Rasulullah saw. memasuki profesi berdagang ketika menginjak usia remaja, setelah sebelumnya menggembalakan kambing. Diriwayatkan bahwa beliau pernah berniaga bersama As-Sa’ib Al-Makhzumi.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, dari bekas sahayanya, As-Sa’ib bin Abu As-Sa’ib, bahwa ia pernah berdagang bersama Rasulullah saw. sebelum Islam. Ketika Fathu Makkah, As-Sa’ib menemui beliau. Rasulullah pun berkata:
“Selamat datang kepada saudaraku dan patnerku, orang yang tidak banyak berselisih dan tidak menolak. Wahai As-Sa’ib, sungguh kamu telah mengerjakan pekerjaan pada masa Jahiliyyah yang tidak diterima dan sekarang kamu diterima.”
Dalam riwayat lain, dari Mujahid, dari Qaid As-Sa’ib, dari As-Sa’ib, ia berkata:
“Aku menghadap kepada Rasulullah. Lalu mereka memujiku dan banyak mengingatku. Kemudian Rasulullah berkata, ‘Aku lebih tahu tentangnya dibandingkan kalian.’ Maksudnya, lebih mengetahui tentang dirinya. Kukatakan, ‘Demi ayah dan ibuku, engkau benar. Engkau adalah patnerku, tidak berselisih dan tidak menolak.’”
Al-Azhim Abadi berkata, “Al-Khithabi berkata, ‘(La Tudari wa Tumari) maksudnya, La Tukhalif (tidak berselisih) dan La Tumani’ (tidak menolak). Kata Ad-Dar’ mengandung pengertian Ad-Daf’u (menolak). Misalnya firman Allah, ‘Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan.’ (Al-Baqarah: 72). Rasulullah terkenal sebagai sosok yang baik budi pekertinya dan mudah berinteraksi.”
Gambaran tentang kepribadian beliau yang dapat dipercaya juga terlihat dalam riwayat Abdullah bin Abu Al-Hasma. Ia berkata:
“Aku berbaiat kepada Rasulullah sebelum diutus dan baiat itu senantiasa terjaga. Aku pun berjanji untuk menghadap kepada beliau di tempatnya, akan tetapi aku lupa. Tiga hari kemudian aku teringat. Aku pun menemui beliau dan ternyata beliau masih berada di tempatnya. Lalu beliau berkata, ‘Wahai anak muda, kamu menyusahkanku. Aku di sini sejak tiga hari yang lalu menunggumu.’”
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa amanah dan komitmen telah menjadi bagian dari kepribadian Rasulullah saw. bahkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul.
Pada usia dua puluh lima tahun, beliau kemudian melakukan perjalanan dagang ke Asy-Syam dengan menggunakan modal dari Khadijah.
Pada fase inilah tampak kepakaran beliau dalam bidang ekonomi, khususnya dalam praktik mudharabah atau kerja sama bagi hasil. Model kerja sama ini mempertemukan profesionalitas pengelola usaha dengan permodalan yang dimiliki pemilik harta. Keduanya bekerja sama untuk mengembangkan usaha dan memperoleh keuntungan.
Diriwayatkan dari Hukaim bin Hizam bahwa ia membeli sebuah pakaian dari Tihamah di pasar Hubasyah dan kemudian membawanya ke Makkah. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Khadijah mempercayakan Rasulullah saw., bersama hamba sahayanya, Maisarah, untuk melakukan perjalanan dagang ke pasar Hubasyah dan membelikan pakaian untuknya.
Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama ekonomi dan peran vitalnya dalam menggerakkan kegiatan ekonomi. Modal dan keahlian dapat dipertemukan melalui hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.
Diriwayatkan oleh Nafisah binti Munyah—saudara Ya’la binti Munyah—ia berkata:
“Ketika Rasulullah berusia dua puluh lima tahun, di mana di Makkah beliau tidak dikenal kecuali dengan nama Al-Amin karena kebaikan-kebaikan yang menitis dalam diri beliau, Abu Thalib berkata kepada beliau, ‘Wahai keponakanku, aku adalah orang yang tidak memiliki banyak harta. Waktu semakin terasa berat bagiku dan beberapa tahun belakangan tidak menyenangkan. Kita tidak memiliki bahan dan komoditi untuk diperjualbelikan, dan ini adalah kafilah kaummu yang datang untuk bersiap-siap berangkat ke Asy-Syam. Khadijah binti Khuwailid mengirimkan sejumlah orang dari kaummu dalam sebuah kafilah dagangnya. Alangkah baiknya jika kamu menawarkan diri kepadanya.’
Khadijah mendengar hal itu dan ia pun mempercayakan salah satu kafilahnya kepada beliau hingga memberikan upah berkali-kali lipat dibandingkan yang diberikan kepada selain beliau.”
Akan tetapi, Rasulullah saw. bukanlah seorang yang menawarkan dirinya untuk memperoleh pekerjaan tersebut. Beliau menunggu permintaan dari Khadijah. Kepercayaan Khadijah kepada beliau tidak terlepas dari reputasi dan kredibilitasnya dalam berniaga. Beliau dikenal sebagai Al-Amin dan memiliki pengalaman dalam mengelola perdagangan.
Ibnu Ishaq berkata:
“Khadijah binti Khuwailid merupakan seorang perempuan yang ahli dagang, terhormat dan kaya, banyak mempekerjakan kaum lelaki untuk mengembangkan harta bendanya, banyak merekrut mereka untuk bermudharabah dan memberikan upah kepada mereka. Kaum Quraisy terkenal sebagai saudagar.
Ketika Khadijah mendengarkan kejujuran dan kepakaran dagang Rasulullah, serta mendapat tempat di antara pemuda lainnya di samping budi pekerti beliau yang mulia, maka kafilah itu dipercayakan kepada beliau.
Khadijah menawarkan kepada beliau agar berkenan mengembangkan hartanya ke Asy-Syam sebagai saudagar dan memberikan imbalan yang lebih besar dibandingkan yang diberikannya kepada pekerjanya yang lain.
Beliau ditemani oleh seorang hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Rasulullah pun menerima tawaran tersebut dan keluar untuk memperdagangkan hartanya itu. Beliau ditemani oleh Maisarah hingga sampai ke Asy-Syam. Kemudian Rasulullah bernaung di bawah sebuah pohon dekat biara salah seorang pendeta. Sang pendeta mendekati Maisarah seraya bertanya, ‘Siapa lelaki yang bernaung di bawah pohon itu?’ Maisarah menjawab, ‘Itu adalah seorang lelaki dari Quraisy dari Makkah.’ Kemudian sang pendeta berkata, ‘Tiada yang bernaung di bawah pohon, kecuali seorang nabi.’
Kemudian Rasulullah menjual komoditi yang beliau bawa dan membeli komoditi yang ingin dibawa pulang ke Makkah. Setelah itu, beliau kembali ke Makkah bersama kafilahnya dengan ditemani Maisarah.
Maisarah ini—menurut mereka—apabila melewati panas yang terik dan menyengat, maka ia melihat kedua malaikat menaungi beliau dari sinar matahari yang membakar, ketika beliau berjalan di atas untanya.
Sesampai di Makkah di kediaman Khadijah dengan harta bendanya, maka Khadijah menjual komoditi yang beliau bawa hingga mendapatkan keuntungan melimpah atau sejenisnya.”
Riwayat tersebut menggambarkan perjalanan dagang Rasulullah saw. bersama Maisarah ke Asy-Syam. Ketangkasan dan kepiawaian beliau dalam berniaga menunjukkan kompetensi serta pengalaman yang telah dimilikinya dalam profesi tersebut.
Kejujuran beliau juga tampak dalam sebuah peristiwa ketika Rasulullah datang ke pasar Bashari untuk menjual komoditi yang dibawanya. Terjadi perselisihan antara beliau dan seorang lelaki mengenai salah satu komoditas yang diperdagangkan. Lelaki itu kemudian berkata, “Bersumpahlah atas nama Al-Lata dan Al-Uzza.”
Rasulullah menjawab, “Aku tidak bersumpah atas keduanya sama sekali.”
Lelaki itu kemudian berkata, “Aku percaya dengan perkataanmu.”
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan Rasulullah saw. tidak terpisah dari prinsip kejujuran dan keteguhan tauhid. Beliau tidak bersedia menggunakan nama sesembahan yang batil untuk menguatkan perkataannya, bahkan dalam transaksi perdagangan.
Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah dalam Zad Al-Ma’ad berkata:
“Rasulullah mempekerjakan diri beliau sebelum kenabian dalam menggembalakan kambing dan mempekerjakan diri beliau kepada Khadijah dengan hartanya dalam perjalanannya ke Asy-Syam. Inilah kenyataannya, dan Rasulullah senantiasa bekerja dalam perdagangan hingga setelah fase ini, yang akan kami jelaskan lebih lanjut.”
Dengan demikian, sebelum kenabian, Rasulullah saw. telah menjalani beberapa tahap kehidupan ekonomi: menggembalakan kambing, bekerja dalam perdagangan, dan kemudian mengelola modal Khadijah melalui kerja sama perdagangan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau sebelum memasuki fase kenabian.
Perkawinan Rasulullah dengan Khadijah
Rasulullah saw. kemudian menikah dengan seorang perempuan Quraisy yang memiliki nasab mulia, kaya, dan berbudi pekerti luhur. Mas kawin yang diberikan kepada Khadijah selaras dengan kedudukannya.
Di antara bentuk perlindungan Allah kepada Rasulullah saw. adalah perjalanan hidup dan usaha yang digelutinya, yang kemudian mempertemukannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Khadijah dikenal sebagai perempuan yang terhormat dan memiliki kedudukan ekonomi yang kuat. Ia juga diyakini banyak membantu Rasulullah saw. dalam menghadapi fase-fase awal dakwah.
Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw. dalam sebuah riwayat dari Sayyidah Aisyah. Ia berkata:
“Rasulullah apabila menyebutkan tentang Khadijah maka beliau memujinya dengan sebaik-baiknya.”
Perawi melanjutkan ceritanya:
“Aku pun pernah cemburu karenanya. Lalu kukatakan, ‘Alangkah sering engkau menyebut Hamra Asy-Syida (Khadijah, Penj.), padahal Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik untukmu.’
Beliau bersabda, ‘Allah tidak pernah menggantinya dengan yang lebih baik untukku. Sungguh, ia beriman kepadaku pada saat orang-orang kufur kepadaku, mempercayaiku pada saat orang-orang mendustakanku, mempekerjakanku dengan hartanya ketika orang-orang mencegahnya, dan memberikan anak-anaknya kepadaku ketika istri-istriku yang lain tidak memberikannya.’”
0 komentar: