Ketika Semangat Pembaruan Melahirkan Persoalan Baru
Bagaimana seharusnya seorang pemikir menghadapi penyimpangan zamannya?
Haruskah ia melawannya dengan menggunakan kerangka berpikir yang justru lahir dari peradaban yang sedang dikritiknya?
Pertanyaan inilah yang muncul ketika kita menelaah pemikiran Muhammad Iqbal.
Iqbal hidup di tengah dua arus besar yang sama-sama memengaruhi zamannya.
Di dunia Timur, ia menyaksikan umat Islam terjebak dalam pemikiran yang, menurutnya, kehilangan semangat hidup. Gagasan tentang peleburan diri membuat manusia seolah kehilangan kepribadiannya, sementara pandangan yang terlalu pasif menjadikan manusia tampak tidak memiliki peran nyata dalam membangun kehidupan di bumi.
Bukankah Islam justru mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah yang aktif, bertanggung jawab, dan berkarya?
Di sisi lain, Iqbal juga berhadapan dengan dunia Barat yang sedang dikuasai positivisme dan empirisme. Aliran-aliran ini menganggap pengalaman indrawi sebagai ukuran utama pengetahuan. Pada saat yang sama, ia menghadapi gagasan Friedrich Nietzsche yang mengumumkan "kematian Tuhan" dan mengagungkan lahirnya manusia super. Dalam pandangan penulis, gagasan tersebut merupakan bentuk penyimpangan pemikiran yang jauh dari petunjuk wahyu.
Menghadapi dua arus itu, apa yang ingin dilakukan Iqbal?
Ia ingin menghidupkan kembali manusia Muslim. Ia menolak sikap pasif, fatalistis, dan pandangan yang menghilangkan tanggung jawab manusia. Ia ingin menegaskan bahwa manusia memiliki kepribadian, kehendak, dan peranan yang nyata dalam kehidupan.
Tujuan ini tentu sangat mulia.
Namun, muncul pertanyaan berikutnya.
Apakah semangat memperkuat peran manusia kemudian mendorongnya melampaui batas-batas konsep Islam sendiri?
Menurut penulis, di sinilah persoalannya.
Dalam upaya menegaskan kelangsungan dan keutuhan kepribadian manusia, Iqbal sampai menakwilkan sejumlah nash Al-Qur'an dengan cara yang dianggap tidak sejalan dengan makna lahiriahnya maupun dengan keseluruhan konsep Islam. Ia berpendapat bahwa pengalaman pertumbuhan manusia tetap berlangsung setelah kematian, bahkan sesudah kehidupan surga dan neraka.
Padahal, bukankah konsep Islam menjelaskan bahwa dunia adalah tempat ujian dan amal, sedangkan akhirat merupakan tempat hisab dan pembalasan?
Sesudah keputusan Allah ditetapkan, tidak ada lagi kesempatan untuk memulai amal baru sebagaimana ketika manusia hidup di dunia.
Mengapa Iqbal sampai pada kesimpulan tersebut?
Penulis melihat bahwa hal itu lahir dari keinginannya yang sangat besar untuk menegaskan keberlangsungan eksistensi manusia, atau apa yang disebutnya sebagai ego atau "aku", istilah yang dipengaruhi oleh filsafat Hegel.
Persoalan serupa juga tampak dalam penggunaan istilah "pengalaman".
Dalam tradisi filsafat Barat, pengalaman (experience) umumnya dibatasi pada pengalaman empiris yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Bahkan, istilah itu sejak awal digunakan untuk menolak sumber pengetahuan yang tidak bersandar pada pengamatan indrawi.
Namun, Iqbal memperluas makna istilah tersebut hingga mencakup pengalaman spiritual seorang mukmin.
Apakah perluasan makna itu sepenuhnya berhasil?
Menurut penulis, justru di sinilah muncul kesulitan. Ketika istilah yang lahir dari tradisi intelektual Barat dipaksa memuat pengalaman ruhani yang menjadi ciri khas Islam, makna aslinya menjadi kabur. Akibatnya, lahirlah penjelasan yang dipandang kontroversial dan kurang mencerminkan karakter asli konsep Islam.
Padahal, sebagai seorang penyair, Iqbal dikenal memiliki daya ungkap yang sangat hidup, dinamis, dan menginspirasi.
Karena itu, kritik terhadap sebagian gagasannya tidak berarti mengabaikan jasa besarnya.
Penulis justru memberikan penghargaan yang tinggi kepada Muhammad Abduh, para muridnya, maupun Muhammad Iqbal. Mereka telah menghidupkan kembali semangat berpikir umat Islam pada masa kemunduran. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.
Lalu, apa pelajaran yang dapat diambil?
Bahwa semangat meluruskan satu penyimpangan terkadang dapat melahirkan penyimpangan baru apabila tidak selalu berpijak pada konsep Islam secara utuh.
Oleh sebab itu, metode yang dianggap lebih tepat adalah memulai dari hakikat konsep Islam itu sendiri. Konsep tersebut dipahami secara menyeluruh, seimbang, dan harmonis sesuai wataknya sendiri, bukan dibentuk oleh kerangka berpikir yang berasal dari luar dirinya.
Pada akhirnya, buku ini bukanlah sebuah karya filsafat, bukan pula risalah teologi spekulatif ataupun metafisika.
Lalu, apakah tujuan utamanya?
Tujuannya adalah berbicara kepada realitas kehidupan.
Islam datang untuk membebaskan manusia dari kebingungan yang menguasai cara berpikir dan cara hidup mereka. Ia datang untuk mengeluarkan manusia dari kerancuan menuju keyakinan, dari kekacauan menuju keteraturan, serta dari sistem buatan manusia menuju sistem yang bersumber dari petunjuk Allah.
Namun, tidakkah keadaan manusia hari ini kembali memperlihatkan gejala yang sama?
Kebingungan pemikiran, pertentangan nilai, dan krisis arah hidup kembali menjadi wajah peradaban modern. Bahkan, umat Islam yang dahulu memimpin manusia dengan petunjuk wahyu kini justru banyak mengikuti arah peradaban yang sedang diliputi berbagai bentuk kebingungan itu.
Karena itulah, kebutuhan terhadap penjelasan yang utuh mengenai konsep Islam menjadi semakin mendesak.
Buku ini merupakan ikhtiar untuk menjelaskan karakteristik-konsep Islam beserta fondasi-fondasinya. Dari konsep inilah lahir sistem kehidupan, pandangan tentang ilmu, aktivitas berpikir, seni, dan seluruh aspek kehidupan yang dikehendaki Allah.
Setiap pembahasan tentang pemikiran maupun sistem Islam semestinya berangkat dari fondasi ini.
Sebab, kebutuhan terhadap konsep Islam yang jernih bukan hanya kebutuhan intelektual. Ia adalah kebutuhan akal dan hati, kebutuhan kehidupan nyata, serta kebutuhan umat Islam dan seluruh umat manusia.
Bagian ini menjadi langkah awal untuk memahami karakteristik konsep Islam. Pembahasan berikutnya akan menguraikan sendi-sendi yang menjadi fondasinya.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik, petunjuk, dan pertolongan-Nya.
0 komentar: