Dari manakah seorang dai memperoleh bekal untuk menempuh jalan dakwah?
Apakah cukup dengan ilmu, pengalaman, atau banyaknya aktivitas?
Semakin lama merenungkan pertanyaan ini, semakin saya merasa bahwa diri ini belum pantas berbicara tentang bekal keimanan, ketakwaan, hidayah, dan cahaya. Sebab, bekal seperti itu tidak semata-mata lahir dari pengalaman atau pengetahuan manusia. Bekal itu merupakan karunia dari Allah, Dzat Yang Maha Pemberi.
Allah berfirman,
«"Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(QS. Ali 'Imran: 74)»
Keimanan adalah anugerah-Nya. Hidayah adalah pemberian-Nya. Cahaya dan rahmat juga berasal dari-Nya. Karena itu, selama Allah terus melimpahkan karunia-Nya, tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk berputus asa.
Allah juga mengingatkan,
«"Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang yang benar.'"
(QS. Al-Hujurat: 17)»
Demikian pula firman-Nya,
«"Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang Dia tahan, maka tidak ada seorang pun yang mampu melepaskannya sesudah itu. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
(QS. Fathir: 2)»
Bukankah seluruh kebaikan bersumber dari Allah?
Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah tidak hanya memberikan karunia, tetapi juga menunjukkan jalan-jalan untuk meraihnya. Dia mengajarkan sebab-sebab yang dapat ditempuh agar seorang hamba memperoleh bekal dari-Nya.
Lalu, apakah sebab yang paling utama?
Yang paling utama bukanlah banyaknya amal, melainkan keadaan hati ketika menghadap Allah. Seorang hamba berdiri di hadapan Rabbnya dengan penuh ketundukan, memohon pertolongan, mengakui kelemahannya, berharap rahmat-Nya, takut kepada-Nya, dan menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya.
Di situlah letak pangkal segala bekal.
Semakin tulus ketundukan seorang hamba, semakin besar pula karunia yang Allah limpahkan kepadanya. Adapun berbagai amal dan sarana lainnya hanyalah jalan yang mengantarkan kepada karunia tersebut.
Karena itulah saya merasa takut ketika hendak menulis tentang masalah ini. Saya khawatir mengarahkan orang lain pada sesuatu yang diri saya sendiri masih sangat membutuhkan bimbingan di dalamnya.
Namun, di sisi lain, saya juga merasakan betapa pentingnya bekal ini bagi setiap orang yang berjalan di jalan dakwah. Oleh sebab itu, dengan memohon pertolongan Allah, saya memberanikan diri menuliskan beberapa renungan yang mudah-mudahan dapat menjadi panduan bagi diri sendiri maupun bagi siapa saja yang menempuh jalan ini.
Bekal Itu Harus Terus Diperbarui
Apakah bekal iman akan tetap kuat dengan sendirinya?
Tentu tidak.
Sebagaimana bekal perjalanan dapat berkurang bahkan habis, demikian pula bekal keimanan. Ia dapat bertambah, dapat melemah, bahkan dapat hilang apabila tidak dijaga.
Karena itu, setiap Muslim harus terus memperbarui, menambah, dan memelihara bekalnya. Kabar baiknya, Allah telah memudahkan berbagai sebab untuk melakukannya pada setiap waktu.
Al-Qur'an: Mata Air Bekal yang Tidak Pernah Kering
Lalu, apakah sumber bekal yang paling utama?
Jawabannya adalah Al-Qur'an.
Kitab Allah merupakan sumber bekal yang paling agung, paling mudah dijangkau, dan paling banyak melimpahkan keberkahan. Ia bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Siapa pun yang datang kepadanya dengan hati yang terbuka akan selalu memperoleh bekal baru.
Bahkan, Al-Qur'an tidak hanya menjadi sumber bekal, tetapi juga mengajarkan bagaimana memanfaatkan berbagai sarana lain untuk semakin mendekat kepada Allah.
Di dalamnya terdapat cahaya, petunjuk, rahmat, nasihat, dan peringatan.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa membacanya merupakan salah satu sarana terbesar untuk memperkuat iman dan takwa. Ia menanamkan tauhid yang melahirkan ketenteraman dan rasa aman dalam jiwa. Ia mengajak manusia memperbanyak ibadah yang terus memperbarui ketakwaan.
Lebih dari itu, Al-Qur'an mengarahkan manusia untuk merenungkan ciptaan-ciptaan Allah. Dari perenungan itu lahirlah pengenalan kepada sifat-sifat-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin tumbuh rasa pengagungan, pemuliaan, dan penyucian kepada-Nya. Bukankah itulah bekal iman yang paling berharga?
Di dalam Al-Qur'an juga terdapat kisah para nabi dan umat-umat terdahulu. Kisah-kisah itu bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran yang menambah pengalaman, kebijaksanaan, dan keteguhan bagi setiap penempuh jalan dakwah.
Al-Qur'an pun memerintahkan kita untuk menaati dan meneladani Rasulullah ï·º, sebaik-baik pembimbing dalam perjalanan menuju Allah.
Selain itu, Al-Qur'an dipenuhi ajakan kepada segala bentuk kebajikan, larangan dari berbagai kemungkaran, peringatan tentang hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan, serta kabar gembira tentang surga dan peringatan tentang neraka.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa seluruh kebutuhan manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat terdapat di dalam Al-Qur'an. Ia menjaga manusia dari kesengsaraan, membangun akidah yang kokoh, serta menumbuhkan seluruh potensi kebaikan dalam dirinya.
Allah berfirman,
«"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus."
(QS. Al-Isra': 9)»
«"Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang meyakini."
(QS. Al-Jatsiyah: 20)»
«"(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi manusia, petunjuk, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Ali 'Imran: 138)»
«"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Isra': 82)»
«"Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yunus: 57)»
«"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, serta menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Ma'idah: 15–16)»
Maka, jika bekal perjalanan menuju Allah harus terus diperbarui, mengapa mencari sumber yang lain, sementara Allah telah menyediakan Al-Qur'an sebagai mata air yang tidak pernah kering? Siapa yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat perjalanannya, niscaya ia akan selalu menemukan cahaya ketika jalan mulai gelap, kekuatan ketika hati mulai lemah, dan harapan ketika langkah terasa berat.
0 komentar: