basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Pengelolaan Tanah  Islam telah mengakui tanah sebagai salah satu faktor produksi...


Pengelolaan Tanah 

Islam telah mengakui tanah sebagai salah satu faktor produksi, meskipun tidak sepenuhnya dalam pengertian yang sama seperti yang digunakan dalam ilmu ekonomi modern. Dalam tulisan-tulisan klasik, tanah yang dianggap sebagai faktor produksi penting mencakup seluruh sumber daya alam yang digunakan dalam proses produksi, seperti permukaan bumi, kesuburan tanah, serta sumber daya udara, air, mineral, dan seterusnya.

Memang benar, tidak ada bukti bahwa Islam menolak definisi ilmu ekonomi modern mengenai tanah sebagai faktor produksi. Islam mengakui tanah sebagai faktor produksi, tetapi menekankan bahwa pemanfaatannya harus diarahkan pada penciptaan manfaat yang dapat memaksimalkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip dasar etika ekonomi. Hukum Al-Qur'an dan Sunnah Nabi mengenai hal ini sangat jelas. Dalam arti yang sesungguhnya, metode pemanfaatan tanah sebagai faktor produksi dalam Islam memiliki karakter yang khas.

Baik Al-Qur'an maupun Sunnah banyak memberikan tekanan pada pembudidayaan tanah secara baik. Kitab Suci Al-Qur'an menaruh perhatian pada perlunya mengubah tanah kosong menjadi kebun-kebun, mengatur pengairannya, dan menanaminya dengan tanaman yang baik. Dalam Al-Qur'an dikatakan:

«“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau hujan ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan tanam-tanaman yang daripadanya dapat makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri....”

(Q.S. As-Sajdah, 32:27).»

Kita mempunyai bukti bahwa Islam memberikan dorongan untuk membudidayakan tanah kosong. Hal itu bersumber dari Aisyah yang meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah berkata:

«“Siapa saja yang menanami tanah yang tiada pemiliknya akan lebih berhak atasnya.”

(Bukhari).»

Karena Islam mengakui pemilikan tanah dan penggarapannya, maka tanah diperkenankan diberikan kepada orang lain untuk digarap dengan menerima sebagian hasilnya atau uang. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, dianjurkan agar seseorang yang memiliki tanah dan mampu memberikannya kepada saudara-saudaranya yang miskin untuk digarap tanpa sewa.

Ibn Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. memberikan tanah-tanah Khaibar kepada orang Yahudi dengan syarat mereka mendapatkan setengah dari hasilnya (Bukhari).

Selanjutnya, Rafi' meriwayatkan:

«“Mereka biasanya mendapat tanah untuk ditanami pada zaman Nabi saw., dengan mengambil tanaman yang tumbuh pada jalan air atau apa saja yang oleh si pemilik telah disediakan untuk dirinya. Maka Nabi saw. melarang hal ini.”»

Saya, sebagai perawi, bertanya kepada Rafi':

«“Bagaimana jika hal itu didasarkan atas pembayaran dinar dan dirham?”»

Rafi' berkata bahwa Nabi saw. tidak melarangnya (Bukhari).

'Amr berkata, “Saya mengatakan kepada Tawus, ‘Engkau harus meninggalkan Mukhabarah, karena mereka mengatakan bahwa Nabi saw. melarang hal ini.’”

Tawus berkata, “Ibn 'Abbas memberitahu saya bahwa Nabi saw. tidak melarang hal ini, tetapi beliau hanya berkata:

«“Jika seorang di antara kalian memberikannya sebagai hadiah kepada saudaranya, adalah lebih baik baginya daripada menerima pembayaran untuk itu.”

(Bukhari, Muslim, dan Mishkat).»

Hal tersebut menunjukkan adanya nasihat bagi orang yang memiliki tanah luas tetapi tidak mampu menggarapnya sendiri. Hal itu tidak berarti bahwa tanah sama sekali tidak boleh disewakan kepada seorang penyewa.

Islam juga sangat mementingkan pengairan guna meningkatkan produksi pertanian. Karena itu, Islam berusaha meyakinkan para pengikutnya bahwa seseorang yang tanahnya berada dekat saluran air berhak mengairi ladangnya. Namun, setelah kebutuhannya terpenuhi, ia harus membiarkan air tersebut mengalir ke ladang-ladang lainnya.

Bahkan, menggali sumur dianggap sebagai tindakan terpuji. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

«“Kelebihan air janganlah ditahan sendiri, karena itu berarti menahan pertumbuhan tanaman.”

(Bukhari).»

Nabi saw. juga bersabda:

«“Barang siapa menggali sumur di Ruma, ia akan mendapat surga.”

(Bukhari).»

Maka Utsman pun menggalinya.

Menarik bahwa sejak empat belas abad yang lalu Islam telah memberikan perhatian pada perlunya pertumbuhan yang berimbang, yaitu keseimbangan antara perkembangan pertanian dan industri. Dalam Islam, tanah sebagai faktor produksi harus digunakan sedemikian rupa sehingga tujuan pertumbuhan yang berimbang pada akhirnya dapat tercapai.

Syariat menetapkan bahwa jika rakyat memusatkan diri pada suatu pekerjaan tertentu tetapi mengabaikan pekerjaan-pekerjaan lainnya sehingga merugikan masyarakat, negara dapat melakukan intervensi untuk mengubah keadaan tersebut. Demikian pula, apabila rakyat hanya memusatkan usaha pada pertanian dan bercocok tanam, tetapi mengabaikan bidang-bidang lain seperti industri atau penanaman modal, negara dapat mengadakan peraturan untuk mendorong penyebaran kekayaan secara lebih merata serta meningkatkan kegiatan perdagangan dan industri yang dalam jangka panjang akan menguntungkan masyarakat.

Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa ketika Nabi saw. melihat sebuah bajak dan beberapa peralatan pertanian lainnya, beliau bersabda:

«“Tidaklah ini masuk ke rumah suatu kaum selain menimbulkan kehinaan.”

(Bukhari).»

Judul bab dalam Bukhari adalah: “Peringatan terhadap akibat-akibat terlalu mengutamakan jumlah alat-alat pertanian atau melebihi batas yang ditentukan.”

Karena itu, hadis tersebut mengingatkan bahwa suatu bangsa yang mencurahkan seluruh perhatiannya hanya pada pertanian dengan mengabaikan bidang-bidang pembangunan lainnya tidak akan mencapai kedudukan yang jaya.

Pemanfaatan dan pemeliharaan tanah sebagai faktor produksi juga perlu dilihat dalam kerangka sumber daya alam yang dapat habis dalam suatu masyarakat ekonomi Islam.

Tanah sebagai Sumber Daya Alam

Seorang Muslim dapat memperoleh hak milik atas sumber-sumber daya alam setelah memenuhi kewajibannya terhadap masyarakat. Penggunaan dan pemeliharaan sumber daya alam tersebut dapat menimbulkan dua komponen penghasilan, yaitu:

1. Penghasilan dari sumber daya alam itu sendiri, yakni sewa ekonomis murni.
2. Penghasilan dari perbaikan dalam pemanfaatan sumber daya alam melalui kerja manusia dan modal.

Sekalipun sewa ekonomis murni itu harus dibagi secara adil kepada seluruh anggota masyarakat, seseorang tetap berhak mendapatkan imbalan yang pantas atas usaha manusianya, yaitu berupa upah dan laba.

Karena itu, sangat penting untuk memisahkan penghasilan ekonomi murni dari imbalan bagi faktor-faktor produksi lain yang memerlukan penggunaan sumber daya alam.

Tanah sebagai Sumber Daya yang Dapat Habis

Menurut pandangan Islam, sumber daya yang dapat habis merupakan milik generasi kini sekaligus generasi-generasi yang akan datang. Generasi kini tidak berhak menyalahgunakan sumber daya tersebut sehingga menimbulkan bahaya bagi generasi yang akan datang.

Berdasarkan analisis di atas, dapat disusun beberapa hipotesis atau pedoman kebijaksanaan berikut:

(a) Pembangunan pertanian di negara-negara Muslim dapat ditingkatkan melalui metode penanaman yang intensif maupun ekstensif, apabila dilengkapi dengan program pendidikan moral yang berdasarkan ajaran Islam.

(b) Penghasilan yang diperoleh dari penggunaan sumber daya yang dapat habis sebaiknya lebih banyak digunakan untuk pembangunan lembaga-lembaga sosial, seperti universitas dan rumah sakit, serta pembangunan infrastruktur fisik daripada untuk konsumsi saat ini.

(c) Sewa ekonomis murni dapat lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran konsumsi saat ini.

Setelah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, yaitu Samudera Pasai pada abad ke-13–16 M dan Ma...




Setelah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, yaitu Samudera Pasai pada abad ke-13–16 M dan Malaka pada awal abad ke-15–16 M, hubungan antara Palembang dengan kedua kerajaan Islam tersebut tidak dapat dimungkiri. Pada waktu itu, keduanya merupakan pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran Islam ke berbagai daerah di Nusantara. Pada awal abad ke-16, menurut Tome Pires dalam Suma Oriental (1512–1515), Pasai dan Malaka merupakan pusat perdagangan yang didatangi berbagai kapal dagang dari negeri-negeri Timur Tengah dan India, seperti Gujarat dan Cambay (Armando Cortesao, 1944: 154–156). Demikian pula, Samudera Pasai dapat dipandang sebagai salah satu pusat penyebaran Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara (Uka Tjandrasasmita, 1993).

Oleh karena itu, saya berkeyakinan bahwa pada masa ekspedisi-ekspedisi yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dan sempat melawat ke Palembang, di kota itu telah terdapat komunitas Muslim yang datang dari berbagai negeri. Beberapa pemukiman para pendatang asing di Kota Palembang, seperti Tionghoa, Arab, Persia, Turki, serta orang-orang dari berbagai daerah di Nusantara dan negeri-negeri sekitarnya, kemudian dikenal sesuai dengan asal komunitas masing-masing. Karenanya, terdapat Pecinan, Kampung Arab, Kampung Pakojan, Kampung Keling, Kampung Bugis, dan sebagainya (Uka Tjandrasasmita, 2000: 40–70).

Oleh karena itu pula, pemukiman-pemukiman yang hingga kini masih ada di Kota Palembang, sebagaimana pernah dibicarakan oleh Mujib (Mujib, 2004: 28–52), perlu diteliti lebih mendalam. Penelitian terhadap Kota Palembang dari masa ke masa akan memberikan gambaran sejarahnya secara lebih komprehensif, baik dari segi morfologi kota, struktur sosial, ekonomi, maupun kebudayaannya (Uka Tjandrasasmita, 2000).

Berdasarkan penjelasan tersebut, lawatan Laksamana Cheng Ho ke Palembang dalam beberapa ekspedisinya mempunyai arti penting dan kemungkinan memberikan pengaruh terhadap pemerintahan dan masyarakat setempat. Kehidupan Cheng Ho sejak kecil hingga dewasa, kemudian pengangkatannya oleh Kaisar Tiongkok untuk menduduki jabatan tinggi dalam angkatan laut, hingga keberhasilannya memimpin sejumlah besar armada dengan personel yang terdiri atas berbagai agama, pekerjaan, dan keahlian, menunjukkan bahwa Cheng Ho merupakan seorang tokoh pemimpin yang memiliki disiplin tinggi dan kemampuan manajemen yang luar biasa. Semua itu merupakan karakter seorang pemimpin yang sangat berwibawa dan, mungkin sekali, dilandasi oleh sikap atau perilaku keagamaannya.

Kong Yuan Zhi dalam bukunya, Sam Po Kong dan Indonesia, memberikan gambaran bahwa Cheng Ho adalah seorang Muslim yang taat kepada agamanya, yaitu Islam. Ia giat mendukung penyebaran agama Islam, baik di Tiongkok maupun di negeri-negeri asing. Kegiatan pentingnya di bidang agama Islam antara lain menziarahi makam para pendahulu Islam dan melaksanakan salat di masjid-masjid, antara lain di Masjid Bukit Jiu-Ri di Nan-An (Quan-Zhou). Selain itu, Cheng Ho juga banyak mendukung kegiatan keagamaan lainnya, termasuk agama Buddha dan Tao (Kong Yuan Zhi, 1993: 27–28).

Dengan adanya lawatan Laksamana Cheng Ho, baik pada ekspedisi pertama (1405–1407), ekspedisi keempat (1413–1415) yang merupakan ekspedisi pertama yang diikuti Ma Huan, ekspedisi kelima (1417–1419), maupun ekspedisi ketujuh (1431–1433), pemerintah dan masyarakat setempat tentu berkesempatan melihat atau mendengar tentang perilaku Laksamana Cheng Ho yang dikagumi dan dianggap berwibawa, sekaligus dikenal sebagai seorang Muslim yang taat.

Pada ekspedisi pertama saja, ketika Cheng Ho mengadakan lawatan ke Kota Palembang, ia menghadapi perompakan yang dilakukan oleh bajak laut pimpinan Chen Tsui. Dalam penumpasan tersebut, sekitar 5.000 orang terbunuh, tujuh belas kapal dibakar dan dirampas, sedangkan Chen Tsui ditangkap dan kemudian dikirimkan kepada Kaisar di Nanking untuk mendapatkan hukuman (Mills, 1970: 10–11; Groenveldt, 1960: 42–43).

Tindakan Laksamana Cheng Ho dalam menumpas bajak laut tersebut dengan sendirinya merupakan jasa pengamanan bagi kegiatan pelayaran dan perdagangan yang keluar-masuk kota pelabuhan Palembang. Karena itu, pemimpin dan masyarakat daerah tersebut sangat mungkin berterima kasih dan menghargai jasa Laksamana Cheng Ho.

Jika dalam lawatannya ke negeri dan daerah lain, antara lain ke pesisir utara Jawa Timur seperti bandar Tuban, Sedayu, Gresik, dan lainnya, Cheng Ho mengunjungi komunitas Tionghoa Muslim dan memberikan dorongan semangat kepada mereka (Mills, 1970: 86–98), maka tidak mustahil hal serupa juga dilakukannya terhadap masyarakat Palembang, baik komunitas Tionghoa maupun komunitas Islam pada umumnya.

Lawatan Cheng Ho tersebut dapat dipandang sebagai salah satu faktor yang turut mendorong perkembangan masyarakat Palembang, sehingga pada suatu waktu Islam di Palembang semakin kuat dan akhirnya berkembang menjadi Kesultanan Palembang.

Melalui pemberitaan Ma Huan dalam Ying-Yai Sheng-Lan tentang lawatan Cheng Ho, dapat diketahui berbagai keadaan Palembang (Po-Lin-Pang), antara lain besarnya kota, batas-batas wilayahnya, kedatangan kapal-kapal dari berbagai tempat, penduduk dan daerah asal orang-orang Tionghoa, perumahan dan tempat tinggal rakyat, bangsawan, dan para pejabat, kesuburan dan kemakmuran kehidupan, hasil-hasil bumi, serta adat kebiasaannya yang disebutkan bersaing dengan masyarakat Jawa.

Selain itu, Ma Huan menceritakan tentang bajak laut yang ditumpas, dengan pemimpinnya dikirim ke Nanking untuk mendapatkan hukuman dari Kaisar (Mills, 1970: 99).

Tome Pires (1512–1515) juga memberitakan tentang peralihan kekuasaan politik dari corak Hindu kepada Islam di bawah pengaruh Kerajaan Islam Demak pada masa pemerintahan Pate Rodim. Ia menyebutkan bahwa Palembang berpenduduk kurang lebih 10.000 orang. Ketika Pati Unus menyerang Malaka, Palembang turut memberikan bantuan sehingga banyak di antara mereka yang gugur.

Tome Pires juga menceritakan adanya perdagangan antara Palembang dan Malaka. Palembang mengirimkan berbagai hasil daerahnya ke Malaka, seperti rotan, emas, getah damar, kapas, dan lain-lain. Sebaliknya, dari Keling dan Gujarat didatangkan berbagai jenis pakaian (Armando Cortesao, 1944: 155–156).

Sumber-sumber babad, antara lain Babad Tanah Jawi, menceritakan bahwa Palembang pernah berada di bawah pengaruh kekuasaan Jawa, khususnya Majapahit. Salah satu kisahnya adalah tentang Brawijaya dari Majapahit yang mengirimkan istrinya, seorang perempuan Tionghoa Muslim yang sedang hamil, kepada gubernurnya di Palembang, Aria Damar alias Swan Liong.

Pada tahun 1453 M, perempuan Tionghoa yang diserahkan kepada Aria Damar tersebut melahirkan seorang putra yang dikenal dengan nama Raden Patah dan dijuluki Adipati Jin Bun (H.M. Ali Amin, 1986: 67–122).

Setelah dewasa, Raden Patah pergi ke Jawa untuk belajar agama Islam kepada Sunan Rahmat atau Sunan Ampel Denta. Selanjutnya, Raden Patah menyerang Majapahit. Namun, atas nasihat Sunan Ampel, bersama sejumlah pengikutnya ia pergi ke Gelagah Wangi, yang kelak menjadi ibu kota Kerajaan Islam Demak dan berkembang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa pada awal abad ke-16 M.

Meskipun demikian, Palembang lambat laun lepas dari pengaruh Kerajaan Demak, terutama setelah Trenggono wafat pada tahun 1546. Pusat Kerajaan Demak kemudian mengalami kekacauan akibat perebutan kekuasaan sehingga pusat pemerintahan akhirnya berpindah ke Pajang.

Dalam perkembangannya, setelah menjadi kesultanan sejak abad ke-16 hingga abad ke-18 dan ke-19 M, Palembang mengalami pasang surut. Para sultan akhirnya menghadapi penjajahan Hindia Belanda.

Namun demikian, kita perlu mengakui bahwa pada abad ke-18 M, sejumlah ulama di Palembang menghasilkan banyak naskah Islam yang memberikan pengetahuan keislaman dalam berbagai bidang. Di antara ulama Palembang pada masa kesultanan yang tidak dapat diragukan lagi ketenarannya adalah Abd al-Shamad al-Palimbani. Ia mempunyai pengaruh besar, terutama melalui karya-karyanya yang beredar luas di berbagai wilayah Nusantara (Azyumardi Azra, 1994: 243–250).

Syarat Kondisi Negara Muslim untuk Melahirkan Pejuang Pembebas Palestina  Pembin...


Syarat Kondisi Negara Muslim untuk Melahirkan Pejuang Pembebas Palestina 

Pembinaan yang kita inginkan dan kita perjuangkan tersebut membutuhkan dua syarat yang mesti dipenuhi. Tanpa kedua syarat itu, pembinaan tersebut tidak mungkin dapat terealisasikan.

Persyaratan pertama adalah adanya kondisi politik yang memungkinkan pembinaan tersebut memberikan hasil dan mencapai sasarannya.

Kondisi yang saya maksud adalah kondisi yang mendukung terciptanya kebebasan di tengah masyarakat, sehingga mereka dapat menentukan sendiri nasib mereka, memiliki kedaulatan untuk memilih dan memakzulkan penguasa, serta bebas mengatakan, “Tidak.”

Kondisi yang kita inginkan adalah kondisi di mana prajurit-prajurit kita memerangi musuh, bukan meneror rakyatnya sendiri; menggunakan kecakapannya untuk menyingkap rahasia musuh, bukan untuk memata-matai anak negerinya sendiri dengan tekanan dan kekejaman. Selain itu, titik perhatian mereka hendaknya adalah memelihara kedaulatan rakyat, bukan demi kepentingan seorang penguasa, partai, atau keluarga tertentu.

Itulah kondisi yang saya maksudkan dan itulah pula kondisi yang ingin kita ciptakan. Sama sekali bukan kondisi yang memasung aspirasi individu-individu dengan mengatasnamakan bangsa, serta membunuh semangat kebebasan dengan mengatasnamakan kebebasan itu sendiri.

Semua itu menuntut keberanian dalam menyerukan keharusan adanya perombakan terhadap sistem politik yang ada di seluruh penjuru negeri Arab. Kekuasaan tidak boleh hanya diserahkan kepada beberapa orang “teknokrat” tertentu yang demikian dimanjakan, seperti seorang ibu memanjakan anak tunggalnya. Akibatnya, alih-alih mampu merebut kembali negeri-negeri yang telah dirampas musuh, mereka justru menjerumuskan kita pada kekalahan demi kekalahan.

Kepada orang-orang seperti itu, kita katakan saja, “Diamlah di tempat kalian masing-masing, dan sekarang enyahlah kalian dari sini, wahai para penjahat!” Ya, mereka itu memang penjahat-penjahat yang berkedok pahlawan.

Tidak bisa tidak, harus ada perombakan politik di seluruh penjuru Arab. Perombakan itu harus menyentuh akar persoalan, bukan sekadar permukaan; menyentuh pusat kekuasaan, bukan sekadar kantor-kantor pemerintahan. Lebih dari itu, perombakan tersebut harus mampu meluruskan berbagai penyelewengan dan memperbaiki berbagai kekeliruan, lalu menegakkan pemerintahan secara adil, berdasarkan persaudaraan dan musyawarah yang merupakan prinsip-prinsip yang dikehendaki Allah untuk ditegakkan sebagai landasan bagi terbentuknya negara dalam Islam.

Selanjutnya, harus pula ada perombakan yang mendorong para prajurit untuk berperang dan berjihad menghadapi musuh. Dana besar yang diambil dari rakyat untuk melatih tentara dan mempersenjatai mereka dimaksudkan agar mereka terjun ke medan tempur, bukan untuk menjalankan tugas memata-matai rakyat.

Adalah jelas merupakan kezhaliman sekaligus kesia-siaan menerjunkan ratusan atau ribuan putra kita sebagai sukarelawan menghadapi Israel yang memiliki meriam, tank, pesawat terbang, dan berbagai senjata modern lainnya, sementara seratus ribu tentara kita yang terlatih baik dan telah menghabiskan dana jutaan dolar setiap tahunnya hanya berpangku tangan di markas-markas dan sama sekali tidak memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam pertempuran.

Itulah sistem yang kita inginkan dan kita yakini sebagai sesuatu yang harus diwujudkan, terutama dalam babakan sejarah kita sekarang ini. Karakter pertamanya yang harus selalu dikumandangkan dan diingat adalah bahwa tentara itu bukan untuk memata-matai rakyat, tetapi untuk mengalahkan musuh; bukan untuk melakukan penekanan terhadap bangsanya sendiri.

Karakter yang kedua adalah hendaknya sistem itu mampu merealisasikan kebebasan politik bagi bangsa; kebebasan yang didasarkan pada hak, bukan kebebasan yang menjadi pelampiasan nafsu. Kebebasan yang melindungi hak-hak, bukan menciptakan kemunafikan.

Kebebasan itu harus mendorong seorang individu biasa mampu berkata kepada seorang penguasa dengan kalimat-kalimat seperti yang pernah dikatakan seorang rakyat jelata kepada 'Umar ibn al-Khaththab yang ketika itu menjadi penguasa:

“Demi Allah, kalau kami melihat dalam diri Anda ada sesuatu yang bengkok, niscaya kami akan meluruskannya dengan pedang kami ini...”

Kendatipun ia berkata demikian, si awam tidak ditangkap, tidak dipenjara, tidak pula dijebloskan ke dalam sel penyiksaan dan dipaksa mengakui siapa sebenarnya yang menyuruhnya berkata demikian, siapa orang-orang yang menjadi kawannya, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, dan di mana mereka menyembunyikan pedang-pedang yang mereka rencanakan untuk meluruskan penyelewengan yang dilakukan oleh penguasa itu.

Memang benar. Karakter paling khusus yang membedakan sistem ini dengan sistem-sistem lainnya adalah kemampuannya melenyapkan dentasan bunyi cemeti yang mendera punggung rakyat, menyingkirkan pedang-pedang yang digunakan untuk meneror mereka, serta menciptakan suasana kebebasan dan keamanan yang memungkinkan setiap aspirasi tersalurkan dengan baik.

Dalam suasana seperti itu, otak dapat berpikir dengan tenang, sementara lidah dan pena dapat mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya. Seseorang dapat berkata kepada mereka yang zhalim, “Wahai orang zhalim!”; kepada mereka yang senang memukul orang, “Awas, tangan-tangan kalian!”; dan kepada mereka, “Takutlah kalian kepada Allah!”

Semua itu dapat dilakukan tanpa harus takut pada salakan anjing penjaga yang diperintahkan mengancam para tahanan dan orang-orang yang ditangkap, tanpa takut pada cemeti yang akan mendera punggungnya, atau ancaman dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan.

Ketika ada seseorang berkata kepada 'Umar ibn al-Khaththab, “Hendaknya tuan takut kepada Allah, wahai 'Umar...” salah seorang kawannya mencoba mencegahnya. Akan tetapi, 'Umar segera mengatakan:

“Tidak ada baiknya bagi kalian untuk tidak mengatakan apa yang ingin kalian katakan, dan tidak ada baiknya pula bagi saya untuk tidak mendengarkannya.”

Salah satu faktor yang menyebabkan ditimpakannya bencana kepada umat-umat sebelum kita dahulu adalah adanya para penguasa yang menyeleweng dan sewenang-wenang. Mereka memasung setiap kekuatan positif yang ada di tengah bangsanya sekadar untuk mempertahankan kekuasaan dan agar segala titah-perintahnya dilaksanakan tanpa ada yang menentang.

Orang-orang seperti itulah yang menyebabkan kehancuran suatu bangsa datang lebih cepat dan mempercepat kelenyapannya. Setiap umat mempunyai batas waktunya masing-masing, dan waktu itu akan datang bersama sebab-sebabnya.

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi saw. berkata:

“Apabila amanat telah diabaikan, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana pula pengabaian amanat itu, ya Rasulullah?”

Nabi menjawab:

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Faktor paling awal yang mendekatkan saat kehancuran bangsa Arab adalah elite-elite penguasa yang tidak menyembah apa pun selain kedudukan mereka. Mereka tidak pernah memelihara janji kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta tidak memandang seorang mukmin pun kecuali dengan pandangan merendahkan.

Penguasa-penguasa jahat yang menganggap bangsanya hanyalah benda yang dapat ditendang ke sana kemari sesuka hati adalah arsitek-arsitek paling mahir dalam melakukan penghancuran besar. Mereka sekaligus merupakan investasi paling besar bagi lahirnya bencana dalam kehidupan umat Islam.

Penguasa-penguasa seperti itu adalah boneka-boneka Zionis internasional yang paling setia dan orang-orang terpercaya untuk menjalankan program-program mereka, mengubah suatu impian menjadi kenyataan dan nubuat menjadi fakta.

Demi Allah, penguasa-penguasa yang meneriakkan ketulusan dan nasionalisme itu sesungguhnya adalah pembantu-pembantu Zionis dan agen-agen mereka yang paling andal dalam merealisasikan cita-cita mereka, baik mereka sadari ataupun tidak.

Kalaupun seandainya Zionis internasional menguasai negara-negara Arab, kemudian mereka mengupah berpuluh ribu pegawai dengan dana miliaran dolar untuk menghancurkan umat Islam di negara-negara tersebut serta melumat semua nilai dan karakteristik mereka, niscaya mereka tetap tidak akan mampu menandingi penghancuran yang dilakukan oleh para penguasa jahat tersebut terhadap bangsa mereka sendiri.

Para penguasa itu telah melucuti semua bentuk senjata ampuh yang dimiliki bangsanya sendiri. Mereka telah menginjak-injak kehormatan rakyat, melenyapkan kemanusiaan bangsanya, serta menegakkan pedang teror dan cemeti siksa, sehingga mulut mereka terbungkam, mata mereka terpejam, dan mereka terseok-seok dalam ketakutan.

Mereka memasung setiap pemikiran bebas, mematahkan semua pena kebebasan, membungkam suara-suara yang menuntut keterbukaan, dan tidak memberikan ruang gerak barang sedikit pun kecuali untuk memikul penderitaan dan menyembah-nyembah di bawah kaki penguasa zhalim yang sewenang-wenang.

Di bawah pemerintahan mereka, kehidupan menjadi sulit dan kematian teramat murah. Perjudian tumbuh subur dan masjid-masjid dimusuhi; akal dan pikiran dipasung, sedangkan nafsu dan syahwat dilepas bebas. Orang-orang munafik disanjung-puji, sedangkan orang-orang beriman dicaci maki.

Mereka itulah orang-orang yang menggantikan nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan.

Sungguh indah puisi Nizar Qabbani tatkala ia menggambarkan sikap penguasa-penguasa thaghut itu terhadap kebebasan bangsanya. Ia mengatakan:

“Wahai tuan raja,

Andaikan seseorang memberiku keamanan,
Andaikan aku mampu menentang raja,
kan kukatakan kepadanya:

Anjing-anjing tuan dengan taring-taring tajamnya
merobek-robek celanaku.
Mata mereka mengancam di belakangku,
moncong mereka mengais-ngais di belakangku,
seperti kepastian takdir,
mengejar istriku,
menuliskan nama sahabat-sahabatku.

Wahai paduka raja,

Semuanya itu karena aku
memanjat dinding-dinding istanamu yang bisu,
karena aku mencoba menyingkap tabir
sebab derita dan petakaku.

Sepatu menendangku,
tentara-tentaramu memaksaku
memakan sepatuku.

Duhai paduka raja,

Tuan telah kalah perang dua kali,
karena separuh bangsa kita
hidup tanpa lidah.

Apakah artinya suatu bangsa
yang hidup tanpa lidah?

Karena separuh bangsa kita
terkepung bagai semut-semut dan cacing-cacing
di lubang dinding.

Andaikan seseorang memberi aku keamanan
dari kejaran tentara raja,
pasti kan kukatakan kepadanya:

Tuan telah kalah perang dua kali,
karena tuan terputus dari persoalan insan.”

Jadi, kalau kita menginginkan bangsa kita mencapai kemenangan dan mengharap mereka mau berjihad, marilah kita singkirkan batu-batu yang merintangi jalan mereka, yakni teror yang dilakukan para penguasa terhadap bangsanya sendiri, seperti kuman-kuman yang menggerogoti tubuh.

Jihad hanya bisa dilakukan oleh para pejuang, dan pejuang-pejuang seperti itu tidak akan lahir kecuali dalam suasana yang penuh kebebasan. Adapun sistem yang hanya memata-matai rakyat jelas hanya akan melahirkan bangsa budak. Sedangkan budak-budak hanya cakap melakukan pekerjaan sebagai pelayan, bukan untuk berperang dan menyongsong maut.

Dalam sebuah sastra dikisahkan bahwa 'Antarah al-'Abasi, karena kulitnya yang hitam legam, tidak diperhatikan sama sekali oleh ayahnya dan hanya bekerja sebagai pelayan. Tugasnya semata-mata menggembala unta dan memerah susu.

Pada suatu ketika, sebuah kabilah menyerang kampung mereka dan mereka memperoleh kemenangan. Saat itu 'Antarah hanya acuh saja, seakan-akan semua itu bukan urusannya. Melihat hal itu, ayahnya berkata, “Hayo, berperanglah kau bersama orang-orang itu!”

'Antarah menjawab, “Budak seperti saya ini sama sekali tidak bisa berperang. Kepandaianku hanyalah memerah susu dan menggembala.”

Ayahnya menjawab, “Berperanglah, dan kau menjadi orang merdeka!”

Saat itulah tampak kepahlawanan 'Antarah, si budak hitam pemerah susu dan penggembala unta itu. Ia memperlihatkan kekuatannya sehingga berhasil mengusir para penjarah dari negerinya.

Hal itu dapat dilakukan 'Antarah karena ia memperoleh semangat yang muncul dari kemerdekaan dirinya, yang terkandung dalam ucapan:

“Berperanglah, dan kau menjadi orang merdeka!”

Profesi Rasulullah Berdagang Rasulullah saw. memasuki profesi berdag...










Profesi Rasulullah Berdagang
Rasulullah saw. memasuki profesi berdagang ketika menginjak usia remaja, setelah sebelumnya menggembalakan kambing. Diriwayatkan bahwa beliau pernah berniaga bersama As-Sa’ib Al-Makhzumi.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, dari bekas sahayanya, As-Sa’ib bin Abu As-Sa’ib, bahwa ia pernah berdagang bersama Rasulullah saw. sebelum Islam. Ketika Fathu Makkah, As-Sa’ib menemui beliau. Rasulullah pun berkata:

“Selamat datang kepada saudaraku dan patnerku, orang yang tidak banyak berselisih dan tidak menolak. Wahai As-Sa’ib, sungguh kamu telah mengerjakan pekerjaan pada masa Jahiliyyah yang tidak diterima dan sekarang kamu diterima.” 

Dalam riwayat lain, dari Mujahid, dari Qaid As-Sa’ib, dari As-Sa’ib, ia berkata:

“Aku menghadap kepada Rasulullah. Lalu mereka memujiku dan banyak mengingatku. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Aku lebih tahu tentangnya dibandingkan kalian.’ Maksudnya, lebih mengetahui tentang dirinya. Kukatakan, ‘Demi ayah dan ibuku, engkau benar. Engkau adalah patnerku, tidak berselisih dan tidak menolak.’” 

Al-Azhim Abadi berkata, “Al-Khithabi berkata, ‘(La Tudari wa Tumari) maksudnya, La Tukhalif (tidak berselisih) dan La Tumani’ (tidak menolak). Kata Ad-Dar’ mengandung pengertian Ad-Daf’u (menolak). Misalnya firman Allah, ‘Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan.’ (Al-Baqarah: 72). Rasulullah terkenal sebagai sosok yang baik budi pekertinya dan mudah berinteraksi.” 

Gambaran tentang kepribadian beliau yang dapat dipercaya juga terlihat dalam riwayat Abdullah bin Abu Al-Hasma. Ia berkata:

“Aku berbaiat kepada Rasulullah sebelum diutus dan baiat itu senantiasa terjaga. Aku pun berjanji untuk menghadap kepada beliau di tempatnya, akan tetapi aku lupa. Tiga hari kemudian aku teringat. Aku pun menemui beliau dan ternyata beliau masih berada di tempatnya. Lalu beliau berkata, ‘Wahai anak muda, kamu menyusahkanku. Aku di sini sejak tiga hari yang lalu menunggumu.’”

Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa amanah dan komitmen telah menjadi bagian dari kepribadian Rasulullah saw. bahkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

Pada usia dua puluh lima tahun, beliau kemudian melakukan perjalanan dagang ke Asy-Syam dengan menggunakan modal dari Khadijah. 

Pada fase inilah tampak kepakaran beliau dalam bidang ekonomi, khususnya dalam praktik mudharabah atau kerja sama bagi hasil. Model kerja sama ini mempertemukan profesionalitas pengelola usaha dengan permodalan yang dimiliki pemilik harta. Keduanya bekerja sama untuk mengembangkan usaha dan memperoleh keuntungan.

Diriwayatkan dari Hukaim bin Hizam bahwa ia membeli sebuah pakaian dari Tihamah di pasar Hubasyah dan kemudian membawanya ke Makkah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Khadijah mempercayakan Rasulullah saw., bersama hamba sahayanya, Maisarah, untuk melakukan perjalanan dagang ke pasar Hubasyah dan membelikan pakaian untuknya. 

Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama ekonomi dan peran vitalnya dalam menggerakkan kegiatan ekonomi. Modal dan keahlian dapat dipertemukan melalui hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.

Diriwayatkan oleh Nafisah binti Munyah—saudara Ya’la binti Munyah—ia berkata:

“Ketika Rasulullah berusia dua puluh lima tahun, di mana di Makkah beliau tidak dikenal kecuali dengan nama Al-Amin karena kebaikan-kebaikan yang menitis dalam diri beliau, Abu Thalib berkata kepada beliau, ‘Wahai keponakanku, aku adalah orang yang tidak memiliki banyak harta. Waktu semakin terasa berat bagiku dan beberapa tahun belakangan tidak menyenangkan. Kita tidak memiliki bahan dan komoditi untuk diperjualbelikan, dan ini adalah kafilah kaummu yang datang untuk bersiap-siap berangkat ke Asy-Syam. Khadijah binti Khuwailid mengirimkan sejumlah orang dari kaummu dalam sebuah kafilah dagangnya. Alangkah baiknya jika kamu menawarkan diri kepadanya.’

Khadijah mendengar hal itu dan ia pun mempercayakan salah satu kafilahnya kepada beliau hingga memberikan upah berkali-kali lipat dibandingkan yang diberikan kepada selain beliau.” 

Akan tetapi, Rasulullah saw. bukanlah seorang yang menawarkan dirinya untuk memperoleh pekerjaan tersebut. Beliau menunggu permintaan dari Khadijah. Kepercayaan Khadijah kepada beliau tidak terlepas dari reputasi dan kredibilitasnya dalam berniaga. Beliau dikenal sebagai Al-Amin dan memiliki pengalaman dalam mengelola perdagangan.

Ibnu Ishaq berkata:

“Khadijah binti Khuwailid merupakan seorang perempuan yang ahli dagang, terhormat dan kaya, banyak mempekerjakan kaum lelaki untuk mengembangkan harta bendanya, banyak merekrut mereka untuk bermudharabah dan memberikan upah kepada mereka. Kaum Quraisy terkenal sebagai saudagar.

Ketika Khadijah mendengarkan kejujuran dan kepakaran dagang Rasulullah, serta mendapat tempat di antara pemuda lainnya di samping budi pekerti beliau yang mulia, maka kafilah itu dipercayakan kepada beliau.

Khadijah menawarkan kepada beliau agar berkenan mengembangkan hartanya ke Asy-Syam sebagai saudagar dan memberikan imbalan yang lebih besar dibandingkan yang diberikannya kepada pekerjanya yang lain.

Beliau ditemani oleh seorang hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Rasulullah pun menerima tawaran tersebut dan keluar untuk memperdagangkan hartanya itu. Beliau ditemani oleh Maisarah hingga sampai ke Asy-Syam. Kemudian Rasulullah bernaung di bawah sebuah pohon dekat biara salah seorang pendeta. Sang pendeta mendekati Maisarah seraya bertanya, ‘Siapa lelaki yang bernaung di bawah pohon itu?’ Maisarah menjawab, ‘Itu adalah seorang lelaki dari Quraisy dari Makkah.’ Kemudian sang pendeta berkata, ‘Tiada yang bernaung di bawah pohon, kecuali seorang nabi.’

Kemudian Rasulullah menjual komoditi yang beliau bawa dan membeli komoditi yang ingin dibawa pulang ke Makkah. Setelah itu, beliau kembali ke Makkah bersama kafilahnya dengan ditemani Maisarah.

Maisarah ini—menurut mereka—apabila melewati panas yang terik dan menyengat, maka ia melihat kedua malaikat menaungi beliau dari sinar matahari yang membakar, ketika beliau berjalan di atas untanya.

Sesampai di Makkah di kediaman Khadijah dengan harta bendanya, maka Khadijah menjual komoditi yang beliau bawa hingga mendapatkan keuntungan melimpah atau sejenisnya.” 

Riwayat tersebut menggambarkan perjalanan dagang Rasulullah saw. bersama Maisarah ke Asy-Syam. Ketangkasan dan kepiawaian beliau dalam berniaga menunjukkan kompetensi serta pengalaman yang telah dimilikinya dalam profesi tersebut.

Kejujuran beliau juga tampak dalam sebuah peristiwa ketika Rasulullah datang ke pasar Bashari untuk menjual komoditi yang dibawanya. Terjadi perselisihan antara beliau dan seorang lelaki mengenai salah satu komoditas yang diperdagangkan. Lelaki itu kemudian berkata, “Bersumpahlah atas nama Al-Lata dan Al-Uzza.”

Rasulullah menjawab, “Aku tidak bersumpah atas keduanya sama sekali.”

Lelaki itu kemudian berkata, “Aku percaya dengan perkataanmu.” 

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan Rasulullah saw. tidak terpisah dari prinsip kejujuran dan keteguhan tauhid. Beliau tidak bersedia menggunakan nama sesembahan yang batil untuk menguatkan perkataannya, bahkan dalam transaksi perdagangan.

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah dalam Zad Al-Ma’ad berkata:

“Rasulullah mempekerjakan diri beliau sebelum kenabian dalam menggembalakan kambing dan mempekerjakan diri beliau kepada Khadijah dengan hartanya dalam perjalanannya ke Asy-Syam. Inilah kenyataannya, dan Rasulullah senantiasa bekerja dalam perdagangan hingga setelah fase ini, yang akan kami jelaskan lebih lanjut.”

Dengan demikian, sebelum kenabian, Rasulullah saw. telah menjalani beberapa tahap kehidupan ekonomi: menggembalakan kambing, bekerja dalam perdagangan, dan kemudian mengelola modal Khadijah melalui kerja sama perdagangan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau sebelum memasuki fase kenabian.

Perkawinan Rasulullah dengan Khadijah

Rasulullah saw. kemudian menikah dengan seorang perempuan Quraisy yang memiliki nasab mulia, kaya, dan berbudi pekerti luhur. Mas kawin yang diberikan kepada Khadijah selaras dengan kedudukannya.

Di antara bentuk perlindungan Allah kepada Rasulullah saw. adalah perjalanan hidup dan usaha yang digelutinya, yang kemudian mempertemukannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Khadijah dikenal sebagai perempuan yang terhormat dan memiliki kedudukan ekonomi yang kuat. Ia juga diyakini banyak membantu Rasulullah saw. dalam menghadapi fase-fase awal dakwah.

Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw. dalam sebuah riwayat dari Sayyidah Aisyah. Ia berkata:

“Rasulullah apabila menyebutkan tentang Khadijah maka beliau memujinya dengan sebaik-baiknya.”

Perawi melanjutkan ceritanya:

“Aku pun pernah cemburu karenanya. Lalu kukatakan, ‘Alangkah sering engkau menyebut Hamra Asy-Syida (Khadijah, Penj.), padahal Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik untukmu.’

Beliau bersabda, ‘Allah tidak pernah menggantinya dengan yang lebih baik untukku. Sungguh, ia beriman kepadaku pada saat orang-orang kufur kepadaku, mempercayaiku pada saat orang-orang mendustakanku, mempekerjakanku dengan hartanya ketika orang-orang mencegahnya, dan memberikan anak-anaknya kepadaku ketika istri-istriku yang lain tidak memberikannya.’”

Nabi Muhammad dan Pengaruh Bacaan Al-Qur’an terhadap Orang Kafir Per...

Nabi Muhammad dan Pengaruh Bacaan Al-Qur’an terhadap Orang Kafir

Perjalanan waktu juga mengambil bagian penting dalam mempersiapkan Nabi Muhammad saw. untuk mengenalkan ajaran Islam kepada orang-orang terdekatnya. Allah SWT membesarkan hati beliau dengan memerintahkannya untuk bangun pada malam hari, membaca, dan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an dalam keheningan malam.

> يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ ٱلَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ۝ نِّصْفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ۝ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا



“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” 29

Perintah untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil tersebut bukan sekadar persiapan pribadi bagi Nabi Muhammad saw. Bacaan Al-Qur’an kemudian menjadi salah satu sarana penting dalam menyampaikan risalah kepada masyarakat. Bahkan, pengaruhnya dapat dirasakan oleh orang-orang yang pada saat itu menjadi penentang keras dakwah beliau.

Hal ini dapat kita lihat dari kisah para pembesar Quraisy yang diam-diam mendengarkan bacaan Al-Qur’an Nabi Muhammad saw. Ibnu Ishaq menulis:

> “Muhammad bin Muslim bin Shihab az-Zuhri bercerita bahwa Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl Hisham, dan al-Akhnas bin Shariq bin Amr bin Wahb ath-Thaqafi (sekutu kaum Bani Zuhra) suatu malam jalan-jalan mencuri dengar bacaan Al-Qur’an Nabi Muhammad di rumahnya. Tiap tiga orang dalam kelompok berusaha memilih tempat yang aman dan tak seorang pun di antara mereka mengetahui keberadaan yang lain. Setelah fajar mereka bubar dan satu sama lain bertemu saat kembali ke rumah.

Sebagai anggota komplotan, masing-masing menceritakan pengalaman, ‘Jangan engkau ulangi lagi perbuatan ini, nanti kamu akan terkesima.’ Mereka pulang dan malam berikutnya kembali mendengar, dan bercerita pengalaman satu sama lain di waktu fajar. Pada malam ketiga mereka berkumpul pada pagi hari sambil berkata, ‘Kita tak akan meninggalkan tempat kecuali setelah berikrar sungguh-sungguh tak akan mengulangi lagi.’ Setelah berjanji mereka bubar.

Beberapa saat kemudian dengan membawa tongkat, al-Akhnas pergi ke rumah Abu Sufyan dan menanyakan apa yang telah mereka dengar dari Nabi Muhammad. Abu Sufyan menjawab, ‘Demi Allah, aku mendengar sesuatu yang saya tidak dapat memahami artinya dan entah apa yang mereka maksudkan.’

Al-Akhnas berkata, ‘Persoalannya sama seperti yang saya alami.’ Kemudian ia pergi mendatangi rumah Abu Jahl menanyakan hal yang sama. Ia menjawab, ‘Apa sebenarnya yang saya dengar? Kami dan suku kabilah Abd Manaf selalu berkompetisi dalam meraih ketinggian kedudukan di tengah masyarakat. Mereka memberi makan orang miskin dan kami juga melakukan hal yang sama. Mereka terlibat menyelesaikan persoalan orang lain, demikian juga kami. Mereka menunjukkan sikap murah hati terhadap orang lain, kami juga mengikutinya. Kami berpacu seperti dua pasukan yang melangkah sama cepatnya. Tiba-tiba mereka menyatakan, “Kami memiliki seorang nabi yang telah menerima wahyu dari langit.” Bila kita hendak memiliki hal seperti itu? Saya bersumpah, tak mungkin pernah percaya kepadanya dan tak mungkin pula aku memanggilnya sebagai orang jujur.’” 30



Kisah tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik. Di satu sisi, para pembesar Quraisy memiliki kebencian yang kuat terhadap Nabi Muhammad saw. dan risalah yang dibawanya. Namun, di sisi lain, mereka tidak mampu menghindarkan diri dari pengaruh bacaan Al-Qur’an. Mereka bahkan diam-diam datang untuk mendengarkannya.

Bukan hanya sekali. Mereka mengulangi perbuatan tersebut selama tiga malam, meskipun masing-masing telah berjanji untuk tidak mengulanginya. Bahkan, mereka merasa khawatir jika diketahui oleh yang lain bahwa mereka sebenarnya tertarik mendengarkan bacaan Al-Qur’an.

Dengan demikian, semakin keras penentangan mereka, semakin tampak pula daya tarik Al-Qur’an ketika dibacakan. Bacaan yang pada awalnya terdengar dalam keheningan malam kemudian terdengar pada siang hari dan menjangkau semakin banyak orang. Kondisi inilah yang semakin menambah kekhawatiran orang-orang Quraisy.

Mereka kemudian berusaha mencari cara untuk membendung pengaruh tersebut. Salah satu upaya mereka adalah menyusun narasi yang dapat menjauhkan masyarakat dari Nabi Muhammad saw. Sekelompok orang Quraisy mendatangi al-Walid bin al-Mughirah, seorang tokoh yang cukup bergengsi di tengah masyarakat. Mereka meminta agar disepakati satu pendapat mengenai Nabi Muhammad sehingga masyarakat Arab yang datang ke Mekah tidak mendapatkan keterangan yang berbeda-beda.

Al-Walid kemudian diminta memberikan pendapatnya tentang Nabi Muhammad. Setelah mendengar berbagai usulan—bahwa Muhammad adalah peramal, penyair, atau tukang sihir—ia menolaknya satu demi satu. Pada akhirnya, ia mengatakan:

> “Demi Tuhan, kata-katanya indah, akarnya seperti pohon kurma yang dahannya sangat berguna, dan semua apa yang Anda katakan akan dikenal sebagai cerita palsu. Yang mungkin mendekati kebenaran adalah seperti yang Anda sebut: ia seorang sahir pembawa risalah yang memisahkan seseorang dari ayah, saudara, ataupun istri dan keluarganya.” 32



Pernyataan al-Walid tersebut menunjukkan bahwa mereka sendiri menyadari keistimewaan perkataan Nabi Muhammad saw. Mereka tidak mampu begitu saja menyamakan Al-Qur’an dengan perkataan seorang penyair, peramal, atau tukang sihir. Karena itu, mereka berusaha mencari istilah yang dapat membangun jarak antara masyarakat dan Nabi Muhammad saw., sekalipun mereka mengakui keindahan dan kekuatan perkataannya.

Pengaruh bacaan Al-Qur’an juga terlihat dalam pengalaman Abu Bakar. Ia membangun sebuah masjid di samping rumahnya di Mekah. Di tempat tersebut ia melaksanakan shalat dan membaca Al-Qur’an. Orang-orang kafir kemudian mendatangi Ibnu ad-Daghinah, orang yang memberikan perlindungan kepada Abu Bakar. Mereka meminta agar Abu Bakar tidak lagi membaca Al-Qur’an dengan suara yang dapat didengar masyarakat, karena banyak perempuan dan anak-anak yang diam-diam mendengarkan bacaannya dan ternyata mudah terpengaruh.

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan bagian penting dari peran Nabi Muhammad saw. dalam menyampaikan wahyu. Al-Qur’an bukan hanya disimpan dalam hati, tetapi dibacakan kepada manusia sehingga mereka mendengar langsung kalam Allah SWT.

4. PERANAN NABI MUHAMMAD TERHADAP AL-QUR’AN

Al-Qur’an secara konsisten menggunakan kosa kata talā, yutlā, atlu, tatlū, yatlū, dan bentuk-bentuk lainnya. Kita dapat menemukan penggunaan kata-kata tersebut, antara lain, dalam QS al-Baqarah [2]: 129, 151, QS Ali ‘Imran [3]: 164, QS al-Hajj [22]: 45, dan QS al-Jumu‘ah [62]: 2, serta banyak ayat lainnya.

Kesemuanya memberikan isyarat tentang peranan Nabi Muhammad saw. dalam mengenalkan wahyu Allah kepada seluruh masyarakat. Rasulullah saw. membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia sehingga wahyu yang diterimanya dapat didengar, dipahami, dan kemudian diamalkan.

Namun, bacaan saja tidak cukup. Tanggung jawab Nabi Muhammad saw. terhadap kalamullah mencakup pula pengajaran, penyucian jiwa, dan penjelasan terhadap wahyu. Hal ini bahkan telah disebutkan dalam doa Nabi Ibrahim a.s.:

> “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka.” 34



Allah SWT kemudian menjelaskan bahwa doa tersebut diwujudkan dengan diutusnya Nabi Muhammad saw.:

> لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ وَآيَاتِهِ، وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ ....



“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah).” 35

Hal yang sama ditegaskan dalam firman Allah:

> كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ .....



“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah...” 36

Dengan demikian, peranan Nabi Muhammad saw. terhadap Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membacakan ayat-ayatnya. Beliau juga menyucikan jiwa manusia dan mengajarkan Kitab serta hikmah. Bacaan menjadi pintu masuk, sedangkan pengajaran dan penyucian menjadi bagian dari proses pembentukan manusia oleh wahyu.

Perhatian Nabi Muhammad saw. terhadap Al-Qur’an juga terlihat ketika beliau menerima wahyu. Beliau sangat bersemangat menghafalkan ayat-ayat yang turun sehingga terkadang tergesa-gesa menggerakkan lidah mengikuti wahyu yang sedang disampaikan. Allah SWT kemudian memberikan jaminan kepadanya:

> لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ۝ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ ۝ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ ۝ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ



“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”

Ayat tersebut menunjukkan perhatian Nabi Muhammad saw. yang sangat besar dalam menerima dan menghafalkan Al-Qur’an. Beliau tampak begitu bersemangat mengikuti setiap ayat yang turun sehingga lidahnya segera bergerak sebelum rangkaian wahyu selesai disampaikan.

Allah SWT kemudian menenangkan beliau agar tidak tergesa-gesa. Pengumpulan Al-Qur’an dalam dada Nabi, kemampuan membacanya, dan penjelasannya berada dalam jaminan Allah SWT. Dengan demikian, wahyu tidak hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., tetapi juga dipelihara dalam hafalannya dan kemudian disampaikan kepada manusia melalui bacaan, pengajaran, dan keteladanan beliau.

Ekspansi Penjajahan Tanpa Henti Pemukiman Zionis Israel di Tepi Barat ...

Ekspansi Penjajahan Tanpa Henti Pemukiman Zionis Israel di Tepi Barat

Dari kejauhan, pemukiman di Tepi Barat tampak seperti oase ketenangan suburban. Barisan rumah seragam dengan atap bata merah, halaman rumput yang dipangkas presisi, dan taman bermain anak-anak menciptakan fasad stabilitas yang menenangkan.

Namun, bagi seorang analis geopolitik, estetika ini bukanlah sekadar pilihan desain; ia adalah instrumen kontrol. Bertengger di puncak-puncak bukit strategis, pemukiman ini berfungsi sebagai "panoptikon" modern—sistem pengawasan visual yang mengawasi setiap gerak-gerik di desa-desa Palestina yang terfragmentasi di lembah bawahnya.

Keindahan pinggiran kota ini berdiri di atas arsitektur pemisahan yang secara sistematis memutus kontinuitas geografis dan sosial masyarakat asli.


Dari Titik ke Kota: Transformasi Urban yang Permanen

Mitos bahwa pemukiman hanyalah sekelompok karavan di atas bukit kini telah runtuh. Saat ini, lebih dari 750.000 pemukim mendiami wilayah pendudukan, tersebar di 148 pemukiman di Tepi Barat dan 15 di Yerusalem Timur. Kita tidak lagi berbicara tentang "titik-titik di peta", melainkan behemoth urban yang masif.

Nama-nama seperti Modi'in Illit (dengan 89.301 penduduk), Beitar Illit (70.251), dan Pisgat Ze'ev (48.419) telah menjelma menjadi kota-kota metropolitan yang lengkap dengan mal, universitas, dan jaringan jalan tol khusus yang menghubungkan mereka langsung ke jantung Israel.

Pada tahun 2025 saja, hampir 28.000 unit rumah baru diajukan. Pertumbuhan eksponensial ini menunjukkan bahwa strategi perluasan tidak lagi berfokus pada pendirian lokasi baru, melainkan pada penguatan sistem sprawling yang mengunci wilayah tersebut ke dalam struktur yang mustahil untuk dipisahkan.


Doktrin Smotrich: Evolusi dari Ideolog Ekstrem ke Gubernur Sipil

Memahami realitas hari ini mengharuskan kita menilik sosok Bezalel Smotrich. Sebelum menjabat sebagai Menteri Keuangan dengan kekuasaan luas, Smotrich adalah sosok yang pernah ditangkap oleh Shin Bet pada tahun 2005 dengan 700 liter bensin di mobilnya—sebuah insiden yang membuat mantan wakil kepala Shin Bet, Yitzhak Ilan, menyebutnya sebagai "teroris" Yahudi.

Pada tahun 2017, ia merilis "Decisive Plan" (Rencana Penentuan), sebuah manifesto yang saat itu dianggap terlalu radikal untuk dianggap serius oleh arus utama.

Namun, melalui pembentukan Settlements Administration (Administrasi Pemukiman) dan transfer otoritas dari kendali militer ke kendali sipil di bawah tangannya pada Juni 2024, rencana tersebut kini menjadi kebijakan negara. Warga Palestina dihadapkan pada tiga opsi brutal:

Pergi: Emigrasi dari tanah air mereka.

Menerima Dominasi: Hidup di bawah supremasi Israel tanpa hak politik.

Menghadapi Kehancuran: Menghadapi tindakan keras jika melakukan perlawanan.

Transformasi ini bukan sekadar perubahan birokrasi, melainkan langkah formal menuju aneksasi de facto permanen.


Proyek E1: Palu Godam bagi Solusi Dua Negara

Area E1 di timur Yerusalem adalah titik saraf paling sensitif dalam geografi Tepi Barat. Pembangunan di koridor sempit ini dirancang secara strategis untuk memutus hubungan antara Tepi Barat utara dan selatan, sekaligus mengisolasi Yerusalem Timur sepenuhnya dari wilayah Palestina lainnya.

Signifikansi strategis ini ditegaskan secara blak-blakan oleh Smotrich sendiri saat ia menyetujui pembangunan 3.000 rumah di area tersebut:

"Langkah ini akan mengubur ide tentang negara Palestina."

Meski menghadapi kecaman internasional dari Uni Eropa hingga PBB, percepatan di E1 terus berlanjut. Bagi para pengamat, penyelesaian proyek ini adalah "titik tanpa harapan" (point of no return) yang secara fisik mengakhiri prospek negara Palestina yang berdaulat.


Normalisasi "Pogrom" dan Kebangkitan Hilltop Youth

Kekerasan di Tepi Barat telah mengalami pergeseran paradigma dari insiden sporadis menjadi kekerasan sistemik yang didukung negara.

Terdapat dikotomi di antara para pemukim: mereka yang datang demi insentif ekonomi (rumah murah dan subsidi pajak), dan kelompok religius-nasionalis radikal seperti "hilltop youth" dan bahkan faksi perempuan seperti "hilltop girls" yang menggunakan strategi "soft settlement" melalui pendirian lahan pertanian.

Data OCHA mengungkap eskalasi yang mengerikan:

Tercatat 1.836 serangan pemukim pada tahun 2025, melonjak drastis dari 852 serangan pada 2022.

Secara kumulatif, terdapat 5.131 serangan yang tercatat sejak 7 Oktober 2023.

Penggunaan istilah "pogrom" untuk menggambarkan serangan-serangan terorganisir ini kini tidak hanya datang dari aktivis hak asasi manusia, tetapi juga digunakan oleh perwira militer Israel sendiri.

Fenomena ini mencerminkan situasi di mana kekerasan sipil dan penegakan hukum negara telah melebur menjadi satu instrumen ekspansi tanah.


Siasat Hukum: Melegalkan yang Ilegal

Secara teknis, hukum domestik Israel membedakan antara "pemukiman" resmi dan "pos terdepan" (outposts) yang awalnya didirikan secara liar tanpa izin pemerintah.

Namun, garis perbedaan ini seringkali hanyalah siasat administratif. Lebih dari 400 pos terdepan ilegal sering kali berfungsi sebagai ujung tombak untuk merebut lahan baru, yang kemudian "diserap" atau dilegalkan secara retrospektif oleh pemerintah Israel.

Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) dalam opini penasihat Juli 2024 dan Konvensi Jenewa Keempat dengan tegas menyatakan bahwa seluruh aktivitas pemukiman ini adalah pelanggaran hukum internasional, pemerintah Israel terus menciptakan mekanisme hukum baru untuk memformalkan pendudukan ini. 

Ini adalah proses "pencucian" ilegalitas yang mengubah aksi individu menjadi kebijakan permanen negara.


Apa yang kita saksikan di Tepi Barat saat ini adalah penciptaan lapisan "apartheid" baru yang begitu dalam sehingga ia terukir di atas tanah, beton, dan aspal. Pergeseran kendali ke tangan sipil di bawah ideologi Smotrich telah menghancurkan ilusi bahwa pendudukan ini bersifat sementara.

Di balik barisan rumah beratap merah yang rapi dan halaman hijau yang tenang, terdapat realitas yang retak. Kita harus bertanya pada diri sendiri: Sejauh mana estetika pinggiran kota yang tertata dapat menyembunyikan kehancuran cita-cita bernegara sebuah bangsa? Ketika suburbanisasi digunakan sebagai alat aneksasi, maka "normalitas" itu sendiri telah menjadi senjata yang paling berbahaya.

Jika geografi telah dicabik-cabik sedemikian rupa, pertanyaannya bukan lagi kapan perdamaian akan datang, melainkan apakah masih ada sisa-sisa tanah yang cukup untuk menopang perdamaian tersebut.

Sunah Rasul: Bekal Sepanjang Kehidupan Sunah Rasulullah saw. secara ...


Sunah Rasul: Bekal Sepanjang Kehidupan
Sunah Rasulullah saw. secara keseluruhan adalah bekal bagi kehidupan seorang muslim. Sunah menghidupkan hati orang-orang yang mengikutinya, membawa mereka menuju derajat iman dan ketakwaan yang lebih tinggi, membekali mereka dengan berbagai kebaikan, menjauhkan mereka dari berbagai keburukan, serta membangun kepribadian mereka dalam berbagai aspek: akidah, ibadah, akhlak, fisik, pemikiran, dan kehidupan sosial.

Sunah tidak hanya berbicara tentang satu atau dua sisi kehidupan. Ia mengikuti perjalanan seorang muslim dalam seluruh tahap kehidupannya: sejak sebelum kelahirannya hingga setelah ia meninggalkan dunia; ketika terjaga maupun tidur; ketika bergerak maupun diam; ketika mukim maupun bepergian; ketika berada di masjid, rumah, pasar, tempat kerja, jalan, dan di berbagai tempat lainnya.

Seolah-olah sunah menjadi pendamping yang senantiasa membekali seorang muslim dengan sesuatu yang bermanfaat dan menjaganya dari berbagai hal yang membahayakan serta melemahkannya. Seluruh kehidupan itu diarahkan agar berdiri di atas fondasi akidah Islam yang diridai Allah.

Namun, kehidupan yang dimaksud bukan sekadar kehidupan fisik sebagaimana makhluk hidup lainnya. Kehidupan yang paling utama adalah kehidupan hati: mengenal Allah, beriman kepada-Nya, dan berjalan dengan cahaya petunjuk-Nya. Allah berfirman,

«"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?"
(QS. Al-An'am: 122)»

Allah juga berfirman,

«"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu."
(QS. Al-Anfal: 24)»

Dengan mengikuti sunah dan menyambut seruan Rasulullah saw., hati akan memperoleh kehidupan. Inilah salah satu bentuk bekal yang luar biasa. Pada saat yang sama, sunah juga memberikan tuntunan yang menjaga kesehatan dan kesegaran fisik.

Rasulullah saw. Sangat Menginginkan Kebaikan bagi Kita

Rasulullah saw. sangat mencintai umatnya. Beliau menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka, perhatian terhadap penderitaan mereka, dan tidak menginginkan sesuatu yang menyusahkan mereka. Allah menggambarkan sifat tersebut dalam firman-Nya,

«"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
(QS. At-Taubah: 128)»

Jika kita menyadari hal itu, semestinya kita semakin terdorong untuk mengikuti sunahnya. Sunah adalah sumber petunjuk yang penuh kebaikan. Perkataan, perbuatan, perintah, dan larangan Rasulullah saw. merupakan petunjuk bagi manusia yang berada dalam bimbingan Allah, Zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang bermanfaat maupun membahayakan manusia.

Allah berfirman,

«"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?"
(QS. Al-Mulk: 14)»

Karena itu, mengikuti sunah bukan sekadar mengikuti kebiasaan seorang tokoh dalam sejarah. Ia adalah upaya menapaki jalan kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., manusia pilihan yang kehidupannya menjadi teladan bagi orang-orang yang mengharapkan keridaan Allah.

Figur yang Sempurna

Rasulullah saw. adalah figur teladan bagi kehidupan yang diridai Allah. Karena itu, Allah memerintahkan kita untuk meneladaninya. Allah berfirman,

«"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah."
(QS. Al-Ahzab: 21)»

Bahkan Allah mengaitkan kecintaan seorang hamba kepada-Nya dengan kesediaannya mengikuti Rasulullah saw. Allah berfirman,

«"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: 31)»

Ayat ini memperlihatkan betapa erat hubungan antara cinta kepada Allah, mengikuti Rasulullah saw., memperoleh cinta Allah, dan mendapatkan ampunan-Nya.

Rasulullah saw. telah mencapai puncak keimanan dan ketakwaan. Karena itu, meneladani beliau merupakan jalan untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita.

Ketika kita mengetahui bahwa Rasulullah saw. melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak, misalnya, pengetahuan itu seharusnya mendorong kita untuk menghidupkan sebagian malam dengan salat, doa, dan munajat. Kita mungkin tidak mampu menyamai beliau, tetapi kita dapat belajar dari kesungguhannya. Dan itu adalah sebaik-baik bekal.

Hati Rasulullah saw. senantiasa terhubung dengan Allah. Beliau tidak hidup dalam kelalaian. Nikmat Allah, karunia-Nya, ayat-ayat-Nya, berbagai peristiwa yang dihadapi, serta fenomena alam yang disaksikannya menjadi jalan untuk mengingat Allah.

Ketika kita meneladaninya, kita pun belajar menghubungkan berbagai keadaan hidup dengan Allah. Makan, minum, bekerja, bepergian, beristirahat, berinteraksi dengan manusia, menghadapi kesulitan, maupun menikmati kesenangan tidak lagi menjadi aktivitas yang terpisah dari penghambaan kepada-Nya.

Inilah bekal yang tidak akan pernah habis.

Sunah Mengubah Aktivitas Menjadi Kesadaran

Mengikuti sunah dalam makan, minum, berpakaian, tidur, bangun, buang hajat, berinteraksi dengan orang lain, dan berbagai aktivitas sehari-hari mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran kepada Allah.

Kita belajar memilih yang halal, menjauhi yang dimurkai Allah, dan menghadirkan zikir dalam berbagai keadaan.

Perhatikan, misalnya, doa setelah buang hajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah karena telah menghilangkan gangguan dari tubuh. Sesuatu yang tampak sederhana ternyata mengingatkan kita kepada nikmat yang sering tidak kita sadari.

Bayangkan jika buang air kecil atau buang air besar tertahan dan tidak dapat keluar. Tentu akan menimbulkan penderitaan, bahkan dapat membahayakan kehidupan. Sunah mengajarkan kita untuk menyadari nikmat yang sering kali baru terasa ketika nikmat itu terganggu.

Dengan demikian, sunah tidak sekadar mengatur gerakan lahiriah. Ia mendidik kesadaran batin.

Orang yang menjalani aktivitas tanpa kesadaran kepada Allah mudah terjebak dalam kelalaian. Ia makan ketika lapar, tidur ketika mengantuk, bekerja ketika membutuhkan penghasilan, dan menikmati berbagai kesenangan tanpa menghubungkannya dengan tujuan penciptaan manusia.

Sunah mengangkat aktivitas-aktivitas tersebut dari sekadar rutinitas menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba menuju Allah.

Tentu, seluruh sunah Rasulullah saw. yang menyimpan begitu banyak bekal tidak mungkin dibahas dalam kesempatan yang terbatas ini. Untuk mengetahuinya secara lebih luas, kita perlu merujuk kepada kitab-kitab hadis dan sunah yang telah dibukukan oleh para imam. Di sini cukup kita perhatikan beberapa keindahannya sebagai bahan renungan.

Di antara Keindahan Sunah

Perhatikanlah bagaimana sunah memperhatikan kehidupan manusia sejak tahap yang sangat awal.

Sunah menganjurkan pembentukan keluarga yang dibangun di atas ketakwaan, antara lain melalui pemilihan pasangan yang baik agamanya. Dari keluarga yang baik diharapkan lahir lingkungan rumah tangga yang kondusif bagi pendidikan anak.

Dalam hubungan suami istri pun terdapat tuntunan doa dan perlindungan kepada Allah. Ketika seorang anak lahir, terdapat berbagai tuntunan yang berkaitan dengan penyambutan kelahirannya, pemberian nama yang baik, dan perhatian terhadap kehidupannya.

Demikian seterusnya. Sunah memberikan perhatian terhadap berbagai tahapan kehidupan manusia.

Perhatian tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, kekuatan fisik, keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan berbagai kebutuhan manusia lainnya. Sunah juga memberikan perhatian terhadap aktivitas yang melatih keberanian dan keterampilan, serta mendorong para pemuda untuk membangun keluarga dan memperingatkan berbagai hal yang dapat merusak bangunan keluarga dan masyarakat.

Bahkan ketika seorang muslim menghadapi kematian, sunah tetap memberikan tuntunan. Orang yang sedang menghadapi sakaratul maut dituntun untuk mengingat kalimat tauhid. Setelah meninggal, jenazah dimandikan, dikafani, disalatkan, disegerakan pemakamannya, dan didoakan. Sunah juga melarang berbagai bentuk ratapan yang tidak dibenarkan.

Betapa luas perhatian sunah terhadap manusia.

Rasulullah saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu tampak dalam berbagai wasiat dan tuntunan beliau terhadap perempuan, anak-anak, pelayan, tawanan, fakir miskin, orang sakit, orang-orang lemah, mereka yang membutuhkan bantuan, bahkan terhadap hewan.

Mengikuti sunah berarti belajar menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan. Semakin kita memahami sunah, semakin kita menyadari bahwa Islam tidak hanya mendidik hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan makhluk-makhluk Allah.

Sunah Menjaga Perasaan Manusia

Sunah juga memberikan perhatian yang sangat halus terhadap perasaan manusia.

Ketika berbicara dengan seseorang, Rasulullah saw. memberikan perhatian kepada lawan bicaranya. Beliau memperjelas perkataannya dan mendengarkan dengan baik.

Ketika ingin mengingatkan kesalahan seseorang, beliau tidak selalu menyebutkan nama orang tersebut. Beliau dapat mengatakan, "Mengapa sebagian kaum melakukan demikian dan demikian?" Dengan cara itu, kesalahan dapat diperbaiki tanpa harus mempermalukan pelakunya.

Sunah juga melarang seseorang berbisik dengan orang lain ketika ada orang ketiga yang duduk bersama mereka. Sebab, hal tersebut dapat melukai perasaan atau menimbulkan prasangka.

Perhatian-perhatian kecil semacam ini menunjukkan bahwa akhlak dalam sunah bukan sesuatu yang abstrak. Ia hadir dalam cara berbicara, cara mendengarkan, cara menegur, bahkan cara menjaga perasaan orang lain.

Sunah Menguatkan Ukhuwah

Sunah juga menyeru kepada pengokohan hubungan antara ayah, ibu, anak, kerabat, dan tetangga.

Kita dianjurkan untuk saling mencintai karena Allah, saling mengunjungi, memberi hadiah, mengucapkan salam, berjabat tangan, tersenyum ketika bertemu, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin, mengantar jenazah, dan melakukan berbagai hal yang memperkuat hubungan antarsesama.

Sebaliknya, sunah melarang berbagai tindakan yang dapat merusak persaudaraan.

Semua itu merupakan bekal yang sangat dibutuhkan setiap muslim, terlebih bagi orang yang menapaki jalan dakwah. Seorang dai tidak cukup hanya memiliki pengetahuan. Ia juga membutuhkan hati yang hidup, akhlak yang baik, kemampuan menjaga perasaan, dan kemampuan membangun hubungan dengan manusia.

Sunah dan Pembinaan Kepribadian

Sunah membina pribadi muslim agar memiliki iman yang kuat, tekad yang kokoh, fisik yang sehat, akhlak yang mulia, serta berbagai bentuk kekuatan yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.

Pada saat yang sama, sunah mendidik seorang muslim agar terbebas dari berbagai kelemahan: pengecut, bakhil, tidak berdaya, malas, ragu-ragu, bimbang, waswas, pesimis, mudah mempercayai kesialan, dan tidak memiliki pendirian.

Seorang muslim diharapkan menjadi pribadi yang memiliki prinsip, mampu mengambil keputusan, memberi pengaruh yang baik, dan tidak mudah terseret oleh keadaan.

Karena itu, sunah tidak hanya membentuk manusia yang saleh secara pribadi, tetapi juga manusia yang memiliki daya tahan dan tanggung jawab dalam kehidupan.

Sunah juga mengajarkan agar tarikan dunia tidak menguasai hati. Dunia bukan untuk ditinggalkan seluruhnya, tetapi kenikmatannya tidak boleh menjadikan manusia lupa terhadap tujuan akhirnya.

Nilai ini semakin penting ketika kehidupan modern mendorong manusia untuk terus mengejar harta, memenuhi berbagai kebutuhan, meningkatkan konsumsi, dan menciptakan sarana-sarana baru yang terus menggoda manusia untuk memilikinya.

Jika tidak berhati-hati, manusia dapat menghabiskan seluruh energinya untuk mengejar dunia dan menganggap dunia seolah-olah merupakan kehidupan yang sesungguhnya.

Sunah menjaga manusia dari keadaan tersebut. Ia mengarahkan perhatian kepada akhirat dan keridaan Allah, sehingga dunia tetap berada di tangan, bukan menguasai hati.

Bahkan Tidur Pun Menjadi Bagian dari Pendidikan

Perhatikan pula bagaimana sunah memberikan perhatian terhadap sesuatu yang sangat sederhana: tidur.

Rasulullah saw. mengajarkan agar seseorang tidur dalam keadaan berwudu, berbaring ke sisi kanan, membaca doa sebelum tidur yang mengingatkan kepada Allah dan kematian, serta membaca doa-doa tertentu ketika mengalami mimpi buruk dan ketika bangun tidur.

Seolah-olah sunah hadir dalam kehidupan seorang muslim seperti seorang ibu yang penuh kasih kepada anaknya: menenangkannya ketika ketakutan, menjaganya dari sesuatu yang membahayakan, dan membimbingnya dengan penuh kasih.

Di sinilah kita menemukan keindahan sunah.

Ia tidak hanya hadir ketika kita berada di masjid. Ia hadir ketika kita berada di rumah. Ia tidak hanya hadir ketika kita sedang beribadah dalam bentuk ritual. Ia juga hadir ketika kita makan, tidur, bekerja, berbicara, bergaul, bepergian, dan menjalani berbagai aktivitas kehidupan.

Sunah memberikan bekal agar kehidupan seorang muslim tidak menjadi kehidupan yang terpecah-pecah.

Ia membentuk kepribadian yang memiliki arah dan prinsip, bukan pribadi yang tambal sulam: mengambil nilai dari sana, mengikuti kebiasaan dari sini, lalu kehilangan identitas dan arah hidup.

Ketika Sunah Menjadi Sebab Perpecahan

Namun, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan.

Jangan sampai perhatian kita terhadap amalan sunah justru mengurangi perhatian terhadap amalan yang fardu. Jangan pula menjadikan persoalan sunah sebagai alasan untuk berseteru, saling membenci, saling menjauhi, atau saling berlepas diri.

Kita perlu membedakan antara berkomitmen mengamalkan sunah dan mengajak orang lain untuk mengamalkannya.

Berkomitmen terhadap sunah adalah sesuatu yang baik. Mengajak orang lain kepada sunah juga merupakan bagian dari dakwah. Tetapi dakwah kepada sunah harus dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik, bukan dengan menghina, memfasiqkan, menjauhi, atau menimbulkan perpecahan.

Dalam persoalan-persoalan yang memang termasuk wilayah perbedaan pendapat di kalangan ulama, seorang muslim perlu memiliki keluasan hati dan memahami bahwa menjaga persaudaraan merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Terdapat kisah yang dinisbatkan kepada Imam Hasan Al-Banna. Dalam salah satu kunjungan dakwah, ia menjumpai penduduk sebuah kampung yang terbagi menjadi dua kelompok dan hampir bertikai karena perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan azan. Sebagian menyertakan shalawat dengan cara tertentu dalam azan, sementara sebagian lainnya menolaknya.

Hasan Al-Banna kemudian berkata kepada mereka, "Kalian tidak perlu mengumandangkan azan dan salatlah tanpa azan."

Mereka terheran-heran dan menjawab bahwa mereka tidak rela jika azan tidak dikumandangkan dengan keras di kampung tersebut.

Kemudian ia mengatakan, "Azan itu sunah, sedang persatuan itu kewajiban. Karenanya, tinggalkanlah yang sunah bila menyebabkan yang wajib terlantar."

Kisah tersebut, terlepas dari pembahasan mengenai kedudukan riwayatnya, mengandung sebuah pelajaran yang penting: jangan sampai perhatian terhadap perkara cabang membuat kita kehilangan perkara yang lebih pokok.

Sunah semestinya menjadi bekal yang menghidupkan hati, memperbaiki akhlak, memperkuat ukhuwah, dan mendekatkan kita kepada Allah. Jika cara kita memperjuangkan sunah justru menghasilkan kebencian, permusuhan, dan perpecahan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang mengikuti sunah Rasulullah saw., atau hanya sedang mempertahankan pendapat kita tentang sunah?

Menjadikan Sunah sebagai Bekal

Demikianlah, sunah Rasulullah saw. menyimpan bekal yang begitu melimpah.

Ia menghidupkan hati dengan iman.
Ia membimbing kehidupan dengan petunjuk.
Ia memperbaiki akhlak.
Ia menjaga tubuh dan kehidupan.
Ia menguatkan keluarga dan masyarakat.
Ia membentuk pribadi yang kokoh.
Ia mengajarkan kasih sayang.
Ia mempersiapkan manusia menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.

Semakin kita mengenal sunah, semakin kita menyadari bahwa ia bukan sekadar kumpulan amalan tambahan dalam kehidupan seorang muslim. Sunah adalah jalan untuk menghadirkan teladan Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, marilah kita mengambil bekal yang bermanfaat dari sunah Rasulullah saw. Kita berusaha menjadi orang-orang yang mengikuti sunah, bukan membuat-buat ajaran baru; mencintai sunah tanpa meremehkan kewajiban; mengajak kepadanya dengan hikmah; dan menjadikannya sarana untuk semakin dekat kepada Allah.

Sebab, pada akhirnya, sunah bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupkan.

Dan ketika sunah hidup dalam hati, ia akan tercermin dalam akhlak, keluarga, masyarakat, dan seluruh perjalanan kehidupan seorang muslim.

Hanya Allah yang membimbing kita kepada jalan yang benar dan memberikan taufik untuk mengamalkan apa yang kita ketahui.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (60) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (33) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (31) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (3) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (119) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (317) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (761) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (2) Politik (12) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)