Mengolah Batin
Apakah setiap keinginan untuk menjadi lebih saleh harus segera diumumkan kepada orang lain?
Apakah setiap semangat beribadah selalu diiringi dengan kesiapan jiwa untuk menjalaninya hingga akhir?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan sebelum seseorang melangkah dalam perjalanan memperbaiki diri. Sebab, tidak sedikit orang yang berambisi mencapai kedudukan spiritual tertentu, tetapi belum mengenal kemampuan batinnya sendiri.
Orang yang bijaksana tidak tergesa-gesa memikul sesuatu yang belum tentu sanggup ia pikul. Sebelum menampilkan suatu amal di hadapan manusia, ia terlebih dahulu mengujinya dalam kesunyian. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, "Benarkah aku mampu istiqamah menjalani jalan ini?"
Mengapa demikian?
Karena kegagalan yang terjadi setelah seseorang mengumumkan cita-citanya sering kali bukan hanya melukai dirinya, tetapi juga meruntuhkan wibawa yang telah terbangun di hadapan orang lain.
Bayangkan seseorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Ia mengganti pakaian indahnya dengan pakaian sederhana, mengasingkan diri di sebuah zawiyah, memperbanyak mengingat kematian dan akhirat, serta menampilkan kehidupan yang tampak penuh kesalehan.
Namun, apakah perubahan lahiriah selalu berarti perubahan batin?
Belum tentu.
Sering kali tabiat yang selama ini tersembunyi hanya tertutupi oleh suasana sesaat. Ketika semangat mulai mereda, ia kembali kepada kebiasaan lamanya. Bahkan ada orang yang setelah mengalami masa "kesadaran", justru terjatuh ke dalam keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya. Ada pula yang hidup dalam keadaan setengah-setengah: tidak lagi menikmati kehidupan lamanya, tetapi juga tidak mampu bertahan dalam jalan yang baru.
Lalu, seperti apa sikap orang yang benar-benar cerdas?
Ia tidak sibuk membangun citra di hadapan manusia. Ia justru pandai menyembunyikan proses pendidikan jiwanya. Ia hidup di tengah masyarakat tanpa berusaha tampil berbeda secara berlebihan. Ia tidak mencari pujian sebagai orang saleh, tetapi juga tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam keburukan.
Jika memiliki cita-cita spiritual yang tinggi, ia memulainya dari ruang yang paling sunyi: rumahnya sendiri.
Di sanalah ia melatih dirinya. Di sanalah ia mengurangi kemewahan yang tidak diperlukan. Di sanalah ia membiasakan ibadah tanpa menunggu pengakuan siapa pun.
Mengapa jalan seperti ini lebih aman?
Karena jalan yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan. Ia melindungi hati dari penyakit riya dan menjaga seseorang dari tekanan untuk mempertahankan citra yang mungkin belum benar-benar menjadi kenyataan dalam dirinya.
Namun, ada bentuk sikap lain yang juga perlu diwaspadai.
Sebagian orang memiliki cita-cita yang terlalu pendek. Mereka begitu tenggelam dalam amal pribadi hingga menganggap seluruh peninggalan ilmu tidak lagi penting. Bahkan ada ulama yang menjelang wafat memilih menguburkan atau memusnahkan kitab-kitab yang mereka tulis.
Apakah tindakan seperti itu selalu benar?
Menurut Ibnul Jauzi, tidak.
Beliau pernah mendiskusikan persoalan tersebut dengan beberapa gurunya. Sebagian besar berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan kekeliruan.
Meski demikian, Ibnul Jauzi masih memberikan ruang untuk memahami sebagian ulama terdahulu yang memusnahkan karya mereka karena alasan tertentu. Misalnya, ketika sebuah kitab dikhawatirkan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat awam atau memuat riwayat-riwayat yang sulit dipahami tanpa bimbingan para ahli.
Beliau mencontohkan tindakan Khalifah Utsman bin Affan yang membatasi mushaf Al-Qur'an pada satu rasm demi mencegah perpecahan umat. Dalam keadaan seperti itu, pembatasan dilakukan bukan untuk menghilangkan ilmu, tetapi untuk menjaga persatuan.
Namun, menurut beliau, tindakan Ahmad bin Abi al-Hawari yang mencuci hingga hilang seluruh kitab-kitabnya merupakan bentuk sikap yang berlebihan.
Lalu, apa pelajaran yang dapat kita ambil?
Jangan membebani diri dengan sesuatu yang belum Allah wajibkan. Jangan pula menganggap suatu bentuk ibadah sebagai kewajiban padahal syariat tidak pernah mewajibkannya.
Pada saat yang sama, jangan memikul beban yang melampaui kemampuan diri hanya karena ingin dipandang lebih saleh.
Bukankah Allah sendiri tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya?
Karena itu, mengolah batin bukanlah perlombaan untuk terlihat paling zuhud atau paling banyak beramal. Mengolah batin adalah proses mengenali diri, melatih keikhlasan, menjaga istiqamah, dan melakukan amal saleh sesuai kemampuan yang Allah karuniakan.
Sebab, amal yang kecil tetapi terus-menerus dilakukan dengan ikhlas jauh lebih berharga daripada semangat besar yang hanya bertahan sesaat lalu menghilang tanpa bekas.
0 komentar: