Kesepakatan dan keselamatan dari perselisihan tidak mungkin diraih kecuali dengan meminta keputusan hukum kepada para rasul mengenai apa yang kita perselisihkan. Hal itu dapat dijelaskan melalui beberapa hal berikut.
Pertama: Urgensi Kebutuhan kepada Risalah dan Asas-Asasnya
Ibnu Taimiyah berkata:
«“Sesungguhnya kebahagiaan dan petunjuk ada dalam mengikuti Rasulullah. Sesungguhnya kesesatan dan kesengsaraan ada dalam menyalahinya. Segala kebaikan, baik dalam entitas umum maupun khusus, sumbernya berasal dari arah Rasul, sedangkan segala keburukan pada diri hamba sumbernya adalah menentang Rasul atau tidak mengetahui apa yang dibawanya.»
«Sesungguhnya kebahagiaan seorang hamba dalam kehidupan dunia dan akhirat adalah dengan mengikuti kerasulan. Kerasulan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi hamba dan tidak mungkin tidak dibutuhkannya. Bahkan, kebutuhan manusia kepada kerasulan lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada segala sesuatu. Kerasulan merupakan ruh dunia, cahaya, dan kehidupannya.»
«Apa kebaikan yang dimiliki dunia jika ruh, kehidupan, dan cahaya tidak ada? Dunia akan menjadi gelap dan terkutuk kecuali yang disinari oleh matahari kerasulan. Demikian pula seorang hamba. Ketika matahari kerasulan tidak terbit di dalam hatinya, dan ia tidak mendapatkan kehidupan serta ruh darinya, maka ia berada dalam kegelapan dan termasuk orang-orang yang mati.»
«Sesungguhnya Allah menjadikan para rasul sebagai perantara antara Dia dan hamba-hamba-Nya untuk memperkenalkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat dan berbahaya bagi mereka, menyempurnakan segala sesuatu yang menjadikan mereka baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Mereka semua diutus untuk menyeru manusia kepada Allah, memperkenalkan jalan yang mengantarkan mereka kepada-Nya, serta menjelaskan keadaan mereka setelah sampai kepada-Nya.»
Kebutuhan kepada risalah mencakup tiga asas utama.
Asas pertama, meliputi penetapan sifat-sifat Allah, tauhid, takdir, serta penyebutan hari-hari Allah bagi para wali-Nya dan musuh-musuh-Nya. Di dalamnya terdapat kisah-kisah yang Allah ceritakan kepada hamba-hamba-Nya dan berbagai perumpamaan yang Dia berikan kepada mereka.
Asas kedua, memuat rincian syariat, perintah, larangan, pembolehan, serta penjelasan mengenai apa yang dicintai dan dibenci Allah.
Asas ketiga, mencakup iman kepada hari akhir, surga, neraka, pahala, dan siksaan.
Berdasarkan ketiga asas inilah berporos penciptaan dan perintah. Kebahagiaan dan keberuntungan manusia bergantung kepadanya. Sementara itu, tidak ada jalan untuk mengetahuinya secara terperinci kecuali melalui para rasul.
Akal memang dapat mengetahui secara global urgensi perkara-perkara tersebut, tetapi tidak mampu memperoleh petunjuk kepada rincian dan hakikatnya. Keadaannya seperti orang sakit yang mengetahui bahwa dirinya membutuhkan pengobatan dan dokter, tetapi ia tidak mampu mengetahui secara terperinci jenis penyakit yang dideritanya maupun obat yang tepat untuk mengobatinya.
Kebutuhan seorang hamba kepada kerasulan bahkan jauh lebih besar daripada kebutuhan orang sakit kepada dokter. Sebab, apabila seseorang tidak mendapatkan dokter, akibat akhirnya adalah kematian tubuh. Adapun apabila seorang hamba tidak mendapatkan cahaya kerasulan dan kehidupannya, hatinya akan mati dengan kematian yang tidak lagi diharapkan kehidupannya untuk selama-lamanya, atau ia akan mengalami kesengsaraan yang tidak disertai kebahagiaan selama-lamanya.
Dengan demikian, tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti para rasul. Tidak ada keberlangsungan kehidupan penghuni bumi kecuali selama jejak-jejak para rasul masih ada di tengah-tengah mereka. Jika jejak-jejak para rasul tergerus dari bumi dan terhapus secara total, Allah akan membinasakan alam atas dan alam bawah, lalu membangkitkan kiamat.
Karena itu, nikmat Allah yang paling besar kepada hamba-hamba-Nya dan karunia-Nya yang paling mulia kepada mereka adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya Kitab-Kitab-Nya, serta dijelaskannya jalan yang lurus kepada manusia. Tanpa semua itu, manusia akan berada dalam keadaan seperti binatang ternak dan binatang buas, bahkan lebih buruk daripada mereka.
Barangsiapa menerima risalah Allah dan konsisten di atasnya, maka ia termasuk sebaik-baik makhluk. Sebaliknya, barangsiapa menolaknya dan keluar darinya, maka ia termasuk seburuk-buruk makhluk dan keadaannya lebih buruk daripada anjing, babi, dan binatang buas.”42
Ibnul Qayyim berkata:
«“Dari sini Anda mengetahui urgensi seorang hamba, di atas segala urgensi lainnya, untuk mengetahui Rasul dan apa yang dibawanya, membenarkan apa yang dikabarkannya, dan menaati apa yang diperintahkannya. Sebab, tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali melalui para rasul.»
«Tidak ada jalan untuk mengetahui kebaikan dan keburukan secara rinci kecuali melalui mereka. Dengan demikian, perbuatan, ucapan, dan akhlak yang baik tidak lain adalah petunjuk mereka dan apa yang mereka bawa. Merekalah timbangan yang dengannya ucapan, perbuatan, dan akhlak manusia ditimbang. Dengan mengikuti mereka, dapat dibedakan antara ahli petunjuk dan ahli kesesatan.»
«Dengan demikian, kebutuhan seorang hamba kepada para rasul lebih besar daripada kebutuhan tubuh kepada ruhnya, mata kepada cahayanya, dan ruh kepada kehidupannya. Sebesar apa pun kebutuhan yang dapat dibayangkan, kebutuhan dan keperluan seorang hamba kepada para rasul tetap lebih besar daripada itu.”43»
Namun demikian, manusia sangat cepat mengalami kebinasaan ketika mereka membantah para rasul, menolak mereka, dan berpaling dari apa yang mereka bawa berupa tanda-tanda yang jelas dan kebenaran yang terang, padahal semuanya mengandung kebaikan bagi seluruh alam.
Pada masa kini, manusia bahkan semakin banyak membantah warisan kenabian, semakin menolak, dan semakin berpaling dari apa yang dibawa para rasul untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Sebagian manusia menyombongkan diri di hadapan ajaran para rasul dengan menganggap bahwa manusia telah hidup begitu lama dan kini berada dalam era kemajuan dan peradaban, menguasai daratan, lautan, dan udara.
Mereka merasa cukup dengan ilmu-ilmu duniawi. Setan-setan dari kalangan manusia meniupkan berbagai keraguan ke dalam akal mereka dan menyeru mereka untuk membangkang kepada Allah dan syariat-Nya. Ajaran para rasul kemudian ditolak dengan berbagai dalih: bahwa syariat Allah membatasi akal, menghentikan laju kehidupan, serta menghambat peradaban dan kemajuan.
Lalu, apakah benar umat manusia hari ini telah mencapai suatu tingkat kemajuan yang membuatnya tidak lagi membutuhkan para rasul dan ajaran mereka? Apakah benar manusia mampu menuntun dirinya sendiri tanpa manhaj yang dibawa para rasul?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilihat dengan meneliti secara objektif dan adil kondisi manusia yang meninggalkan para rasul dan kerasulan, dalam berbagai tingkatannya, baik berupa kekafiran, kedurhakaan, maupun pengabaian.
Ketika kehidupan manusia dilepaskan dari petunjuk para rasul, akan tampak berbagai bentuk kerusakan: kesengsaraan dan kedukaan, kelaparan dan berbagai problem kehidupan, kesedihan, pembangkangan, kerugian, kezaliman, serta pendustaan.
Allah Ta'ala berfirman:
«أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-An‘am: 122)»
0 komentar: