Islamisasi Persoalan Palestina
Di antara hal yang mesti dilakukan dalam rangka pembinaan intelektual ini adalah mengaitkan persoalan Palestina dengan akarnya yang asli, yakni Islam, lalu mengalihkannya dari sekadar persoalan kebangsaan yang sempit menjadi persoalan yang lebih luas.
Barangkali di antara para cerdik pandai kita ada yang menganggap bahwa islamisasi persoalan Palestina ini akan terlalu riskan bagi persoalan yang kita hadapi. Hal itu disebabkan karena dunia sekarang ini sudah demikian risi manakala agama disebut-sebut dalam persoalan politik. Mereka pasti akan menuduh kita sebagai bangsa reaksioner dan terbelakang. Karena itu, mereka mengharapkan agar persoalan Palestina kita tempatkan semata-mata sebagai persoalan bangsa Arab.
Celakanya, orang-orang yang berpandangan demikian justru adalah orang-orang yang mengatakan bahwa orang-orang Israel telah menempatkan persoalan mereka di atas asas keagamaan, atau setidak-tidaknya menempatkan aspek keagamaan tersebut sebagai pertimbangan utama yang dengan rajin mereka propagandakan ke luar negeri dan ditanamkan secara kuat di dalam negeri mereka sendiri.
Dalam memoir-nya, halaman 17, Weizman mengatakan:
«"Ketika saya menghadap Lord Balfour, Menteri Luar Negeri Inggris, ia segera mengemukakan pertanyaan kepada saya: 'Mengapa Anda tidak bisa menerima bila harus mendirikan negara nasional di Uganda?' Maka saya pun menjawab: 'Kalau dikatakan bahwa Zionis itu adalah gerakan politik kebangsaan, maka hal itu memang benar. Akan tetapi, aspek keagamaan yang ada di dalamnya tak mungkin diabaikan begitu saja. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa apabila kita mengabaikan aspek spiritual ini, niscaya kita tidak mungkin dapat merealisasikan impian politik nasional kita itu.'"»
Itu dikatakan sendiri oleh Weizman tanpa ada seorang pun yang menuduhnya sebagai reaksioner.
Kita sudah berpengalaman lebih dari dua puluh tahun meneriakkan kepada dunia bahwa Palestina itu adalah negeri orang-orang Arab yang dirampok oleh imperialis, yang kemudian diserahkan kepada Zionis. Nah, apakah teriakan-teriakan kita itu bermanfaat? Apakah ada yang mendengarkannya atau tersentuh hatinya untuk mendukung kita?
Sama sekali tidak!
Rahasia dari semuanya itu adalah apa yang dikatakan oleh Sayyid Abdullah al-Tall berikut ini:
«"Imperialisme Barat akan selamanya menertawakan kita sepanjang kita mencoba menyelesaikan persoalan Palestina atas dasar bahwa ia merupakan negeri bangsa Arab yang dirampok oleh imperialisme dan Zionisme. Hal itu disebabkan karena logika kita itu tidak masuk di akal bangsa Amerika yang merupakan pakar paling ulung dalam mendukung imperialisme di dunia ini, dan yang membiayai seluruh hidupnya dengan cara merampok kekayaan bangsa lain. Argumentasi kita yang seperti itu tak mungkin pula bisa diterima oleh bangsa Eropa yang hidup selamanya menghidupi dirinya dengan memeras keringat bangsa lain dan ikut bergabung dengan Amerika dalam gerakan-gerakan imperialismenya.»
«Bangsa Eropa dan Amerika tidak pernah menganggap sebagai suatu kejahatan perampokan-perampokan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang beradab itu (!!) terhadap negara-negara Arab yang primitif, dan mereka pun tidak memandang jahat manakala orang-orang Yahudi itu menumpas orang-orang Palestina sebagaimana halnya dengan bangsa Amerika yang menumpas orang Indian kulit merah.»
«Dan begitu kita mengubah strategi menghadapi pertempuran di Palestina dan menyatakan bahwa Palestina itu tidak saja merupakan negeri bangsa Arab, melainkan milik seluruh 700 juta kaum Muslimin yang berani menebusnya dengan tetesan darah mereka yang penghabisan, karena Palestina itu memang merupakan tanah suci bagi mereka, yang keterikatan mereka dengan negeri ini terbentuk karena ikatan keagamaan dan kesejarahan yang jauh lebih kuat tinimbang ikatan yang diciptakan oleh orang-orang Yahudi melalui dana besar mereka di Palestina, maka saat itu kita pun menjadi kuat dan kendali kekuasaan pasti berada di tangan kita."14)»
Akan tetapi, hal itu menuntut kepada kita untuk menyatakan islamisasi persoalan Palestina dan tidak sekadar islamisasi peradabannya saja. Sebelum kita melakukan islamisasi persoalan kita, tidak bisa tidak kita mesti menyatakan dan memberlakukan islamisasi masyarakat, pemerintahan, dan konsepnya. Kita tidak cukup hanya merombak nasionalisme, sosialisme, atau liberalisme menjadi sistem yang islami.
Selain itu, kita pun tidak bisa tidak harus mengumandangkan seruan dan bekerja keras guna merealisasikan alternatif pemecahan yang islami di masyarakat, sebagai ganti dari solusi sosialisme atau konsep-konsep dan ajaran-ajaran lain sebelumnya.
Tanpa semuanya itu, kita tidak mungkin memperoleh "orang-orang Islam" yang mampu memenangkan perang Palestina, yang dalam pandangan Islam merupakan persoalan mereka. Sebab, ajaran Islam memang menempatkan setiap jengkal tanahnya sebagai tanah air bagi setiap Muslim yang harus ia tebus dengan jiwa dan raganya.
Sampai di sini menjadi jelaslah kepada kita sejauh mana ikatan antara persoalan Palestina dengan persoalan Islam itu sendiri. Persoalan Palestina tidak terpisahkan dari persoalan Islam yang besar, dengan dasar bahwa Islam itu merupakan konsep, akidah, dan manhaj hidup yang mengikat masyarakat serta petunjuk Allah.
Kalaulah tidak karena lemahnya syariat yang menetapkan hukum masyarakat melalui keislaman yang dimiliki oleh para pemeluknya, baik dalam kehidupan sehari-hari mereka maupun dalam pemerintahan mereka yang lebih bercorak sekular, niscaya Zionisme Israel tidak mungkin dapat menemukan tanah di jantung negeri-negeri Islam ini.
Begitu suatu persoalan tentang Islam harus diselesaikan, maka hal itu berarti menyangkut pula persoalan Palestina dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu.
Dan di saat Islam telah menyebarkan akidahnya, syariahnya, akhlak dan konsep-konsepnya, etika dan tradisinya, lalu semuanya terjasadkan dalam diri masyarakat—betapapun sedikit dan kecilnya ia—yang dengan itu terbentuklah satu pemerintahan yang diikat dengan nama Allah, maka pada waktu itu orang-orang Israel pasti tidak akan mampu bertahan lama.
Karena itu, manakala putra-putra Palestina, putra-putra Arab, dan seluruh kaum Muslimin ini bekerja keras untuk membebaskan Palestina dan mengusir musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka sendiri dari tanah air mereka, maka hendaknya terlebih dahulu mereka membebaskan diri mereka dari penghambaan terhadap sesama manusia dan dari mengambil petunjuk selain petunjuk yang diberikan-Nya. Kemudian, hendaknya mereka sungguh-sungguh kembali kepada Islam.
Inilah jalan yang paling bisa menjamin—sekalipun ia teramat berat untuk dilalui—terbebasnya Palestina.
Sebaliknya, sepanjang persoalan Islam itu sendiri tidak mungkin sejalan dengan pola pikir mereka, dan tidak pula mereka anggap sebagai kewajiban yang mengharuskan mereka menaruh perhatian dan berjihad; sepanjang akidah itu mereka anggap lebih rendah daripada tanah yang mereka pijak, dan syariat Allah lebih ringan ketimbang debu yang beterbangan di kaki mereka, maka sungguh akan jauh—jauh sekali, sejauh panggang dari api—datangnya pertolongan Allah yang dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang beriman.
Herzl mengatakan di depan Konferensi Zionis Pertama yang dihadiri oleh tokoh-tokoh mereka:
«"Kembali kita ke Zion ini haruslah didahului dengan kembali kita kepada Yudaisme."»
Dan kalau kaum mukminin boleh mengambil hikmah dari ucapan musuh-musuhnya, maka kita wajib menyerukan kepada umat kita:
«"Kembali kita ke Palestina haruslah didahului dengan kembali kita kepada Islam!"»
0 komentar: