Ada pula penjelasan lain yang sering dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tentang kekalahan tahun 1967.
Jawabannya singkat.
"Semua ini terjadi karena pengkhianatan."
Benarkah demikian?
Apakah sebuah bangsa dapat runtuh hanya karena dikhianati oleh segelintir orang?
Ataukah pengkhianatan hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang jauh lebih dalam?
Memang, kemungkinan adanya pengkhianatan tidak dapat begitu saja disangkal.
Sejarah setiap bangsa memperlihatkan bahwa selalu ada orang yang rela menjual negeri, kehormatan, bahkan bangsanya sendiri demi kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan.
Orang yang kehilangan iman akan mudah kehilangan amanah.
Orang yang terbiasa mengkhianati Allah dan Rasul-Nya tidak akan merasa berat mengkhianati tanah airnya sendiri.
Karena itu, kemungkinan adanya individu-individu yang berkhianat tetap harus diakui.
Namun pertanyaannya adalah:
Apakah pengkhianatan segelintir orang cukup menjelaskan kehancuran seluruh bangsa?
Seberapa Jauh Pengkhianatan Menjelaskan Kekalahan?
Mari kita berpikir lebih jernih.
Kalau benar ada sebagian pemimpin yang berkhianat, mengapa dampaknya begitu menyeluruh?
Mengapa hampir seluruh sistem pertahanan ikut runtuh?
Mengapa para komandan di berbagai lini mengalami kegagalan pada waktu yang hampir bersamaan?
Mengapa kekalahan menjalar ke seluruh medan perang?
Bukankah pengkhianatan pada umumnya dilakukan oleh individu atau kelompok kecil?
Bukankah sangat sulit membayangkan seluruh bangsa melakukan pengkhianatan secara serempak?
Terlebih lagi, dalam masyarakat Muslim, pengkhianatan terhadap agama dan bangsa bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Kalau pun ada, jumlahnya tentu terbatas pada individu-individu yang telah melepaskan nilai-nilai yang mereka yakini.
Karena itu, jika memang terdapat pengkhianatan, kemungkinan besar ia hanya menjelaskan sebagian peristiwa.
Ia tidak cukup menjelaskan keseluruhan kehancuran.
Mengapa Penjelasan Ini Begitu Populer?
Lalu mengapa tuduhan pengkhianatan begitu mudah diterima?
Barangkali karena penjelasan ini terasa sederhana.
Ia menyediakan seorang "tersangka" yang dapat disalahkan.
Dengan menunjuk beberapa orang sebagai pengkhianat, perhatian masyarakat pun dialihkan dari persoalan yang lebih mendasar.
Sistem tidak lagi dipertanyakan.
Cara memimpin tidak lagi dievaluasi.
Budaya politik tidak lagi dikritisi.
Yang dipersoalkan hanyalah siapa yang mengkhianati.
Padahal, jika akar persoalan sebenarnya berada pada sistem yang rusak, maka mengganti beberapa orang saja tidak akan mengubah keadaan.
Wajah pemerintahan mungkin berubah.
Nama para pemimpin mungkin berganti.
Namun apabila cara berpikir, budaya kekuasaan, dan mekanisme yang melahirkan kegagalan tetap dipertahankan, maka hasil akhirnya pun tidak banyak berbeda.
Apa Hakikat Sebuah Pengkhianatan?
Sebuah pertanyaan penting perlu diajukan.
Kapan sebuah tindakan layak disebut sebagai pengkhianatan yang menjadi penyebab utama kehancuran bangsa?
Pengkhianatan memang dapat menjadi faktor penentu apabila sebuah negara sebenarnya telah memiliki sistem yang sehat, pemerintahan yang baik, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Dalam keadaan seperti itu, kerusakan memang bisa berasal dari pengkhianatan segelintir orang.
Namun bagaimana jika sistemnya sendiri telah dipenuhi berbagai kelemahan?
Bagaimana jika kesalahan telah berlangsung lama?
Bagaimana jika budaya yang berkembang justru membuka ruang bagi lahirnya pengkhianatan?
Dalam keadaan seperti itu, pengkhianatan bukan lagi sebab pertama.
Ia justru menjadi buah dari kerusakan yang telah lebih dahulu mengakar.
Bahaya Mengkultuskan Pemimpin
Ada bentuk pengkhianatan lain yang sering luput disadari.
Bukan pengkhianatan kepada musuh.
Melainkan pengkhianatan terhadap akal sehat.
Hal itu terjadi ketika seorang pemimpin ditempatkan di atas kritik.
Ia dianggap selalu benar.
Ia dipandang tidak mungkin keliru.
Setiap keberhasilan dinisbatkan kepadanya.
Setiap kegagalan selalu dibebankan kepada orang lain.
Dalam budaya seperti itu, pemimpin berubah menjadi sosok yang seolah-olah tidak pernah salah.
Ia dipuja layaknya pahlawan tanpa cela.
Selama kemenangan datang, semua pujian diarahkan kepadanya.
Namun ketika kekalahan terjadi, kesalahan segera dicari pada bawahan, rakyat, bahkan pada pengkhianatan orang lain.
Seolah-olah sang pemimpin kehilangan "keris pusaka" yang selama ini dianggap sebagai sumber seluruh kehebatannya.
Padahal, tidak ada manusia yang kebal dari kekeliruan.
Tidak ada kepemimpinan yang boleh diletakkan di atas evaluasi.
Bangsa yang menggantungkan nasibnya kepada kultus individu sedang membuka pintu bagi lahirnya kesalahan yang tidak lagi berani dikoreksi.
Dan ketika kesalahan tidak boleh dikoreksi, kekalahan sering kali hanya tinggal menunggu waktu.
0 komentar: