Apakah setiap kata hanya memiliki satu makna?
Apakah sebuah syair hanya layak dipahami sebatas susunan katanya, ataukah hati yang hidup mampu menemukan pesan yang jauh lebih dalam di balik untaian kalimat yang sederhana?
Pertanyaan inilah yang membedakan orang yang sekadar mendengar dengan orang yang benar-benar memahami.
Orang yang memiliki hati yang waspada mampu menangkap isyarat dari berbagai peristiwa, bahkan dari sebuah syair yang dilantunkan oleh orang biasa. Apa yang bagi kebanyakan orang hanya terdengar sebagai nyanyian, bagi mereka dapat berubah menjadi nasihat yang menggugah jiwa.
Al-Junaid, salah seorang ulama besar Baghdad, pernah menceritakan bahwa gurunya, Sary as-Saqathi, memberikan kepadanya sehelai kain yang berisi sebuah bait syair. Syair itu berasal dari seorang penggembala kambing yang didengarnya di jalan menuju Makkah.
Bait itu berbunyi:
«Aku menangis. Tahukah engkau apa yang membuatku menangis?
Aku menangis karena khawatir engkau meninggalkanku, memutuskan hubungan denganku, lalu berpaling dariku.»
Mengapa Sary begitu terkesan oleh bait yang tampaknya sederhana itu?
Karena beliau tidak berhenti pada makna lahiriahnya. Di balik kata-kata seorang penggembala, beliau mendengar seruan hati seorang hamba kepada Tuhannya.
Seolah-olah syair itu berkata,
"Ya Allah, aku menangis karena takut Engkau berpaling dariku. Aku takut kehilangan kedekatan dengan-Mu."
Inilah cara pandang orang-orang yang arif. Mereka mampu menangkap pesan-pesan ruhani dari ungkapan yang bagi orang lain mungkin tampak biasa saja.
Namun, apakah semua orang mampu memahami isyarat seperti itu?
Tentu tidak.
Ada orang yang tabiatnya kasar dan pemahamannya terbatas. Ketika mendengar syair-syair seperti ini, pikirannya langsung tertuju kepada makna lahiriah atau bahkan kepada hawa nafsu. Karena itulah, sebagian dari mereka menolak kasidah atau syair secara keseluruhan, sebab mereka tidak melihat kemungkinan adanya makna yang lebih dalam.
Padahal persoalannya bukan terletak pada syairnya, melainkan pada cara hati memandangnya.
Bukankah air yang sama dapat menyuburkan tanaman sekaligus menenggelamkan orang yang tidak pandai berenang?
Demikian pula kata-kata. Hati yang bersih memperoleh hikmah darinya, sedangkan hati yang dipenuhi hawa nafsu hanya melihat apa yang sesuai dengan kecenderungannya sendiri.
Lalu, sampai sejauh mana orang-orang yang arif mampu menangkap isyarat?
Ibn 'Aqil pernah menuturkan bahwa ia mendengar seorang wanita melantunkan sebuah syair sederhana:
«Kucuci ia sepanjang malam,
Kupijit ia sepanjang hari,
Namun ia pergi mencari selain diriku,
Lalu jatuh ke tanah-tanah yang kotor.»
Bagi kebanyakan orang, bait ini mungkin hanya menggambarkan keluh kesah seorang istri atau ibu.
Namun, Ibn 'Aqil menangkap makna yang sama sekali berbeda.
Beliau seakan mendengar Allah berfirman kepada hamba-Nya,
"Aku telah menciptakanmu dengan sebaik-baiknya. Aku telah menyempurnakan tubuhmu, mencukupkan berbagai nikmat bagimu, dan mengatur kehidupanmu. Namun mengapa engkau justru menghadapkan hatimu kepada selain Aku? Tidakkah engkau melihat ke mana pilihan itu akan membawamu?"
Begitulah hati yang hidup bekerja. Ia tidak berhenti pada bunyi kata-kata, tetapi mencari pesan yang dapat mendekatkannya kepada Allah.
Pada kesempatan lain, Ibn 'Aqil juga mendengar seorang wanita melantunkan bait berikut:
«Berapa kali aku bersumpah kepadamu demi Allah,
Namun kelambananlah yang merusakmu.
Setiap keburukan memiliki tabir,
Tetapi suatu saat tabir itu pasti akan tersingkap.»
Apakah yang beliau pahami dari syair itu?
Beliau menjadikannya sebagai peringatan bagi dirinya sendiri.
Seakan-akan syair itu berkata,
"Betapa banyak kelalaian yang kita sembunyikan hari ini. Namun suatu saat seluruh tabir akan disingkapkan di hadapan Allah. Tidak ada lagi yang dapat disembunyikan."
Bukankah setiap amal, niat, dan rahasia hati pada akhirnya akan diperlihatkan?
Karena itu, orang-orang yang arif selalu berusaha mengambil pelajaran dari setiap keadaan. Mereka tidak menunggu hadirnya seorang guru untuk memperoleh nasihat. Kadang-kadang, Allah menghadirkan pelajaran melalui ucapan seorang penggembala, syair seorang wanita, atau bahkan percakapan orang-orang awam.
Yang membedakan bukanlah apa yang didengar, melainkan hati yang mendengarnya.
Sebab hati yang hidup akan menemukan jalan menuju Allah melalui apa pun yang ditemuinya. Sedangkan hati yang lalai sering kali tetap tidak memperoleh pelajaran, meskipun nasihat datang silih berganti di hadapannya.
0 komentar: