Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri
Mana yang Lebih Berbahaya: Kekalahan atau Cara Kita Memahaminya?
Mengapa sebuah bangsa kalah?
Apakah semata-mata karena strategi yang keliru?
Karena persenjataannya kalah canggih?
Karena ada pengkhianatan?
Atau justru karena sebab yang jauh lebih dalam daripada semua itu?
Seusai Perang Juni 1967, Dunia Islam dipenuhi berbagai analisis. Ada yang menyalahkan strategi militer. Ada yang menunjuk keterbelakangan ilmu pengetahuan. Ada pula yang bahkan menjadikan agama sebagai kambing hitam.
Namun, benarkah agama penyebab kekalahan itu?
Seorang penulis Muslim terkemuka justru mengingatkan bahwa cara memahami kekalahan bisa lebih berbahaya daripada kekalahan itu sendiri.
Mengapa?
Karena penyakit yang salah didiagnosis tidak akan pernah sembuh. Bahkan ia akan terus berkembang hingga menghancurkan tubuh yang mengidapnya.
Jika penyebab sesungguhnya tidak pernah dicari, maka yang terjadi bukan sekadar kekalahan, melainkan kematian sebuah peradaban.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah, "Mengapa kita kalah?" melainkan, "Apa akar yang melahirkan kekalahan itu?"
---
Apa Akar Kekalahan Itu?
Jika bukan semata-mata strategi...
Jika bukan hanya pengkhianatan...
Jika bukan sekadar keterbelakangan teknologi...
Lalu apa penyebab utamanya?
Menurut penulis, seluruh sebab itu hanyalah cabang. Akar utamanya jauh lebih mendasar.
Umat Islam telah melupakan jati dirinya.
Mereka kehilangan kepribadian karena kehilangan hubungan dengan Allah, kehilangan manhaj-Nya, dan kehilangan ruh yang selama ini menghidupkan peradaban.
Sebagaimana tubuh tanpa ruh hanyalah jasad yang tak bernyawa, demikian pula sebuah umat.
Sebuah umat mungkin memiliki jumlah besar, wilayah luas, bahkan kekuatan material yang mengagumkan. Namun apabila ruhnya padam, ia hanya menjadi kumpulan manusia tanpa daya hidup.
Apakah ruh umat Islam itu?
Bukan nasionalisme.
Bukan ras.
Bukan bahasa.
Melainkan iman.
Ketika iman melemah, umat berubah dari api yang menyala menjadi abu yang mudah diterbangkan angin.
Karena itu, menurut penulis, kekalahan tahun 1967 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan buah dari proses panjang yang telah dimulai jauh sebelumnya, sebagaimana kekalahan tahun 1948, bahkan sebagaimana kemunduran panjang yang pernah dialami Andalusia dan Palestina.
---
Islam yang Dimaksud Bukan Sekadar Ritual
Ketika penulis mengatakan umat kosong dari Islam, ia tidak sedang berbicara tentang hilangnya simbol-simbol agama.
Islam yang dimaksud adalah Islam sebagai satu kesatuan utuh.
Islam yang mencakup akidah.
Ibadah.
Syariat.
Akhlak.
Ilmu pengetahuan.
Sistem kehidupan.
Motivasi perjuangan.
Dan seluruh nilai yang membentuk sebuah peradaban.
Islam tidak dipandang sebagai bagian kecil dari kehidupan, melainkan fondasi yang menyatukan seluruh aspek kehidupan.
---
Apa Akibat Ketika Ruh Itu Hilang?
Menurut penulis, dampaknya muncul dalam banyak bentuk.
1. Hilangnya Semangat Berkorban
Ketika iman melemah, yang tumbuh bukan keberanian, melainkan al-wahan.
Rasulullah ï·º telah memperingatkan penyakit ini.
Para sahabat pernah bertanya mengapa suatu saat umat akan menjadi rebutan berbagai bangsa.
Apakah karena jumlah mereka sedikit?
Beliau menjawab bahwa jumlah mereka justru banyak, tetapi seperti buih di atas arus.
Lalu beliau menjelaskan penyakit itu:
Cinta dunia dan takut mati.
Dalam pandangan penulis, penyakit inilah yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan senjata modern, latihan militer, atau strategi perang.
---
2. Putusnya Persaudaraan Dunia Islam
Akibat berikutnya adalah terlepasnya hubungan umat Islam Arab dengan saudara-saudaranya di berbagai negeri.
Ketika nasionalisme sekuler dijadikan identitas utama, ikatan akidah semakin melemah.
Akibatnya, solidaritas dunia Islam ikut terkikis.
Padahal dahulu, persaudaraan iman merupakan sumber kekuatan yang melampaui batas negara dan bangsa.
---
3. Perpecahan di Dunia Arab
Ketika Al-Qur'an tidak lagi menjadi rujukan bersama, setiap kelompok mencari kiblatnya sendiri.
Ada yang condong ke Barat.
Ada yang condong ke Timur.
Ada yang mengikuti Washington.
Ada yang mengikuti Moskow.
Ada yang mengikuti ideologi lain.
Akibatnya, bangsa Arab tidak lagi dipersatukan oleh satu manhaj, tetapi tercerai-berai oleh berbagai ideologi.
Penulis mengingatkan firman Allah agar mengikuti satu jalan yang lurus dan tidak mengikuti jalan-jalan lain yang menyebabkan perpecahan.
---
4. Jarak antara Penguasa dan Rakyat
Menurut penulis, kekosongan nilai Islam juga menciptakan jurang antara pemerintah dan masyarakat.
Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaan.
Sementara rakyat sibuk mencari keamanan dan penghidupan.
Kepercayaan pun memudar.
Bahkan ketika perang datang, sebagian rakyat tidak lagi yakin bahwa para pemimpin benar-benar berjuang demi kepentingan umat.
---
5. Perpecahan Sosial
Perpecahan tidak berhenti pada tingkat negara.
Ia masuk ke dalam masyarakat.
Masuk ke dalam keluarga.
Ayah berbeda kubu dengan anak.
Saudara saling bermusuhan.
Ideologi menjadi identitas yang lebih kuat daripada persaudaraan.
Padahal Islam pernah mempersatukan mereka seperti satu bangunan yang saling menguatkan.
---
6. Kemerosotan Moral
Menurut penulis, hilangnya ruh Islam juga melahirkan perubahan standar nilai.
Kesucian dianggap keterbelakangan.
Kesederhanaan dianggap kuno.
Sebaliknya, budaya hedonisme, pornografi, hiburan yang membangkitkan syahwat, dan gaya hidup bebas dipandang sebagai simbol kemajuan.
Dalam suasana seperti itulah, masyarakat kehilangan fondasi moralnya.
---
7. Perang Tanpa Kesadaran Spiritual
Inilah puncak kritik penulis.
Menurutnya, umat memasuki perang dengan mengandalkan manusia, senjata, dan kekuatan politik, tetapi melupakan Allah.
Pidato-pidato dipenuhi nama tokoh.
Media dipenuhi slogan.
Artis dan selebritas dijadikan penyemangat.
Namun nama Allah hampir tidak terdengar.
Padahal Al-Qur'an telah memberikan syarat kemenangan:
- teguh menghadapi musuh,
- banyak mengingat Allah,
- taat kepada Allah dan Rasul,
- tidak saling berselisih,
- bersabar.
Pertanyaan yang diajukan penulis sangat menggugah:
Apakah syarat-syarat itu telah dipenuhi?
Jawabannya, menurutnya, adalah belum.
Karena itu, kekalahan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Ia merupakan konsekuensi dari sebab-sebab yang telah lama ditanam.
---
Setelah Kalah, Mengapa Baru Mengingat Allah?
Penulis kemudian mengajukan kritik yang tajam.
Mengapa ketika kemenangan seolah sudah di depan mata, Allah hampir tidak disebut?
Namun setelah kalah, tiba-tiba muncul pertanyaan:
"Di mana Allah?"
Bukankah pertanyaan itu justru menunjukkan bahwa sebelumnya manusia lebih percaya kepada kekuatan selain Allah?
Jika menang, mungkin kemenangan akan dikaitkan dengan senjata, strategi, atau dukungan negara besar.
Tetapi ketika kalah, agama justru dipersalahkan.
Menurut penulis, cara berpikir seperti inilah yang lebih berbahaya daripada kekalahan itu sendiri.
---
"Islam Tidak Pernah Kalah"
Beberapa waktu setelah perang, penulis berkunjung ke Turki.
Di sana muncul pertanyaan yang sangat menyentuh.
"Bagaimana mungkin Islam kalah menghadapi Yahudi?"
Jawabannya singkat tetapi tajam.
"Islam tidak kalah."
Islam, menurutnya, bahkan tidak pernah benar-benar memasuki peperangan itu.
Yang berperang adalah bangsa Arab dengan identitas politik dan ideologi zamannya, bukan dengan karakter generasi mukmin sebagaimana para sahabat.
Andaikan mereka memasuki medan perang dengan ruh yang pernah dimiliki oleh Khalid bin Walid, Abu Ubaidah, dan Sa'd bin Abi Waqqash, maka—menurut keyakinan penulis—jalannya sejarah akan berbeda.
---
Penutup: Kemenangan Tidak Lahir di Medan Perang
Pesan utama tulisan ini bukanlah menolak pentingnya strategi, teknologi, organisasi, atau kekuatan militer.
Semua itu tetap bagian dari sunnatullah.
Namun, penulis mengingatkan bahwa kemenangan tidak hanya dibangun di garis depan pertempuran.
Ia dibangun jauh sebelumnya.
Di ruang pendidikan.
Di dalam keluarga.
Di masjid.
Di sekolah.
Di pemerintahan.
Di akhlak masyarakat.
Dan terutama, di dalam hati manusia.
Karena perang hanyalah saat memanen.
Adapun benih kemenangan atau kekalahan telah ditanam jauh sebelum dentuman pertama terdengar.
0 komentar: