Apakah kualitas seseorang benar-benar ditentukan oleh apa yang tampak di hadapan manusia?
Ataukah justru ditentukan oleh bagaimana ia hidup ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya?
Pertanyaan ini mengajak kita merenungkan satu ruang yang sering luput dari perhatian: kesendirian bersama Allah.
Seseorang yang terbiasa menghidupkan khalwat—mengisi waktu sunyinya dengan mengingat Allah, bermuhasabah, dan memperbaiki dirinya—biasanya akan memancarkan perubahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ketika ia kembali bergaul dengan masyarakat, ada ketenangan, kebijaksanaan, dan kemuliaan akhlak yang terasa oleh orang-orang di sekitarnya.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Karena apa yang dibangun dalam kesunyian sering kali memancarkan pengaruh yang tampak di hadapan manusia.
Betapa banyak orang beriman yang mampu meninggalkan godaan bukan karena takut kepada penilaian manusia, melainkan karena takut kepada azab Allah, berharap pahala-Nya, dan mengagungkan-Nya dengan sepenuh hati.
Keikhlasan seperti itu ibarat kayu Hindi yang dilemparkan ke dalam bara api. Wanginya menyebar ke mana-mana. Orang-orang dapat mencium keharumannya, tetapi mereka tidak mengetahui dari mana asalnya.
Demikian pula seorang mukmin. Mungkin ia tidak banyak berbicara tentang amalnya, tidak sibuk memperlihatkan ibadahnya, bahkan tidak dikenal luas. Namun, Allah menjadikan akhlaknya harum sehingga hati manusia mencintainya tanpa mengetahui sebabnya.
Bukankah ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari hubungan yang tulus dengan Allah?
Semakin seseorang mampu meninggalkan apa yang menggoda hawa nafsunya demi Allah, semakin kuat pula cintanya kepada-Nya. Dan sering kali, tanpa diminta, Allah menanamkan rasa hormat kepada dirinya di dalam hati manusia.
Orang-orang memujinya, menghormatinya, bahkan merasa nyaman berada di dekatnya, meskipun mereka sendiri tidak mampu menjelaskan mengapa perasaan itu muncul.
Namun, apakah semua kemuliaan itu akan dikenang selamanya?
Belum tentu.
Ada orang yang dikenang hanya beberapa waktu setelah wafatnya, lalu perlahan dilupakan. Ada yang dikenang selama ratusan tahun. Ada pula yang namanya tetap hidup sepanjang zaman melalui ilmu, amal, dan keteladanan yang ditinggalkannya.
Semua itu berada dalam ketetapan Allah.
Sebaliknya, apa yang terjadi pada orang yang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah?
Mereka mungkin mampu menyembunyikan kesalahan dari pandangan manusia, tetapi tidak dari Allah. Dosa-dosa yang terus dilakukan dalam kesendirian lambat laun meninggalkan jejak pada hati dan akhlaknya.
Akibatnya, meskipun secara lahiriah ia tampak terhormat, manusia mulai merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Ada keburukan yang sulit dijelaskan, seolah-olah terpancar dari dalam dirinya.
Jika dosa-dosanya masih sedikit, orang mungkin tetap menghormatinya, meskipun tidak lagi memujinya.
Namun, ketika dosa itu terus bertumpuk, penghormatan pun perlahan menghilang. Orang-orang tidak lagi memujinya, bahkan terkadang memilih menjauh tanpa mengetahui alasan yang jelas.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Karena hati manusia berada di bawah kekuasaan Allah. Dialah yang membolak-balikkan hati sesuai dengan hikmah-Nya.
Bahkan orang yang sebelumnya dikenal baik pun dapat kehilangan kemuliaannya apabila membiarkan hawa nafsu menguasai dirinya dan kecintaan kepada dunia mengalahkan kecintaan kepada Allah.
Abu Darda' pernah berkata,
«"Seorang hamba yang melakukan maksiat dalam kesendiriannya akan mendapatkan murka Allah melalui hati orang-orang mukmin tanpa disadarinya."»
Ucapan ini mengandung pelajaran yang sangat dalam.
Mungkin manusia tidak mengetahui dosa yang kita lakukan. Namun, Allah mampu mencabut kewibawaan, keberkahan, dan rasa hormat yang sebelumnya Dia tanamkan di hati mereka.
Karena itu, renungkanlah baik-baik pesan ini.
Jangan pernah meremehkan kesendirianmu. Jangan mengira bahwa saat tidak ada manusia yang melihat, engkau benar-benar sendirian.
Bukankah Allah selalu menyaksikan setiap lintasan hati, setiap niat, dan setiap amal yang tersembunyi?
Pada akhirnya, nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang menyaksikannya, tetapi oleh keikhlasan yang hanya diketahui oleh Allah.
Sebab, ganjaran yang Allah berikan selalu sebanding dengan ketulusan niat yang tersimpan di dalam hati.
0 komentar: