basmalah Pictures, Images and Photos
250 Tahun Kemerdekaan Amerika Serikat: Mitologi Kebebasan atau Sejarah Penindasan? - Our Islamic Story

Choose your Language

250 Tahun Kemerdekaan Amerika Serikat: Mitologi Kebebasan atau Sejarah Penindasan? ...

250 Tahun Kemerdekaan Amerika Serikat: Mitologi Kebebasan atau Sejarah Penindasan?

250 Tahun Kemerdekaan Amerika Serikat: Mitologi Kebebasan atau Sejarah Penindasan?

Apakah setiap perayaan kemerdekaan selalu identik dengan kebebasan?

Apakah sebuah bangsa dapat merayakan lahirnya demokrasi tanpa terlebih dahulu mempertanyakan siapa saja yang sejak awal dikecualikan dari demokrasi itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali mengemuka ketika Amerika Serikat memperingati 250 tahun Deklarasi Kemerdekaannya pada 4 Juli 2026. Bagi banyak kalangan, momen ini merupakan perayaan lahirnya republik modern yang menjunjung kebebasan dan pemerintahan rakyat. Namun, bagi sejumlah sejarawan dan pemikir kritis, peringatan tersebut justru membuka kembali pertanyaan yang jauh lebih mendasar: kebebasan bagi siapa?

Di sinilah letak tesis yang diajukan Joseph Massad. Menurutnya, perayaan tersebut bukan sekadar mengenang lahirnya sebuah negara, melainkan juga mempertahankan sebuah "mitologi kebajikan" (mythology of benevolence) yang selama berabad-abad menutupi sejarah kolonialisme pemukim, perbudakan, dan pemusnahan penduduk asli.

Lalu, bagaimana mitologi itu dibangun?

Narasi resmi Amerika terus menggambarkan Revolusi 1776 sebagai perjuangan universal demi kebebasan. Donald Trump, misalnya, menyebut Deklarasi Kemerdekaan sebagai "perjalanan politik terbesar dalam sejarah manusia" dan menempatkan para penandatangannya sebagai arsitek kebebasan.

Barack Obama menggunakan bahasa yang lebih moderat. Ia mengakui bahwa Amerika lahir di tengah kontradiksi perbudakan, tetapi tetap memuji para pendiri bangsa karena dianggap telah meletakkan fondasi bagi terbentuknya "persatuan yang lebih sempurna."

Apakah pengakuan atas adanya perbudakan sudah cukup untuk menyelesaikan persoalan sejarah?

Menurut para penganut teori kritis, belum tentu. Mereka berpendapat bahwa narasi seperti itu justru mengaburkan persoalan yang lebih mendasar. Istilah "We the People" dalam praktiknya pada abad ke-18 tidak mencakup seluruh penduduk, melainkan terutama pria kulit putih pemilik properti. Dengan demikian, gagasan demokrasi sejak awal berdiri di atas batas-batas sosial dan rasial yang sangat jelas.

Jika demikian, apakah Revolusi Amerika benar-benar merupakan revolusi kebebasan?

Sejarawan Gerald Horne menawarkan jawaban yang berbeda. Ia berpendapat bahwa Revolusi Amerika lebih tepat dipahami sebagai kontra-revolusi, yaitu upaya para pemilik budak mempertahankan sistem perbudakan dari ancaman kebijakan Inggris yang mulai bergerak ke arah abolisionisme.

Bukti yang sering dikemukakan adalah Proklamasi Dunmore tahun 1775. Gubernur Kerajaan Inggris, Lord Dunmore, menjanjikan kebebasan bagi budak yang bersedia bergabung dengan pasukan Inggris. Tidak mengherankan jika sekitar 20.000 orang kulit hitam memilih berpihak kepada Inggris, sementara hanya sekitar 5.000 yang bergabung dengan pihak revolusioner Amerika.

Ironisnya, banyak di antara mereka yang membantu revolusi justru kembali diperbudak setelah perang berakhir.

Apakah negara baru itu kemudian menghapus sistem perbudakan?

Sebaliknya, kritik tersebut menilai bahwa perbudakan justru memperoleh perlindungan konstitusional. Konstitusi Amerika Serikat tahun 1788, melalui Pasal IV Bagian 2, mewajibkan pengembalian budak yang melarikan diri kepada pemiliknya. Bagi para pengkritik, ketentuan ini menunjukkan bahwa republik baru tidak sekadar mentoleransi perbudakan, tetapi ikut menjaminnya melalui hukum negara.

Kritikus Inggris John Lind pada masa itu mengejek paradoks tersebut, sementara abolisionis Thomas Day menyindir para patriot Amerika yang menulis deklarasi tentang kebebasan sambil tetap mencambuk budak-budak mereka.

Namun, apakah persoalannya hanya menyangkut perbudakan?

Menurut Joseph Massad, persoalan itu jauh lebih luas. Kemerdekaan Amerika juga membuka jalan bagi ekspansi besar-besaran ke wilayah penduduk asli.

Sebelum revolusi, Proklamasi Kerajaan 1763 membatasi perluasan permukiman Inggris ke sebelah barat Pegunungan Appalachia. Setelah kemerdekaan, hambatan tersebut hilang.

Melalui Northwest Ordinance tahun 1787, Kongres membuka wilayah baru bagi ekspansi pemukim. Meskipun dokumen tersebut berbicara tentang itikad baik terhadap penduduk asli, pada saat yang sama ia memberikan dasar hukum bagi apa yang disebut sebagai "perang yang adil dan sah."

Pertanyaannya, bagaimana konsep itu diterapkan?

Sejumlah sejarawan, termasuk Jeffrey Ostler, berpendapat bahwa kebijakan tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian pengusiran, peperangan, dan perampasan tanah yang berpuncak pada Indian Removal Act tahun 1830 di bawah Presiden Andrew Jackson.

Dalam perspektif ini, kekerasan terhadap penduduk asli bukan dipandang sebagai penyimpangan dari cita-cita republik, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan negara itu sendiri.

Apa landasan ideologis di balik ekspansi tersebut?

Para pengkritik menunjuk pada berkembangnya gagasan tentang keunggulan ras Anglo-Saxon yang kemudian dikenal sebagai Manifest Destiny. Doktrin ini mengajarkan bahwa bangsa kulit putih memiliki mandat sejarah, bahkan mandat ilahi, untuk memperluas kekuasaan mereka ke seluruh benua Amerika.

Akibatnya, kolonisasi tidak lagi dipandang sebagai penaklukan, melainkan sebagai misi peradaban.

Apakah gagasan itu berhenti di Amerika?

Sejarah menunjukkan sebaliknya.

Naturalization Act tahun 1790 secara eksplisit membatasi kewarganegaraan hanya bagi "orang kulit putih yang bebas." Model negara yang mengaitkan kewarganegaraan dengan ras ini kemudian menarik perhatian sejumlah pemikir Eropa.

Sejarawan Jerman Albrecht Wirth pada 1934 memuji Amerika sebagai contoh keberhasilan dominasi ras kulit putih. Adolf Hitler sendiri beberapa kali mengungkapkan kekagumannya terhadap ekspansi pemukim Amerika ke wilayah penduduk asli. Ia bahkan menggunakan pengalaman Amerika sebagai salah satu referensi dalam membayangkan konsep Lebensraum di Eropa Timur.

Apakah kontradiksi itu berhenti setelah republik berdiri kokoh?

Tidak juga.

Sejarah Amerika juga diwarnai pengusiran sekitar 100.000 kaum Loyalis setelah revolusi, McCarthyisme pada abad ke-20, represi terhadap gerakan hak-hak sipil, gerakan mahasiswa, hingga berbagai bentuk pembatasan terhadap aktivisme politik pada masa-masa berikutnya.

Sementara itu, kelompok-kelompok yang sejak awal berada di luar lingkaran "We the People" baru memperoleh pengakuan secara bertahap. Penduduk asli baru diakui sebagai warga negara pada 1924, sementara hak politik mereka baru benar-benar dapat dijalankan secara lebih efektif setelah pertengahan abad ke-20. Perempuan pun harus menunggu hampir satu setengah abad setelah kemerdekaan untuk memperoleh hak pilih.

Lalu, apa makna semua ini bagi peringatan 250 tahun Amerika Serikat?

Bagi Joseph Massad dan sejumlah pemikir kritis lainnya, peringatan tersebut bukan semata-mata perayaan sejarah nasional. Ia juga merupakan upaya mempertahankan narasi yang menempatkan Amerika sebagai simbol universal kebebasan, sementara berbagai bentuk kolonialisme, perbudakan, eksklusi rasial, dan kekerasan negara ditempatkan sebagai catatan kaki sejarah.

Karena itu, pertanyaan yang patut direnungkan bukanlah apakah Amerika pernah memperjuangkan kebebasan, melainkan: siapa yang menikmati kebebasan itu, siapa yang dikecualikan darinya, dan berapa harga kemanusiaan yang harus dibayar untuk membangun republik tersebut?

Mungkin, setelah 250 tahun berlalu, justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang lebih layak diperingati daripada sekadar seremoni kemerdekaan itu sendiri.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (54) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (324) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (52) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (105) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (668) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (300) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (34) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)