Alangkah baiknya jika kita mau berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Bukan sekadar memikirkan apa yang sedang terjadi di hadapan kita, tetapi juga mencoba memahami bagaimana orang lain memikirkan apa yang ingin mereka capai.
Zionisme kita, misalnya, telah menetapkan tujuan mereka sejak awal dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka menggariskan sarana yang harus ditempuh, memprogram tahapan-tahapan yang mesti dicapai, mempelajari berbagai kendala yang mungkin dihadapi dan cara mengatasinya, serta meneliti faktor-faktor yang dapat mendukung usaha mereka dan bagaimana memanfaatkannya sebaik-baiknya.
Mereka tahu bahwa mereka menginginkan sesuatu yang penting. Karena itu, mereka mau memikirkannya secara serius, sabar, dan terarah. Mereka tidak hanya memikirkan tujuan, tetapi juga jalan yang harus ditempuh untuk mencapainya.
Di sinilah kita patut bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memikirkan persoalan kita dengan kesungguhan yang sama?
Mereka mengetahui bahwa orang-orang Yahudi telah lama tercerai-berai di berbagai negara tanpa suatu pengikat yang cukup kuat untuk menyatukan mereka, baik bahasa, ras, maupun nasionalisme. Mereka tersebar di tengah berbagai bangsa yang menggunakan bahasa berbeda, memiliki ras berbeda, dan hidup dalam kebangsaan yang berbeda-beda pula.
Di tengah keadaan seperti itu, mereka melihat bahwa Yudaisme merupakan salah satu unsur yang dapat menjadi pengikat. Karena itu, semangat keagamaan di dalam jiwa mereka perlu dibangkitkan. Semangat tersebut diharapkan menjadi landasan yang mampu menghimpun mereka kembali sekaligus menjadi motif yang mendorong mereka untuk merealisasikan tujuan yang mereka pandang sejalan dengan tujuan agama mereka.
Itulah makna ucapan Herzl:
«“Kembali kita ke Zion ini haruslah didahului oleh kembali kita kepada Yudaisme.”»
Apa yang menarik untuk direnungkan dari semua itu bukan semata-mata hasil akhirnya, melainkan kesungguhan mereka dalam membaca keadaan, menetapkan tujuan, dan menyusun langkah untuk mencapainya.
Musuh yang licik, demikian pandangan penulis, tentu menyadari bahwa ia menghadapi suatu umat yang menegakkan dirinya di atas landasan agama. Jika umat tersebut berhasil menggerakkan dirinya berdasarkan agama dan berada di bawah panji keyakinannya, maka akan lahir kekuatan yang besar.
Karena itu, mereka berusaha mengerahkan para cendekiawan, murid-murid mereka, dan berbagai kekuatan yang dimiliki untuk meruntuhkan asas yang menjadi pijakan lawannya, yakni kaum Muslimin dan usaha mereka untuk kembali kepada agamanya.
Dari sinilah kemudian orang-orang Zionis, menurut uraian ini, melancarkan usaha dalam dua medan. Pertama, medan negatif, yaitu memerangi esensi diri kita dan melemahkan umat kita. Kedua, medan positif, yaitu membangun diri mereka sendiri, baik secara moral maupun spiritual, sekalipun jumlah mereka kecil dan kondisi geografis serta strategis mereka tidak selalu menguntungkan.
Lantas, bagaimana dengan kita?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita melihat kembali perjalanan sejarah kita sendiri.
KITA YANG TERLALU LAMBAT BERPIKIR
Ternyata, selama ini kita begitu lengah dan lalai sehingga timbullah petaka yang menyakitkan pada tahun 1948. Sesudah kekalahan pertama itu, persoalan Palestina berubah menjadi komoditas yang sangat laris diperbincangkan di pasar-pasar negeri Arab dan di ruang pikiran para pemimpin serta tokoh politik yang hendak memanfaatkannya untuk kepentingan masing-masing.
Kemudian lahirlah petaka kedua pada tahun 1967.
Berbagai aliran politik di dunia memanfaatkan persoalan Palestina sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruhnya. Sementara itu, orang-orang yang tulus berjuang memang terus berusaha melakukan penyelamatan. Namun, sebagian besar usaha itu ditempuh melalui lawatan, pertemuan, dan kegiatan diplomatis.
Tentu saja semua itu memiliki tempatnya sendiri. Akan tetapi, persoalannya adalah: apakah kita telah mengerahkan seluruh kekuatan intelektual kita untuk memahami persoalan tersebut secara mendalam?
Inilah yang perlu kita pikirkan.
Yang kita inginkan sekarang adalah mendorong kaum intelektual untuk memainkan peranan mereka dalam persoalan yang kita hadapi. Bukan sekadar hilir-mudik ke berbagai negeri, bukan sekadar hadir dalam pertemuan para diplomat, bukan pula terjebak dalam demagogi politik atau perdebatan internal yang pada akhirnya hanya menguras tenaga.
Kita membutuhkan pemikiran yang mampu melihat persoalan secara lebih dalam, lebih jernih, dan lebih jauh.
Karena itu, pertanyaan berikutnya adalah: pemikiran seperti apa yang harus kita kembangkan?
PEMIKIRAN YANG MESTI KITA KEMBANGKAN
Pemikiran yang harus kita kembangkan adalah pemikiran yang bebas, murni, berani, dan praktis.
Keempat sifat tersebut tampaknya berbeda, tetapi pada hakikatnya saling berkaitan. Pemikiran yang bebas membutuhkan kemurnian. Pemikiran yang murni membutuhkan keberanian. Dan keberanian itu harus berujung pada sikap praktis yang berpijak pada kenyataan.
Pemikiran yang bebas
Yang saya maksudkan dengan pemikiran bebas ialah pemikiran yang tidak mau berkompromi terhadap berbagai tekanan, tidak rela terhadap usaha “dagang sapi”, dan tidak bersedia menukarnya dengan kekayaan apa pun.
Kebebasan berpikir bukan berarti bebas dari nilai. Sebaliknya, ia berarti mampu berpikir tanpa diperbudak oleh tekanan, kepentingan, atau kekaguman kepada sesuatu yang datang dari luar.
Salah satu tanda pemikiran yang bebas adalah bahwa ia merupakan pemikiran yang murni.
Yang saya maksudkan dengan pemikiran murni adalah pemikiran yang bersumber dari pendidikan dan aspirasi umat kita, bukan pemikiran yang dibentuk oleh sistem yang diselundupkan ke dalam diri mereka atau yang sama sekali asing dengan aspirasi mereka.
Pemikiran yang datang dari negeri-negeri asing tidak dengan sendirinya memperkaya umat kita. Setiap pemikiran yang asing bagi jiwa, akidah, dan warisan kaum Muslimin, menurut gambaran penulis, ibarat darah yang berbeda golongan yang ditransfusikan ke dalam tubuh kita. Percampuran darah yang berbeda itu tidak otomatis membuat tubuh yang sakit menjadi sehat; bahkan, apabila tidak sesuai, justru dapat membahayakannya.
Namun, apakah ini berarti kita harus menutup jendela negeri kita dari dunia luar?
Tidak.
Kita tetap harus membuka jendela itu. Kita perlu mengetahui apa yang berkembang di dunia, mempelajari pemikiran-pemikiran yang muncul, dan memahami pengalaman bangsa-bangsa lain. Tetapi kita harus melakukannya dengan kesadaran tentang siapa diri kita.
Pemikiran yang kita kembangkan hendaknya sesuai dengan watak, warisan, dan kepribadian kita, tanpa mempersempit pandangan hanya pada satu kutub pemikiran dan tanpa kehilangan akar asli kita.
Kita harus bersikap bebas dan merdeka terhadap berbagai pemikiran yang ada, bukan menjadi hamba bagi pemikiran-pemikiran tersebut.
Kita harus bersikap seperti orang kaya, bukan seperti peminta-minta.
Kita adalah umat yang memiliki tujuan, risalah, dan sejarah tersendiri. Karena itu, kita tidak boleh menyerahkan begitu saja kepribadian kita kepada siapa pun untuk dikuliti, lalu digantikan dengan pemikiran dan akidah yang berasal dari luar.
Kita tidak mungkin benar-benar membebaskan diri jika jiwa dan alam pikiran kita sendiri masih terbelenggu.
Di sinilah persoalan menjadi semakin serius. Ketika kita menghadapi pertarungan dengan orang-orang Yahudi, kita justru menemukan sebagian orang yang mengekor pada pemikiran tokoh-tokoh Yahudi dalam bidang psikologi, sosiologi, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya. Setiap kali mengemukakan sesuatu, rujukan mereka adalah nama-nama asing yang telah demikian terkenal.¹
1) Murid-murid Freud, Marx, dan Durkheim tidaklah sedikit jumlahnya di negeri kita. Menurut penulis, tokoh-tokoh tersebut memainkan peranan penting dalam meruntuhkan nilai-nilai luhur umum Islam dalam berbagai aspek: Freud dalam bidang psikologi, Marx dalam bidang ekonomi, dan Durkheim dalam bidang sosiologi.
Di sini kita perlu membedakan antara mempelajari suatu pemikiran dan menjadikannya sebagai sumber orientasi utama. Yang pertama menuntut keterbukaan; yang kedua menuntut kesadaran kritis.
Karena itu, menjadi bebas bukan berarti menolak semua yang datang dari luar. Bebas berarti mampu mengambil, menilai, dan menggunakan tanpa kehilangan jati diri.
Kesatuan sumber inspirasi
Pada fase sejarah yang kita lalui, menurut penulis, menjadi suatu keharusan untuk menyatukan sumber inspirasi pemikiran kita. Kesatuan pola pikir dipandang sebagai salah satu syarat bagi keberhasilan kita di berbagai bidang dan perjuangan.
Sebaliknya, beraneka-ragamnya sumber inspirasi dapat menyebabkan umat terpecah apabila tidak memiliki landasan bersama. Masing-masing aliran kemudian berjalan dengan tujuan dan orientasinya sendiri-sendiri.
Allah berfirman:
«“Dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan yang tercerai-berai dan menyimpang itu, sebab dengan begitu kalian akan menyimpang dari jalan-Nya.”»
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa persoalan kesatuan bukan hanya persoalan organisasi atau struktur. Ia juga menyangkut arah berpikir.
Sebuah umat mungkin memiliki jumlah yang besar, sumber daya yang melimpah, dan orang-orang terdidik yang banyak, tetapi jika mereka tidak memiliki orientasi yang sama, kekuatan tersebut dapat berjalan ke berbagai arah.
Pemikiran yang berani
Selanjutnya, yang saya maksudkan dengan pemikiran yang berani adalah pemikiran yang tidak gentar menghadapi “dewa-dewa” pemikiran yang disanjung oleh banyak orang.
Ia tidak takut memeriksa kembali berbagai berhala pemikiran, mitos, dan sanjung-puji yang mengitarinya.
Pemikiran yang berani tidak takut menghadapi kritik. Bahkan, ia bersedia melakukan otokritik dan tidak malu mengakui kesalahan apabila memang terbukti demikian.
Sikap kita adalah bahwa yang tidak pernah salah hanyalah Allah. Karena itu, kembali kepada kebenaran jauh lebih baik daripada terus-menerus mempertahankan kesalahan.
Keberanian berpikir, dengan demikian, bukan keberanian untuk selalu merasa benar. Justru sebaliknya. Keberanian berpikir adalah keberanian untuk mengatakan, “Saya mungkin salah, dan karena itu saya harus bersedia mencari kebenaran.”
Pemikiran yang berani juga tidak mudah terpedaya, bimbang, atau tersugesti. Tugasnya bukan untuk sekadar terpengaruh atau terkagum-kagum, tetapi untuk menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu.
Ia tidak terombang-ambing oleh bunyi tambur, teriakan orang-orang yang kagum, atau cacian orang-orang yang menentangnya. Perhatiannya tetap tertuju pada inti persoalan.
Dalam batas-batas kemampuan manusia, ia berusaha menyelami apa yang ada di balik riak-riak kecil di permukaan. Ia berusaha menangkap arus besar yang menyebabkan riak-riak itu muncul dan menyingkap tabir yang menyelimutinya.
Dengan kata lain, ia tidak berhenti pada gejala. Ia berusaha mencari sebab.
Pemikiran yang praktis
Selanjutnya, yang saya maksudkan dengan pemikiran praktis adalah pemikiran yang memahami watak umat, nilai-nilai yang mereka anut, dan kepribadian asli mereka.
Pemikiran semacam ini tidak hidup di atas awan. Ia tidak berhenti pada gagasan yang indah, tetapi berusaha menyelami kenyataan.
Ia bergerak dari gejolak yang tampak di permukaan menuju jiwa umat yang berakar pada akidah, sejarah, dan warisan mereka. Setelah itu, ia menetapkan langkah berdasarkan kenyataan dan data empiris yang ada.
Pemikiran yang menutup mata terhadap kenyataan di tengah-tengah umat dan mengambang di udara adalah pemikiran yang berbahaya.
Di sinilah kita menemukan hubungan antara pemikiran dan realitas. Pemikiran yang benar tidak hanya bertanya, “Apa yang seharusnya terjadi?” tetapi juga, “Siapa umat yang sedang kita ajak bergerak, bagaimana keadaan mereka, apa yang mereka yakini, dan bagaimana potensi itu dapat diaktualisasikan?”
IMAN SEBAGAI KEKUATAN YANG ADA
Dengan demikian, posisi agama bagi umat seperti kita merupakan tiang utama bagi tegaknya kepribadian umat, sumber inspirasi bagi pemikiran mereka, dan pemberi arah bagi kesadaran mereka.
Pemikiran yang murni bukan pemikiran yang melarikan diri dari kenyataan. Sebaliknya, ia menangani kenyataan yang ada, lalu menggunakannya untuk menghadapi persoalan, membentuk kondisi, dan menciptakan situasi yang diperlukan.
Dalam mengemukakan uraian ini, saya tidak berdiri semata-mata dalam posisi orang yang membangun argumentasi berdasarkan keyakinan yang diimani umat Islam. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh potensi umat dapat dikerahkan untuk menghadapi persoalan besar yang mereka hadapi.
Di antara potensi itu terdapat potensi spiritual yang tidak boleh diabaikan.
Keimanan merupakan salah satu sumber kekuatan spiritual tersebut. Lantas, bagaimana mungkin seorang intelektual mengabaikan potensi yang demikian besar dalam diri umat dan menutup mata terhadap keimanan mereka kepada agama dan Tuhan mereka hanya karena ingin disebut sebagai intelektual modern?
Bukankah tugas seorang intelektual justru membaca kenyataan yang ada, termasuk kenyataan spiritual yang hidup dalam diri masyarakat?
Keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari kemudian merupakan kenyataan yang hidup di tengah-tengah umat Islam. Keyakinan tersebut memengaruhi pemikiran, motif, dan perilaku mereka. Ia juga berkaitan dengan potensi iradah dan pendidikan yang mereka terima.
Karena itu, seorang intelektual perlu turun dan berpijak pada kenyataan tersebut. Ia harus berbicara kepada umat sesuai dengan tingkat pemikiran mereka, mengarahkan tujuan mereka, dan mengaktualisasikan potensi terpendam yang mereka miliki sesuai dengan kemampuannya.
Di sinilah agama tidak cukup dipahami hanya sebagai sesuatu yang berada di dalam ruang ibadah individual. Dalam kehidupan umat, agama juga menjadi bagian dari struktur kesadaran, sumber orientasi, dan kekuatan yang membentuk perilaku.
PENGAMATAN GUSTAV LE BON
Gustav Le Bon mengatakan dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Hadharat al-'Arab:
«“Pengaruh agama yang dibawa oleh Muhammad dalam jiwa, jauh lebih besar tinimbang pengaruh yang bisa ditanamkan oleh agama-agama lain mana pun, dan sekian banyak bangsa yang berbeda yang menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuknya, tetap melaksanakan hukum-hukumnya seperti yang pernah ada pada tiga belas abad yang lalu.»
«Memang benar bahwa di kalangan kaum Muslimin bisa ditemukan adanya sejumlah kecil orang-orang zindik, akan tetapi Anda tidak akan melihat adanya seorang Muslim yang dalam kondisi di mana ajaran-ajaran Islam tidak ditetapkan berani melanggar larangan-larangan Islam, semisal meninggalkan salat di masjid dan puasa Ramadan yang dilaksanakan hukumnya oleh seluruh kaum Muslimin, sekalipun dalam hukum itu terlihat adanya hal-hal yang cukup berat yang tidak ditemui dalam perintah puasa empat puluh hari yang dilaksanakan oleh kaum Nasrani.»
«Hal seperti itu saya temukan di banyak negara di Asia dan Afrika yang pernah saya kunjungi, di antaranya ketika saya berkesempatan melayari Sungai Nil. Dalam perahu yang saya tumpangi itu terdapat sekelompok orang yang diborgol karena tuduhan telah melakukan berbagai kejahatan. Saya betul-betul kagum melihat mereka. Orang-orang itu adalah manusia-manusia yang menginjak-injak berbagai larangan sosial dan meremehkan sanksi yang paling berat sekalipun, tetapi ternyata mereka tidak berani sama sekali melanggar ajaran-ajaran Nabi mereka. Ketika waktu salat tiba, saya saksikan borgol-borgol itu dibuka agar mereka bisa sujud kepada Tuhan mereka Yang Maha Perkasa.»
«Bagi orang-orang yang ingin memahami hakikat bangsa-bangsa Timur yang tidak diketahui persoalannya oleh orang-orang Eropa kecuali sebagian kecil saja, hendaknya mereka menggambarkan bagaimana besarnya kekuasaan agama atas para pemeluknya dibandingkan dengan pengaruh yang amat dangkal yang ditanamkan oleh agama kita. Agama begitu berpengaruh dalam diri mereka. Kalaulah tidak karena agama itu, niscaya penduduk Mesir tidak akan terjun dalam kancah revolusi modern yang mereka lumuri dengan darah mereka itu.»
«Setiap orang yang menyuruh orang Arab dengan mengatasnamakan Allah, tak bisa tidak, pasti akan ditaati sepanjang mereka itu tahu bahwa orang tersebut betul-betul berbicara atas nama Allah. Adalah wajib bagi seorang pembangkang atau ateis untuk menghormati keimanan mereka yang amat mendalam tersebut, yang mampu menggerakkan bangsa Arab untuk menaklukkan dunia pada masa lalu. Dan sekarang ini, mereka memang harus sabar menghadapi nasib yang sedang mereka hadapi.”»
Apa yang dikemukakan di atas merupakan pandangan seorang pengamat asing mengenai watak umat Islam dan besarnya pengaruh agama dalam kehidupan mereka.
Terlepas dari bagaimana kita menilai seluruh kesimpulan Le Bon, ada satu hal yang patut direnungkan: kekuatan sebuah umat tidak hanya terletak pada apa yang tampak di permukaan, tetapi juga pada keyakinan yang hidup di dalam jiwa mereka.
Jika seorang intelektual ingin memahami umat, ia tidak cukup hanya mempelajari struktur politik, ekonomi, atau sosial mereka. Ia juga harus memahami apa yang mereka yakini, apa yang mereka cintai, apa yang mereka harapkan, dan kepada siapa mereka menggantungkan makna kehidupannya.
Karena itu, bagi siapa saja yang ingin membangkitkan potensi kepahlawanan umat dan mengaktualisasikan kekuatan yang mereka miliki, menurut uraian ini, ia harus berbicara kepada mereka dengan nama Allah, memimpin mereka dengan kendali iman, dan bergerak di bawah panji tauhid.
Sebab, ketika sebuah gagasan bertemu dengan keyakinan yang hidup di dalam jiwa, gagasan itu tidak lagi berhenti sebagai wacana. Ia dapat berubah menjadi kesadaran, kesadaran dapat melahirkan kehendak, dan kehendak dapat melahirkan tindakan.
Di situlah persoalan kita sebenarnya bermula.
Bukan semata-mata pada apa yang kita miliki atau tidak kita miliki, tetapi pada apa yang kita pikirkan, bagaimana kita berpikir, dari mana kita mengambil inspirasi, dan apakah kita mampu mengubah keyakinan yang hidup di dalam diri menjadi kesadaran dan amal yang nyata.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif