Apakah setiap kesempatan yang terbuka harus selalu diambil?
Apakah setiap keuntungan yang berada dalam genggaman pasti akan membawa keberkahan?
Ataukah ada saat-saat ketika sesuatu tampak menguntungkan di mata manusia, tetapi justru menggelapkan hati orang yang meraihnya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus diajukan Ibnul Jauzi kepada dirinya sendiri.
Beliau mengakui bahwa berbagai kemudahan untuk memperoleh dunia sering kali terbuka di hadapannya. Kesempatan datang silih berganti. Jalan menuju harta, kedudukan, atau kenyamanan tampak begitu mudah dilalui.
Namun, setiap kali kesempatan itu hadir, beliau merasakan sesuatu yang berbeda.
Semakin mudah dunia diraih, semakin gelisah hati yang merasakannya. Semakin terbuka jalan menuju keuntungan, semakin terasa redup cahaya di dalam kalbu.
Mengapa bisa demikian?
Karena tidak semua yang menguntungkan secara lahiriah menenangkan batin.
Maka beliau pun menegur dirinya sendiri,
"Wahai jiwaku, jangan engkau tertipu."
Bukankah Rasulullah ï·º pernah mengajarkan,
"Mintalah fatwa kepada hatimu."
Jika hati yang jernih mulai merasa sempit, gelisah, atau kehilangan ketenangan ketika menempuh suatu jalan, bukankah itu isyarat yang patut direnungkan?
Beliau kemudian sampai pada sebuah keyakinan.
Tidak mungkin ada kebaikan sejati jika sesuatu yang diperoleh justru mengotori hati. Bahkan seandainya surga dapat diraih dengan cara merendahkan agama—sesuatu yang tentu mustahil—maka surga seperti itu tidak lagi memiliki kenikmatan.
Sebaliknya, tidur di tempat yang paling sederhana dengan hati yang bersih jauh lebih nikmat daripada tidur di istana megah dengan hati yang dipenuhi noda.
Namun, apakah pergulatan itu selesai begitu saja?
Ternyata tidak.
Yang paling berat justru bukan melawan manusia, melainkan melawan diri sendiri.
Beliau menggambarkan bagaimana jiwanya terus mengajukan berbagai alasan.
Kadang ia menang, kadang jiwanya yang menang.
Suatu hari jiwa itu berkata,
"Bukankah yang kuinginkan hanyalah perkara yang mubah? Aku tidak akan melampaui batas yang diharamkan."
Beliau menjawab,
"Benar, tetapi bukankah sikap wara' sering kali mengajak kita meninggalkan sebagian perkara yang mubah demi menjaga hati?"
Jiwanya mengakui.
"Benar."
Beliau melanjutkan,
"Bukankah terlalu larut dalam perkara yang mubah kadang membuat hati menjadi keras?"
Jiwanya kembali mengiyakan.
Maka beliau berkata,
"Kalau begitu, mengapa aku harus mengikuti keinginanmu jika akhirnya justru merugikan hatiku?"
Percakapan itu tidak berhenti di sana.
Dalam kesendiriannya beliau kembali berbicara kepada jiwanya.
"Katakan kepadaku, jika engkau mengumpulkan semua harta yang masih mengandung syubhat itu, apakah engkau benar-benar akan menginfakkannya di jalan Allah?"
Jiwanya menjawab,
"Tidak."
Beliau pun menegaskan,
"Kalau begitu, untuk apa semua itu? Bukankah engkau hanya akan mewariskan harta kepada orang lain, sedangkan dosa dan hisabnya tetap menjadi tanggunganmu?"
Lalu beliau mengajak dirinya merenungkan kenyataan hidup.
Bukankah kita sering melihat orang yang mengumpulkan kekayaan seumur hidup, tetapi yang menikmatinya justru para ahli warisnya?
Bukankah banyak orang memiliki angan-angan yang bertumpuk, tetapi wafat sebelum sempat meraih sedikit pun darinya?
Bukankah ada ulama yang memenuhi rumahnya dengan kitab-kitab, tetapi tidak pernah mengambil manfaat dari ilmunya?
Sebaliknya, bukankah ada orang yang hanya memiliki sedikit buku, tetapi ilmunya jauh lebih bermanfaat?
Bukankah kita juga menyaksikan orang yang hidup sederhana dengan harta yang sedikit, namun penuh ketenangan?
Sebaliknya, ada pula yang hartanya melimpah ruah, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan yang tidak pernah berakhir.
Tidakkah semua itu menjadi pelajaran?
Lebih jauh lagi, beliau mengingatkan bahwa keuntungan yang diperoleh dengan cara yang meragukan sering kali dibalas dengan kerugian dari arah yang tidak disangka.
Seseorang mungkin merasa berhasil memperoleh keuntungan melalui jalan yang tidak bersih. Namun tidak lama kemudian, sakit, musibah, atau berbagai persoalan datang menghabiskan harta itu, bahkan lebih banyak daripada yang pernah ia kumpulkan.
Apakah itu kebetulan?
Beliau mengajak pembacanya untuk merenungkannya.
Pada akhirnya, jiwa itu kembali bertanya,
"Jika aku tidak melanggar hukum syariat, lalu apa lagi yang engkau inginkan dariku?"
Beliau menjawab dengan tenang,
"Aku tidak ingin tertipu oleh diriku sendiri."
Kemudian beliau memberikan nasihat yang menjadi penutup seluruh dialog batin itu.
"Biasakanlah dirimu merasa selalu berada di hadapan Zat Yang Mahaagung. Jika engkau malu berbuat buruk di hadapan manusia yang engkau hormati, bukankah engkau lebih pantas merasa malu kepada Allah yang mengetahui seluruh isi hatimu?"
Allah mengetahui bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita sembunyikan, apa yang kita inginkan, dan apa yang belum sempat kita ucapkan.
Karena itu, janganlah menjual keyakinan, ketakwaan, dan ketenangan hati demi hawa nafsu yang kenikmatannya hanya sesaat.
Dan jika suatu hari nasihat ini terasa berat bagi jiwa, katakanlah kepadanya,
"Bersabarlah. Jalan menuju Allah memang tidak selalu mudah. Namun setiap kesabaran yang dijaga karena-Nya tidak akan pernah sia-sia. Dialah yang akan menunjukkan jalan yang benar dan menganugerahkan taufik kepada siapa saja yang sungguh-sungguh ingin mendekat kepada-Nya."
0 komentar: