basmalah Pictures, Images and Photos
Menempatkan Akal pada Posisinya? - Our Islamic Story

Choose your Language

Menempatkan Akal pada Posisinya? Masih ada alasan lain mengapa pembahasan ini ti...

Menempatkan Akal pada Posisinya?

Menempatkan Akal pada Posisinya?


Masih ada alasan lain mengapa pembahasan ini tidak dimulai dari kritik terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi dalam pemikiran Islam.

Mengapa?

Karena apabila seluruh perhatian diarahkan kepada satu penyimpangan tertentu, lambat laun penyimpangan itulah yang justru menjadi pusat pembahasan. Seluruh tenaga akhirnya dihabiskan untuk membantahnya, sementara hakikat konsep Islam itu sendiri justru terlupakan.

Bukankah yang lebih penting adalah mengenal kebenaran sebelum membantah kesalahan?

Oleh sebab itu, pembahasan ini berusaha terlebih dahulu menampilkan konsep Islam sebagaimana dibawa oleh Al-Qur'an secara utuh, menyeluruh, seimbang, dan harmonis. Keharmonisannya bagaikan keteraturan alam semesta dan keserasian fitrah manusia. Jika fondasi ini telah kokoh, berbagai penyimpangan akan lebih mudah dikenali tanpa harus menjadi titik tolak pembahasan.

Mengapa pendekatan ini dipilih?

Karena sejarah menunjukkan bahwa terlalu sibuk membantah satu penyimpangan sering kali melahirkan penyimpangan baru. Semangat meluruskan kesalahan lama justru dapat menggeser keseimbangan ajaran Islam ke arah yang berlawanan. Akibatnya, penyimpangan hanya berganti bentuk, bukan benar-benar hilang.

Bukankah penyimpangan tetaplah penyimpangan, ke mana pun arahnya?

Fenomena seperti ini dapat ditemukan dalam berbagai karya yang ditulis untuk membela Islam dari serangan orientalis, kaum ateis, maupun kritik-kritik yang muncul pada masa tertentu. Niat para penulisnya tentu baik, tetapi semangat apologetik terkadang membuat sebagian konsep Islam dijelaskan secara tidak utuh.

Salah satu contohnya adalah tuduhan bahwa Islam merupakan "agama pedang" yang disebarkan melalui kekerasan.

Bagaimana sebagian kaum Muslim menjawab tuduhan itu?

Sebagian berusaha membela Islam dengan mempersempit makna jihad. Jihad kemudian dipahami hampir semata-mata sebagai pembelaan diri dalam arti yang sangat terbatas. Berbagai dimensi jihad yang diajarkan Islam pun cenderung diabaikan karena dianggap akan memperkuat tuduhan lawan.

Padahal, apakah memang demikian konsep jihad dalam Islam?

Islam memang tidak membenarkan pemaksaan akidah. Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Namun, pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan pentingnya menegakkan tatanan kehidupan yang adil sehingga manusia dapat menjalankan keyakinannya secara bebas dan aman.

Menegakkan sistem yang menjamin keadilan, keamanan, kebebasan berdakwah, dan kebebasan beragama tentu memerlukan kekuasaan yang adil, hukum yang benar, serta kemampuan melindungi masyarakat dari pihak-pihak yang ingin menghancurkan kebebasan tersebut. Dalam kerangka inilah jihad memiliki kedudukan yang lebih luas daripada sekadar pembelaan diri dalam pengertian yang sempit.

Di sinilah tampak bahayanya semangat membela diri yang berlebihan. Karena ingin menolak satu tuduhan, sebagian orang justru mengurangi keluasan makna salah satu ajaran Islam sendiri.

Contoh lain dapat ditemukan pada sebagian gagasan pembaruan pemikiran Islam, khususnya yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad Abduh dan, dalam sisi tertentu, oleh Muhammad Iqbal.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena setiap pemikir hidup dalam konteks zamannya.

Muhammad Abduh menghadapi masyarakat Muslim yang mengalami kebekuan berpikir. Pintu ijtihad dianggap tertutup, akal kurang dihargai, tradisi taklid begitu kuat, sementara berbagai bentuk khurafat berkembang luas. Pada saat yang sama, Eropa sedang mengalami kebangkitan ilmu pengetahuan dan rasionalisme yang menempatkan akal hampir sebagai otoritas tertinggi. Serangan orientalis terhadap Islam pun semakin gencar.

Dalam situasi seperti itu, Muhammad Abduh berusaha menghidupkan kembali peranan akal, memberantas taklid, dan menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mematikan kreativitas manusia.

Tujuan itu sangat mulia.

Namun, muncul pertanyaan penting.

Apakah dalam melawan sikap yang meremehkan akal, kedudukan akal kemudian ditempatkan terlalu tinggi?

Dalam beberapa pandangannya, akal tidak lagi diposisikan sekadar sebagai sarana memahami wahyu, tetapi seolah-olah menjadi pasangan yang sejajar dengannya. Bahkan muncul kecenderungan bahwa apabila terjadi pertentangan antara pemahaman akal dan makna lahiriah nash, maka nash perlu ditakwil agar sesuai dengan akal.

Di sinilah letak persoalannya.

Benarkah akal manusia memiliki kemampuan yang mutlak?

Bukankah akal selalu dipengaruhi oleh ruang, waktu, pengalaman, hawa nafsu, serta keterbatasan manusia sendiri? Tidak ada "akal universal" yang benar-benar bebas dari seluruh keterbatasan tersebut. Yang ada hanyalah akal saya, akal Anda, dan akal setiap manusia dengan segala kelebihan serta kekurangannya.

Karena itu, apabila setiap nash harus disesuaikan dengan berbagai pemahaman akal yang berbeda-beda, bukankah hasil akhirnya adalah kekacauan penafsiran?

Muhammad Abduh pernah menyatakan dalam Risalah at-Tauhid bahwa wahyu merupakan rahmat Allah dan akal juga merupakan rahmat Allah; karena itu keduanya tidak mungkin saling bertentangan.

Pernyataan ini pada dasarnya benar.

Namun, apakah benar keduanya berada pada kedudukan yang sama?

Di sinilah diperlukan pembedaan yang jelas. Wahyu dan akal memang saling selaras, tetapi wahyu tetap menjadi rujukan utama, sedangkan akal berfungsi memahami, menghayati, serta mengambil pelajaran darinya. Akal tidak diciptakan untuk mengadili wahyu, melainkan untuk menerima petunjuk wahyu sesuai batas kemampuannya.

Ketika hubungan ini dibalik, berbagai persoalan mulai muncul. Kecenderungan tersebut dapat ditemukan dalam beberapa karya tafsir yang dipengaruhi pendekatan rasional, seperti sebagian penafsiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, maupun Al-Maraghi, yang dalam sejumlah pembahasannya menekankan perlunya mentakwil nash agar sesuai dengan penalaran akal.

Di sinilah tampak bagaimana keinginan meluruskan satu penyimpangan dapat melahirkan penyimpangan lain.

Lalu, bagaimana seharusnya hubungan akal dan wahyu ditempatkan?

Akal memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Ia merupakan sarana memahami ayat-ayat Allah, menggali hikmah, dan berijtihad dalam wilayah yang memang terbuka bagi ijtihad. Akan tetapi, ketika wahyu telah memberikan ketetapan yang jelas, maka wahyulah yang menjadi keputusan terakhir.

Menerima otoritas wahyu sama sekali bukan berarti mematikan akal. Justru akal bekerja secara maksimal untuk memahami wahyu, lalu bersikap tunduk pada perkara-perkara yang memang berada di luar jangkauannya.

Dengan menempatkan masing-masing pada kedudukannya, keseimbangan tetap terjaga. Akal tidak diremehkan, tetapi juga tidak diangkat melebihi batasnya. Wahyu tetap menjadi cahaya penuntun, sedangkan akal menjadi alat yang menerangi jalan manusia dalam memahami cahaya tersebut.

Inilah metode yang hendak ditempuh dalam pembahasan ini: membangun konsep Islam dari fondasinya yang utuh, bukan dari bayang-bayang penyimpangan yang silih berganti.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (12) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (56) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (107) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (282) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (695) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (312) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)