Bagaimana para pemikir Prancis memandang persoalan Yahudi pada abad ke-18 dan ke-19?
Apakah mereka berbicara dengan suara yang sama, ataukah masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda?
Memasuki abad ke-18 hingga ke-19, Eropa mengalami perubahan besar di bidang politik, ekonomi, dan pemikiran. Di tengah perubahan itu, muncul berbagai penulis yang berusaha menjelaskan persoalan sosial yang mereka hadapi. Salah satu tema yang sering muncul adalah kedudukan dan pengaruh komunitas Yahudi dalam kehidupan Eropa.
Sebagian penulis memandang persoalan tersebut terutama dari sisi ekonomi.
Pada tahun 1845, Alphonse Toussenel menerbitkan buku Les Juifs, Rois de l'Époque ("Kaum Yahudi, Raja-Raja Zaman Ini"). Dalam karya itu ia mengkritik apa yang menurutnya merupakan dominasi kelompok-kelompok keuangan terhadap perekonomian Prancis. Ia juga mengaitkan praktik-praktik ekonomi tersebut dengan ajaran Talmud. Pandangan semacam ini kemudian menjadi bagian dari arus pemikiran anti-Yahudi yang berkembang pada masa itu.
Namun, persoalan itu tidak berhenti pada bidang ekonomi.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1854, penulis Prancis Arthur de Gobineau menerbitkan Essai sur l'inégalité des races humaines ("Esai tentang Ketidaksetaraan Ras Manusia"). Dalam karyanya, Gobineau mengembangkan teori tentang perbedaan ras yang membedakan bangsa Arya dan bangsa Semit. Gagasan tersebut kemudian memberi pengaruh besar terhadap berkembangnya teori-teori rasial di Eropa, meskipun kini telah ditolak oleh ilmu pengetahuan modern.
Selain ekonomi dan ras, ada pula penulis yang memandang persoalan Yahudi dari sudut agama dan kebudayaan.
Beberapa rohaniwan Katolik menulis karya-karya yang mengkritik ajaran Talmud dan menuduhnya bertentangan dengan nilai-nilai Kristen. Bersamaan dengan itu, berbagai tulisan dari Jerman mengenai Talmud, termasuk karya Johann Andreas Eisenmenger, kembali dibaca dan dijadikan rujukan oleh kelompok-kelompok yang bersikap anti-Yahudi.
Tulisan-tulisan para mualaf dari kalangan Yahudi yang memeluk agama Kristen juga ikut dimanfaatkan untuk memperkuat kritik terhadap tradisi Yahudi.
Apakah berbagai tulisan itu hanya menjadi perdebatan ilmiah?
Ternyata tidak.
Seiring berjalannya waktu, gagasan-gagasan tersebut mulai memengaruhi kehidupan politik. Di berbagai negara Eropa muncul gerakan yang menjadikan penolakan terhadap kaum Yahudi sebagai bagian dari agenda politik mereka.
Gelombang itu tampak di Jerman, Prancis, Austria, Hungaria, Polandia, Rumania, hingga Rusia pada penghujung abad ke-19.
Di Jerman, wartawan Wilhelm Marr menerbitkan risalah Der Sieg des Judenthums über das Germanenthum ("Kemenangan Yahudi atas Bangsa Jerman") pada tahun 1879. Dalam tulisannya, ia memperkenalkan istilah anti-Semitisme sebagai sebutan bagi gerakan yang menentang pengaruh kaum Yahudi.
Pada masa yang sama, Jerman juga diguncang sejumlah skandal keuangan yang melibatkan individu keturunan Yahudi. Peristiwa-peristiwa tersebut dimanfaatkan oleh berbagai kelompok politik untuk memperkuat sentimen anti-Yahudi. Kanselir Otto von Bismarck sendiri menghadapi pertarungan politik yang keras dengan tokoh-tokoh Partai Liberal, di antaranya Eduard Lasker dan Ludwig Bamberger, yang berasal dari keluarga Yahudi.
Perdebatan kemudian berkembang ke dunia akademik.
Sejarawan Heinrich von Treitschke mengemukakan semboyan terkenal, "Die Juden sind unser Unglück" ("Kaum Yahudi adalah kemalangan kita"), yang kemudian menyebar luas di kalangan masyarakat Jerman.
Sementara itu, teori ras juga memperoleh pengaruh dari karya Houston Stewart Chamberlain melalui bukunya The Foundations of the Nineteenth Century (1899). Buku ini kelak menjadi salah satu bacaan yang banyak dikutip oleh kalangan nasionalis radikal Jerman, termasuk sebagian tokoh yang kemudian mendukung ideologi Nazi.
Lalu bagaimana keadaan di Prancis?
Prancis juga mengalami perkembangan yang serupa.
Sebagian penulis Prancis menilai bahwa pengaruh kaum Yahudi telah meluas ke bidang politik, ekonomi, dan kehidupan sosial. Mereka menuangkan pandangan tersebut melalui buku, artikel, surat kabar, dan berbagai forum intelektual.
Salah seorang yang sering disebut adalah Édouard Drumont. Melalui bukunya La France Juive ("Prancis Yahudi") dan surat kabar La Libre Parole, ia mengampanyekan gagasan anti-Yahudi secara luas. Tulisan-tulisannya memperoleh perhatian besar masyarakat Prancis pada akhir abad ke-19 dan memberi pengaruh terhadap berkembangnya gerakan politik anti-Semit pada masa itu.
Jika ditarik lebih jauh, apa yang dapat dipahami dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut?
Terlihat bahwa persoalan Yahudi di Eropa pada abad ke-19 tidak lagi dipandang semata-mata sebagai isu keagamaan. Ia berkembang menjadi persoalan ekonomi, politik, nasionalisme, bahkan teori ras. Berbagai penulis, politikus, rohaniwan, dan akademisi ikut membentuk opini publik melalui karya-karya mereka.
Dalam suasana seperti itulah, lahir berbagai organisasi dan gerakan politik yang menjadikan anti-Semitisme sebagai bagian dari identitas perjuangan mereka. Sebagian gagasan tersebut kemudian memengaruhi perkembangan politik Eropa pada awal abad ke-20 dan akhirnya dimanfaatkan oleh rezim Nazi di Jerman.
Sejarah ini menunjukkan bahwa ide-ide yang mula-mula lahir dalam buku, pidato, atau perdebatan intelektual dapat berkembang menjadi gerakan politik yang memengaruhi arah perjalanan sebuah bangsa. Karena itu, memahami sejarah menuntut ketelitian untuk membedakan antara deskripsi mengenai pandangan para tokoh pada zamannya dan penilaian sejarah yang didasarkan pada bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
0 komentar: