Memorisida Palestina: Pembantaian Ingatan Tentang Palestina dari Sejarah
Di hadapan majelis MirYam Institute di kota New York pada tanggal 13 Januari 2026, mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyatakan, "We need to make sure that the story is told properly so that when the history books write this, they don't write about the victims of Gaza".
"Kita perlu memastikan bahwa cerita tentang Gaza-ini dituturkan dengan pantas sehingga ketika buku sejarah menulisnya, mereka tidak menulis tentang korban-korban di Gaza."
Di tengah gemuruh aplaus audiens zionis tersebut, Pompeo menambahkan bahwa mereka harus memastikan bahwa sejarah harus dipastikan untuk menegaskan bahwa Israel-lah korbannya.
Pada tahun 2026, Mike Pompeo mungkin sudah bukan pejabat AS lagi karena hubungannya yang retak dengan Donald Trump pada periode pertama. Namun, ia mengungkapkan fitur penting dari proyek zionisme sejak awal berdirinya: memorisida. Pembantaian terhadap kenangan.
Sebagai sebuah proyek settler colonial (kolonialisme pendudukan), dan penghapusan (erasure). Ini adalah jenis penjajahan yang berpusat pada proyek zionisme berdiri di atas dua pilar ganda: eksploitasi (exploitation) menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat tinggal permanen dan pada kehadiran populasi pemukim yang datang dari luar wilayah yang bertekad saat bersamaan tetap dapat menikmati standar hidup dan keistimewaan politik dari wilayah metropolis (wilayah asal penjajah) ("those colonial processes organised around the presence of a settler population intent on making a territory their permanent home while continuing to enjoy metropolitan living standards and political privileges").
Berbeda dengan jenis kolonialisme biasanya yang hanya bertujuan untuk menyedot kekayaan alam, settler colonialism menghendaki perampasan tanah dan penghapusan penduduk asli untuk digantikan dengan penduduk penjajah.
Patrick Wolfe, intelektual yang mempelajari ragam penjajahan, menyebutkan settler colonialism sebagai "sebuah proyek yang luas, berpusat pada tanah, yang mengoordinasikan berbagai agen dari pusat metropolitan ke wilayah pendudukan, dengan tujuan untuk menghilangkan penduduk asli" ("an inclusive, land-centred project that coordinates a comprehensive range of agencies, from the metropolitan centre to the frontier encampment, with a view to eliminating Indigenous societies").
Penghilangan (erasure) di sini tidak hanya berupa penghilangan yang bersifat material melalui genosida dan apartheid yang dilangsungkan sejak berlakunya Mandat Inggris atas Palestina setelah konferensi San Remo pada tahun 1920.
Jika kita mencermati beragam kekerasan yang dilakukan oleh Israel sebelum Nakba 1948, sesudah Nakba, hingga pasca 7 Oktober 2023, kita selalu menyaksikan fitur yang sama bahwa kekerasan itu tidak hanya ditujukan untuk menghilangkan orang-orang Palestina dari tanahnya, tetapi juga menghilangkan kenangan dan sejarah terhadap Palestina dan orang orangnya.
Kita tentu masih ingat bagaimana entitas zionis membunuh para pekerja medis dan wartawan, lalu membuat kebohongan sejarah tentang mereka dengan menyematkan identitas-identitas palsu yang kemudian terbukti bohong. Kita juga masih ingat bagaimana mereka mengubur relawan medis, sebagian hidup-hidup, bersama dengan ambulansnya.
Ini bukan hanya penghilangan bukti, tapi upaya mematikan kenangan terhadap para korban. Ini merupakan fitur yang tidak pernah hilang dari perkembangan zionisme.
Setelah Nakba menghancurkan lebih dari 500 kota dan desa pemukiman orang Palestina, zionis melakukan beragam inisiatif untuk membuat orang lupa bahwa kota-kota dan desa-desa yang berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun tersebut pernah ada.
Yang terlalu besar diganti namanya. Yang lain dikubur dengan dibangunkan taman hiburan, tempat wisata, museum perdamaian, atau hutan lindung. Di atas Tantura, yang pembantaiannya terekam dalam film dokumenter berjudul sama, didirikan sebuah kawasan wisata di mana para pendatang dari Eropa kemudian melepas penat dari kehidupan sehari-hari mereka.
Desa Imwas, yang dirampas Israel setelah Perang 1967, dihancurkan dan kemudian di atasnya dibangun hutan cagar alam dengan dana dari Jewish National Fund. Kini, kita tidak dapat menemukan desa tersebut karena ia telah menjadi bagian dari Canada Park.
Desa Lubya telah menjadi bagian dari South Africa Forest. Lebih dari 86 desa kini telah ditelan oleh hutan-hutan cagar alam buatan, yang menghadirkan pohon-pohon dari Eropa seperti pinus dan cemara yang sebenarnya tidak cocok dengan habitat Mediterania (menggantikan zaitun yang keras kepala membuktikan bahwa orang-orang Palestina adalah pemilik sah negeri tersebut).
Penghilangan kenangan sejarah adalah bagian tidak terpisahkan dari upaya penjajah untuk melanggengkan penjajahan. Jika kenangan akan bangsa Palestina hilang, maka mereka akan dengan mudah menyesakkan kebohongan "land without people for people without land."
Tanpa kenangan asli yang bertahan, mereka akan dengan lancar menyodorkan mitos bahwa para penjajah itu telah membuat gurun pasir menjadi subur, membawa rahmat bagi sekalian alam.
Yang harus kita sadari: korban dari memorisida tersebut bukan hanya orang-orang Palestina. Kita juga. Seruan untuk mengubah kurikulum gambaran nyata bahwa kenangan-kenangan tentang Palestina di hati kita pendidikan Indonesia supaya lebih bersahabat dengan zionisme adalah adalah sasaran berikutnya dari mesin angkara murka zionisme.
Zionisme melalui normalisasi dengan negara dengan populasi muslim terbesar di yang tengah terkucil harus bertahan dengan mendapatkan legitimasi dunia. Untuk itu, akan ada beragam upaya untuk memanipulasi kenangan kita tentang Palestina dan hubungan Indonesia-Palestina.
0 komentar: