Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban?
Ada lagi penjelasan yang cukup populer setelah kekalahan tahun 1967.
Menurut pandangan ini, penyebab utama kekalahan adalah ketertinggalan bangsa Arab dalam bidang peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Logikanya sederhana.
Apabila bangsa yang lebih maju secara teknologi berhadapan dengan bangsa yang lebih tertinggal, maka kemenangan hampir pasti berada di pihak yang lebih maju.
Benarkah sesederhana itu?
Apakah sejarah memang selalu berjalan menurut rumus tersebut?
Teknologi Memang Penting, Tetapi...
Pandangan seperti ini dikemukakan oleh sejumlah cendekiawan, baik dari dunia Arab maupun dari kalangan negara-negara maju.
Namun sebagian pemikir Muslim mengingatkan agar kesimpulan tersebut tidak diterima begitu saja.
Di antara mereka, Muhammad Jalal Kisyk menilai bahwa bahaya terbesar dari penjelasan semacam ini bukan terletak pada pengakuan akan pentingnya ilmu pengetahuan, melainkan pada kecenderungannya mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu persoalan akidah, karakter, dan kualitas manusia.
Haruskah kita memilih antara iman atau teknologi?
Tentu tidak.
Islam tidak pernah mengajarkan pertentangan antara keduanya.
Tidak ada bangsa yang ingin hidup tertinggal.
Tidak ada masyarakat yang sengaja menolak kemajuan.
Setiap bangsa yang menyadari pentingnya ilmu pengetahuan pasti akan berusaha menguasainya.
Al-Qur'an sendiri memerintahkan kaum beriman untuk mempersiapkan kekuatan semaksimal mungkin.
Karena itu, perlengkapan perang, teknologi, dan penguasaan ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari ikhtiar.
Tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut.
Lalu, Mengapa Kita Masih Berdebat?
Kalau semua sepakat bahwa ilmu pengetahuan penting, mengapa penjelasan itu masih terasa belum memadai?
Karena pertanyaannya bukan lagi:
"Apakah teknologi itu penting?"
Melainkan:
"Mengapa kita tertinggal dalam teknologi?"
Apa yang menyebabkan kita terlambat memasuki era modern?
Mengapa selama bertahun-tahun energi bangsa justru habis pada perdebatan-perdebatan yang tidak menyentuh akar persoalan?
Apakah modernitas hanya dipahami sebatas perubahan gaya hidup?
Apakah kemajuan hanya diukur dari perubahan sosial tertentu, sementara penguasaan ilmu, riset, dan inovasi justru diabaikan?
Kalau demikian, bukankah persoalan sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar kalah perang?
Pelajaran dari Sejarah Islam
Muhammad Jalal Kisyk kemudian mengajukan pertanyaan yang menggugah.
Bagaimana mungkin kita melupakan sejarah kita sendiri?
Ketika kaum Muslimin generasi pertama keluar dari Jazirah Arab, mereka bukanlah bangsa yang unggul dalam teknologi.
Mereka bukan bangsa yang memiliki industri persenjataan paling maju.
Mereka juga bukan pewaris peradaban besar seperti Persia ataupun Romawi.
Bahkan kehidupan mereka sangat sederhana.
Mereka pernah mengira angka seribu adalah bilangan terbesar yang mungkin ada.
Mereka pernah tidak dapat membedakan kapur dengan garam.
Mereka bahkan belum mengenal berbagai jenis pakaian yang lazim dipakai bangsa-bangsa besar ketika itu.
Namun pertanyaannya ialah:
Apakah semua keterbatasan itu menghalangi mereka meraih kemenangan?
Ternyata tidak.
Mereka justru berhasil mengalahkan dua imperium terbesar pada zamannya.
Mereka memasuki wilayah Persia.
Mereka mengguncang kekaisaran Romawi.
Mereka membangun sebuah peradaban yang kelak membentang dari Laut Tengah hingga Asia Tengah.
Kalau demikian, apakah kemenangan mereka lahir karena keunggulan teknologi?
Ataukah ada faktor lain yang lebih mendasar?
Ketika Gajah Menjadi "Senjata Rahasia"
Sejarah bahkan mencatat sebuah kisah yang menarik.
Ketika berhadapan dengan pasukan Persia, sebagian kaum Muslimin untuk pertama kalinya melihat gajah perang.
Bagi mereka, pemandangan itu begitu asing.
Sebagian bahkan mengira gajah adalah senjata buatan Persia, bukan makhluk ciptaan Allah.
Mereka belum pernah menyaksikan binatang sebesar itu digunakan di medan perang.
Namun apakah ketidaktahuan tersebut membuat mereka kehilangan keberanian?
Tidak.
Mereka tidak membiarkan rasa asing berubah menjadi rasa takut.
Sa'd bin Abi Waqqash mencari informasi kepada orang-orang Persia yang telah memeluk Islam.
Ia bertanya bagaimana menghadapi gajah-gajah itu.
Jawabannya sederhana.
Lumpuhkan penglihatannya.
Kemudian Al-Qa'qa' dan Ashim memimpin serangan.
Mereka mengepung gajah utama, mencari celah, lalu secara serempak menghujamkan tombak ke kedua matanya hingga gajah itu roboh.
Setelah gajah utama tumbang, formasi pasukan Persia pun menjadi kacau.
Apa Pelajaran dari Kisah Itu?
Apakah kisah tersebut hendak mengajarkan bahwa teknologi tidak penting?
Sama sekali tidak.
Yang ingin ditunjukkan justru sebaliknya.
Teknologi memang memiliki peranan.
Tetapi teknologi tidak pernah berdiri sendiri.
Di balik peralatan perang tetap ada manusia yang menggunakannya.
Di balik senjata tetap ada keberanian.
Di balik strategi tetap ada kepemimpinan.
Di balik kemenangan tetap ada disiplin, keyakinan, dan kesiapan berkorban.
Karena itu, sejarah Islam memperlihatkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga oleh kualitas orang yang memegang alat tersebut.
Pelajaran untuk Kekalahan 1967
Lalu bagaimana kita memahami kekalahan tahun 1967?
Apakah semata-mata karena Israel lebih maju dalam teknologi?
Ataukah ketertinggalan teknologi hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang lebih mendasar?
Barangkali persoalan yang sesungguhnya bukan sekadar kurangnya senjata, melainkan kurangnya manusia yang mampu membangun ilmu, menjaga amanah, memimpin dengan benar, dan memanfaatkan teknologi secara optimal.
Sebab teknologi dapat dibeli.
Persenjataan dapat diimpor.
Namun karakter, integritas, disiplin, kepemimpinan, dan kekuatan moral tidak dapat dibeli dari bangsa mana pun.
Di situlah letak pelajaran terbesar.
Peradaban tidak hanya dibangun oleh mesin-mesin yang canggih.
Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu memadukan ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan keyakinan dalam setiap langkahnya.
0 komentar: