Ekspedisi Tiongkok ke Nusantara
Ekspedisi Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho berlangsung pada masa pemerintahan Dinasti Ming di bawah Kaisar Cheng-Tsu (1403–1424), setelah pendahulunya, Hwui-Ti, terusir dari takhta. Karena itu, salah satu tujuan ekspedisi Cheng Ho adalah mempertahankan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Laut Selatan dan Laut Barat yang sebelumnya mengakui kekaisaran Tiongkok melalui pengiriman upeti dan utusan ke Tiongkok.
Beberapa ekspedisi Cheng Ho diberitakan secara lebih lengkap dalam laporan Ma Huan, Ying-Yai Sheng-Lan, yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh J. V. G. Mills (1970). Mills membicarakan kehidupan Cheng Ho, garis besar tujuh ekspedisinya, tempat-tempat yang disinggahi, rute pelayaran, kapal-kapal, serta para pegawainya. Ia juga menguraikan kehidupan Ma Huan dan bukunya dengan menggunakan berbagai sumber sezaman lainnya.
Adapun informasi mengenai kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Palembang terutama didasarkan pada laporan Ma Huan, Hikayat Dinasti Ming, dan sumber Ying-Yai Sheng-Lan.
Cheng Ho dan Latar Belakangnya
Nama asli Cheng Ho adalah Ma Ho. Ia berasal dari keluarga yang tinggal di daerah K-Un, di ujung barat daya Danau Tien-Chih, Provinsi Yunnan. Nama keluarganya, Ma, serta tambahan gelar Haji menunjukkan bahwa ia seorang Muslim yang pernah menjalankan ibadah haji ke Mekkah.
Cheng Ho dilahirkan sekitar tahun 1371. Ia merupakan anak kedua dalam keluarganya yang juga memiliki empat orang putri. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menunjukkan kemampuan yang menonjol. Pada usia sekitar dua puluh tahun, ia menjadi pegawai pada Putra Mahkota Yen, Chu Ti, putra keempat Kaisar Hung Wu. Chu Ti menguasai wilayah yang luas di Timur Laut dan pada tahun 1403 kemudian naik takhta sebagai Kaisar Cheng-Tsu.
Ma Ho merupakan orang yang berpendidikan. Selain memperoleh pengetahuan umum, ia juga mempelajari seni perang. Kemampuan tersebut digunakannya ketika turut serta dalam penumpasan pemberontakan di Yunnan. Pada tahun 1404, ia mendapat perhatian Kaisar yang kemudian memberikan kepadanya julukan Cheng. Sejak saat itu, kariernya semakin meningkat hingga ia diangkat sebagai laksamana besar dan pengawas para laksamana (Mills, 1970).
Kehebatan Cheng Ho dalam menjalankan tugas membuat Kaisar Cheng-Tsu atau Yung Lo menunjuknya untuk memimpin armada dalam serangkaian ekspedisi ke wilayah Laut Barat. Secara keseluruhan, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi besar antara tahun 1405 dan 1433.
Ekspedisi Pertama: 1405–1407
Ekspedisi pertama dimulai pada 11 Juli 1405 dan berlangsung hingga 1407. Dalam pelayaran ini, Cheng Ho didampingi sejumlah pejabat dan awak armada, antara lain Ching Huang. Salah satu wilayah yang dikunjungi adalah San-Fo-Tsi, yang diidentifikasikan sebagai Sriwijaya atau Palembang.
Dalam perjalanan pulang dari ekspedisi pertama, armada Cheng Ho berhasil menangkap pemimpin perompak Chen Tsu I. Dalam peristiwa tersebut, sekitar lima ribu orang pasukannya terbunuh dan tujuh belas kapal berhasil dirampas. Chen Tsu I kemudian dibawa dan diserahkan kepada Kaisar di Nanking.
Penumpasan terhadap para perompak tersebut menyebabkan perjalanan pulang armada mengalami keterlambatan sekitar tiga bulan. Armada itu baru tiba di ibu kota Nanking pada 2 Oktober 1407.
Ekspedisi Kedua dan Ketiga
Pada ekspedisi kedua, yang berlangsung pada 1407–1409, Cheng Ho didampingi oleh dua laksamana lainnya, yaitu Wang Ching Hung dan Hu Hsien. Dalam daftar negeri yang dikunjungi pada ekspedisi ini, Palembang tidak disebutkan.
Demikian pula dalam ekspedisi ketiga, yang berlangsung pada 1409–1411, tidak terdapat keterangan bahwa Cheng Ho mengunjungi Palembang.
Palembang kembali disebut dalam ekspedisi keempat.
Ekspedisi Keempat: 1413–1415
Pada ekspedisi keempat, yang berlangsung pada 1413–1415, Cheng Ho kembali mengunjungi Palembang. Setelah mengunjungi Campa, Kelantan, Pahang, dan Jawa, armada tersebut menuju San-Fo-Tsi atau Palembang. Dari Palembang, perjalanan dilanjutkan ke Malaka, Aru, Samudera, Lambri, Ceylon, Kayal, Kepulauan Maladewa, Cochin, Calicut, hingga Hormuz.
Ekspedisi keempat memiliki arti penting karena pada saat inilah Ma Huan untuk pertama kalinya ikut serta dalam pelayaran Cheng Ho. Ia bertugas sebagai juru bicara, penerjemah, sekaligus pembuat laporan. Ma Huan sendiri merupakan seorang Muslim yang menguasai bahasa Arab.
Ekspedisi Kelima dan Keenam
Pada ekspedisi kelima, yang berlangsung pada 1417–1419, Cheng Ho kembali mengunjungi Palembang bersama Ma Huan. Setelah singgah di Campa, Pahang, dan Jawa, armada melanjutkan perjalanan ke Palembang dan wilayah-wilayah lainnya.
Berbeda dengan ekspedisi sebelumnya, pada ekspedisi keenam yang berlangsung pada 1421–1422, Cheng Ho tidak mengunjungi Palembang. Ma Huan kembali turut serta dalam ekspedisi tersebut sebagai juru bicara.
Ekspedisi Ketujuh: 1431–1433
Ekspedisi ketujuh berlangsung pada 1431–1433. Berita mengenai ekspedisi ini dilengkapi oleh sumber Hsia Hsi yang ditulis oleh Chu Yun Ming, termasuk buku Chien Wen Chi. Ekspedisi ini merupakan salah satu ekspedisi terbesar Cheng Ho. Jumlah orang yang terlibat, dengan berbagai tugas dan pekerjaan, mencapai sekitar 27.550 orang, sedangkan armadanya terdiri atas lebih dari seratus kapal besar.
Dalam ekspedisi tersebut, Cheng Ho tidak hanya didampingi oleh Ma Huan, tetapi juga oleh Fei Hsin dan Kung Chen. Palembang kembali menjadi salah satu tempat yang disinggahi armada Cheng Ho.
Menariknya, dalam ekspedisi ketujuh ini Ma Huan tidak hanya mencatat perjalanan yang dilakukannya, tetapi juga memberikan keterangan mengenai Mekkah. Dalam daftar tempat yang dikunjungi Cheng Ho, pelabuhan lama Palembang disebut dengan nama Chiu-Chiang (Mills, 1970).
Berbagai Nama Palembang dalam Sumber Tiongkok
Palembang muncul dengan beberapa nama dalam sumber-sumber Tiongkok. Selain Chiu-Chiang, kota ini disebut San-Bo-Tsai dalam Hikayat Dinasti Sung (960–1279), serta Ku-Kang dalam Hikayat Dinasti Ming dan Ying-Yai Sheng-Lan. Cheng Ho sendiri terkadang disebut Laksamana Sam Pau atau Sam Po, terutama dalam bahasa Tionghoa Fukien (Groeneveldt, 1960: 41; Kong Yuan Zhi, 1993: 24).
Keterangan mengenai hubungan Cheng Ho dengan Palembang juga berkaitan dengan kondisi politik kawasan tersebut. Jika pada tahun 1405 Palembang telah berada di bawah pengaruh kekuasaan Jawa, khususnya Majapahit, kedudukan tersebut kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam berita Ying-Yai Sheng-Lan (Mills, 1970: 98).
Berdasarkan sumber-sumber Tionghoa tersebut, terutama Ying-Yai Sheng-Lan karya Ma Huan, dapat diketahui bahwa dari tujuh ekspedisi Cheng Ho, Palembang dikunjungi sebanyak empat kali, yaitu pada ekspedisi pertama, keempat, kelima, dan ketujuh.
Palembang sebagai Kota Kosmopolitan
Berita tentang Palembang dalam sumber-sumber Tiongkok sebenarnya memiliki konteks yang lebih panjang. Sejak abad ke-7 M, sumber asing telah memberikan keterangan mengenai Sriwijaya. I-Tsing, misalnya, menyebut Shih-Li-Fo-Shih, yang kemudian diidentifikasikan dengan Sriwijaya dalam berbagai prasasti abad ke-7 M.
Dalam sumber-sumber Tiongkok berikutnya, Palembang muncul dengan berbagai nama, antara lain San-Bo-Tsai dan Ku-Kang. Keterangan-keterangan tersebut menunjukkan bahwa Palembang telah lama menjadi bagian dari jaringan hubungan antara Nusantara dan Tiongkok. Hubungan itu tidak hanya berlangsung dalam bidang perdagangan, tetapi juga mencakup hubungan politik, diplomatik, dan persahabatan.
Orang-orang Tionghoa yang datang ke Palembang antara lain berasal dari Kuang Tung, Chuang Chou, dan wilayah daratan Tiongkok Selatan. Beberapa daerah tersebut merupakan wilayah yang sebagian penduduknya telah memeluk Islam. Hal ini terutama relevan jika dikaitkan dengan Yunnan, daerah asal Cheng Ho dan Ma Huan, yang pada masa itu telah memiliki komunitas Muslim yang cukup kuat.
Atas dasar itu, terdapat kemungkinan bahwa sebagian orang Tionghoa yang datang dan kemudian bermukim di Palembang merupakan bagian dari komunitas Tionghoa-Muslim.
Dugaan tersebut dapat dibandingkan dengan keberadaan komunitas Tionghoa-Muslim di pesisir utara Jawa Timur, seperti Tuban, Sedayu, dan Gresik, yang juga dikunjungi oleh Cheng Ho dan diberitakan oleh Ma Huan dalam Ying-Yai Sheng-Lan (Mills, 1970: 92–93).
Demikian pula terdapat keterangan mengenai pemukiman komunitas Muslim di Semarang dan Cirebon yang dikaitkan dengan sumber-sumber dari Kelenteng Sam-Po-Kong Semarang dan Talang di Cirebon. Keterangan mengenai komunitas tersebut, sebagaimana dibahas oleh Kong Yuan Zhi (1993: 43–61), tidak secara resmi dimasukkan ke dalam laporan Ma Huan, Ying-Yai Sheng-Lan. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa keberadaan komunitas tersebut tidak berkaitan langsung dengan kunjungan resmi yang menjadi fokus laporan untuk Kaisar Tiongkok.
Jaringan Muslim di Palembang
Selain kemungkinan adanya komunitas Tionghoa-Muslim, Palembang juga memiliki hubungan dengan orang-orang Muslim dari Arab dan wilayah-wilayah lain di Timur Tengah. Sumber-sumber Tiongkok menyebut kedatangan orang-orang dari negeri-negeri Islam, termasuk dari Arab dan Persia, yang dikenal dengan sebutan Ta-Shih dan Po-Sse.
Dengan demikian, Palembang tidak hanya dapat dilihat sebagai tempat persinggahan dalam jaringan pelayaran Cheng Ho. Kota ini juga merupakan salah satu titik penting dalam jaringan perdagangan dan pergaulan antarmasyarakat di Asia. Orang-orang Tionghoa, termasuk sebagian yang beragama Islam, serta para pedagang dan utusan dari Arab dan Persia telah berhubungan dengan Palembang dan kawasan Kadatuan Sriwijaya.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa Palembang sejak masa Sriwijaya telah berada dalam jaringan kosmopolitan yang menghubungkan Nusantara dengan Tiongkok, dunia Islam, dan berbagai kawasan perdagangan Asia lainnya.
0 komentar: