Dalam Jihad Ada Bekal
Jihad adalah kewajiban yang berlaku sampai hari kiamat. Allah swt. berfirman,
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.” (Al-Baqarah: 216)
Ayat di atas senada dengan kewajiban puasa:
“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Jihad merupakan puncak segala urusan. Sebab, kebenaran harus didukung oleh kekuatan yang melindunginya. Mahabenar Allah yang berfirman,
“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nashrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Hajj: 40)
Masih banyak ayat dan hadis yang berbicara tentang jihad.
Seorang mujahid (baca: pejuang) membutuhkan bekal keimanan dan ketakwaan yang membantunya dalam menapaki setiap tahapan jihad. Ia membutuhkan bekal yang dapat mendorongnya untuk segera memenuhi panggilan jihad tanpa ragu dan tidak lebih berat kepada kekayaan dunia hingga malas berjuang. Ia membutuhkan bekal yang dapat menjadikannya tegar dan pantang mundur dalam peperangan. Ia juga membutuhkan bekal yang dapat menjadikannya ikhlas dalam berjuang, terbebas dari motif-motif duniawi, hingga mendapatkan kesyahidan.
Namun, jihad itu sendiri juga merupakan sumber perbekalan. Ketika seorang muslim berada dalam suasana jihad dan persiapan untuk jihad, ia akan terbebas dari kehinaan dunia, tuntutan fisik, syahwat, dan daya tarik dunia. Ruhnya membumbung tinggi, menatap kenikmatan surga dan menikmati semerbak bau surga. Ketinggian ruhani dan terbebasnya diri dari daya tarik dunia merupakan sebaik-baik bekal.
Seorang pejuang melakukan jihad untuk mewujudkan kemenangan dan kemantapan bagi agama Allah, agar manusia dapat merasakan kebahagiaan dengan nilai-nilai positif yang diajarkan oleh Islam serta terhindar dari kesesatan, kejahatan, dan kesyirikan yang dilarang oleh Islam. Perhatian seperti itu dapat menjadikan pelakunya sebagai pribadi yang berwibawa dan terhormat dibandingkan dengan orang yang sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak pernah berpikir kecuali tentang hal-hal yang tidak bermutu dari urusan dunia.
Orang yang maju berjihad menginginkan keridaan Allah, keberuntungan, kemenangan, atau kesyahidan. Orang yang berada dalam kondisi seperti itu tidak mungkin menyimpan kebencian atau dendam kepada saudara-saudaranya sesama muslim. Ia tidak akan berpikir untuk mengganggu orang, merampas hak orang lain, atau melakukan hal-hal yang membuat Allah murka. Bagaimana mungkin ia melakukan hal itu, padahal ia terjun ke medan perang untuk mencari kesyahidan?
Penyucian jiwa dan mujahadah seperti itu merupakan bekal yang sangat bermanfaat, meskipun ia tidak segera mendapatkan kesyahidan.
Orang yang berjihad fi sabilillah selalu berupaya memerangi godaan setan yang menghambatnya untuk berjihad dengan berbagai sarana: kesenangan, kenyamanan, istri, anak-anak, bayangan tentang susahnya keluarga sepeninggal dirinya, serta berbagai sarana setan lainnya.
Perang melawan godaan setan ini dapat memperkuat kemauan dan menimbulkan imunitas kejiwaan dengan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kekayaan dunia, bertawakal kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, serta yakin bahwa Dia-lah kawan dalam perjalanan dan pengganti bagi keluarga, harta, dan anak.
Semua itu dapat melatih jiwa, memperkuat kemauan, dan membangun kepribadian muslim yang kuat di atas dasar ketakwaan. Dan ini merupakan bekal yang besar.
Mujahid harus melakukan persiapan dan mengupayakan faktor-faktor kekuatan:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal: 60)
Kekuatan yang harus dipersiapkan tidak hanya terbatas pada kekuatan senjata dan logistik, tetapi juga mencakup kekuatan akidah, keimanan, persatuan, ikatan, ilmu, harta, dan seluruh faktor kekuatan lainnya. Terealisasinya hal-hal tersebut merupakan bekal bagi seorang mukmin.
Di samping mengupayakan faktor-faktor kekuatan, mujahid juga harus menghilangkan faktor-faktor kelemahan: kelemahan kemauan, kerisauan, kesedihan, tidak produktif, ketidakberdayaan, malas, minder, pengecut, bakhil, kurang percaya diri, tidak merasa bangga dengan agamanya, dan lain sebagainya.
Rasulullah saw. mengajarkan sebuah doa agar terhindar dari faktor-faktor kelemahan tersebut:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan duka cita. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepada-Mu dari dililit utang dan didominasi orang lain.”
Terbebasnya diri dari kelemahan-kelemahan tersebut merupakan sebaik-baik bekal.
Alangkah tepatnya bila seorang muslim yang telah berazam untuk berjihad menyepi bersama Al-Qur'an. Ia membacanya dan berhenti sejenak untuk meresapi ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah jihad. Sebab, kesiapan mentalnya untuk berjihad dapat memudahkannya meresapi ayat-ayat tersebut secara mendalam.
Dengan begitu, ia akan mendapatkan bekal yang cukup dan pelajaran berharga yang dapat dijadikan pedoman dalam menapaki tahapan-tahapan jihad. Kami sebut beberapa ayat tentang hal tersebut sebagai contoh, agar kita dapat mengetahui sejauh mana kejelasan dan ketelitian Al-Qur'an dalam membahas masalah jihad.
Allah swt. berfirman:
“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.’
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Sebab itu, perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?’
“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.’” (An-Nisa: 74–77)
Kemudian perhatikanlah ayat-ayat yang mengetengahkan dua kondisi yang dihadapi oleh orang mukmin. Kondisi yang pertama menghasilkan pahala yang besar, sementara kondisi yang kedua membawa kepada siksa dan murka Allah.
Allah swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang di jalan Allah)’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksaan yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberikan kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38–39)
Allah juga berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berperang untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Allah dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15–16)
Al-Qur'an juga mengisahkan Thalut dan pasukannya yang melalui beberapa tahapan penyaringan, hingga terseleksilah sekelompok kecil pasukan yang sabar dan tegar serta memohon kepada Allah agar diberi kesabaran dan keteguhan. Dengan kelompok yang sedikit itu, Thalut memperoleh kemenangan.
Allah swt. berfirman:
“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa yang tidak meminumnya, kecuali menciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.’
“Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’
“Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah. Dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah sesudah meninggalnya Thalut dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.
“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 249–251)
Ketika kelompok batil yang tengah berjaya, didukung oleh persenjataan serta peralatan yang lengkap dan jumlah personel yang besar, menakut-nakuti kelompok yang berada di pihak yang hak, hal itu tidak membuat hati para mujahid menjadi ciut. Bahkan, hal itu justru menambah keimanan mereka.
Sebab, mereka benar-benar memahami bahwa kemenangan itu berasal dari Allah dan seluruh kekuatan hanyalah milik Allah. Allah swt. berfirman:
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.’
“Mereka tidak mendapat bencana apa-apa. Mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
“Sesungguhnya mereka (yang menakut-nakuti) itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 173–175)
Demikianlah, dalam suasana jihad iman semakin bertambah kokoh, melebihi masa-masa biasa.
0 komentar: