basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Di Awal Kekuasaan Abu Bakar  Bagaimana sebuah negara yan...

Di Awal Kekuasaan Abu Bakar 

Bagaimana sebuah negara yang baru saja kehilangan Rasulullah ﷺ dapat segera berdiri kokoh?

Bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq mengelola pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ, sementara masyarakat Muslim saat itu menghadapi berbagai persoalan besar dari dalam dan luar negeri?

Jawabannya dapat kita lihat dari cara Abu Bakar membangun pemerintahan: menetapkan kebijakan, membagi tugas, mengangkat orang-orang yang amanah, dan memastikan urusan umat tidak bertumpu pada satu orang.

Abu Bakar tidak bekerja sendirian.

Ia menunjuk sejumlah sahabat untuk membantunya menjalankan urusan negara sesuai bidang masing-masing.

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dipercaya mengelola Baitul Mal sebagai bendahara umat, yang dalam istilah modern dapat dipahami sebagai pengelola keuangan negara.

Umar bin Al-Khaththab menangani urusan peradilan. Di samping itu, Abu Bakar sendiri juga turut menjalankan fungsi kehakiman.

Sementara Zaid bin Tsabit dipercaya sebagai sekretaris. Dalam sejumlah keadaan, tugas-tugas kesekretariatan juga dilakukan oleh sahabat lain seperti Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.

Apa yang dapat kita lihat dari pembagian tersebut?

Bahwa kepemimpinan bukan berarti mengerjakan semuanya seorang diri.

Kepemimpinan justru berarti menempatkan orang yang tepat pada amanah yang tepat, kemudian memastikan setiap urusan berjalan dalam koridor syariat dan kemaslahatan umat.

Khalifah yang Tetap Pergi ke Pasar

Kaum Muslimin memberikan kepada Abu Bakar gelar Khalifah Rasulullah sebagai panggilan resmi.

Tetapi apakah gelar tersebut membuat kehidupan pribadinya berubah menjadi kehidupan seorang penguasa yang hidup dari fasilitas negara?

Justru sebaliknya.

Sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar adalah seorang pedagang. Ia biasa pergi ke pasar, menjual barang dan membeli barang dagangan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Setelah diangkat menjadi khalifah, pada suatu pagi ia tetap pergi ke pasar sambil membawa barang dagangan.

Di tengah perjalanan ia bertemu Umar bin Al-Khaththab dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Keduanya bertanya,

«“Hendak pergi ke manakah Anda, wahai Khalifah Rasulullah?”»

Abu Bakar menjawab,

«“Ke pasar.”»

Mereka terkejut.

“Untuk apa Anda pergi ke pasar, sedangkan Anda telah diangkat menjadi pemimpin kaum Muslimin?”

Jawaban Abu Bakar sederhana, tetapi sangat dalam:

«“Lalu, dari mana aku memberi makan keluargaku?”»

Bukankah pertanyaan itu sangat manusiawi?

Seorang pemimpin juga mempunyai keluarga.

Ia juga membutuhkan makanan.

Ia juga membutuhkan tempat tinggal.

Ia juga mempunyai kebutuhan hidup.

Namun di sisi lain, setelah menjadi khalifah, apakah pantas ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdagang sementara seluruh umat membutuhkan kepemimpinannya?

Karena itu Umar dan Abu Ubaidah menawarkan solusi: Abu Bakar diberi penghasilan yang cukup dari Baitul Mal agar ia dapat meninggalkan aktivitas perdagangan dan mencurahkan seluruh waktunya untuk mengurus umat.

Dengan demikian, gaji khalifah bukanlah hadiah karena kekuasaan.

Ia merupakan kompensasi agar seorang pemimpin dapat sepenuhnya mengabdikan waktu dan tenaganya kepada rakyat.

Berapa Gaji Seorang Khalifah?

Dalam sejumlah riwayat yang dikutip dalam literatur sejarah, Abu Bakar memperoleh tunjangan tertentu dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Namun kemudian muncul persoalan:

Apakah tunjangan tersebut benar-benar mencukupi?

Dalam kisah yang dinukil dalam Ar-Riyadh An-Nadhrah, disebutkan bahwa Abu Bakar memperoleh dua ratus lima puluh dinar setahun disertai bagian tertentu berupa kambing.

Namun ternyata kebutuhan keluarganya masih belum tercukupi.

Abu Bakar kemudian menyampaikan persoalan tersebut kepada para sahabat.

Terjadilah pembicaraan mengenai penyesuaian tunjangannya.

Umar mengusulkan kenaikan.

Abu Bakar menyebut jumlah yang menurutnya diperlukan.

Ali bin Abi Thalib kemudian turut hadir dalam pembicaraan tersebut dan menyetujui penyesuaian itu.

Akhirnya, setelah disepakati, Abu Bakar menyampaikannya kepada kaum Muslimin.

Ia tidak menetapkan sendiri.

Ia tidak mengambil sesuka hati.

Ia menjelaskan kepada masyarakat berapa tunjangan yang akan diterimanya dan meminta persetujuan mereka.

Di sinilah terdapat pelajaran penting:

Kekuasaan tidak boleh menjadi jalan untuk memperkaya diri.

Bahkan kebutuhan pemimpin pun harus ditempatkan dalam kerangka amanah.

Jabatan Bukan Sumber Kekayaan

Inilah salah satu prinsip yang sangat penting dari kehidupan Abu Bakar.

Jabatan tidak dipandang sebagai sumber kekayaan.

Jabatan adalah amanah.

Gaji diberikan karena jabatan tersebut menyita waktu, tenaga, pikiran, dan kesempatan seseorang untuk mencari penghasilan melalui pekerjaan pribadinya.

Dengan kata lain:

Pemimpin tidak dibayar karena ia berkuasa; ia diberi nafkah karena ia mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat.

Bukankah prinsip ini sangat relevan sampai hari ini?

Apa yang terjadi jika seseorang melihat jabatan sebagai pintu menuju kekayaan?

Ia mulai mencari fasilitas.

Kemudian mencari tunjangan.

Kemudian mencari proyek.

Kemudian memanfaatkan pengaruh.

Kemudian menganggap kekayaan negara sebagai sesuatu yang dapat disentuh sesuka hati.

Akhirnya, negara berubah menjadi ladang kepentingan pribadi.

Abu Bakar justru menunjukkan arah yang berlawanan.

Ia meninggalkan aktivitas perdagangan pribadinya agar dapat bekerja untuk umat.

Masyarakat kemudian menyediakan kebutuhan hidupnya agar ia dapat menjalankan pekerjaan tersebut.

Pertukaran itu sederhana: waktu dan tenaga untuk umat dibalas dengan kebutuhan hidup yang wajar dari Baitul Mal.

Bukan dengan kemewahan.

Bukan dengan kesempatan memperkaya keluarga.

Bukan dengan hak untuk mengambil harta negara.

Di Mana Amanah Itu Sekarang?

Di sinilah kisah Abu Bakar berubah menjadi cermin bagi zaman kita.

Bagaimana jika seorang pemimpin menjadikan kas negara sebagai milik pribadi?

Bagaimana jika fasilitas jabatan berubah menjadi kemewahan tanpa batas?

Bagaimana jika tunjangan tersembunyi lebih besar daripada gaji resminya?

Bagaimana jika kekayaan negara dialihkan ke rekening pribadi, perusahaan keluarga, atau simpanan di luar negeri?

Dan yang lebih mengkhawatirkan:

Bagaimana jika semua itu dianggap biasa karena dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan?

Di sinilah teladan Abu Bakar menjadi sangat penting.

Ia mengajarkan bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tuntutan amanah atas dirinya.

Kekuasaan tidak menambah hak seseorang untuk mengambil harta umat.

Justru kekuasaan menambah tanggung jawabnya untuk menjaga harta umat.

Kekayaan Tidak Menyelamatkan Penguasa

Sejarah telah memperlihatkan berkali-kali bahwa kekayaan yang dikumpulkan seorang penguasa tidak selalu mampu menyelamatkannya dari kehancuran.

Penguasa dapat memiliki istana, tetapi kehilangan tempat berlindung.

Dapat memiliki rekening yang penuh, tetapi kehilangan ketenangan.

Dapat memiliki banyak pengawal, tetapi tidak mampu menghindari ajal.

Dapat memiliki kekuasaan yang sangat besar, tetapi akhirnya meninggalkan semuanya dalam satu hari.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak semestinya:

“Berapa banyak yang ia kumpulkan?”

Tetapi:

“Berapa banyak amanah yang ia tunaikan?”

Tidak penting seberapa besar harta yang berhasil disimpan seseorang jika harta tersebut diperoleh dengan mengorbankan hak rakyat.

Tidak penting seberapa megah istananya jika sejarah mencatat bahwa rakyatnya hidup dalam penderitaan.

Dan tidak penting seberapa kuat kekuasaannya jika ia harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah.

Abu Bakar: Pemimpin yang Bekerja untuk Umat

Abu Bakar sendiri pernah menegaskan makna yang sangat penting mengenai penghidupan keluarganya setelah ia menjadi khalifah:

«“Kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku sebelumnya mampu mencukupi kebutuhan keluargaku. Sekarang aku disibukkan dengan urusan kaum Muslimin. Maka keluarga Abu Bakar akan makan dari harta ini, sementara ia bekerja untuk kepentingan kaum Muslimin.”»

Makna pernyataan tersebut sangat jelas.

Khalifah bukan pemilik negara.

Ia adalah pelayan umat.

Baitul Mal bukan dompet pribadinya.

Harta umat bukan harta keluarganya.

Jabatan bukan warisan.

Kekuasaan bukan alat memperkaya diri.

Dan gaji bukan hadiah karena seseorang berhasil memperoleh kedudukan.

Ia adalah sarana agar seorang pemimpin dapat mengabdikan seluruh waktunya untuk kepentingan masyarakat.

Memisahkan Amanah Pribadi dan Amanah Negara

Dari sini kita dapat melihat prinsip penting dalam tata kelola pemerintahan:

harta pribadi pemimpin harus dibedakan dari harta negara.

Pemimpin boleh memiliki harta pribadi yang diperoleh secara halal.

Namun ketika ia menerima amanah negara, ia tidak boleh mencampurkan keduanya.

Baitul Mal mempunyai fungsi sendiri.

Kebutuhan pribadi mempunyai jalurnya sendiri.

Kepentingan keluarga mempunyai batasnya sendiri.

Kepentingan rakyat mempunyai kedudukan yang jauh lebih besar.

Inilah bentuk sederhana dari pengendalian kekuasaan.

Sebab siapa pun yang memegang kekuasaan tanpa mekanisme pengawasan akan sangat mudah tergoda untuk menganggap milik publik sebagai milik pribadi.

Karena itu, keteladanan Abu Bakar bukan hanya tentang kesederhanaan hidup.

Ia juga berbicara tentang arsitektur moral pemerintahan:

pemisahan kepentingan pribadi dan negara, pembagian tugas, pengawasan, transparansi, dan kesediaan mempertanggungjawabkan penggunaan harta publik.

Negara yang Dibangun dari Dalam

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar menghadapi negara yang berada dalam situasi sangat genting.

Karena itu, ia tidak hanya memikirkan ancaman dari luar.

Ia juga memperkuat bangunan negara dari dalam.

Bukankah negara yang kokoh tidak cukup hanya memiliki tentara yang kuat?

Ia membutuhkan administrasi yang tertib.

Membutuhkan peradilan yang adil.

Membutuhkan pengelolaan keuangan yang amanah.

Membutuhkan pejabat yang kompeten.

Dan yang paling penting, membutuhkan pemimpin yang takut menyalahgunakan kekuasaan.

Abu Bakar memberikan perhatian kepada rakyat, mengawasi para pejabat, memperhatikan peradilan, dan berusaha menjalankan pemerintahan sesuai manhaj Rasulullah ﷺ.

Di sinilah kita memahami bahwa pembangunan negara bukan hanya persoalan memperluas wilayah.

Negara harus dibangun dari dalam.

Jika fondasi moralnya rapuh, kekuasaan sebesar apa pun dapat runtuh.

Jika keuangannya korup, pembangunan akan kehilangan makna.

Jika peradilannya tidak adil, rakyat kehilangan kepercayaan.

Jika pejabatnya tidak amanah, negara berubah menjadi alat kepentingan segelintir orang.

Pelajaran bagi Para Pemimpin

Maka, apa yang dapat dipelajari para pemimpin dari Abu Bakar Ash-Shiddiq?

Pertama, jabatan adalah amanah, bukan sumber kekayaan.

Kedua, pemimpin membutuhkan penghasilan yang wajar agar dapat fokus mengurus rakyat, tetapi penghasilan tersebut harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, harta negara harus dipisahkan dari harta pribadi.

Keempat, kekuasaan membutuhkan pembagian tugas dan orang-orang yang amanah.

Kelima, pemimpin harus tunduk pada hukum dan mekanisme pengawasan.

Keenam, perhatian kepada rakyat merupakan inti pemerintahan, bukan sekadar pelengkap.

Dan yang paling penting:

semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Abu Bakar tidak menjadikan kekhalifahan sebagai jalan untuk hidup lebih mewah.

Justru setelah menjadi khalifah, ia kehilangan kesempatan untuk menjalankan perdagangan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupannya.

Ia menyerahkan waktunya kepada umat.

Masyarakat kemudian menjamin kebutuhan hidupnya.

Sederhana.

Adil.

Jelas.

Dan penuh amanah.

Menorehkan Teladan di Tengah Zaman

Abu Bakar Ash-Shiddiq meniti jalan pembangunan negara dengan kesungguhan, ketegasan, dan energi yang besar.

Ia tidak membiarkan bangunan negara yang diwariskan Rasulullah ﷺ rapuh dari dalam.

Ia memperhatikan administrasi.

Ia memperhatikan keuangan.

Ia memperhatikan peradilan.

Ia memperhatikan para pejabat.

Dan ia memperhatikan rakyat.

Tetapi di atas semuanya, ia memperhatikan amanah.

Bukankah inilah inti kepemimpinan?

Bukan seberapa tinggi seseorang duduk di kursi kekuasaan.

Bukan seberapa banyak fasilitas yang diterimanya.

Bukan seberapa besar kekayaan yang dapat dikumpulkannya.

Melainkan:

seberapa jujur ia menjaga amanah ketika tidak ada seorang pun yang mampu mengawasinya selain Allah.

Di situlah Abu Bakar memberikan pelajaran yang melampaui zamannya.

Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat memiliki kekuasaan tanpa menjadikan kekuasaan sebagai milik pribadi.

Ia dapat menerima gaji tanpa menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri.

Ia dapat mengelola negara tanpa mencampurkan harta negara dengan hartanya.

Dan ia dapat memimpin dengan tegas tanpa kehilangan rasa takut kepada Allah.

Kekuasaan yang paling mulia bukanlah kekuasaan yang paling banyak mengambil, tetapi kekuasaan yang paling banyak menunaikan amanah.

Al-Qur'an Sumber Energi Hidup  Al-Qur’an adalah ruh dan sumber energi hidup. Ia adalah ...

Al-Qur'an Sumber Energi Hidup 



Al-Qur’an adalah ruh dan sumber energi hidup. Ia adalah tiang yang menopang eksistensinya, penjaga yang memeliharanya, penjelas yang menerangkan arah perjalanannya, sekaligus juru bicara yang menyampaikan risalahnya.

Ia adalah undang-undangnya dan manhajnya.

Kepada Al-Qur’an-lah dakwah ini kembali. Dari Al-Qur’an pula para dai menyimpulkan prinsip-prinsip perjuangan, sarana dan prasarana amal, metode pergerakan, serta bekal yang diperlukan dalam menempuh perjalanan panjang dakwah.

Namun, mengapa terkadang kita membaca Al-Qur’an begitu banyak, tetapi pengaruhnya terhadap kehidupan kita terasa begitu sedikit?

Mengapa ayat-ayatnya dapat menyentuh lisan, tetapi belum tentu mengguncang hati?

Di sinilah persoalannya.

Ketika Al-Qur’an Terasa Jauh

Akan selalu ada kesenjangan yang lebar antara kita dan Al-Qur’an selama kita belum menghadirkan dalam benak bahwa kitab ini pada awalnya ditujukan kepada sebuah umat yang hidup.

Bukan umat yang berada dalam ruang abstrak.

Bukan manusia tanpa sejarah.

Bukan masyarakat tanpa persoalan.

Al-Qur’an turun kepada manusia yang benar-benar hidup, menghadapi peristiwa yang benar-benar terjadi, mempunyai kelemahan dan kekuatan, memiliki harapan dan ketakutan, berhadapan dengan musuh, bergulat dengan hawa nafsu, mengalami kemenangan dan kekalahan, melakukan kesalahan lalu diperbaiki, tergelincir lalu diarahkan untuk bangkit kembali.

Al-Qur’an turun untuk menghadapi realitas.

Ia turun menjawab tantangan kehidupan manusia yang nyata.

Ia turun untuk mengobarkan pertempuran besar—bukan hanya di medan kehidupan, tetapi juga di dalam jiwa manusia.

Maka, bagaimana mungkin kita memahami Al-Qur’an hanya sebagai kumpulan bacaan yang indah?

Bagaimana mungkin kita memandangnya sekadar sebagai teks yang dibaca secara tartil, lalu ditutup setelah selesai?

Bukankah ayat-ayatnya dahulu turun untuk berdialog dengan jiwa, peristiwa, dan kehidupan yang nyata?

Al-Qur’an bukan kitab yang turun di luar sejarah manusia. Ia turun di tengah-tengah sejarah manusia, membimbing manusia ketika sejarah itu sedang berlangsung.

Al-Qur’an dan Pertempuran Kehidupan

Kemukjizatan Al-Qur’an yang sangat menonjol dapat kita lihat dari kenyataan bahwa ia diturunkan untuk menghadapi realitas tertentu, kepada umat tertentu, dalam fase tertentu.

Namun, pada saat yang sama, Al-Qur’an tidak pernah menjadi sekadar dokumen sejarah.

Mengapa?

Karena setelah membimbing generasi pertama, ia tetap mampu membimbing generasi-generasi sesudahnya.

Inilah yang menakjubkan.

Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur bersama perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Ia hadir ketika kaum Muslimin menghadapi tekanan di Makkah. Ia hadir ketika mereka berhijrah. Ia hadir ketika masyarakat Islam dibangun di Madinah. Ia hadir ketika mereka menghadapi musuh, mengatur kehidupan sosial, menyelesaikan perselisihan, menghadapi godaan dunia, mengalami kemenangan, menghadapi kekalahan, dan belajar bangkit dari kesalahan.

Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar berbicara tentang kehidupan.

Ia dahulu hadir di dalam kehidupan.

Dan karena manusia hari ini tetap manusia, petunjuknya tetap memiliki daya hidup.

Hadirkan Generasi Pertama

Jika kita ingin memperoleh energi Al-Qur’an, merasakan gelora yang tersembunyi di dalamnya, dan menangkap nasihat yang tersimpan bagi umat Islam di setiap generasi, ada satu hal penting yang perlu dilakukan:

Hadirkan kembali generasi pertama Islam di dalam benak kita.

Bayangkan mereka sebagai manusia yang nyata.

Lihat mereka bukan hanya sebagai nama-nama besar dalam buku sejarah, tetapi sebagai manusia yang mempunyai perasaan, ketakutan, harapan, kelemahan, dan perjuangan.

Lihat bagaimana mereka bergerak dalam realitas kehidupan.

Mereka berada di Makkah.

Kemudian berhijrah ke Madinah.

Mereka berinteraksi dengan sahabat, keluarga, dan masyarakat.

Mereka menghadapi musuh.

Mereka berhadapan dengan berbagai godaan.

Mereka juga harus berperang melawan musuh yang paling dekat: hawa nafsu di dalam diri mereka sendiri.

Dan dalam seluruh perjalanan itu, Al-Qur’an turun membimbing mereka.

Ayat turun ketika mereka membutuhkan arahan.

Ayat turun ketika mereka melakukan kesalahan.

Ayat turun ketika mereka mengalami tekanan.

Ayat turun ketika mereka menghadapi musuh.

Ayat turun ketika mereka memperoleh kemenangan.

Ayat turun untuk menguatkan mereka ketika mereka lemah dan mengingatkan mereka ketika mereka mulai menyimpang.

Bukankah dengan cara seperti itu kita dapat memahami bagaimana Al-Qur’an membentuk manusia?

Bukan sekaligus.

Tetapi selangkah demi selangkah.

Mereka Bukan Malaikat

Di sinilah kita perlu melihat generasi pertama umat Islam dengan pandangan yang lebih manusiawi.

Mereka bukan malaikat.

Mereka manusia.

Mereka dapat terpeleset, kemudian bangkit.

Mereka dapat menyeleweng, kemudian bertobat.

Mereka dapat merasa lemah, kemudian kembali menguat.

Mereka dapat mengalami kesakitan, kemudian belajar bersabar.

Mereka menaiki anak tangga perubahan satu demi satu—dengan perlahan, penuh keletihan, ketabahan, dan perjuangan.

Justru di situlah kita menemukan relevansi Al-Qur’an bagi kehidupan kita.

Sebab bukankah kita juga manusia?

Bukankah kita juga mengalami kelemahan?

Bukankah kita juga pernah jatuh dan harus bangkit?

Bukankah kita juga bergulat dengan hawa nafsu?

Bukankah kita juga menghadapi tekanan kehidupan, konflik, kegagalan, godaan, dan berbagai persoalan?

Jika demikian, mengapa kita merasa bahwa Al-Qur’an hanya ditujukan kepada generasi yang telah berlalu?

Bukankah kita juga termasuk manusia yang menjadi sasaran petunjuknya?

Kita Juga Obyek Sasaran Al-Qur’an

Karena alasan itulah, kita perlu menempatkan diri kita di hadapan Al-Qur’an sebagaimana generasi pertama menempatkan diri mereka.

Ketika membaca ayat tentang kesabaran, jangan hanya bertanya:

“Kepada siapa ayat ini dahulu turun?”

Tanyakan juga:

“Apa yang sedang dikatakan Allah kepada saya?”

Ketika membaca ayat tentang kesalahan, tanyakan:

“Kesalahan apa dalam diri saya yang sedang disentuh oleh ayat ini?”

Ketika membaca ayat tentang perjuangan, tanyakan:

“Perjuangan apa yang sedang saya hadapi?”

Ketika membaca ayat tentang keteguhan, tanyakan:

“Di bagian mana kehidupan saya membutuhkan keteguhan?”

Inilah cara agar Al-Qur’an kembali hidup dalam kesadaran kita.

Kita tidak lagi membacanya sebagai cerita yang telah selesai.

Kita membacanya sebagai firman Allah yang sedang berbicara kepada manusia—dan manusia itu adalah kita.

Al-Qur’an Bukan Sekadar Penggalan Sejarah

Dengan cara pandang seperti ini, kita akan melihat Al-Qur’an hidup di dalam kehidupan generasi pertama.

Dan jika ia hidup di dalam kehidupan mereka, mengapa ia tidak dapat hidup dalam kehidupan kita?

Kita akan merasakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya milik kemarin.

Ia bersama kita hari ini.

Ia juga akan bersama kita esok hari.

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan dengan tartil tanpa hubungan dengan realitas kehidupan.

Ia bukan pula sekadar penggalan sejarah yang telah selesai, lalu berhenti memberikan pengaruh setelah generasi pertama berlalu.

Al-Qur’an adalah firman Allah untuk manusia.

Dan selama manusia masih menjadi manusia, kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah tidak pernah berakhir.

Kitab Allah yang Dibaca

Al-Qur’an adalah sebuah hakikat yang memiliki eksistensi permanen.

Semesta raya adalah Kitab Allah yang terlihat, sedangkan Al-Qur’an adalah Kitab Allah yang dibaca.

Keduanya sama-sama menunjukkan kebesaran Penciptanya.

Lihatlah alam semesta.

Matahari bergerak sesuai ketentuan-Nya.

Bulan beredar pada ketentuannya.

Bumi menjalankan perannya.

Bintang-bintang dan planet-planet bergerak dalam keteraturan yang ditetapkan Allah.

Waktu berlalu, tetapi sunnatullah tetap berlangsung.

Lalu bagaimana dengan Al-Qur’an?

Apakah karena manusia mengalami perubahan zaman, maka firman Allah juga kehilangan relevansinya?

Tentu tidak.

Al-Qur’an tetap menjalankan perannya sebagai petunjuk manusia.

Sebab yang menjadi sasaran utama petunjuk Al-Qur’an adalah hakikat manusia dan fitrahnya.

Manusia dapat berpindah tempat.

Peradaban dapat berubah.

Teknologi dapat berkembang.

Sistem ekonomi dapat berganti.

Cara manusia berkomunikasi dapat berubah secara drastis.

Tetapi manusia tetap memiliki kebutuhan mendasar yang sama: kebutuhan kepada kebenaran, keadilan, makna, kasih sayang, pengendalian diri, keluarga, kehidupan sosial, dan hubungan dengan Penciptanya.

Manusia tetap memiliki hawa nafsu.

Tetap memiliki kesombongan.

Tetap memiliki rasa takut.

Tetap memiliki cinta terhadap dunia.

Tetap dapat berbuat zalim.

Tetap dapat bertobat.

Tetap dapat mencintai kebaikan.

Inilah wilayah yang disentuh Al-Qur’an.

Apakah Al-Qur’an Sudah Ketinggalan Zaman?

Bayangkan seseorang berkata:

«“Matahari itu benda langit yang sudah kuno. Karena sudah sangat tua, ia harus diganti dengan matahari yang baru dan modern.”»

Bukankah perkataan itu terdengar menggelikan?

Atau seseorang berkata:

«“Manusia adalah makhluk kuno. Ia sudah hidup terlalu lama. Karena itu, kita membutuhkan makhluk baru yang lebih modern untuk menggantikannya.”»

Bukankah itu juga terdengar absurd?

Jika demikian, bagaimana mungkin kita mengatakan:

“Al-Qur’an sudah terlalu tua untuk zaman modern.”

Bukankah Al-Qur’an adalah firman Allah yang terakhir bagi manusia?

Usianya tidak membuatnya usang.

Sebagaimana usia manusia tidak membuat hakikat kemanusiaannya berubah menjadi makhluk lain, perubahan zaman juga tidak mengubah kebutuhan manusia kepada petunjuk Allah.

Yang berubah adalah situasinya.

Yang berubah adalah sarananya.

Yang berubah adalah bentuk persoalannya.

Tetapi manusia tetap manusia.

Dan karena Al-Qur’an adalah firman Allah untuk manusia, ia tetap memiliki kemampuan untuk membimbing manusia dalam menghadapi zaman yang terus berubah.

Membaca Al-Qur’an dengan Kesadaran Dakwah

Maka persoalannya bukan:

“Apakah Al-Qur’an masih relevan?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apakah kita membacanya dengan cara yang membuat relevansinya hidup dalam diri kita?”

Bisa jadi masalahnya bukan pada Al-Qur’an.

Bisa jadi masalahnya ada pada cara kita mendekatinya.

Kita membacanya, tetapi tidak menghadirkan realitas manusia.

Kita menghafalnya, tetapi tidak menghadirkan pesan perubahan.

Kita melantunkannya, tetapi tidak membiarkan ayat-ayatnya berdialog dengan kehidupan.

Kita menyelesaikan satu juz, tetapi belum tentu membiarkan satu ayat menyelesaikan satu persoalan dalam diri kita.

Padahal generasi pertama tidak berinteraksi dengan Al-Qur’an seperti itu.

Mereka membaca untuk bergerak.

Mereka mendengar untuk berubah.

Mereka menerima petunjuk untuk menjalankannya.

Karena itu, jika kita ingin merasakan kembali kekuatan Al-Qur’an, mari kita kembali kepadanya dengan pertanyaan yang hidup:

Apa yang Allah kehendaki dari saya melalui ayat ini?

Apa yang harus saya ubah?

Apa yang harus saya tinggalkan?

Apa yang harus saya perjuangkan?

Bagaimana ayat ini membimbing saya menghadapi kehidupan nyata?

Di situlah Al-Qur’an berhenti menjadi sekadar teks yang kita baca.

Ia berubah menjadi petunjuk yang menggerakkan.

Ia menjadi ruh bagi dakwah.

Ia menjadi cahaya bagi perjalanan.

Ia menjadi teman dalam perjuangan.

Dan ia kembali hadir sebagai kitab yang hidup—sebagaimana dahulu ia hidup di tengah generasi pertama umat Islam.

Al-Qur’an bukan penggalan masa lalu yang telah selesai.

Ia adalah firman Allah yang terus berbicara kepada manusia selama manusia masih hidup di muka bumi.


(Diadaptasi dari Fiqh Pergerakan Sayid Qutb, Pustaka Uswah, 2007)

Lahirnya Imperialisme Modern, Komunisme, dan Zionisme Bagaimana sebenarnya imper...

Lahirnya Imperialisme Modern, Komunisme, dan Zionisme


Bagaimana sebenarnya imperialisme modern lahir? Mengapa negara-negara Protestan dan Calvinis kemudian tampil sebagai kekuatan utama dalam pembangunan kapitalisme dan imperialisme modern? Dan bagaimana perkembangan itu, pada akhirnya, melahirkan reaksi berupa komunisme dan Zionisme?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting diajukan karena ketiganya—imperialisme, komunisme, dan Zionisme—tidak muncul dalam ruang sejarah yang kosong. Ketiganya tumbuh dari pergulatan panjang Eropa: pergulatan agama, ekonomi, politik, kelas sosial, dan perebutan kekuasaan.

Dari Etika Protestan Menuju Kapitalisme

Salah satu penjelasan yang sering dikemukakan mengenai kebangkitan kapitalisme modern adalah peran etika Protestan, khususnya Calvinisme.

Apa yang ditekankan oleh etika tersebut?

Kerja keras, hidup hemat, disiplin, dan kebiasaan menabung. Dari kerja keras terkumpul keuntungan; dari keuntungan lahirlah modal; dan modal kemudian diputar kembali untuk menghasilkan modal yang lebih besar.

Max Weber, dalam kajiannya mengenai The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, melihat adanya hubungan antara etika Protestan dan perkembangan semangat kapitalisme modern. Dengan demikian, agama tidak hanya dipahami sebagai urusan ibadah pribadi, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap pembentukan etos ekonomi dan perilaku sosial.

Namun, apakah kapitalisme berhenti pada pengumpulan modal?

Tidak.

Ketika modal berkembang, muncul kebutuhan akan pasar, bahan baku, tenaga kerja, jalur perdagangan, dan wilayah baru. Dari sinilah kapitalisme dapat berkelindan dengan imperialisme. Semangat mencari keuntungan akhirnya bertemu dengan kepentingan negara untuk memperluas pengaruh politik dan ekonominya.

Maka, imperialisme modern tidak cukup dipahami hanya sebagai ambisi menaklukkan wilayah. Ia juga berkaitan dengan kebutuhan ekonomi, perkembangan industri, persaingan antarnegara, serta pencarian pasar dan sumber daya.

Runtuhnya Supremasi Negara Gereja

Memasuki abad ke-19, Eropa mengalami perubahan besar. Kekuasaan politik gereja yang selama berabad-abad sangat kuat mulai menghadapi tekanan nasionalisme dan negara modern.

Pada 1870, gerakan nasional Italia yang dipimpin Raja Victor Emmanuel II dan didukung Perdana Menteri Camillo di Cavour berhasil menyatukan Italia dan mengakhiri dominasi politik Negara Gereja atas sebagian besar wilayah Italia.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu simbol penting perubahan Eropa: dari dominasi kekuasaan keagamaan menuju negara nasional modern.

Namun, apakah runtuhnya dominasi politik Negara Gereja berarti berakhirnya imperialisme?

Justru sebaliknya.

Italia yang berhasil menyatukan diri kemudian tumbuh menjadi salah satu negara imperialis Barat. Pada periode yang hampir bersamaan, Jerman di bawah Kaisar Wilhelm I dan Otto von Bismarck berhasil membangun negara kesatuan yang kuat. Setelah itu, Jerman berkembang menjadi salah satu kekuatan industri dan imperial Eropa.

Dengan demikian, runtuhnya dominasi politik lama tidak otomatis menghapus imperialisme. Bentuknya saja yang berubah.

Imperialisme keagamaan abad pertengahan perlahan digantikan oleh imperialisme negara nasional modern.

Dari Kapitalisme Menuju Konflik Kelas

Tetapi perkembangan kapitalisme juga membawa persoalan baru.

Jika modal semakin terkonsentrasi pada pemilik modal, siapa yang menikmati hasil perkembangan industri?

Di sinilah muncul persoalan kaum buruh atau proletariat.

Dalam masyarakat industri Eropa abad ke-19, banyak buruh bekerja dalam kondisi berat dengan upah rendah, jam kerja panjang, dan perlindungan sosial yang sangat terbatas. Di sisi lain, pemilik modal atau kaum borjuis memperoleh keuntungan dari kegiatan produksi.

Maka muncul pertanyaan yang semakin keras:

Jika kapitalisme menjanjikan kemajuan, mengapa kemajuan itu juga menghasilkan kemiskinan dan penderitaan bagi sebagian besar buruh?

Dari persoalan inilah Karl Marx tampil menawarkan penjelasan yang berbeda.

Menurut Marx, kemiskinan kaum buruh bukan semata-mata akibat kegagalan individu. Kemiskinan tersebut merupakan bagian dari struktur ekonomi yang memungkinkan pemilik modal memperoleh keuntungan dari tenaga kerja buruh.

Maka pertentangannya bukan sekadar antara orang kaya dan orang miskin, tetapi antara dua kelas: borjuis dan proletar.

Marx kemudian menawarkan revolusi sebagai jalan untuk mengubah struktur tersebut.

Manifesto Komunis dan Masyarakat Tanpa Kelas

Gagasan Marx dan Friedrich Engels dituangkan secara terkenal dalam Manifesto Komunis pada 1848.

Intinya adalah seruan agar kaum proletar di berbagai negeri bersatu melawan sistem yang dianggap mengeksploitasi mereka.

Dalam pandangan komunisme, masyarakat ideal adalah masyarakat tanpa kelas (classless society). Tidak ada lagi kelas pemilik modal yang menguasai alat produksi dan tidak ada kelas buruh yang dieksploitasi.

Tetapi di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Mungkinkah masyarakat tanpa kelas benar-benar diwujudkan?

Dan pertanyaan berikutnya:

Jika negara dan kelas sosial hendak dihapus, bagaimana masyarakat tersebut akan mengatur dirinya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menjadi bagian dari perdebatan besar sepanjang abad ke-20.

Komunisme tidak hanya menjadi kritik terhadap kapitalisme, tetapi juga berkembang menjadi ideologi politik yang dalam berbagai bentuk menolak peran agama dalam kehidupan negara. Dalam tradisi kritik Marx, agama bahkan dipandang sebagai salah satu unsur yang dapat membuat kaum tertindas menerima keadaan mereka tanpa melakukan perubahan struktural.

Dalam konteks Eropa, kritik tersebut dapat dipahami sebagai reaksi terhadap pengalaman sejarah ketika institusi keagamaan pernah berkelindan erat dengan kekuasaan politik.

Namun, apakah pengalaman agama di Eropa dapat digeneralisasikan kepada seluruh agama dan seluruh masyarakat?

Di sinilah kritik terhadap komunisme juga perlu diajukan.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa agama tidak selalu menjadi alat penindasan. Dalam banyak masyarakat, agama justru menjadi sumber moralitas, solidaritas, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas.

Revolusi Rusia dan Lahirnya Negara Komunis

Sekitar tujuh puluh tahun setelah Manifesto Komunis, gagasan revolusioner memperoleh momentum besar di Rusia.

Pada 1917, Revolusi Rusia mengguncang kekuasaan Tsar Nicholas II. Revolusi kemudian berkembang menjadi kemenangan kaum Bolshevik di bawah Vladimir Lenin dan melahirkan negara Soviet.

Peristiwa ini terjadi ketika Eropa sedang berada dalam kehancuran akibat Perang Dunia I.

Perang tersebut pada dasarnya memperlihatkan paradoks besar peradaban modern:

negara-negara yang mengaku telah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan, industri, dan teknologi justru menggunakan kemajuan tersebut untuk melakukan perang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di sinilah komunisme memperoleh ruang untuk menawarkan alternatif.

Jika kapitalisme melahirkan eksploitasi, kata kaum revolusioner, maka sistem itu harus diganti.

Jika monarki menghasilkan ketimpangan, maka monarki harus diruntuhkan.

Jika agama dianggap telah bersekutu dengan kekuasaan lama, maka agama harus dipisahkan bahkan disingkirkan dari kehidupan politik.

Namun, perjalanan sejarah kemudian menunjukkan bahwa penghapusan kelas tidak serta-merta menghapus hierarki kekuasaan. Revolusi yang mengatasnamakan kaum proletar juga melahirkan struktur negara dan elite politik baru.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai classless society tetap terbuka untuk diuji oleh sejarah.

Komunisme dan Indonesia

Gelombang komunisme kemudian mencapai Hindia Belanda.

Pada 1920, gerakan komunis berkembang di Indonesia dengan tokoh-tokoh seperti Semaun, Darsono, dan Tan Malaka, dalam konteks organisasi yang kemudian dikenal sebagai PKI.

Gerakan ini berhadapan dengan arus nasionalisme dan gerakan Islam yang telah berkembang sebelumnya.

Salah satu organisasi yang menjadi arena penting pergulatan tersebut adalah Sarekat Islam. Di dalamnya muncul perdebatan mengenai arah perjuangan, hubungan antara Islam dan sosialisme, serta strategi menuju kemerdekaan.

Di sinilah sejarah menjadi semakin kompleks.

Apakah pemerintah kolonial Belanda benar-benar tidak menyadari potensi politik gerakan komunis?

Apakah konflik internal dalam Sarekat Islam hanya merupakan persoalan ideologi, atau juga memiliki dimensi politik kolonial?

Dan sejauh mana pemerintah kolonial memanfaatkan perpecahan di antara kelompok-kelompok pergerakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan bukti sejarah yang memadai. Jangan sampai analisis sejarah berubah menjadi kesimpulan konspiratif yang tidak memiliki dukungan sumber primer.

Yang jelas, perbedaan ideologi antara gerakan Islam dan komunisme memang menghasilkan pertarungan politik yang serius. Sarekat Islam membawa identitas keislaman sekaligus aspirasi kebangsaan, sedangkan komunisme menawarkan perjuangan kelas dan revolusi sosial.

Pertarungan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari sejarah politik Indonesia modern.

Zionisme dan Runtuhnya Kekuasaan Utsmani

Pada waktu yang hampir bersamaan, muncul gerakan lain yang kelak memiliki dampak sangat besar terhadap Timur Tengah: Zionisme.

Zionisme modern berkembang di Eropa pada akhir abad ke-19 dalam konteks meningkatnya antisemitisme, diskriminasi, dan kekerasan terhadap komunitas Yahudi di berbagai wilayah Eropa, terutama di Kekaisaran Rusia.

Theodor Herzl kemudian menjadi salah satu tokoh utama yang mengubah Zionisme menjadi gerakan politik modern. Pada 1896 ia menerbitkan Der Judenstaat (The Jewish State), yang mengemukakan gagasan mengenai perlunya negara bagi orang Yahudi.

Pertanyaan politiknya kemudian menjadi sangat rumit:

Di manakah negara tersebut akan didirikan?

Bagi gerakan Zionis, Palestina memiliki arti historis dan religius yang sangat penting. Akan tetapi, pada akhir abad ke-19 Palestina masih merupakan bagian dari Kesultanan Utsmani dan dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang Arab, Muslim, Kristen, dan Yahudi.

Maka proyek politik Zionisme tidak dapat dipisahkan dari persoalan yang lebih besar: runtuhnya Kesultanan Utsmani dan perebutan pengaruh oleh kekuatan-kekuatan Eropa.

Perang Dunia I dan Runtuhnya Kesultanan Utsmani

Perang Dunia I mempercepat perubahan geopolitik Timur Tengah.

Kesultanan Utsmani yang berada di pihak Blok Sentral mengalami kekalahan. Setelah perang, wilayah kekuasaannya dibagi-bagi dan ditempatkan di bawah mandat serta pengaruh kekuatan Eropa.

Inggris memperoleh pengaruh besar di Palestina.

Dalam konteks inilah Deklarasi Balfour 1917 menjadi sangat penting. Pemerintah Inggris menyatakan dukungannya terhadap pembentukan sebuah national home for the Jewish people di Palestina, dengan ketentuan bahwa hak-hak komunitas non-Yahudi yang telah ada di wilayah tersebut tidak boleh dirugikan.

Namun, sejarah kemudian menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak berhenti pada sebuah deklarasi.

Migrasi Yahudi meningkat, ketegangan dengan penduduk Arab Palestina semakin tajam, dan konflik politik serta sosial terus berkembang.

Pada 1948, Negara Israel diproklamasikan.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu titik balik paling menentukan dalam sejarah Timur Tengah modern.

Antara Zionisme, Inggris, dan Politik Timur Tengah

Hubungan antara Zionisme dan Inggris memang menjadi bagian penting dari sejarah tersebut. Inggris memiliki kepentingan strategis sendiri di Timur Tengah, sementara gerakan Zionis memiliki agenda politiknya sendiri.

Namun, hubungan itu tidak tepat disederhanakan menjadi satu teori bahwa seluruh perubahan politik Rusia, Turki, Arabia, dan Palestina dikendalikan oleh satu jaringan yang sama.

Sejarah jauh lebih rumit.

Runtuhnya Kesultanan Utsmani melibatkan perang, nasionalisme Arab, gerakan Turki Muda, kepentingan Inggris dan Prancis, perubahan internal Utsmani, serta dinamika internasional yang sangat luas.

Demikian pula, Mustafa Kemal Atatürk dan gerakan nasional Turki tidak dapat dijelaskan hanya melalui identitas agama atau teori konspirasi etnis. Ia merupakan produk dari nasionalisme Turki, pengalaman perang, modernisasi militer, dan keinginan membangun negara nasional baru.

Karena itu, kritik terhadap sekularisme Turki perlu dibedakan dari tuduhan yang tidak memiliki dasar dokumenter kuat.

Imperialisme dan Tragedi Bangsa-Bangsa Pribumi

Di luar Eropa, imperialisme modern menghasilkan konsekuensi yang jauh lebih luas.

Ekspansi Eropa ke Amerika, Afrika, Asia, dan Australia membawa perubahan demografis, ekonomi, politik, dan budaya yang sangat besar.

Di Amerika, ekspansi kolonial Eropa menyebabkan kehancuran besar bagi masyarakat adat melalui peperangan, pengusiran, perampasan tanah, penyakit, dan kebijakan kolonial. Dalam jangka panjang, banyak komunitas pribumi mengalami kehancuran demografis dan sosial yang sangat berat.

Di Afrika, perdagangan budak Atlantik dan kolonialisme menjadikan jutaan manusia Afrika sebagai komoditas dalam sistem ekonomi global.

Di Australia, masyarakat Aborigin mengalami perampasan tanah, kekerasan, marginalisasi, serta kebijakan asimilasi yang berlangsung selama beberapa generasi.

Maka, benarkah sejarah kolonial dapat hanya diceritakan sebagai kisah kepahlawanan para penjelajah?

Bukankah ada sisi lain yang juga harus ditampilkan?

Jika seorang penjelajah Eropa menyeberangi samudra, ia mungkin memang dapat disebut berani. Tetapi keberanian tersebut tidak boleh membuat kita melupakan apa yang terjadi kepada masyarakat yang telah lebih dahulu hidup di tanah yang didatanginya.

Di sinilah historiografi perlu bersikap kritis.

Satu peristiwa dapat memiliki dua wajah.

Bagi pihak yang datang, ia mungkin disebut ekspedisi.

Bagi pihak yang didatangi, ia dapat berarti invasi.

Bagi pihak yang menang, ia disebut penaklukan.

Bagi pihak yang kalah, ia mungkin berarti kehilangan tanah dan kehidupan.

Bagi imperium, ia disebut pembangunan peradaban.

Bagi masyarakat yang dijajah, ia dapat berarti eksploitasi.

Siapa yang Menulis Sejarah?

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya:

Apa yang terjadi dalam sejarah?

Tetapi juga:

Siapa yang menulis sejarah, dari sudut pandang siapa, dan untuk kepentingan siapa?

Kita perlu berhati-hati terhadap sejarah yang hanya memuliakan pihak yang menang. Tetapi kita juga harus berhati-hati terhadap kebalikannya: mengganti satu narasi simplistis dengan narasi simplistis lainnya.

Sejarah bukan sekadar arena untuk menentukan siapa yang sepenuhnya baik dan siapa yang sepenuhnya jahat.

Sejarah adalah ruang untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ideologi lahir, bagaimana ekonomi membentuk politik, bagaimana agama berinteraksi dengan negara, dan bagaimana manusia dapat menjadi korban dari sistem yang mereka bangun sendiri.

Imperialisme modern melahirkan kapitalisme dalam konteks tertentu.

Kapitalisme melahirkan persoalan ketimpangan yang kemudian dikritik komunisme.

Komunisme menawarkan masyarakat tanpa kelas, tetapi praktik politiknya melahirkan persoalan baru tentang kekuasaan.

Zionisme lahir dalam konteks panjang sejarah Yahudi Eropa, antisemitisme, nasionalisme, dan runtuhnya kekuasaan Utsmani, kemudian berkembang menjadi proyek politik yang mengubah wajah Palestina dan Timur Tengah.

Sementara itu, imperialisme Eropa meninggalkan jejak panjang di Amerika, Afrika, Asia, dan Australia.

Maka, ketika membaca seluruh rangkaian sejarah tersebut, pertanyaan yang paling penting bukan sekadar:

“Siapa yang salah?”

Melainkan:

“Bagaimana sebuah gagasan yang pada awalnya menjanjikan kemajuan, kebebasan, atau keselamatan dapat berubah menjadi instrumen kekuasaan ketika bertemu dengan ambisi politik dan kepentingan ekonomi?”

Pertanyaan itulah yang membuat sejarah tetap relevan.

Sebab sejarah bukan hanya cerita tentang masa lalu.

Sejarah adalah cermin untuk membaca cara manusia membangun kekuasaan—dan bagaimana kekuasaan, jika tidak dikendalikan oleh moralitas dan keadilan, dapat berubah menjadi alat penindasan.

Interaksi Al-Qur’anul Karim Bersama Jiwa-Jiwa Manusia di Makkah dan Madinah  Jik...

Interaksi Al-Qur’anul Karim Bersama Jiwa-Jiwa Manusia di Makkah dan Madinah 


Jika seseorang membaca Al-Qur’an dengan menghadirkan seluruh peristiwa sirah ke dalam benaknya, ia akan merasakan sebuah kenyataan yang luar biasa:

Al-Qur’an tidak sekadar dibaca oleh manusia Makkah. Al-Qur’an sedang berhadapan dengan jiwa-jiwa mereka.

Ia masuk ke dalam ruang terdalam manusia. Ia mengguncang keyakinan, membongkar kebiasaan, mengusik kesombongan, menyentuh rasa takut, membangkitkan harapan, lalu perlahan-lahan membebaskan manusia dari belenggu jahiliah.

Bukankah ini yang sebenarnya terjadi selama fase Makkah?

Pertempuran pertama bukanlah pertempuran pedang.

Pertempuran pertama adalah pertempuran Al-Qur’an melawan jahiliah yang bersemayam di dalam jiwa.

Dan betapa menakjubkan cara Al-Qur’an melakukan pertempuran itu.

Kadang-kadang ia datang seperti topan, menerjang jiwa dengan bukti-bukti yang kuat dan pengaruh yang dahsyat hingga manusia tidak mampu lagi mempertahankan kebatilan.

Kadang-kadang ia datang seperti guncangan, meluluhlantakkan cara pandang dan pola pikir yang selama ini dianggap kokoh.

Kadang-kadang ia datang seperti cambuk, melecut kesadaran dengan keras sehingga hati tidak sanggup lagi mengabaikan rasa sakit akibat dosa dan penyimpangan.

Namun apakah Al-Qur’an selalu datang dengan keras?

Tidak.

Kadang-kadang ia hadir sebagai munajat cinta.

Sebagai rayuan penuh kasih.

Sebagai bisikan yang lembut.

Ia menyentuh perasaan, menanam kerinduan, dan mengajak hati untuk kembali kepada Rabb-nya.

Kadang-kadang ia hadir melalui rasa takut.

Ia mengguncangkan manusia dengan peringatan dan teriakan yang mengejutkan, membuka mata terhadap bahaya yang sebenarnya telah mendekat.

Kadang-kadang ia hanya menghadirkan hakikat kebenaran dalam kesederhanaannya.

Begitu jernih.

Begitu terang.

Begitu masuk akal.

Sehingga tidak tersisa ruang untuk menghindar.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi di balik alasan.

Tidak ada lagi celah untuk mendebat kebenaran.

Dan kadang-kadang ia menghadirkan harapan.

Harapan yang terang.

Harapan yang luas.

Harapan yang terus dibukakan di hadapan manusia agar ia tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Lalu dalam perjalanan yang panjang itu, Al-Qur’an membawa jiwa melewati berbagai dataran dan lembah kehidupan.

Ia menerangi bagian-bagian jiwa yang selama ini tersembunyi.

Ia membuat manusia melihat dirinya sendiri.

Bukankah ini salah satu kekuatan Al-Qur’an yang paling menakjubkan?

Ia bukan hanya membuat manusia melihat dunia. Ia membuat manusia melihat dirinya sendiri.

Ia membuat seseorang menyaksikan apa yang selama ini terjadi di dalam hatinya.

Ia menyadari kontradiksi dirinya.

Ia melihat kesombongannya.

Ia mengenali ketakutannya.

Ia mengetahui kelemahannya.

Bahkan ia dapat merasa malu terhadap sebagian dirinya sendiri.

Dan perlahan-lahan, bagian-bagian jiwa yang saling bertentangan mulai dipertemukan.

Jiwa yang tadinya liar mulai diarahkan.

Jiwa yang keras mulai dilunakkan.

Jiwa yang takut mulai diteguhkan.

Jiwa yang sombong mulai ditundukkan.

Jiwa yang jauh mulai dipanggil pulang.

Maka ratusan sentuhan, ratusan tatapan, ratusan bisikan, dan ratusan rangsangan dapat ditemukan oleh siapa saja yang membaca Al-Qur’an sambil mengikuti perjalanan panjang dakwah Rasulullah ﷺ.

Ia akan melihat sebuah pertempuran yang panjang.

Bukan pertempuran sehari atau dua hari.

Bukan pula penaklukan yang berlangsung seketika.

Melainkan proses penyembuhan yang perlahan.

Al-Qur’an menghadapi jahiliah di dalam jiwa manusia, kemudian membentuk jiwa baru yang sanggup memikul risalah.

Dan dari sinilah sesuatu yang lebih besar mulai lahir.

---

Kelahiran Gerakan Islam: Bagaimana Ia Terjadi dan Bagaimana Ia Bertumbuh?

Gerakan Islam lahir di Makkah dalam keadaan yang sangat berat.

Pada awalnya, Quraisy belum sepenuhnya memahami bahaya yang terkandung dalam seruan:

لا إله إلا الله، محمد رسول الله

"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah."

Mengapa?

Karena bagi mereka, kalimat itu mungkin tampak seperti sekadar ajaran keagamaan baru.

Padahal sesungguhnya ia membawa perubahan mendasar terhadap seluruh tatanan kehidupan.

La ilaha illallah bukan hanya mengganti satu bentuk ibadah dengan bentuk ibadah yang lain.

Ia mengembalikan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah.

Ia menolak perbudakan manusia kepada manusia.

Ia menolak kesewenang-wenangan manusia atas manusia.

Ia memindahkan pusat ketaatan dari kepemimpinan jahiliah kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, ketika dakwah ini mulai membentuk manusia-manusia baru, sebenarnya sedang lahir sebuah kekuatan sosial yang sama sekali berbeda.

Sebuah umat baru.

Dengan keyakinan baru.

Dengan loyalitas baru.

Dengan kepemimpinan baru.

Dengan ukuran kemuliaan yang baru.

Dan yang paling penting:

dengan Rabb yang baru mereka kenal sebagai satu-satunya yang berhak ditaati dan disembah.

Maka, cepat atau lambat, benturan pasti terjadi.

---

Mengapa Jahiliah Melawan?

Bayangkan sebuah masyarakat yang selama puluhan bahkan ratusan tahun berdiri di atas sebuah sistem tertentu.

Kemudian datang sekelompok manusia yang berkata:

“Tidak ada ketaatan mutlak kecuali kepada Allah.”

Apa yang terjadi?

Bukankah fondasi kekuasaan lama akan merasa terancam?

Karena itu, ketika Quraisy mulai menyadari bahwa dakwah ini bukan sekadar perubahan keyakinan pribadi, mereka mulai mengerahkan berbagai cara untuk menghentikannya.

Intimidasi.

Fitnah.

Tekanan sosial.

Pemboikotan.

Penyiksaan.

Makar.

Dan pada akhirnya, ancaman terhadap jiwa.

Ini merupakan pola yang dapat kita lihat dalam banyak perubahan sosial:

Sebuah sistem yang merasa eksistensinya terancam akan berusaha mempertahankan dirinya.

Maka benturan antara jahiliah dan Islam bukan sekadar benturan antara dua gagasan.

Ia menjadi benturan antara dua sistem nilai dan dua kepemimpinan.

Di satu sisi terdapat kepemimpinan jahiliah.

Di sisi lain lahir kepemimpinan Rasulullah ﷺ.

Di satu sisi terdapat loyalitas berdasarkan kabilah, status, kekayaan, dan tradisi.

Di sisi lain muncul persaudaraan berdasarkan iman.

Dan di tengah benturan itulah manusia harus memilih.

---

Siapa yang Berani Mengucapkan La Ilaha Illallah?

Di sinilah kita memahami mengapa generasi pertama Islam begitu istimewa.

Mengucapkan:

لا إله إلا الله

pada masa itu bukan sekadar mengucapkan kalimat dengan lisan.

Ia adalah keputusan hidup.

Orang yang mengucapkannya harus siap menghadapi konsekuensi.

Siap kehilangan kenyamanan.

Siap menghadapi tekanan.

Siap menghadapi keterasingan.

Siap menghadapi kelaparan.

Bahkan dalam sebagian keadaan, siap menghadapi kematian.

Maka siapa yang tetap bertahan?

Mereka adalah manusia-manusia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah.

Karena itu, fase Makkah secara tidak langsung menjadi proses seleksi dan pembentukan generasi inti.

Tekanan yang sangat berat menyingkirkan mereka yang tidak sanggup bertahan.

Sebaliknya, tekanan itu justru memperkuat mereka yang memiliki keyakinan mendalam.

Bukankah ini sebuah sunnatullah dalam pembentukan sebuah gerakan?

Tekanan menguji kualitas fondasi.

Jika fondasinya rapuh, bangunan akan retak.

Jika fondasinya kokoh, tekanan justru membuatnya semakin kuat.

Demikianlah Allah menyiapkan generasi awal Muhajirin.

Mereka bukan sekadar orang-orang yang masuk Islam lebih dahulu.

Mereka adalah generasi yang ditempa oleh tekanan.

Mereka menjadi fondasi awal bangunan Islam di Makkah.

Dan ketika Islam berpindah ke Madinah, mereka bertemu dengan generasi pendahulu dari kalangan Anshar.

---

Baiat Aqabah: Ketika Janji Tidak Dibeli dengan Dunia

Lihatlah Baiat Aqabah.

Apa yang sebenarnya mereka dapatkan sebagai imbalan?

Kekayaan?

Kekuasaan?

Jaminan kehidupan nyaman?

Dominasi politik?

Tidak.

Mereka justru mengetahui bahwa setelah baiat itu, kehidupan mereka dapat menjadi semakin berat.

Mereka memahami bahwa Quraisy akan memusuhi mereka.

Mereka memahami bahwa bangsa Arab dapat memerangi mereka.

Mereka memahami bahwa keputusan itu akan mengubah kehidupan mereka.

Lalu apa yang mereka harapkan?

Surga.

Hanya itu.

Mereka tidak membeli agama dengan janji dunia.

Mereka membeli kehidupan akhirat dengan pengorbanan dunia.

Maka tidak mengherankan apabila mereka kemudian menjadi salah satu fondasi utama masyarakat Islam di Madinah.

Orang-orang yang bersedia membayar harga risalah sejak awal biasanya memiliki ketahanan yang berbeda ketika risalah itu memasuki fase kemenangan.

---

Dari Masyarakat Kecil Menuju Masyarakat Madinah

Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apakah setelah masyarakat Islam berdiri di Madinah, seluruh anggotanya otomatis memiliki kualitas iman yang sama?

Tidak.

Justru sejarah Madinah menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi:

Ketika Islam mulai kuat, orang-orang dengan motif yang berbeda mulai masuk ke dalam barisannya.

Pada masa tekanan, orang yang masuk Islam harus memiliki keberanian luar biasa.

Tetapi ketika Islam mulai unggul, biaya sosial untuk masuk Islam menjadi jauh lebih kecil.

Bahkan masuk Islam dapat memberikan keuntungan tertentu dalam kehidupan sosial dan politik.

Maka muncullah fenomena yang berbeda.

Ada orang yang masuk Islam karena iman.

Ada yang masuk karena mengikuti masyarakat.

Ada yang menyembunyikan kekafiran.

Ada yang masih lemah keyakinannya.

Ada pula yang belum memahami hakikat Islam secara mendalam.

Di sinilah kita memahami fenomena kemunafikan.

Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang mengikuti sikapnya menjadi salah satu gambaran bahwa kemenangan tidak otomatis berarti seluruh jiwa telah bersih.

Maka bangunan masyarakat Islam Madinah memiliki dua lapisan penting:

bangunan dasar yang telah ditempa oleh fase Makkah, dan lapisan masyarakat baru yang terus membutuhkan proses tarbiyah.

---

Mengapa Fondasi Awal Begitu Penting?

Pertanyaannya:

Mengapa masyarakat Madinah tidak runtuh meskipun terdapat orang-orang munafik, orang-orang lemah iman, orang-orang ragu, dan berbagai kepentingan?

Karena masyarakat itu berdiri di atas fondasi generasi pertama.

Muhajirin dan Anshar menjadi inti yang telah mengalami proses panjang.

Mereka telah melewati ujian.

Mereka telah membayar harga.

Mereka telah belajar tentang pengorbanan.

Mereka telah memahami arti loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mereka menjadi semacam inti kekuatan moral yang menjaga bangunan masyarakat.

Kemudian perjalanan waktu melakukan pekerjaan berikutnya.

Tarbiyah.

Peristiwa-peristiwa.

Ujian.

Kemenangan.

Kekalahan.

Pengorbanan.

Semua itu perlahan-lahan menyaring manusia.

Yang rapuh terungkap.

Yang ragu terlihat.

Yang munafik terbuka.

Yang tulus semakin matang.

Yang belum jelas keyakinannya semakin mendapatkan pembinaan.

Dengan demikian, masyarakat Islam tidak dibangun dalam satu malam.

Ia dibangun melalui proses panjang pemurnian jiwa dan penguatan ikatan iman.

---

Tingkatan Keimanan dan Kedudukan dalam Perjalanan Islam

Dalam perjalanan itu, lahirlah berbagai tingkat keistimewaan di tengah masyarakat Muslim.

Ada generasi pertama Muhajirin dan Anshar.

Ada Ahli Badar.

Ada para pembaiat Baiat Ar-Ridwan.

Ada mereka yang berinfak dan berjuang sebelum Fathu Makkah.

Keistimewaan itu bukan sekadar status sosial.

Ia merupakan jejak sejarah dari kadar pengorbanan yang mereka berikan.

Semakin berat ujian yang dilewati dengan keteguhan, semakin besar pula nilai kepeloporan mereka.

Namun apakah adanya tingkatan itu berarti masyarakat Islam terpecah menjadi kasta-kasta iman?

Tidak.

Justru masyarakat tersebut terus bergerak menuju integrasi dan kematangan iman.

Orang-orang yang baru masuk Islam belajar dari para pendahulu.

Yang lemah dikuatkan.

Yang belum memahami dibina.

Yang ragu diuji oleh realitas.

Yang memiliki penyakit hati perlahan-lahan disingkap.

Sehingga menjelang Fathu Makkah, masyarakat Madinah secara umum telah semakin dekat dengan bentuk masyarakat yang diinginkan oleh manhaj tarbiyah Rabbani.

---

Fathu Makkah: Ketika Gelombang Besar Datang

Kemudian tibalah Fathu Makkah pada tahun 8 H.

Quraisy tunduk.

Hawazin dan Tsaqif kemudian menghadapi realitas baru.

Dan setelah kekuatan-kekuatan besar di Jazirah Arab melihat bahwa Islam telah menjadi kekuatan yang dominan, gelombang manusia mulai masuk ke dalam agama Allah.

Di sinilah muncul tantangan baru.

Jika pada masa Makkah tantangannya adalah kekurangan jumlah, maka pada masa setelah kemenangan tantangannya adalah keberagaman kualitas manusia yang masuk.

Ini sebuah perubahan yang sangat penting.

Dahulu, orang masuk Islam setelah mengetahui bahwa ia mungkin akan disiksa.

Sekarang, sebagian orang masuk Islam setelah melihat bahwa Islam telah menang.

Dahulu, iman diuji oleh penderitaan.

Sekarang, iman diuji oleh kemenangan.

Dan bukankah ujian kemenangan terkadang lebih halus daripada ujian penderitaan?

Penderitaan memaksa manusia bertanya:

“Apakah aku benar-benar beriman?”

Tetapi kemenangan memunculkan pertanyaan yang berbeda:

“Apakah aku tetap menjadi hamba Allah ketika aku memiliki kekuasaan?”

Karena itu, perluasan horizontal Islam membawa kebutuhan baru: pemurnian dan pembinaan secara vertikal.

Jumlah bertambah.

Wilayah meluas.

Tetapi kedalaman iman harus terus dibangun.

---

Mengapa Islam Dapat Menyebar Begitu Cepat?

Ada satu faktor sejarah yang penting.

Selama Quraisy berdiri sebagai kekuatan dominan dan menolak Islam, banyak kabilah Arab berada dalam posisi menunggu.

Mereka ingin melihat:

Siapa yang akan menang?

Quraisy?

Atau Muhammad ﷺ?

Karena Quraisy bukan hanya memiliki kekuatan ekonomi dan politik.

Ia juga memiliki kedudukan keagamaan dan simbolik yang sangat kuat di Jazirah Arab.

Maka ketika Quraisy akhirnya tunduk dalam Fathu Makkah, salah satu hambatan psikologis terbesar bagi bangsa Arab pun runtuh.

Dan setelah itu, manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Sebagaimana Allah berfirman:

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

"Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah secara berbondong-bondong."
(QS. An-Nashr: 2)

Maka kita melihat sebuah pola yang sangat menarik:

Islam pertama-tama membangun kedalaman, kemudian mendapatkan keluasan.

Bukan sebaliknya.

Ia membentuk manusia terlebih dahulu.

Kemudian membentuk masyarakat.

Kemudian masyarakat itu menjadi kuat.

Barulah perluasan terjadi dalam skala besar.

---

Bahaya Perluasan Tanpa Fondasi

Namun bayangkan jika masyarakat Madinah belum memiliki fondasi yang kuat ketika perluasan itu terjadi.

Apa yang mungkin terjadi?

Bukankah masyarakat akan mudah kehilangan arah?

Bukankah masuknya manusia dalam jumlah besar dengan tingkat iman yang beragam dapat mengubah karakter masyarakat?

Bukankah ekspansi yang cepat dapat membuat bangunan lama kehilangan identitasnya?

Di sinilah kita dapat memahami pentingnya generasi pertama.

Allah telah menyiapkan Muhajirin dan Anshar sebagai fondasi yang kokoh.

Mereka menjadi penjaga nilai ketika wilayah Islam berkembang.

Mereka menjadi standar ketika masyarakat semakin besar.

Mereka menjadi contoh ketika manusia baru berdatangan.

Dan tarbiyah Rabbani terus bekerja melalui rentang waktu yang panjang.

Peristiwa demi peristiwa menjadi sekolah.

Kemenangan menjadi sekolah.

Kekalahan menjadi sekolah.

Pengorbanan menjadi sekolah.

Ujian menjadi sekolah.

Al-Qur’an terus membentuk mereka.

Sirah terus menempa mereka.

Hingga masyarakat itu semakin matang.

---

Dari Pertempuran Jiwa Menuju Pembentukan Peradaban

Sekarang kita dapat melihat keseluruhan perjalanan ini secara lebih utuh.

Semuanya bermula dari Al-Qur’an yang berhadapan dengan jiwa manusia.

Al-Qur’an mengguncang jiwa.

Jiwa berubah.

Manusia-manusia baru lahir.

Manusia-manusia baru berkumpul.

Dari mereka lahir komunitas baru.

Komunitas itu membentuk masyarakat.

Masyarakat itu menghadapi ujian.

Ujian menyaring manusia.

Tarbiyah mematangkan mereka.

Masyarakat menjadi semakin kokoh.

Kemudian Islam meluas.

Maka sesungguhnya perjalanan sirah tidak dapat dipahami hanya sebagai rangkaian peristiwa politik dan militer.

Di balik setiap perubahan sejarah terdapat perubahan manusia.

Dan di balik perubahan manusia terdapat perubahan jiwa.

Dan di balik perubahan jiwa generasi pertama terdapat Al-Qur’an.

Inilah rahasia yang sering luput ketika kita membaca sirah hanya dari sisi kemenangan dan kekalahan.

Kita melihat Badar.

Kita melihat Uhud.

Kita melihat Khandaq.

Kita melihat Hudaibiyah.

Kita melihat Fathu Makkah.

Tetapi jangan lupa melihat sesuatu yang lebih dalam:

Siapa manusia yang berdiri di balik semua peristiwa itu?

Bagaimana Al-Qur’an membentuk mereka?

Bagaimana wahyu mengubah cara mereka memandang dunia?

Bagaimana tauhid mengubah keberanian mereka?

Bagaimana iman mengubah orientasi hidup mereka?

Bagaimana tarbiyah mengubah sekumpulan individu menjadi umat?

Di situlah kita menemukan bahwa pertempuran paling menentukan bukanlah yang terjadi di medan perang.

Pertempuran paling menentukan terjadi jauh sebelumnya:

di dalam hati manusia.

Karena jika hati telah berubah, perilaku akan berubah.

Jika perilaku berubah, keluarga berubah.

Jika keluarga berubah, masyarakat berubah.

Jika masyarakat berubah, sejarah pun berubah.

Maka begitulah Al-Qur’an memenangkan pertempurannya di Makkah.

Bukan dengan menguasai manusia dari luar.

Tetapi dengan membebaskan manusia dari dalam.

Ia membebaskan mereka dari penyembahan kepada selain Allah.

Membebaskan mereka dari ketakutan kepada manusia.

Membebaskan mereka dari belenggu tradisi yang bertentangan dengan kebenaran.

Membebaskan mereka dari kesombongan.

Kemudian mengikat mereka dengan satu ikatan:

La ilaha illallah.

Dari sinilah sebuah generasi lahir.

Dan dari generasi itulah sebuah peradaban mulai dibangun.

Jadi, jika kita ingin memahami bagaimana Islam dapat mengubah sejarah, mungkin kita harus kembali kepada pertanyaan paling awal:

Bagaimana Al-Qur’an mengubah manusia?

Karena sebelum Islam mengubah peta Jazirah Arab, Al-Qur’an terlebih dahulu mengubah peta jiwa manusia.

Dan sebelum masyarakat jahiliah dikalahkan di medan sejarah, jahiliah terlebih dahulu dikalahkan di dalam dada generasi pertama kaum Muslimin.

Itulah awal sebenarnya dari gerakan Islam.

Bukan ketika sebuah negara berdiri.

Bukan ketika sebuah kota ditaklukkan.

Bukan ketika sebuah pasukan menang.

Tetapi ketika sebuah hati bersedia tunduk kepada Allah.

Dari satu hati.

Kemudian menjadi beberapa hati.

Kemudian menjadi generasi.

Kemudian menjadi umat.

Dan akhirnya, dengan izin Allah, cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru.

Perpaduan Kesempurnaan Wahyu dan Akhlak Rasulullah Saw Allah berfirman: مَا أَنت...

Perpaduan Kesempurnaan Wahyu dan Akhlak Rasulullah Saw






Allah berfirman:

مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

"Tidaklah engkau—dengan nikmat Tuhanmu—seorang yang gila."
(QS. Al-Qalam: 2)

Perhatikanlah bagaimana satu ayat yang pendek ini mengandung penetapan sekaligus penafian yang begitu kuat.

Allah menetapkan nikmat-Nya kepada Nabi Muhammad ﷺ. Bahkan nikmat itu dinisbatkan langsung kepada-Nya: “Rabbuka—Tuhanmu.” Sebuah ungkapan yang menghadirkan kedekatan, pemeliharaan, kasih sayang, dan pemuliaan.

Namun pada saat yang sama, Allah menafikan tuduhan mereka bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang gila.

Seolah-olah ayat ini berkata:

Bagaimana mungkin seorang yang berada dalam pemeliharaan Rabb-nya, yang dipilih dan dimuliakan-Nya, disebut sebagai orang yang kehilangan akal?

Di sinilah kita mulai tertegun.

Bagaimana Mereka Bisa Menuduhnya Gila?

Siapa sebenarnya Muhammad di tengah kaumnya sebelum kenabian?

Bukankah mereka mengenalnya sebagai orang yang jernih akalnya?

Bukankah ketika terjadi perselisihan di antara kabilah-kabilah Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, mereka menerima Muhammad sebagai hakim? Bahkan ketika itu beliau belum menjadi nabi.

Bukankah mereka sendiri yang memberinya gelar Al-Amin, orang yang terpercaya?

Dan bukankah kepercayaan itu tetap mereka berikan bahkan setelah mereka memusuhi dakwahnya?

Mereka pernah menitipkan harta kepada beliau. Bahkan ketika Rasulullah ﷺ berhijrah meninggalkan Makkah, masih ada barang-barang titipan mereka yang harus dikembalikan.

Di sinilah letak paradoksnya.

Orang yang kemarin mereka percaya sebagai Al-Amin, hari ini mereka tuduh sebagai pendusta.

Orang yang kemarin mereka jadikan rujukan ketika terjadi perselisihan, hari ini mereka tuduh kehilangan akal.

Mengapa?

Karena persoalannya bukan lagi tentang apakah Muhammad ﷺ dapat dipercaya atau tidak. Mereka sebenarnya mengetahui jawabannya.

Persoalannya adalah kedengkian yang membuat seseorang menolak kebenaran meskipun ia mengenal kebenaran itu.

Hal ini semakin jelas dalam dialog Abu Sufyan dengan Heraklius. Ketika Heraklius bertanya apakah mereka pernah mengenal Muhammad sebagai seorang pendusta sebelum kenabiannya, Abu Sufyan—yang ketika itu masih menjadi musuh beliau—menjawab bahwa mereka tidak pernah mengenalnya berdusta.

Heraklius kemudian menyimpulkan bahwa seseorang yang tidak pernah berdusta kepada manusia tidak mungkin dengan mudah berdusta atas nama Allah.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita:

Jika mereka telah mengetahui kejujurannya, mengapa mereka tetap menuduhnya berdusta?

Karena kadang-kadang masalah terbesar manusia bukanlah kekurangan bukti.

Masalahnya adalah hati yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.

Kedengkian dapat membuat mata melihat tetapi tidak mau mengakui. Telinga mendengar tetapi tidak mau menerima. Akal mengetahui tetapi hawa nafsu menolak.

Itulah sebabnya Allah tidak membiarkan tuduhan tersebut tanpa jawaban.

«مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ»

"Tidaklah engkau—dengan nikmat Tuhanmu—seorang yang gila."

Betapa lembut jawaban ini.

Allah tidak sekadar membantah tuduhan mereka. Allah sekaligus memeluk Rasul-Nya dengan penyandaran kepada Rabb-nya.

"Tuhanmu."

Ada kasih sayang di sana.

Ada pemuliaan.

Ada ketenangan.

Seakan-akan di tengah badai tuduhan manusia, Allah berkata kepada Nabi-Nya:

Jangan biarkan ucapan mereka menentukan siapa dirimu. Aku mengetahui siapa dirimu. Aku mengetahui apa yang Aku berikan kepadamu.

Setelah Bantahan, Datang Penghiburan

Kemudian Allah berfirman:

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

"Dan sungguh, bagi kamu pahala yang tidak putus-putusnya."
(QS. Al-Qalam: 3)

Perhatikan urutannya.

Pertama, Allah membantah tuduhan.

Kemudian Allah menghibur.

Lalu Allah menjanjikan pahala yang tidak terputus.

Seolah-olah Allah mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa nilai sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh suara orang-orang yang menolaknya.

Jika manusia mencela, Allah memuliakan.

Jika manusia menolak, Allah menerima.

Jika manusia menyakiti, Allah menjanjikan pahala.

Jika manusia menutup pintu, Allah membuka cakrawala yang jauh lebih luas.

Lalu datanglah puncak pemuliaan itu:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."
(QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini bukan sekadar pujian.

Ini adalah persaksian Allah terhadap Rasul-Nya.

Siapa yang memberikan persaksian?

Bukan manusia.

Bukan para sahabat.

Bukan para pengikut.

Tetapi Rabb seluruh alam.

Dan kepada siapa persaksian itu diberikan?

Kepada Muhammad ﷺ.

Tentang apa persaksian itu?

Tentang akhlaknya.

Mengapa Akhlak Mendapat Kedudukan Setinggi Itu?

Kita mungkin bertanya:

Mengapa ketika membela Rasulullah ﷺ dari tuduhan gila, Allah justru menonjolkan akhlaknya?

Mengapa bukan kekuatan?

Mengapa bukan kecerdasan?

Mengapa bukan keberanian?

Mengapa bukan kemampuan memimpin?

Mengapa Allah memilih mengatakan:

“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung”?

Karena akhlak bukan aksesori dalam risalah.

Akhlak adalah salah satu substansi utama risalah itu sendiri.

Rasulullah ﷺ bukan hanya menyampaikan Islam dengan lisannya.

Beliau adalah Islam yang berjalan di muka bumi dalam bentuk manusia.

Risalah itu berbicara tentang kejujuran, dan beliau adalah Al-Amin.

Risalah itu berbicara tentang kasih sayang, dan beliau adalah rahmat.

Risalah itu berbicara tentang keadilan, dan beliau menegakkan keadilan.

Risalah itu memerintahkan amanah, dan beliau menjadi teladan amanah.

Risalah itu melarang kezaliman, penipuan, kecurangan, dan pengkhianatan, dan kehidupan beliau menjadi gambaran nyata dari semua prinsip tersebut.

Karena itu, memahami Islam tanpa memahami akhlak Rasulullah ﷺ akan membuat kita kehilangan salah satu dimensi terpenting dari risalah.

Keagungan Pujian dan Keagungan Jiwa yang Menerimanya

Namun ada satu hal lain yang lebih menakjubkan.

Bayangkan seseorang dipuji oleh orang biasa.

Bukankah terkadang pujian itu saja sudah membuat kita berubah?

Seseorang dipuji karena kecerdasannya. Dadanya bisa membesar.

Dipujilah keberaniannya. Ia bisa menjadi bangga.

Dipujilah kepemimpinannya. Ia bisa mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Para sahabat pun memahami bagaimana dahsyatnya pengaruh pujian manusia. Ketika Rasulullah ﷺ memuji seseorang, pujian itu dapat mengguncang jiwa orang yang menerimanya.

Tetapi sekarang bayangkan:

Yang memuji Muhammad ﷺ adalah Allah.

Dan Muhammad ﷺ mengetahui siapa yang sedang memujinya.

Ia mengetahui keagungan Sang Pemberi pujian.

Ia mengetahui keluasan ilmu-Nya.

Ia mengetahui bahwa pujian itu datang dari Rabb seluruh alam.

Namun apa yang terjadi?

Apakah beliau menjadi sombong?

Apakah beliau merasa lebih tinggi daripada manusia?

Apakah beliau menjadi angkuh?

Tidak.

Beliau tetap menjadi hamba Allah.

Tetap tunduk.

Tetap tenang.

Tetap rendah hati.

Tetap melanjutkan perjalanan risalah.

Di sinilah kita menemukan keagungan yang lain:

Bukan hanya keagungan akhlak Rasulullah ﷺ, tetapi juga keagungan jiwa yang mampu menerima pujian Allah tanpa berubah menjadi sombong.

Dan lebih menakjubkan lagi, jiwa yang sama juga mampu menerima teguran Allah.

Ketika Allah menegur beliau atas beberapa tindakan, Rasulullah ﷺ tidak menyembunyikan teguran itu dari umatnya.

Beliau menyampaikan pujian sebagaimana beliau menyampaikan teguran.

Tidak ada upaya menghapus bagian yang menguntungkan dan menyembunyikan bagian yang berat.

Mengapa?

Karena beliau adalah nabi yang mulia, hamba yang taat, dan penyampai risalah yang terpercaya.

Pujian tidak membuatnya keluar dari kehambaan.

Teguran tidak membuatnya keluar dari kenabian.

Dalam kedua keadaan itu, beliau tetap tenang, jujur, dan tunduk kepada Rabb-nya.

Muhammad ﷺ sebagai Gambaran Hidup Risalah

Di sinilah hubungan antara hakikat Muhammad dan hakikat risalah menjadi semakin jelas.

Risalah ini memiliki kesempurnaan, keindahan, keagungan, universalitas, kejujuran, dan kebenaran.

Maka siapa yang layak mengembannya?

Allah sendiri yang mengetahui.

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.”

Muhammad ﷺ bukan sekadar orang yang menyampaikan risalah tersebut.

Beliau adalah gambaran hidup dari risalah itu.

Risalah menjadi terlihat dalam kehidupannya.

Al-Qur'an menjadi akhlak yang berjalan.

Ajaran menjadi perilaku.

Wahyu menjadi tindakan.

Nilai menjadi realitas.

Karena itu, perjalanan sirah bukan sekadar kumpulan peristiwa sejarah.

Sirah adalah ruang tempat kita melihat bagaimana risalah berubah menjadi kehidupan.

Kita melihat bagaimana seorang manusia menghadapi penghinaan tanpa kehilangan kemuliaan.

Bagaimana menghadapi kekuasaan tanpa menjadi angkuh.

Bagaimana menghadapi kekalahan tanpa kehilangan harapan.

Bagaimana menghadapi kemenangan tanpa mabuk kemenangan.

Bagaimana menghadapi pujian tanpa kesombongan.

Bagaimana menerima teguran tanpa pembelaan diri.

Bagaimana memimpin tanpa kehilangan sifat sebagai hamba.

Bukankah di situlah salah satu rahasia terbesar keagungan Muhammad ﷺ?

Cahaya Risalah dalam Perjalanan Sirah

Jika kita membaca sirah dari awal sampai akhir, kita akan menemukan bahwa akhlak bukanlah unsur sampingan.

Ia hadir dalam seluruh perjalanan.

Di Makkah, ketika beliau disakiti, beliau tetap menjaga dirinya dari kebencian yang melampaui batas.

Di tengah tekanan, beliau tetap menyampaikan kebenaran.

Ketika memiliki kesempatan untuk membalas, beliau menunjukkan keluasan jiwa.

Ketika berada dalam posisi kuat, beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk menanggalkan akhlak.

Ketika memimpin masyarakat, beliau tetap hidup sebagai seorang hamba.

Karena itu, sirah sebenarnya memperlihatkan sebuah hukum penting:

Semakin besar risalah yang dibawa, semakin besar pula tuntutan akhlak pada pembawanya.

Islam tidak hanya membangun manusia yang benar keyakinannya.

Islam membangun manusia yang benar jiwanya, perkataannya, perilakunya, hubungannya dengan manusia, dan hubungannya dengan Allah.

Maka akidah yang benar melahirkan kejujuran.

Ibadah yang benar melahirkan ketundukan.

Ilmu yang benar melahirkan kerendahan hati.

Kekuasaan yang benar melahirkan keadilan.

Kekayaan yang benar melahirkan kemurahan hati.

Dan iman yang benar melahirkan akhlak yang mulia.

Akhlak sebagai Jantung Peradaban Islam

Ketika kita mencermati ajaran Islam secara keseluruhan, kita akan menemukan betapa kuatnya unsur akhlak di dalamnya.

Islam menyeru kepada kesucian.

Kebersihan.

Kejujuran.

Amanah.

Keadilan.

Kasih sayang.

Kebajikan.

Menepati janji.

Menjaga kehormatan manusia.

Menyatukan perkataan dengan perbuatan.

Menyelaraskan tindakan dengan niat dan hati.

Sebaliknya, Islam melarang kezaliman, penipuan, kecurangan, pengkhianatan, memakan harta orang lain secara batil, merusak kehormatan manusia, dan menyebarkan kekejian.

Bahkan hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia pada akhirnya tidak berdiri tanpa tujuan moral.

Ia menjaga manusia.

Menjaga kehormatan.

Menjaga harta.

Menjaga hubungan sosial.

Menjaga keadilan.

Menjaga kebersihan jiwa.

Dengan demikian, akhlak tidak hanya berada di ruang pribadi.

Ia bergerak dari jiwa menuju keluarga, dari keluarga menuju masyarakat, dari masyarakat menuju negara, bahkan menuju hubungan antarmanusia secara luas.

Di sinilah kita memahami mengapa Allah memulai pujian kepada Rasulullah ﷺ dengan sebuah kalimat yang begitu agung:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

Seakan-akan ayat itu mengajak kita melihat sirah dari sebuah perspektif yang lebih dalam:

Jika ingin memahami Muhammad ﷺ, lihatlah akhlaknya.

Jika ingin memahami risalahnya, lihatlah akhlaknya.

Jika ingin memahami pengaruh risalah itu terhadap perjalanan sejarah, lihatlah bagaimana akhlak tersebut membentuk manusia, keluarga, masyarakat, dan peradaban.

Dan jika kita ingin mengetahui apakah cahaya risalah itu benar-benar telah menyentuh diri kita, pertanyaannya pun akhirnya kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana:

Sudahkah cahaya itu tampak dalam akhlak kita?

Sebab risalah yang hanya memenuhi pikiran tetapi tidak memperbaiki akhlak, belum sepenuhnya menampakkan cahayanya.

Ilmu yang bertambah tetapi kesombongan juga bertambah, perlu dipertanyakan.

Ibadah yang bertambah tetapi kezaliman tidak berkurang, perlu direnungkan.

Dakwah yang semakin luas tetapi kasih sayang semakin sempit, perlu dievaluasi.

Karena Muhammad ﷺ telah menunjukkan kepada kita bahwa ketinggian hubungan dengan Allah tidak menjauhkan manusia dari kemuliaan akhlak kepada manusia. Justru semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin indah akhlaknya.

Itulah cahaya risalah.

Ia turun dari langit melalui wahyu, masuk ke dalam hati Rasulullah ﷺ, menjelma menjadi akhlak, kemudian bergerak melalui sirah untuk menerangi kehidupan manusia.

Dan karena itulah, ketika Allah berkata:

“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung,”

kita tidak sedang membaca sekadar pujian kepada seorang manusia.

Kita sedang menyaksikan persaksian Rabb semesta alam terhadap manusia yang menjadi teladan hidup bagi sebuah risalah universal.

Dan mungkin di sinilah salah satu cara terbaik untuk membaca sirah:

bukan hanya bertanya, “Apa yang terjadi kepada Muhammad ﷺ?”

Tetapi juga bertanya:

“Akhlak apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita melalui apa yang terjadi kepada Muhammad ﷺ?”

Sebab sirah bukan hanya perjalanan seorang Nabi.

Sirah adalah perjalanan cahaya risalah ketika ia hadir dalam kehidupan seorang manusia, lalu mengubah manusia-manusia lain, membentuk masyarakat, dan akhirnya mengubah arah sejarah.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (59) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (32) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (29) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (315) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (757) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)