«"Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur'an bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yusuf [12]: 111)»
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas seluruh agama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Kemiskinan yang Paling Berbahaya
Apakah kemiskinan hanya berarti kekurangan harta?
Apakah sebuah bangsa disebut miskin semata-mata karena lemahnya ekonomi atau terbatasnya sumber daya alam?
Al-Qur'an mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang lebih dalam.
Ada kemiskinan yang jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan materi, yaitu kemiskinan iman, kemiskinan ilmu, dan kemiskinan keteladanan. Inilah kemiskinan yang dapat menyeret suatu bangsa kepada kehinaan, membuatnya kehilangan jati diri, lalu hidup di bawah dominasi bangsa lain.
Sebuah bangsa mungkin memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi jika kehilangan arah hidup, kekayaan itu tidak selalu mampu mengangkat martabatnya.
Sebaliknya, bangsa yang memiliki keyakinan, visi, dan teladan yang benar sering kali mampu bangkit meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Bangsa yang Kehilangan Sejarah akan Kehilangan Masa Depan
Mengapa sebagian bangsa sulit bangkit?
Salah satu sebabnya adalah karena mereka kehilangan hubungan dengan sejarah yang membentuk identitasnya.
Bangsa yang tidak mengenal perjalanan masa lalunya akan kesulitan menemukan arah masa depannya. Mereka tidak memiliki teladan yang menginspirasi, tidak memiliki kebanggaan yang membangun semangat, dan akhirnya mudah menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak mungkin diubah.
Dalam kondisi seperti itu, mentalitas sebagai pihak yang selalu kalah atau bergantung kepada orang lain dapat tumbuh tanpa disadari.
Warisan Agung yang Terlupakan
Umat Islam sesungguhnya memiliki warisan sejarah yang sangat kaya.
Sirah Rasulullah ﷺ bukan sekadar catatan kronologis perjalanan hidup seorang nabi, tetapi juga sekolah peradaban yang mengajarkan akidah, kepemimpinan, pendidikan, dakwah, strategi, kesabaran, hingga cara membangun masyarakat.
Demikian pula kisah para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Semuanya bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu tentang masa lalu, melainkan menjadi pelajaran bagi setiap generasi.
Namun, mengapa warisan sebesar itu sering kali tidak menjadi bagian penting dalam pendidikan umat?
Pertanyaan inilah yang patut direnungkan.
Ketika Sirah Tidak Lagi Menjadi Arus Utama
Pada masa lalu, pendidikan Islam banyak bertumpu pada tiga disiplin utama.
1. Akidah
Akidah mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Allah, menanamkan keimanan serta kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Sang Pencipta.
2. Fikih
Fikih membimbing umat dalam ibadah dan berbagai aturan kehidupan sehingga seorang Muslim mengetahui bagaimana menjalankan syariat dengan benar.
3. Akhlak
Akhlak membentuk kepribadian, adab, dan penyucian jiwa agar ilmu melahirkan perilaku yang mulia.
Ketiga bidang ini sangat penting.
Namun, apakah ketiganya sudah cukup?
Di sinilah penulis mengajukan sebuah renungan.
Tanpa pemahaman yang memadai terhadap sirah Nabi ﷺ dan sejarah Islam, hubungan emosional antara umat dengan generasi terbaik Islam dapat menjadi lemah.
Padahal sirah menghadirkan contoh nyata tentang bagaimana akidah diwujudkan, bagaimana fikih diterapkan, dan bagaimana akhlak dipraktikkan dalam kehidupan.
Sirah bukan sekadar pelengkap.
Ia adalah jembatan yang menghubungkan ilmu dengan teladan.
Ketika Sejarah Hanya Menjadi Tradisi
Di banyak tempat, kisah Rasulullah ﷺ tetap dibacakan melalui syair, qasidah, atau karya sastra keagamaan.
Tradisi ini memiliki nilai budaya dan spiritual yang penting.
Namun, apabila pembacaan tersebut tidak disertai pendalaman terhadap pelajaran sejarah, strategi dakwah, dan hikmah perjuangan Rasulullah ﷺ, maka manfaatnya menjadi tidak optimal.
Sirah bukan hanya untuk dinikmati.
Sirah adalah pedoman untuk dipahami, direnungkan, lalu diamalkan.
Pengaruh Kolonialisme terhadap Cara Pandang Sejarah
Penulis juga mengangkat satu persoalan lain yang perlu dipikirkan.
Pada masa kolonial, sistem pendidikan di banyak negeri Muslim mengalami perubahan besar.
Dalam berbagai konteks, sejarah sering disusun berdasarkan sudut pandang penguasa kolonial atau kepentingan nasional tertentu. Akibatnya, sebagian masyarakat menjadi lebih akrab dengan narasi sejarah lokal atau nasional, sementara kontribusi peradaban Islam terhadap perkembangan wilayah mereka kurang mendapat perhatian.
Akibatnya, lahirlah generasi yang mengenal tokoh-tokoh masa lampau, tetapi kurang memahami bagaimana Islam membentuk perjalanan sejarah bangsanya.
Fenomena ini tentu berbeda-beda di setiap negara dan menjadi kajian yang masih terus didiskusikan oleh para sejarawan.
Mengapa Sirah Tetap Penting?
Sirah bukan sekadar mengenang masa lalu.
Sirah mengajarkan bagaimana menghadapi ujian.
Bagaimana membangun masyarakat.
Bagaimana menyikapi kemenangan.
Bagaimana bersabar ketika mengalami kekalahan.
Bagaimana berdakwah dengan hikmah.
Bagaimana memimpin dengan adil.
Semua itu tetap relevan bagi setiap zaman.
Renungan
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah,
"Apakah kita mengetahui banyak kisah sejarah?"
Melainkan,
"Apakah sejarah itu telah mengubah cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan?"
Sebab Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa kisah para nabi bukanlah cerita yang dibuat-buat.
Ia adalah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Ketika sirah dipahami sebagai sumber hikmah, bukan sekadar cerita, sejarah tidak lagi menjadi kumpulan peristiwa masa lalu.
Ia berubah menjadi cahaya yang menuntun langkah umat menuju masa depan.
0 komentar: