Apakah penolakan terhadap kaum Yahudi hanya terjadi di negeri-negeri Katolik?
Ternyata tidak.
Di wilayah-wilayah Protestan pun, hubungan antara masyarakat dengan komunitas Yahudi sering kali diwarnai ketegangan. Perbedaan mazhab Kristen tidak serta-merta mengubah sikap terhadap kaum Yahudi. Yang berbeda hanyalah bentuk dan intensitas kebijakannya.
Di Inggris dan sejumlah wilayah Jerman yang menganut Protestan, keadaan kaum Yahudi pada abad ke-16 tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang hidup di negeri-negeri Katolik.
Di Sachsen (Saxonia), misalnya, pemerintah daerah mengambil kebijakan yang membatasi keberadaan kaum Yahudi. Mereka pernah diusir dari wilayah tersebut, kemudian hanya diizinkan melintas tanpa menetap, dan beberapa tahun berikutnya izin itu kembali dicabut. Kebijakan-kebijakan tersebut dikaitkan dengan pengaruh pemikiran Martin Luther yang pada masa akhir hidupnya mengemukakan pandangan sangat keras terhadap kaum Yahudi.
Mengapa kebijakan seperti itu muncul?
Pada masa itu berkembang anggapan di sebagian kalangan Eropa bahwa komunitas Yahudi memiliki kepentingan yang berbeda, bahkan bertentangan, dengan masyarakat Kristen tempat mereka hidup. Pandangan tersebut semakin menguat karena adanya perbedaan agama, aktivitas ekonomi, serta berbagai prasangka yang berkembang di tengah masyarakat.
Akibatnya, banyak pemikir dan tokoh politik Eropa mulai memandang persoalan Yahudi bukan lagi sekadar masalah keagamaan, melainkan juga persoalan sosial, ekonomi, dan politik.
Mereka menulis berbagai karya yang berusaha menjelaskan apa yang mereka anggap sebagai pengaruh negatif kaum Yahudi dalam bidang perdagangan, keuangan, dan praktik pemberian pinjaman berbunga. Di mata para penulis tersebut, pengaruh ekonomi komunitas Yahudi dipandang sebagai ancaman terhadap masyarakat Eropa.
Perlu dicatat bahwa pandangan-pandangan tersebut lahir dalam suasana persaingan politik, konflik agama, dan ketegangan sosial pada zamannya. Karena itu, banyak di antaranya merupakan penilaian yang diperdebatkan dan tidak dapat dipandang sebagai fakta yang berlaku umum bagi seluruh komunitas Yahudi.
Bagaimana keadaan di Austria dan Hungaria?
Di kawasan Kekaisaran Austria-Hungaria, persoalan ini berkembang semakin kompleks karena bertemunya sentimen keagamaan dengan gerakan politik.
Di Hungaria, seorang pastor Katolik bernama Rohling menerbitkan buku Der Talmudjude ("Yahudi Talmud") pada tahun 1871. Dalam buku tersebut ia mengkritik ajaran-ajaran yang menurut penafsirannya terdapat dalam Talmud dan menganggapnya bertentangan dengan masyarakat Kristen.
Setelah diangkat sebagai dosen teologi Katolik di Universitas Praha, namanya semakin dikenal. Gagasan-gagasannya memperoleh sambutan dari kelompok-kelompok politik yang memang telah memiliki sikap anti-Yahudi.
Sementara itu, di Wina, ibu kota Austria, sentimen serupa juga berkembang.
Sebagian masyarakat menilai bahwa kaum Yahudi memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam bidang ekonomi dan kehidupan publik. Atas dasar itulah muncul berbagai gerakan politik yang menjadikan penolakan terhadap kaum Yahudi sebagai salah satu program utamanya.
Salah satu tokoh yang paling menonjol ialah Karl Lueger. Partai yang dipimpinnya memperoleh dukungan luas masyarakat. Pada tahun 1895 ia terpilih sebagai calon wali kota Wina. Namun, pengangkatannya sempat ditolak oleh Kaisar dan baru disetujui setelah pemilihan diulang beberapa kali.
Apa yang dapat dipahami dari peristiwa tersebut?
Peristiwa itu menunjukkan bahwa sentimen anti-Yahudi pada masa itu tidak hanya berasal dari kalangan elite politik atau pemuka agama. Di beberapa wilayah, sentimen tersebut juga memperoleh dukungan yang cukup kuat dari sebagian masyarakat.
Keadaan semakin memanas ketika muncul sejumlah skandal politik dan keuangan yang melibatkan tokoh-tokoh Yahudi. Berbagai peristiwa tersebut semakin memperkuat keyakinan kelompok anti-Yahudi bahwa tuduhan mereka selama ini benar.
Di akhir abad ke-19, muncul pula kasus-kasus spionase yang melibatkan individu keturunan Yahudi. Salah satu kasus yang paling terkenal adalah perkara Alfred Dreyfus di Prancis, seorang perwira yang dituduh membocorkan rahasia militer kepada Jerman. Kasus ini memicu perpecahan besar di masyarakat Prancis dan semakin memperkuat sentimen anti-Semit di berbagai wilayah Eropa, meskipun kemudian terbukti bahwa Dreyfus tidak bersalah.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sikap terhadap kaum Yahudi di Eropa tidak dibentuk oleh satu faktor saja. Persaingan ekonomi, konflik politik, perbedaan agama, nasionalisme, serta berbagai prasangka sosial saling berkelindan dan membentuk dinamika hubungan yang sangat kompleks. Dalam situasi seperti itulah, kebijakan-kebijakan terhadap komunitas Yahudi terus berubah mengikuti arah perkembangan politik dan sosial di masing-masing negara.
0 komentar: