Setelah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, yaitu Samudera Pasai pada abad ke-13–16 M dan Malaka pada awal abad ke-15–16 M, hubungan antara Palembang dengan kedua kerajaan Islam tersebut tidak dapat dimungkiri. Pada waktu itu, keduanya merupakan pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran Islam ke berbagai daerah di Nusantara. Pada awal abad ke-16, menurut Tome Pires dalam Suma Oriental (1512–1515), Pasai dan Malaka merupakan pusat perdagangan yang didatangi berbagai kapal dagang dari negeri-negeri Timur Tengah dan India, seperti Gujarat dan Cambay (Armando Cortesao, 1944: 154–156). Demikian pula, Samudera Pasai dapat dipandang sebagai salah satu pusat penyebaran Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara (Uka Tjandrasasmita, 1993).
Oleh karena itu, saya berkeyakinan bahwa pada masa ekspedisi-ekspedisi yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dan sempat melawat ke Palembang, di kota itu telah terdapat komunitas Muslim yang datang dari berbagai negeri. Beberapa pemukiman para pendatang asing di Kota Palembang, seperti Tionghoa, Arab, Persia, Turki, serta orang-orang dari berbagai daerah di Nusantara dan negeri-negeri sekitarnya, kemudian dikenal sesuai dengan asal komunitas masing-masing. Karenanya, terdapat Pecinan, Kampung Arab, Kampung Pakojan, Kampung Keling, Kampung Bugis, dan sebagainya (Uka Tjandrasasmita, 2000: 40–70).
Oleh karena itu pula, pemukiman-pemukiman yang hingga kini masih ada di Kota Palembang, sebagaimana pernah dibicarakan oleh Mujib (Mujib, 2004: 28–52), perlu diteliti lebih mendalam. Penelitian terhadap Kota Palembang dari masa ke masa akan memberikan gambaran sejarahnya secara lebih komprehensif, baik dari segi morfologi kota, struktur sosial, ekonomi, maupun kebudayaannya (Uka Tjandrasasmita, 2000).
Berdasarkan penjelasan tersebut, lawatan Laksamana Cheng Ho ke Palembang dalam beberapa ekspedisinya mempunyai arti penting dan kemungkinan memberikan pengaruh terhadap pemerintahan dan masyarakat setempat. Kehidupan Cheng Ho sejak kecil hingga dewasa, kemudian pengangkatannya oleh Kaisar Tiongkok untuk menduduki jabatan tinggi dalam angkatan laut, hingga keberhasilannya memimpin sejumlah besar armada dengan personel yang terdiri atas berbagai agama, pekerjaan, dan keahlian, menunjukkan bahwa Cheng Ho merupakan seorang tokoh pemimpin yang memiliki disiplin tinggi dan kemampuan manajemen yang luar biasa. Semua itu merupakan karakter seorang pemimpin yang sangat berwibawa dan, mungkin sekali, dilandasi oleh sikap atau perilaku keagamaannya.
Kong Yuan Zhi dalam bukunya, Sam Po Kong dan Indonesia, memberikan gambaran bahwa Cheng Ho adalah seorang Muslim yang taat kepada agamanya, yaitu Islam. Ia giat mendukung penyebaran agama Islam, baik di Tiongkok maupun di negeri-negeri asing. Kegiatan pentingnya di bidang agama Islam antara lain menziarahi makam para pendahulu Islam dan melaksanakan salat di masjid-masjid, antara lain di Masjid Bukit Jiu-Ri di Nan-An (Quan-Zhou). Selain itu, Cheng Ho juga banyak mendukung kegiatan keagamaan lainnya, termasuk agama Buddha dan Tao (Kong Yuan Zhi, 1993: 27–28).
Dengan adanya lawatan Laksamana Cheng Ho, baik pada ekspedisi pertama (1405–1407), ekspedisi keempat (1413–1415) yang merupakan ekspedisi pertama yang diikuti Ma Huan, ekspedisi kelima (1417–1419), maupun ekspedisi ketujuh (1431–1433), pemerintah dan masyarakat setempat tentu berkesempatan melihat atau mendengar tentang perilaku Laksamana Cheng Ho yang dikagumi dan dianggap berwibawa, sekaligus dikenal sebagai seorang Muslim yang taat.
Pada ekspedisi pertama saja, ketika Cheng Ho mengadakan lawatan ke Kota Palembang, ia menghadapi perompakan yang dilakukan oleh bajak laut pimpinan Chen Tsui. Dalam penumpasan tersebut, sekitar 5.000 orang terbunuh, tujuh belas kapal dibakar dan dirampas, sedangkan Chen Tsui ditangkap dan kemudian dikirimkan kepada Kaisar di Nanking untuk mendapatkan hukuman (Mills, 1970: 10–11; Groenveldt, 1960: 42–43).
Tindakan Laksamana Cheng Ho dalam menumpas bajak laut tersebut dengan sendirinya merupakan jasa pengamanan bagi kegiatan pelayaran dan perdagangan yang keluar-masuk kota pelabuhan Palembang. Karena itu, pemimpin dan masyarakat daerah tersebut sangat mungkin berterima kasih dan menghargai jasa Laksamana Cheng Ho.
Jika dalam lawatannya ke negeri dan daerah lain, antara lain ke pesisir utara Jawa Timur seperti bandar Tuban, Sedayu, Gresik, dan lainnya, Cheng Ho mengunjungi komunitas Tionghoa Muslim dan memberikan dorongan semangat kepada mereka (Mills, 1970: 86–98), maka tidak mustahil hal serupa juga dilakukannya terhadap masyarakat Palembang, baik komunitas Tionghoa maupun komunitas Islam pada umumnya.
Lawatan Cheng Ho tersebut dapat dipandang sebagai salah satu faktor yang turut mendorong perkembangan masyarakat Palembang, sehingga pada suatu waktu Islam di Palembang semakin kuat dan akhirnya berkembang menjadi Kesultanan Palembang.
Melalui pemberitaan Ma Huan dalam Ying-Yai Sheng-Lan tentang lawatan Cheng Ho, dapat diketahui berbagai keadaan Palembang (Po-Lin-Pang), antara lain besarnya kota, batas-batas wilayahnya, kedatangan kapal-kapal dari berbagai tempat, penduduk dan daerah asal orang-orang Tionghoa, perumahan dan tempat tinggal rakyat, bangsawan, dan para pejabat, kesuburan dan kemakmuran kehidupan, hasil-hasil bumi, serta adat kebiasaannya yang disebutkan bersaing dengan masyarakat Jawa.
Selain itu, Ma Huan menceritakan tentang bajak laut yang ditumpas, dengan pemimpinnya dikirim ke Nanking untuk mendapatkan hukuman dari Kaisar (Mills, 1970: 99).
Tome Pires (1512–1515) juga memberitakan tentang peralihan kekuasaan politik dari corak Hindu kepada Islam di bawah pengaruh Kerajaan Islam Demak pada masa pemerintahan Pate Rodim. Ia menyebutkan bahwa Palembang berpenduduk kurang lebih 10.000 orang. Ketika Pati Unus menyerang Malaka, Palembang turut memberikan bantuan sehingga banyak di antara mereka yang gugur.
Tome Pires juga menceritakan adanya perdagangan antara Palembang dan Malaka. Palembang mengirimkan berbagai hasil daerahnya ke Malaka, seperti rotan, emas, getah damar, kapas, dan lain-lain. Sebaliknya, dari Keling dan Gujarat didatangkan berbagai jenis pakaian (Armando Cortesao, 1944: 155–156).
Sumber-sumber babad, antara lain Babad Tanah Jawi, menceritakan bahwa Palembang pernah berada di bawah pengaruh kekuasaan Jawa, khususnya Majapahit. Salah satu kisahnya adalah tentang Brawijaya dari Majapahit yang mengirimkan istrinya, seorang perempuan Tionghoa Muslim yang sedang hamil, kepada gubernurnya di Palembang, Aria Damar alias Swan Liong.
Pada tahun 1453 M, perempuan Tionghoa yang diserahkan kepada Aria Damar tersebut melahirkan seorang putra yang dikenal dengan nama Raden Patah dan dijuluki Adipati Jin Bun (H.M. Ali Amin, 1986: 67–122).
Setelah dewasa, Raden Patah pergi ke Jawa untuk belajar agama Islam kepada Sunan Rahmat atau Sunan Ampel Denta. Selanjutnya, Raden Patah menyerang Majapahit. Namun, atas nasihat Sunan Ampel, bersama sejumlah pengikutnya ia pergi ke Gelagah Wangi, yang kelak menjadi ibu kota Kerajaan Islam Demak dan berkembang menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa pada awal abad ke-16 M.
Meskipun demikian, Palembang lambat laun lepas dari pengaruh Kerajaan Demak, terutama setelah Trenggono wafat pada tahun 1546. Pusat Kerajaan Demak kemudian mengalami kekacauan akibat perebutan kekuasaan sehingga pusat pemerintahan akhirnya berpindah ke Pajang.
Dalam perkembangannya, setelah menjadi kesultanan sejak abad ke-16 hingga abad ke-18 dan ke-19 M, Palembang mengalami pasang surut. Para sultan akhirnya menghadapi penjajahan Hindia Belanda.
Namun demikian, kita perlu mengakui bahwa pada abad ke-18 M, sejumlah ulama di Palembang menghasilkan banyak naskah Islam yang memberikan pengetahuan keislaman dalam berbagai bidang. Di antara ulama Palembang pada masa kesultanan yang tidak dapat diragukan lagi ketenarannya adalah Abd al-Shamad al-Palimbani. Ia mempunyai pengaruh besar, terutama melalui karya-karyanya yang beredar luas di berbagai wilayah Nusantara (Azyumardi Azra, 1994: 243–250).
0 komentar: