Komunitas Sumedang di Tangerang: Kesetiaan pada Kesultanan Banten
Dari Sumedang ke Banten: Jejak Pelarian pada Masa Dipati Ukur
Cerita tentang beberapa pembesar Sumedang yang meninggalkan daerah asalnya dan pergi ke Banten antara lain terdapat dalam sebuah naskah di Leiden yang memuat cerita Dipati Ukur versi Sumedang (Ekadjati, 1982: 180–185).
Menurut naskah tersebut, peristiwa itu berkaitan dengan hubungan antara Sumedang dan Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Arya Suriadiwangsa, putra Pangeran Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya.
Ketika Mataram meminta bantuan Sumedang untuk menaklukkan Madura, terutama melalui Adipati Martalaya, usaha tersebut tidak segera berhasil. Madura tetap bertahan dan tidak dapat ditundukkan. Namun, Pangeran Arya Suriadiwangsa menempuh pendekatan kekeluargaan. Ia masih memiliki hubungan darah dengan Madura melalui ibunya, Ratu Harisbaya, putri Arosbaya di Madura.
Melalui pendekatan tersebut, peperangan dapat dihindari. Madura kemudian mengakui kekuasaan Mataram. Atas jasanya itu, Pangeran Arya Suriadiwangsa memperoleh gelar Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumahdinata, yang kemudian dikenal sebagai Rangga Gempol I.
Akan tetapi, hubungan antara keluarga penguasa Sumedang dan Mataram kemudian mengalami ketegangan.
Diceritakan bahwa pada suatu ketika Pangeran Sumedang berkelakar dengan kakaknya, Pangeran Rangga Gede. Ia mengatakan bahwa apabila dirinya menghendaki, ia dapat menaklukkan Mataram hanya dalam waktu setengah hari.
Ucapan tersebut terdengar oleh dua pembesar Mataram, Tumenggung Suralaya dan Dipati Ukur. Kelakar yang semula berlangsung dalam lingkungan keluarga itu kemudian menjadi persoalan politik. Pangeran Sumedang tidak lagi dipedulikan oleh Sultan Mataram dan akhirnya diasingkan ke Kampung Bembem hingga meninggal. Karena itu, ia kemudian dikenal dengan sebutan Pangeran Bembem.
Setelah peristiwa tersebut, Pangeran Sumedang meminta kakaknya, Pangeran Rangga Gede, kembali ke Sumedang. Namun, ketika tiba di Sumedang, Rangga Gede tidak menemukan putranya, Raden Arya Suriadiwangsa—yang mungkin merupakan Arya Suriadiwangsa II atau Pangeran Wiraraja II. Tokoh tersebut ternyata telah meninggalkan Sumedang bersama para pengikutnya dan pergi ke Banten.
Kepergian inilah yang kemudian menjadi salah satu mata rantai penting dalam menelusuri asal-usul komunitas Sumedang di Tangerang.
Pangeran Rangga Gede dan Pengejaran Dipati Ukur
Setelah mengetahui bahwa putranya telah pergi, Pangeran Rangga Gede dipanggil menghadap ke Mataram. Ia kemudian dipenjarakan.
Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa putri angkatnya memberitahukan kepadanya bahwa ia akan dihukum mati. Namun, ia mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan dirinya: apabila mampu menumpas pemberontakan Dipati Ukur, ia akan dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke Sumedang.
Rangga Gede menerima tugas tersebut. Setelah dibebaskan, ia kembali ke Sumedang dan kemudian berangkat bersama pasukannya untuk mencari Dipati Ukur.
Namun, ketika sampai di Citepus, Pangeran Rangga Gede meninggal dunia. Sementara itu, Dipati Ukur bersama pasukannya telah meninggalkan wilayah Ukur dan bergerak ke arah Banten.
Dengan demikian, cerita tersebut memperlihatkan adanya dua gerakan yang berlangsung hampir bersamaan. Di satu sisi, Pangeran Rangga Gede bergerak dari Sumedang untuk mengejar Dipati Ukur. Di sisi lain, sebagian tokoh dan pengikut dari lingkungan Sumedang justru telah bergerak menuju Banten.
Putra Pangeran Rangga Gede yang juga memperoleh gelar Pangeran Rangga Gempol adalah Ki Tubagus Weruh. Ia tinggal di Mataram dan kemudian menggantikan kedudukan ayahnya. Sultan Mataram mengangkatnya sebagai Rangga Gempol, yang mungkin merupakan Rangga Gempol III.
Ketika Sultan Mataram wafat, Ki Tubagus Weruh berkunjung ke Mataram, yang pada masa itu telah berada di bawah pemerintahan Susuhunan Pakubuwono.
Orang Sumedang yang Meloloskan Diri ke Banten
Dari rangkaian cerita tersebut dapat ditarik dugaan mengenai identitas pembesar Sumedang yang meloloskan diri ke Banten pada masa pemberontakan Dipati Ukur.
Tokoh yang dimaksud kemungkinan adalah Pangeran Arya Suriadiwangsa II atau Wiraraja II.
Namun, terdapat persoalan penting. Dalam Babad Sumedang disebutkan adanya Pangeran Wiraraja II yang meninggalkan Sumedang sekitar 1631–1633. Sementara itu, masyarakat Lengkong mengenal tokoh yang menjadi cikal bakal komunitas mereka sebagai R.A. Wangsakara.
Karena itu, identifikasi R.A. Wangsakara dengan Pangeran Arya Wiraraja II harus ditempatkan sebagai sebuah persoalan sejarah yang masih memerlukan pembuktian melalui perbandingan berbagai sumber.
Tradisi mengenai kepergian tokoh tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks hubungan politik Sumedang dengan Mataram. Pada masa itu, tidak semua orang dari lingkungan Sumedang berada dalam posisi yang sama terhadap kekuasaan Mataram. Sebagian bahkan meninggalkan Sumedang dan mencari tempat perlindungan di wilayah yang berada di luar kontrol langsung Mataram.
Hingga Pangeran Rangga Gede meninggal di Citepus, Dipati Ukur belum berhasil ditangkap. Sebagian pasukannya bahkan telah meloloskan diri ke arah Banten.
Dengan demikian, kedatangan R.A. Wangsakara atau Pangeran Arya Wiraraja II ke wilayah Banten dapat dibaca dalam konteks pergolakan politik yang lebih luas di Priangan pada dekade 1630-an.
Gelombang Pengungsian dari Priangan ke Banten
Keterangan tersebut mendapatkan konteks yang lebih luas dari Sejarah Banten.
Setelah serangan tentara Mataram ke Batavia pada 1628 mengalami kegagalan, banyak orang dari wilayah Priangan—termasuk dari Ukur, Sumedang, dan daerah lainnya—kembali mencari perlindungan. Mereka khawatir terhadap hukuman Mataram sekaligus terdorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan tersebut.
Dipati Ukur sendiri tetap mempertahankan perlawanan. Pada 1630, pasukannya yang berada di Gunung Lumbung masih bertahan menghadapi serangan Mataram. Namun, tekanan yang terus berlangsung menyebabkan sebagian pengikutnya meninggalkan Dipati Ukur.
Mereka mencari perlindungan ke Batavia dan Banten.
Dalam situasi tersebut, Banten menjadi salah satu tempat yang memungkinkan para pendatang dari Priangan menetap. Bahkan, disebutkan bahwa hanya Kesultanan Banten yang memberikan izin kepada mereka untuk menetap di sepanjang Cisadane.
Keterangan ini penting bagi sejarah Lengkong. Jika benar bahwa sebagian orang Sumedang dan pengikut Dipati Ukur bergerak menuju Banten pada masa tersebut, maka kemunculan komunitas Sumedang di sekitar Cisadane bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari arus perpindahan manusia yang terjadi akibat pergolakan politik di Priangan pada awal abad ke-17.
Akhir Pemberontakan Dipati Ukur
Mengenai waktu berakhirnya pemberontakan Dipati Ukur, Sejarah Banten memberikan petunjuk melalui sebuah sangkala atau kronogram tahun yang berbunyi buta tata gati ajrih.
Dalam Sejarah Banten, ungkapan tersebut semula ditafsirkan sebagai tahun 1555 Jawa, yang kira-kira bertepatan dengan 1633/1634 M. Namun, Hoesein Djajadiningrat melakukan koreksi terhadap pembacaan tersebut. Menurutnya, kata buta seharusnya dibaca bata, yang memiliki nilai angka 3.
Dengan demikian, rangkaian kata tersebut menjadi bata tata gati ajrih, yang menunjukkan tahun 1553 Jawa, atau kira-kira antara 30 Juli 1631 sampai 16 Juli 1632 M (Hoesein Djajadiningrat, 1983: 191).
Keterangan ini menarik jika dibandingkan dengan sumber Babad Sumedang yang menyebut keberadaan Pangeran Wiraraja II pada sekitar 1631–1633.
Dengan demikian, terdapat kedekatan waktu antara tiga peristiwa: pergolakan Dipati Ukur, perpindahan sebagian tokoh dari Sumedang menuju Banten, dan munculnya pemukiman yang kemudian dikenal sebagai Lengkong Sumedang.
Namun, kedekatan waktu belum dengan sendirinya membuktikan hubungan langsung. Karena itu, hubungan antara ketiga peristiwa tersebut tetap perlu diperkuat dengan sumber lain.
Lengkong dalam Ruang Politik Kesultanan Banten
Ketika orang-orang Sumedang mulai datang ke wilayah Banten, kesultanan tersebut berada di bawah pemerintahan Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir, yang memerintah pada 1596–1651.
Pada masa pemerintahannya, Banten mulai menghadapi berbagai konflik dengan VOC. Setelah Sultan Abdul Kadir wafat pada 1651, ia digantikan oleh cucunya, Sultan Abdul Fatah, yang lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.
Di bawah Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai bidang pertanian dikembangkan melalui pembangunan saluran-saluran pengairan. Perdagangan antardaerah di Nusantara juga diperluas, demikian pula hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah di Barat, Timur Tengah, Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara.
Pada saat yang sama, perlawanan terhadap VOC semakin meningkat. Konflik tidak hanya berlangsung di pusat Kesultanan Banten, tetapi juga menjalar ke wilayah perbatasan, termasuk kawasan Tangerang dan sepanjang Cisadane.
Pertempuran antara pasukan Banten dan VOC di kawasan Angke–Tangerang terjadi pada 1658 dan 1659. Dalam rangka memperkuat wilayah tersebut, Sultan Ageng Tirtayasa memperbanyak penduduk di Tangerang hingga mencapai kurang lebih 6.000 jiwa.
Kemungkinan, sebagian dari pemukiman tersebut berada di kampung-kampung sepanjang bagian barat Sungai Cisadane, termasuk Lengkong yang kemudian dikenal sebagai Lengkong Sumedang atau Lengkong Ulama.
Kawasan Tangerang pada masa itu bukan sekadar daerah permukiman. Ia merupakan wilayah strategis dalam menghadapi kekuatan VOC yang berada di Batavia, di sebelah timur Cisadane.
Pertempuran antara pasukan Kesultanan Banten dan VOC bahkan disertai dengan penghancuran tanaman dan penggilingan tebu. Berbagai peristiwa tersebut tercatat dalam Sejarah Banten dan diperkuat oleh sumber-sumber historis lain, termasuk arsip VOC dan daghregisters, yaitu catatan harian VOC.
Peristiwa-peristiwa tersebut juga telah dikaji dalam karya Uka Tjandrasasmita, Sultan Ageng Tirtayasa Musuh Besar Kompeni Belanda (1967).
Lengkong sebagai Wilayah Perbatasan Banten
Posisi Lengkong menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan sumber kolonial.
Dalam karya F. de Haan, Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811 (1912), Lengkong yang terletak di pinggir barat Cisadane disebut sebagai wilayah yang berada di bawah kepala-kepala daerah Kesultanan Banten. Salah satu pejabat yang disebut sebagai kepala Tangerang adalah Pangeran Dipati, di bawah Sultan Banten yang tua, yang kemungkinan besar adalah Sultan Ageng Tirtayasa.
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa Lengkong bukan wilayah yang berada di luar dinamika politik Banten. Sebaliknya, letaknya di sisi barat Cisadane menjadikannya bagian dari kawasan strategis yang berbatasan dengan wilayah yang dikuasai VOC.
Bahkan sampai 1682, peperangan masih berlangsung. Ketika VOC menyerang Keraton Tirtayasa dan mendukung Sultan Haji, putra Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha merebut kekuasaan Kesultanan Banten, kawasan Tangerang dan Cisadane masih menjadi bagian dari wilayah konflik.
Dalam berita-berita masa itu, selain Lengkong, disebut pula tempat-tempat seperti Songi Tiga atau Siang Tiga, Pondok Tatsjor, Pondok Kacang, Kampung Kekulonan, Cikokol, Prist Sampora, dan daerah-daerah lainnya.
Dengan demikian, Lengkong berada dalam sebuah jaringan wilayah yang memiliki nilai strategis dalam pertahanan dan politik Kesultanan Banten.
Para Penguasa Tangerang dan Jejak Keturunan Wangsakara
Arsip bertanggal 20 Desember 1668 mencatat beberapa pemimpin yang ditempatkan di Tangerang pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Di antaranya adalah Radin Sina Pattij atau Raden Senapati dan Kieej Daman atau Kiai Demang.
Raden Senapati kemudian digantikan oleh putranya, Raden Aria Wangsadireja, yang beberapa kali datang menghadap VOC dan kemudian meninggal di Kademangan.
Berita Caeff tanggal 4 Maret 1680 juga menyebut sejumlah kepala daerah di Tangerang yang berada di bawah pemerintahan Kesultanan Banten. Di antaranya adalah Kiai Dipati Suradilaha, yang mungkin merupakan Suriadilaga, sebagai kepala Tangerang dan daerah sekitarnya. Saudaranya disebut bernama Tumenggung Yuda Mangagala, yang dalam sumber De Haan disebut Tanumanggala.
Penggantinya mungkin Sutadilaga, saudara Pangeran Wangsadireja.
Rangkaian nama tersebut menjadi menarik apabila dibandingkan dengan silsilah yang disusun Mukri Mian. Nama-nama yang muncul setelah Pangeran Arya Wangsakara dalam silsilah tersebut mungkin merupakan keturunannya yang kemudian memegang peranan dalam pemerintahan Tangerang, termasuk wilayah Lengkong.
Jika hubungan genealogis tersebut dapat dibuktikan, maka sejarah Lengkong tidak hanya berkaitan dengan perpindahan seorang tokoh dari Sumedang. Komunitas tersebut kemungkinan berkembang menjadi bagian dari struktur sosial-politik Tangerang dalam lingkungan Kesultanan Banten.
Keterangan arsip memperlihatkan bahwa proses tersebut terus berlangsung hingga perubahan politik besar di Banten pada akhir abad ke-17.
Pada 2 Juli 1682, misalnya, Kiai Mas Sutadilaga, saudara laki-laki Pangeran Aria Wangsadiraja, tercatat menghadap Gubernur Jenderal. Kemudian, berdasarkan arsip tanggal 2 Januari 1686, Raden Aria Subraja juga tercatat menghadap VOC.
Kiai Mas Aria Sutadilaga kemudian disebut sebagai Bupati Tangerang pertama di bawah perlindungan Kompeni Belanda atau VOC, setelah Kesultanan Banten berada di bawah Sultan Haji.
Dari Kesultanan Banten kepada VOC
Perubahan politik tersebut mencapai titik penting setelah Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dibawa ke Batavia. Ia kemudian dipenjarakan hingga wafat.
Setelah perjanjian antara Sultan Abu Nasr Abdul Kahar atau Sultan Haji dengan VOC pada 17 April 1684, kekuasaan Kesultanan Banten secara politik semakin berada di bawah pengaruh VOC. Kekuasaan ekonomi pun semakin dibatasi, terutama melalui monopoli perdagangan.
Bagi Lengkong, perubahan ini bukan sekadar pergantian penguasa. Posisi strategis wilayah Cisadane membuat kawasan tersebut terus terlibat dalam perubahan ekonomi dan politik.
Sungai Cisadane kemudian menjadi jalur penting pengangkutan hasil perkebunan, termasuk kopi. Kopi dari daerah Bogor diangkut melalui sungai menggunakan perahu hingga menuju Untung Jawa. Dari sana, hasil tersebut dapat diteruskan dengan sarana transportasi yang lebih cepat.
Menurut De Haan, perahu-perahu yang mengangkut kopi dari Lengkong berada di bawah penguasaan Bupati atau regent Tangerang. Pola tersebut berlangsung hingga abad ke-19 (F. de Haan, 1912: 294, 661).
Dengan demikian, letak Lengkong di tepi Cisadane memberikan arti ekonomi yang semakin besar. Sungai yang sejak masa Kesultanan Banten menjadi bagian dari jaringan pertahanan dan mobilitas, kemudian berkembang menjadi jalur pengangkutan komoditas perdagangan.
Lengkong dan Perubahan Kekuasaan
Sejak berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, para Bupati Tangerang semakin berada di bawah pengawasan VOC dan kemudian pemerintahan Hindia Belanda.
Perubahan tersebut semakin kuat setelah Daendels menghapus Kesultanan Banten dan membaginya ke dalam struktur pemerintahan kabupaten, yang kemudian berkembang dalam sistem keresidenan.
Namun, perubahan kekuasaan tersebut tidak menghapus jejak sejarah komunitas yang telah terbentuk sebelumnya.
Dari berbagai sumber sejarah yang ada, dapat terlihat bahwa sejak masa R.A. Wangsakara, Lengkong Sumedang telah berkembang sebagai sebuah perkampungan yang memiliki kedudukan penting. Letaknya berada di sebuah belokan Sungai Cisadane, di sisi barat sungai, yang pada masa Kesultanan Banten merupakan bagian dari kawasan strategis perbatasan.
Posisi tersebut semakin penting pada masa Sultan Ageng Tirtayasa ketika Cisadane menjadi salah satu batas antara wilayah Kesultanan Banten dan wilayah yang berada di bawah pengaruh VOC di sebelah timur.
Dengan demikian, sejarah Lengkong dapat dipahami dalam dua lapisan yang saling berhubungan.
Lapisan pertama adalah sejarah perpindahan komunitas, yaitu kedatangan orang-orang dari Sumedang ke wilayah Banten pada masa pergolakan Dipati Ukur sekitar dekade 1630-an.
Lapisan kedua adalah sejarah pembentukan kawasan strategis Tangerang, ketika Lengkong berkembang di sepanjang Cisadane dan kemudian menjadi bagian dari jaringan pertahanan, pemerintahan, dan perdagangan Kesultanan Banten.
Di antara kedua lapisan tersebut terdapat sosok R.A. Wangsakara, yang dalam tradisi Lengkong dihubungkan dengan Raden Arya Wiraraja II dari Sumedang.
Jika identifikasi tersebut dapat diperkuat melalui perbandingan naskah, silsilah, arsip, sumber Banten, sumber Sumedang, dan bukti arkeologis, maka sejarah Lengkong tidak lagi hanya dapat dilihat sebagai sejarah sebuah kampung. Ia menjadi bagian dari sejarah perpindahan elite dan komunitas Sumedang, pergolakan Priangan pada masa Dipati Ukur, pertumbuhan Kesultanan Banten, serta perebutan ruang strategis di sepanjang Sungai Cisadane antara Banten dan VOC.
Dalam perspektif tersebut, Lengkong Sumedang atau Lengkong Ulama merupakan salah satu titik pertemuan antara sejarah Sumedang, Banten, Tangerang, dan jaringan politik Jawa Barat pada abad ke-17.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif