Mengapa ketika menjelaskan konsep-konsep Islam kita tidak menggunakan pola filsafat?
Jawabannya sederhana, tetapi mendasar. Sebab, cara menyampaikan sebuah gagasan tidak pernah benar-benar netral. Bentuk penyampaian dapat memengaruhi isi yang disampaikan. Bahkan, sebuah konsep dapat kehilangan watak aslinya ketika dipaksa masuk ke dalam kerangka yang lahir dari tradisi pemikiran yang berbeda.
Karena itulah, konsep-konsep Islam tidak semestinya dijelaskan dengan pola filsafat. Siapa pun yang menghayati hakikat konsep-konsep Islam sebagaimana dipaparkan dalam Al-Qur'an akan menyadari bahwa keduanya berangkat dari cara pandang yang tidak sama.
Dalam konteks ini, kita juga tidak sependapat dengan upaya Muhammad Iqbal yang berusaha menuangkan konsep-konsep Islam ke dalam kerangka filsafat yang dipinjam dari Hegel—tokoh rasionalisme-idealisme—dan Auguste Comte—pelopor positivisme. Bukan karena keduanya tidak memiliki nilai intelektual, melainkan karena kerangka berpikir mereka tidak lahir dari sumber dan watak yang sama dengan akidah Islam.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan yang paling mendasar?
Akidah Islam berbicara kepada manusia secara utuh. Ia tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati, jiwa, fitrah, perasaan, dan seluruh potensi kemanusiaan. Di dalamnya terdapat irama, sentuhan, inspirasi, serta daya hidup yang membangkitkan manusia. Tidak semua makna akidah dapat diringkus oleh rangkaian definisi atau rumusan bahasa.
Sebaliknya, filsafat cenderung berusaha membatasi hakikat ke dalam konsep-konsep dan ungkapan yang presisi. Padahal, hakikat-hakikat yang dibicarakan akidah jauh lebih luas daripada kemampuan bahasa untuk mengungkapkannya dan lebih besar daripada jangkauan akal manusia untuk menguasainya sepenuhnya.
Bukankah di sinilah letak persoalannya?
Ketika sesuatu yang melampaui batas nalar dipaksa masuk ke dalam batas-batas definisi filosofis, yang terjadi justru penyempitan makna. Akibatnya, pembahasan menjadi rumit, kering, dan kehilangan daya sentuhnya.
Karena itu, sepanjang sejarah manusia, filsafat tidak pernah memberikan pengaruh yang sebanding dengan akidah dalam menggerakkan kehidupan. Akidah mampu mengubah manusia, membangun peradaban, menggerakkan pengorbanan, dan memberi harapan, bahkan ketika manusia berada dalam kesesatan zaman dan gelapnya jalan kehidupan.
Maka, bukankah akidah seharusnya dijelaskan dengan caranya sendiri?
Akidah harus disampaikan dengan teknik yang sesuai dengan wataknya. Memaksanya menggunakan teknik filsafat justru berisiko memadamkan daya hidup, inspirasi, dan pengaruhnya. Yang tersisa hanyalah pembahasan intelektual yang menyentuh akal, sementara dimensi-dimensi lain dalam diri manusia tidak lagi tersentuh.
Itulah sebabnya berbagai upaya menjelaskan akidah melalui pola yang asing bagi wataknya sering kali melahirkan keruwetan, kekurangan, bahkan penyimpangan. Bukan karena akidahnya yang bermasalah, melainkan karena wadah yang digunakan tidak mampu memuat keluasan hakikatnya.
Dari sinilah muncul sebuah kesimpulan.
Kita tidak memerlukan apa yang disebut sebagai "filsafat Islam" jika yang dimaksud adalah menjadikan filsafat sebagai kerangka utama dalam menjelaskan ajaran Islam. Kita juga tidak memandang perlu menjadikannya sebagai pola baku dalam pemikiran Islam.
Sikap ini sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Islam ataupun menghambat perkembangan pemikiran Islam. Sebaliknya, justru dengan mempertahankan cara penjelasannya sendiri, Islam akan tetap tampil dalam keaslian, kemurnian, dan keistimewaannya sebagaimana diturunkan dalam Al-Qur'an.
0 komentar: