapat dilepaskan dari penelitian filologi yang dilakukan terhadap naskah-naskah lama.
Salah satu tokoh yang memberikan perhatian terhadap naskah-naskah Sunda adalah Edi S. Ekadjati. Ia antara lain meneliti dan menerbitkan Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pada 1985, serta Naskah Sunda, yang diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation, Bandung, pada 1988.
Naskah-naskah kuno yang berasal dari Banten dapat ditelusuri melalui berbagai katalog. Sebagian berada dalam koleksi Museum Nasional, yang kini menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional. Di antaranya adalah katalog yang disusun oleh Moh. Amir Sutaarga dan kawan-kawan, Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat (1972); Vivian Sukanda Tessier dan Hasan Muarif Ambary, Catalog Ratsonne Naskah Jawa Barat I: Naskah Islam, Tim EFEO–Puslit Arkenas, Bandung–Jakarta (1990); serta Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia, Ecole française d'Extrême-Orient–Yayasan Obor Indonesia (1999). Di luar katalog-katalog tersebut, masih sangat mungkin terdapat naskah-naskah Banten yang tersimpan di tengah masyarakat dan belum seluruhnya teridentifikasi.
Pentingnya kajian filologi dalam membantu pelacakan jejak arkeologis dapat dilihat dengan jelas dalam Sejarah Banten. Salah satu petunjuk mengenai tata ruang Kota Banten, misalnya, terdapat dalam pupuh XIX. Di dalamnya disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati bersama Molana Judah memerintahkan anaknya untuk mendirikan sebuah kota di pantai. Ia memberikan petunjuk mengenai lokasi dalem atau istana, pasar, dan alun-alun. Disebutkan pula bahwa wati gigilang tidak boleh dipindahkan dari tempatnya karena pemindahannya dipercaya akan menyebabkan jatuhnya negeri tersebut (Hoesein Djajadiningrat, 1983: 36).
Keterangan dalam naskah tersebut bukan sekadar cerita, tetapi dapat menjadi petunjuk awal untuk mencari jejak tata ruang Kota Banten. Di sinilah sumber filologis dapat bertemu dengan penelitian arkeologis. Apa yang disebutkan dalam teks dapat diuji melalui tinggalan material yang ditemukan di lapangan.
Petunjuk mengenai tata ruang tersebut kemudian memperoleh penguatan dari sumber-sumber asing. Salah satunya adalah De Eerste Schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indie onder Cornelis de Houtman. Ketika orang-orang Belanda pertama kali datang ke Banten pada Juni 1596, Sultan Maulana Muhammad sedang melakukan penyerangan ke Palembang.
Willem Lodewycksz, yang mengikuti pelayaran Cornelis de Houtman, memberikan gambaran mengenai Kota Banten. Melalui sketsa yang dibuatnya, dapat dilihat susunan berbagai unsur penting kota, seperti keraton, alun-alun, masjid, pasar, tempat kediaman para pembesar, serta perkampungan para pedagang asing. Gambaran tersebut memberikan informasi berharga mengenai struktur dan tata ruang Kota Banten pada akhir abad ke-16 (Rouffaer dan IJzerman, 1915: 78–133; Peta Sketsa Kota Banten: 104; Uka Tjandrasasmita, 2000: 136–137, Gambar 49).
Dari sini terlihat bahwa pelacakan jejak arkeologis Banten merupakan pekerjaan yang mempertemukan berbagai jenis sumber. Tinggalan berupa benda, bangunan, situs, dan struktur di lapangan perlu dibaca bersama dengan prasasti, naskah kuno, berita perjalanan, arsip, peta, serta catatan bangsa asing. Arkeologi menyediakan jejak materialnya, sedangkan filologi dan sejarah membantu membaca konteksnya.
Karena itu, memahami Banten masa lalu tidak cukup hanya dengan melihat apa yang masih berdiri atau tersimpan di museum. Jejak yang telah hilang pun dapat dilacak kembali melalui catatan yang ditinggalkan manusia pada zamannya. Dari pertemuan antara tinggalan material dan sumber tertulis itulah gambaran mengenai perkembangan Banten—dari masa prasejarah, Hindu-Buddha, hingga Kesultanan Banten—dapat disusun secara lebih utuh.
0 komentar: