Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari
Hubungan mendalam antara Indonesia dan Palestina ternyata telah mengakar kuat dalam literatur sejarah tradisional nusantara jauh sebelum era modern. Melalui naskah kuno seperti Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari, terungkap silsilah Sunan Gunung Jati yang diyakini memiliki garis keturunan dari wilayah tersebut.
Selain itu, Sunan Kudus secara simbolis menghadirkan nuansa Baitul Maqdis di Jawa Tengah dengan mendirikan Masjid Al-Aqsa dan mengganti nama wilayahnya menjadi Al-Quds.
Berbagai catatan sejarah ini menunjukkan bahwa solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina didasarkan pada ikatan emosional, spiritual, dan budaya yang sangat panjang.
Cerita rakyat ini tidak hanya mempererat hubungan keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan identitas Palestina ke dalam memori kolektif masyarakat lokal melalui akulturasi arsitektur dan sejarah kerajaan.
Hubungan emosional dan solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bahkan jauh sebelum berdirinya negara Indonesia modern.
Kedekatan ini terekam dalam berbagai literatur historiografi tradisional (seperti Babad, Hikayat, dan Sajarah) yang mengaitkan tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa (Walisongo) dengan tanah Palestina atau Baitul Maqdis.
Hal ini terbukti melalui naskah kuno Cirebon yang menghubungkan silsilah Sunan Gunung Jati dengan wilayah "Filistin" (Palestina).
Hubungan emosional ini tampak semakin kuat di Jawa Tengah melalui Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), yang secara sengaja menghadirkan "Yerusalem di Tanah Jawa dengan mengganti nama wilayah Tajug menjadi Kudus (Al-Quds), mendirikan Masjid Al-Aqsa, dan menamai bukit di sekitarnya sebagai Gunung Muria.
Melalui pendekatan akulturasi arsitektur yang sangat toleran, Sunan Kudus menjadikan simbol-simbol Palestina sebagai sarana dakwah yang damai dan meresap dalam ingatan bangsa.
Hari-hari ini, kita menyaksikan genosida yang terjadi di Palestina. Suara-suara solidaritas dan pembelaan menggaung dari segala penjuru dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia. Tentu sebagian orang ada yang bertanya, sejak kapan bangsa yang terpisah ribuan kilometer, dapat merasakan sedekat ini? Jika menilik pada sejarah negeri ini, kedekatan masyarakat Kepulauan Melayu-Indonesia dengan Palestina dapat ditelusuri jauh sebelum hadirnya Indonesia.
Hal tersebut dapat ditelusuri dalam beberapa literatur sejarah tradisional yang menyebutkan negeri Palestina nun jauh di negeri Syam.
Kita dapat melihat kedekatan hubungan Indonesia dan Palestina masa silam dalam cerita-cerita rakyat yang meresap di hati sebagian besar masyarakat tradisional kita. Kedekatan tersebut bahkan mewujud dalan keindahan sebuah kota di pesisir Jawa Tengah bernama Kudus. Bagaiman ceritanya?
Catatan historiografi tradisional seperti Sajarah, Hikayat, atau Babad sudah menyebut istilah-istilah dan cerita tentang Palestina, Isra Mi'raj, dan Bani Israil bahkan negeri Syam.
Salah satunya terdapat dalam naskah "Purwaka Caruban Nagari", salah satu historiografi tradisional yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon, putra kedua dari Sultan Sepuh Cirebon tahun 1720 berdasarkan beberapa naskah kuno tentang sejarah Cirebon.
Mengenai Purwaka Caruban Nagari, H.A. Dasuki (1978) dalam pengantarnya menyebut naskah ini sebagai salah satu naskah babad Cirebon yang paling tua usianya.
"Yang menarik dari naskah ini ialah cara penulisannya yang lebih objektif dibanding dengan naskah-naskah lainnya yang kadang-kadang penuh alegoris, sehingga naskah ini patut digolongkan dalam kategori babad- historiografis. "
Naskah ini bercerita tentang berdirinya Kesultanan Cirebon, dimulai dari masuk Islamnya putra seorang Ratu (raja) di Tatar Sunda yang bernama Prabu Siliwangi yang menikah dengan Nyai Subang Larang.
Mereka memperoleh tiga putra, yaitu Raden Walangsungsang, adiknya Nhay Lara Santang dan yang bungsu adalah Raja Senggara. Raden Walangsungsang dan Nhay Lara Santang belajar agama Islam kepada Syaikh Datuk Kahfi di daerah Cirebon sekarang, dan diperintahkan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu Haji ke Baitullah.
"Hai anakku, cobalah kalian sempurnakan sarengat Islam, yaitu pergi haji ke Baitullah di negeri Mekah," pesan gurunya itu.
Di Makkah inilah, para penulis cerita Babad Tanah Sunda, Babad Cirebon maupun Purwaka Caruban Nagari atau Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) mengisahkan pernikahan Nyai Lara Santhang dengan Sultan Mesir dan "Bani Israil" yang menguasai "Palestina" sehingga melahirkan putranya yang kelak dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo penyebar Islam di Tatar Sunda, pendiri Kerajaan Cirebon.
Dalam Purwaka Caruban Nagari yang diterjemahkan HA Dasuki (1978) dikisahkan:
"Nyi Lara Santang menikah dengan Maulana Sultan yang
dikenal dengan gelar Syarief Abdullah putra Nurul Aliss dari suku Bani Hasyim, keturunan nabi Ismail. Dahulu memerintah di kota Ismailiyah, juga memerintah Bani Israil di Palestina yang termasuk kekuasaannya. Daerat daerah itu semuanya takluk di bawah pemerintah negar Mesir. Kemudian Nhay Lara Santang diberi nama Syarife Mudaim sedang kakaknya diberi nama Haji Abdullah Iman Kemudian mereka kembali ke Mekah."
Dalam versi bahasa aslinya, bahasa Cirebon, tampak istilah 'Filistin muncul dalam naskah tua ini, yang diterjemahkan sebagai Palestina.
"Ing Waluhrama ika Talana Sultan Mahmud kang sinebut yugang Syarief Abdullah anak ira Nurul Aliem. Saking Hasyim wangsanira, witan ikang sakheng Bani Ismail ikakang rumuhun amagehi Ismailiyah kitha nira kang yugang amagehi Bani Israil kang haneng "Filistin" mandalanyı kawilang kakawasan nira."
Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Penanggung Jawab Sejarah Cirebon dan Staf Keprabonan Lemahwungkung Cirebon dalam Purwaka Caruban Nagari (1972) menuliskan cerita yang relatif sama, tetapi disebutkan nama Sultannya, yaitu Sultan Machmud.
"Di Mekah Nhay Lara Santang mendapat jodoh dengan Maulana Sultan Machmud alias Sjarif Abdullah, seorang putra dari Nurul Alim, dari bangsa Hasyim, berasal dari Bani Ismail yang pada masanya memerintah di ibu kota Ismailiyah (Mesir) pada memerintah Bani Isroil Palestina yang pada waktu itu berada dalam lingkungan kedaulatan Mesir."
Sedangkan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang diteliti oleh Atja (1986), kisah serupa dengan istilah Pilistin (Palestina).
Istilah seperti "Palestina" dan "Bani Israil" rupanya sudah melekat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia di masa silam, khususnya masyarakat Sunda.
Dalam Perjuangan Wali Sanga Babad Cirebon (Pasundan), H Mahmud Rais dan A. Sayidil Anam menulis kisah yang relatif mirip, hanya saja Sultan Mesir namanya menjadi Sultan Iskak-bahkan Syarif Hidayatullah sempat memerintah di negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina).
"Syahdan di Negeri Bani Israil ada seorang Sultan namanya Sultan Iskak gelarnya Sultan HUT. Isterinya telah meninggal dunia sejak beberapa lama dan belum mendapatkan gantinya. Pada suatu malam kebetulan malam Jumat ketika beliau istikharah tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang mengatakan," Hai Iskak, carilah jodohmu di Mekah yang berasal dari Jawa..."
"Syahdan Akhirnya Somadullah dengan Rara Santang telah tiba di Mekah pada malam Jumat tanggal 25 Rajab."
"...Sultan Iskak menyuruh Ki Penghulu Bani Israil, pernikahan terjadi di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil'."
"Syarif Hidayatullah kembali ke negeri Bani Israil... Hal ini terdengar dari luar daerah bahwa di Kerajaan Bani Israil ada perubahan besar mengenai ketatanegaraan. Akhirnya, Bani Israil mendapat kemajuan yang luar biasa berkat pimpinan Syarif Hidayatullah seorang cakap dan bijaksana."
Dari kisah tersebut, tampak sang penulis naskah menuliskan bahwa pernikahan anak Prabu Siliwangi ini terjadi pada Bulan Rajab, bulan terjadinya peristiwa Isra Mi'raj dalam ajaran Islam, dan ditulis pelaksanaa pernikahannya di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil. Tak hanya itu, Syarif Hidayatullah dikisahkan sempat memerintah Negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina) dan memimpin dengan cakap dan bijaksana. Cerita semacam ini mengisyaratkan bahwa penulis naskah berusaha mengaitkan pendiri kerajaan Cirebon dengan kisah-kisah terkait Palestina.
0 komentar: