Apakah kisah-kisah dalam Al-Qur'an sekadar rangkaian cerita sejarah?
Apakah tujuan Al-Qur'an menceritakan perjalanan Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Yusuf, Maryam, atau Muhammad SAW hanya agar kita mengetahui siapa mereka dan apa yang pernah mereka alami?
Jika demikian, mengapa Allah mengulang sebagian kisah dalam surah yang berbeda dengan penekanan yang berbeda pula?
Jawabannya terletak pada cara kita membaca Al-Qur'an. Kisah-kisah Al-Qur'an bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan petunjuk untuk memahami kehidupan. Menariknya, metodologi untuk membaca seluruh kisah itu justru telah Allah letakkan pada surah yang paling sering kita baca: Surat Al-Fatihah.
Al-Fatihah bukan hanya pembuka Al-Qur'an. Ia adalah peta berpikir seorang mukmin ketika membaca seluruh isi Al-Qur'an.
Pertama, Mulailah dengan Kesadaran tentang Allah
Allah membuka Al-Fatihah dengan firman-Nya,
«"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Fatihah: 1).»
Mengapa kisah harus dimulai dengan basmalah?
Karena Al-Qur'an tidak pernah mengajak pembacanya memandang sejarah hanya sebagai rangkaian sebab-akibat material. Setiap kisah harus dibaca dengan kesadaran bahwa Allah selalu hadir mengatur seluruh peristiwa.
Tidak ada kemenangan yang terjadi semata-mata karena strategi.
Tidak ada kehancuran yang terjadi semata-mata karena kelemahan ekonomi atau militer.
Di balik seluruh peristiwa ada kehendak Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Basmalah mengajarkan bahwa tokoh utama dalam setiap kisah Al-Qur'an bukanlah manusia, melainkan Allah yang mengatur perjalanan manusia.
Kedua, Lihat Allah sebagai Rabb Semesta Alam
Setelah itu Allah berfirman,
«"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-Fatihah: 2).»
Mengapa Allah memperkenalkan diri sebagai Rabb al-'Alamin?
Karena seluruh kisah dalam Al-Qur'an memperlihatkan bagaimana Allah mendidik manusia dan mengelola sejarah.
Allah mendidik Nabi Adam melalui kesalahan.
Allah membimbing Nabi Ibrahim melalui ujian.
Allah membentuk Nabi Yusuf melalui penderitaan.
Allah mempersiapkan Nabi Musa melalui pengasingan.
Allah memuliakan Nabi Muhammad SAW melalui berbagai tantangan dakwah.
Dengan demikian, ketika membaca kisah Al-Qur'an, pertanyaan pertama bukanlah, "Apa yang dilakukan tokohnya?"
Melainkan,
"Bagaimana Allah mendidik tokoh tersebut?"
Di situlah letak pelajaran yang sesungguhnya.
Ketiga, Carilah Jejak Kasih Sayang Allah
Al-Fatihah kembali mengulang,
«"Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Fatihah: 3).»
Mengapa sifat rahmat diulang?
Karena rahmat Allah sering kali tersembunyi di balik peristiwa yang tampak menyakitkan.
Bukankah Nabi Yusuf dipisahkan dari ayahnya demi menjadi penyelamat Mesir?
Bukankah Nabi Musa dihanyutkan ke Sungai Nil agar selamat dari Fir'aun?
Bukankah hijrah Rasulullah SAW yang tampak sebagai pengusiran justru menjadi awal lahirnya peradaban Islam?
Sering kali manusia hanya melihat ujian.
Al-Qur'an mengajak kita melihat rahmat yang sedang dipersiapkan Allah di balik ujian tersebut.
Keempat, Ingatlah Akhir Seluruh Kisah
Allah kemudian berfirman,
«"Pemilik Hari Pembalasan." (QS. Al-Fatihah: 4).»
Mengapa hari pembalasan disebut sejak awal?
Karena Al-Qur'an tidak pernah menilai keberhasilan hanya dari ukuran dunia.
Fir'aun pernah tampak berjaya.
Qarun pernah tampak kaya.
Namrud pernah tampak berkuasa.
Namun, apakah akhir mereka membuktikan keberhasilan?
Sebaliknya, para nabi sering tampak lemah di hadapan manusia, tetapi mereka memperoleh kemenangan yang hakiki di sisi Allah.
Karena itu, setiap kisah Al-Qur'an harus dibaca hingga akhir, bukan hanya pada potongan peristiwanya.
Kelima, Temukan Bentuk Ibadah dan Tawakal
Selanjutnya Allah mengajarkan doa,
«"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5).»
Setelah membaca sebuah kisah, pertanyaan berikutnya adalah,
Bagaimana tokoh tersebut beribadah kepada Allah?
Bagaimana mereka bertawakal ketika seluruh jalan seakan tertutup?
Di sinilah inti kisah-kisah Al-Qur'an.
Nabi Nuh tetap berdakwah meski ditolak.
Nabi Ibrahim tetap taat ketika diperintahkan menyembelih putranya.
Nabi Musa tetap melangkah ketika laut berada di hadapan dan Fir'aun mengejar dari belakang.
Setiap kisah selalu memperlihatkan perpaduan antara usaha maksimal dan ketergantungan total kepada Allah.
Keenam, Carilah Jalan Lurus
Allah kemudian mengajarkan,
«"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6).»
Mengapa setelah membaca kisah kita harus meminta hidayah?
Karena tujuan kisah bukan sekadar menambah pengetahuan.
Tujuannya adalah mengubah arah hidup.
Ilmu yang tidak mengubah langkah hanyalah informasi.
Hidayah adalah ilmu yang melahirkan perubahan.
Maka setiap selesai membaca kisah Al-Qur'an, seorang mukmin seharusnya bertanya,
Apa jalan lurus yang Allah tunjukkan melalui kisah ini?
Ketujuh, Tentukan Jalan Mana yang Akan Diikuti
Al-Fatihah ditutup dengan doa,
«"Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7).»
Di sinilah tujuan akhir seluruh kisah Al-Qur'an.
Setiap kisah selalu menghadirkan dua kelompok.
Ada yang taat dan ada yang membangkang.
Ada yang beriman dan ada yang sombong.
Ada yang mengambil pelajaran dan ada yang mengabaikannya.
Maka pertanyaan terpenting setelah membaca setiap kisah bukanlah,
"Siapa tokohnya?"
Melainkan,
"Jika aku hidup pada masa itu, berada di pihak siapakah aku?"
Apakah aku berada di barisan Nabi Nuh atau bersama kaumnya?
Apakah aku mengikuti Nabi Musa atau Fir'aun?
Apakah aku bersama Nabi Ibrahim atau Namrud?
Apakah aku termasuk orang-orang yang menerima petunjuk atau justru menolaknya?
Al-Fatihah: Kompas Membaca Seluruh Al-Qur'an
Dengan demikian, Al-Fatihah bukan hanya surah yang dibaca dalam setiap rakaat salat. Ia juga merupakan metodologi untuk memahami seluruh isi Al-Qur'an, termasuk kisah-kisah para nabi dan umat terdahulu.
Al-Fatihah mengajarkan bahwa setiap kisah harus dibaca dengan tujuh langkah:
1. Memulai dengan menghadirkan Allah dalam setiap peristiwa (Bismillah).
2. Melihat bagaimana Allah sebagai Rabb mendidik manusia sepanjang sejarah.
3. Menemukan rahmat Allah, bahkan di balik ujian yang paling berat.
4. Mengingat bahwa seluruh perjalanan manusia bermuara pada Hari Pembalasan.
5. Meneladani ibadah, tawakal, dan ketergantungan para hamba pilihan kepada Allah.
6. Mengambil hidayah sebagai pedoman hidup, bukan sekadar menambah pengetahuan.
7. Menentukan jalan yang akan dipilih: jalan orang-orang yang diberi nikmat atau jalan mereka yang dimurkai dan tersesat.
Dengan metodologi inilah kisah-kisah Al-Qur'an tidak lagi menjadi sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin yang memantulkan keadaan diri kita hari ini. Setiap kisah mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap pembacanya:
"Di manakah posisi kita dalam kisah itu?"
Dan dari jawaban atas pertanyaan itulah proses hidayah dimulai.
0 komentar: