Sirah dan Kemantapan Jiwa dalam Perjuangan
Mengapa Al-Qur'an begitu sering mengisahkan perjalanan para nabi?
Apakah kisah-kisah itu sekadar catatan sejarah?
Apakah hanya untuk menambah pengetahuan tentang masa lalu?
Ternyata tidak.
Dalam pandangan Al-Qur'an, sejarah bukan sekadar rekaman peristiwa. Sejarah adalah sarana membangun jiwa, meneguhkan hati, dan membangkitkan harapan. Sebuah umat yang mengenal sejarahnya akan lebih mudah memahami jati dirinya, sedangkan umat yang melupakan sejarahnya berisiko kehilangan arah dan kepercayaan diri.
Ketika Nabi Musa Membangkitkan Mental Bani Israil
Salah satu contohnya tampak dalam dakwah Nabi Musa 'alaihissalam kepada Bani Israil.
Allah berfirman,
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikan kamu orang-orang merdeka, dan memberikan kepadamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.'"
(QS. Al-Ma'idah [5]: 20)
Mengapa Nabi Musa memulai dengan mengajak mereka mengingat sejarah?
Karena Bani Israil saat itu telah lama hidup dalam penindasan. Pengalaman sebagai bangsa yang diperbudak membuat mereka kehilangan rasa percaya diri. Mereka lebih mengenal penderitaan daripada kemuliaan yang pernah Allah anugerahkan kepada mereka.
Maka Nabi Musa tidak hanya mengajak mereka berjuang, tetapi terlebih dahulu membangunkan ingatan mereka tentang nikmat Allah dan identitas yang pernah mereka miliki.
Sebab seseorang yang lupa akan sejarah kemuliaannya sering kali sulit membayangkan masa depan yang mulia.
Pelajaran bagi Umat Islam
Bukankah pelajaran ini juga relevan bagi umat Islam?
Umat Islam memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Sejarah para nabi, perjalanan Rasulullah ï·º, serta pengorbanan para sahabat merupakan warisan yang membentuk identitas umat.
Namun, sejarah itu bukan untuk dibanggakan secara kosong.
Ia adalah sumber inspirasi agar setiap generasi memiliki semangat untuk melanjutkan perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.
Karena itu, semangat kaum Muslim tidak boleh menyerupai sikap Bani Israil ketika diperintahkan memasuki tanah suci.
Sebaliknya, semangat yang patut diteladani adalah jawaban Sa'ad bin Mu'adz kepada Rasulullah ï·º menjelang Perang Badar,
"Wahai Rasulullah, berangkatlah. Kami tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, 'Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sedangkan kami duduk menunggu.' Akan tetapi kami berkata, 'Pergilah engkau bersama Tuhanmu. Sesungguhnya kami akan berjuang bersamamu.'"
Kalimat ini lahir dari hati yang telah dibentuk oleh iman, bukan sekadar oleh semangat sesaat.
Sirah Adalah Modal Kebangkitan
Mengapa perjalanan Rasulullah ï·º dan para sahabat begitu penting untuk dipelajari?
Karena sirah bukan hanya menceritakan apa yang terjadi.
Sirah menunjukkan bagaimana iman diterapkan dalam kehidupan.
Bagaimana menghadapi tekanan.
Bagaimana menyusun strategi.
Bagaimana bersabar.
Bagaimana memimpin.
Bagaimana bangkit setelah mengalami kegagalan.
Itulah sebabnya Al-Qur'an sendiri dipenuhi kisah-kisah para nabi.
Allah berfirman,
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur'an bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yusuf [12]: 111)
Sejarah dalam Al-Qur'an selalu mengandung pelajaran, bukan sekadar informasi.
Mengapa Allah Menceritakan Kisah Para Rasul?
Pertanyaan berikutnya adalah, untuk apa Allah menceritakan kisah para rasul kepada Nabi Muhammad ï·º?
Allah sendiri memberikan jawabannya,
"Dan semua kisah para rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Dalam kisah-kisah itu telah datang kepadamu kebenaran, pelajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Hud [11]: 120)
Perhatikan tujuan utamanya.
"...agar Kami meneguhkan hatimu."
Berarti sirah memiliki fungsi membangun tsabat—keteguhan hati.
Jika Rasulullah ï·º yang menerima wahyu saja diteguhkan melalui kisah para nabi sebelumnya, bukankah umat beliau juga memerlukan sirah untuk menguatkan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan?
Bagaimana Sirah Meneguhkan Hati?
Lalu muncul pertanyaan,
Bagaimana mungkin membaca sejarah dapat menguatkan jiwa?
Jawabannya sederhana.
Ketika seseorang melihat bahwa para nabi juga menghadapi penolakan, kesulitan, fitnah, bahkan ancaman, ia menyadari bahwa jalan dakwah memang penuh ujian.
Ia tidak lagi merasa sendirian.
Ia memahami bahwa kesabaran selalu mendahului kemenangan.
Ia belajar bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang paling tepat.
Dengan demikian, sirah bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan cara menghadapi kehidupan.
Menyelaraskan Diri dengan Jejak Para Nabi
Ada sebuah perumpamaan yang menarik.
Sirah diibaratkan sebagai pemancar yang terus mengirimkan sinyal.
Namun, sinyal itu hanya dapat diterima apabila penerimanya berada pada frekuensi yang sama.
Demikian pula hati manusia.
Semakin seseorang menyelaraskan iman, amal, dan perjuangannya dengan jalan para nabi dan orang-orang saleh, semakin dalam pula ia menangkap hikmah yang terkandung dalam sirah.
Sebaliknya, apabila hati jauh dari nilai-nilai yang mereka perjuangkan, kisah-kisah itu mungkin hanya menjadi cerita tanpa bekas.
Renungan
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah,
"Sudah berapa banyak buku sirah yang telah kubaca?"
Melainkan,
"Apakah sirah telah menjadikan hatiku lebih teguh, imanku lebih kuat, dan langkahku lebih jelas?"
Sebab tujuan utama mempelajari sirah bukanlah memenuhi ingatan dengan nama, tanggal, dan peristiwa.
Tujuan utamanya adalah membentuk hati yang kokoh, menumbuhkan harapan di tengah ujian, serta melahirkan keyakinan bahwa siapa pun yang berjalan di atas petunjuk Allah akan selalu memiliki arah, meskipun jalan yang ditempuh penuh dengan tantangan.
0 komentar: