Mengapa Bani Israil Terus Mengingkari Nikmat Allah?
Bagaimana mungkin suatu kaum yang berkali-kali menerima nikmat Allah justru berkali-kali pula mengingkari-Nya?
Bukankah nikmat semestinya melahirkan rasa syukur?
Mengapa justru lahir pembangkangan?
Pertanyaan inilah yang mengemuka ketika Al-Qur'an mengisahkan perjalanan panjang Bani Israil. Allah tidak sekadar mengingatkan kesalahan mereka, tetapi terlebih dahulu mengingatkan limpahan nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka.
Allah berfirman,
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu. Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 40)
Janji yang Mana?
Ketika Allah memerintahkan Bani Israil untuk memenuhi janji-Nya, muncul sebuah pertanyaan.
Janji yang dimaksud itu janji yang mana?
Apakah janji yang telah Allah sampaikan kepada Nabi Adam, bahwa siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya akan memperoleh keamanan dan keselamatan?
Ataukah janji fitrah yang tertanam dalam diri setiap manusia untuk mengenal dan menyembah hanya kepada Allah?
Ataukah janji yang diberikan kepada Nabi Ibrahim ketika Allah mengangkatnya sebagai imam bagi manusia?
Ataukah perjanjian yang diambil dari Bani Israil di kaki Gunung Thur, ketika mereka diperintahkan berpegang teguh kepada Kitab Allah?
Sesungguhnya semua perjanjian itu bermuara pada satu hakikat.
Allah hanya meminta satu hal kepada manusia: tunduk sepenuhnya kepada-Nya.
Inilah agama yang dibawa seluruh nabi.
Inilah Islam dalam makna yang paling mendasar, yaitu berserah diri kepada Allah.
Mengapa Harus Takut Hanya kepada Allah?
Karena itulah Allah memerintahkan Bani Israil agar hanya takut kepada-Nya.
Rasa takut kepada Allah membebaskan manusia dari ketakutan kepada selain-Nya.
Orang yang benar-benar takut kepada Allah tidak akan menjual kebenaran demi jabatan.
Ia tidak akan menggadaikan prinsip demi keuntungan.
Ia tidak akan menyembunyikan wahyu demi kepentingan pribadi.
Al-Qur'an Datang Membenarkan, Bukan Menghapus
Allah kemudian mengajak mereka beriman kepada Al-Qur'an, kitab yang membenarkan Taurat yang mereka miliki.
Mengapa mereka justru menjadi orang pertama yang menolaknya?
Bukankah mereka lebih dahulu mengenal tanda-tanda kenabian?
Bukankah mereka menanti kedatangan nabi terakhir?
Al-Qur'an tidak datang untuk memutus risalah sebelumnya.
Ia datang sebagai penyempurna.
Risalah para nabi adalah satu mata rantai yang utuh, dimulai sejak Nabi Adam, diteguhkan oleh Nabi Ibrahim, diteruskan oleh para nabi Bani Israil, disempurnakan melalui Nabi Muhammad ï·º.
Karena itu, menerima Al-Qur'an berarti menerima kesinambungan petunjuk Allah, bukan meninggalkan ajaran para nabi terdahulu.
Jangan Menjual Ayat Allah dengan Harga Murah
Allah mengingatkan mereka agar tidak menukar ayat-ayat-Nya dengan keuntungan dunia.
Apa yang dimaksud dengan "harga yang murah"?
Bukan sekadar harta benda.
Tetapi segala keuntungan dunia yang membuat seseorang rela mengorbankan kebenaran.
Jabatan.
Popularitas.
Pengaruh.
Kekuasaan.
Atau kepentingan kelompok.
Sayyid Quthb menjelaskan bahwa para pemimpin agama Bani Israil khawatir kehilangan kedudukan apabila mereka menerima Nabi Muhammad ï·º. Karena itu, mereka menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya telah mereka ketahui.
Padahal, jika dibandingkan dengan pahala di sisi Allah, seluruh kenikmatan dunia hanyalah sesuatu yang sangat kecil nilainya.
Bahaya Mencampuradukkan Kebenaran dan Kebatilan
Al-Qur'an kemudian memperingatkan mereka,
"Janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 42)
Mengapa peringatan ini begitu penting?
Karena kebatilan jarang datang dalam bentuk yang sepenuhnya salah.
Sering kali ia dibungkus dengan sebagian kebenaran agar tampak meyakinkan.
Ketika kebenaran dicampur dengan kepentingan, hawa nafsu, atau ambisi duniawi, masyarakat menjadi bingung membedakan mana petunjuk Allah dan mana rekayasa manusia.
Penyakit yang Selalu Berulang
Penyakit ini ternyata tidak hanya menimpa Bani Israil.
Ia dapat muncul pada setiap zaman.
Ketika agama berubah menjadi alat mencari keuntungan.
Ketika fatwa mengikuti kepentingan.
Ketika nash ditafsirkan demi membenarkan hawa nafsu.
Ketika tokoh agama lebih sibuk mempertahankan pengaruh daripada menyampaikan kebenaran.
Di sinilah Al-Qur'an berbicara kepada seluruh manusia, bukan hanya kepada satu kaum.
Mengapa Menyuruh Orang Lain, tetapi Melupakan Diri Sendiri?
Allah berfirman,
"Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab?" (QS. Al-Baqarah: 44)
Bukankah ini pertanyaan yang juga layak kita ajukan kepada diri sendiri?
Betapa mudah mengajak.
Betapa sulit menjadi teladan.
Ucapan yang tidak didukung oleh perbuatan perlahan kehilangan pengaruhnya.
Manusia mungkin mendengar ceramah.
Namun mereka lebih memperhatikan keteladanan.
Seorang pendidik, dai, ulama, ataupun pemimpin tidak hanya menyampaikan kebenaran dengan lisannya.
Ia harus menerjemahkannya dalam kehidupannya.
Ketika ucapan dan perbuatan bertolak belakang, kepercayaan masyarakat bukan hanya hilang kepada orang tersebut, tetapi sering kali juga kepada ajaran yang dibawanya.
Karena itu, keteladanan merupakan bahasa dakwah yang paling kuat.
Mengapa Istikamah Begitu Sulit?
Menjaga kesesuaian antara keyakinan, ucapan, dan tindakan bukanlah perkara mudah.
Godaan dunia selalu ada.
Kepentingan pribadi terus mengintai.
Kelemahan manusia tidak pernah berhenti.
Lalu dari mana datangnya kekuatan?
Al-Qur'an menjawab,
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu." (QS. Al-Baqarah: 45)
Kesabaran membuat seseorang mampu bertahan di atas prinsip.
Shalat menghubungkan hati dengan Allah sehingga memperoleh kekuatan yang tidak dimiliki oleh dirinya sendiri.
Rasulullah ï·º sendiri, ketika menghadapi persoalan besar, segera mendirikan shalat.
Mengapa?
Karena shalat bukan sekadar ritual.
Shalat adalah perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Di sanalah hati memperoleh ketenangan.
Di sanalah jiwa memperoleh kekuatan.
Di sanalah seorang mukmin kembali mengingat tujuan hidupnya.
Siapa yang Mampu Menjalankannya?
Allah menjelaskan bahwa semua itu terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
Siapakah mereka?
Mereka adalah orang-orang yang yakin akan bertemu dengan Allah.
Mereka hidup dengan kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan.
Kesadaran inilah yang meluruskan ukuran kehidupan.
Dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir.
Jabatan bukan lagi ukuran kemuliaan.
Keuntungan materi bukan lagi standar keberhasilan.
Yang paling berharga adalah keridaan Allah.
Renungan untuk Semua Zaman
Sekilas, ayat-ayat ini berbicara tentang Bani Israil.
Namun sesungguhnya Al-Qur'an sedang berbicara kepada setiap generasi.
Bukankah setiap manusia pernah menerima nikmat Allah?
Bukankah setiap orang pernah berjanji untuk taat kepada-Nya?
Bukankah setiap pemimpin, pendidik, dan dai diuji dengan kesesuaian antara ucapan dan perbuatannya?
Karena itu, kisah Bani Israil bukan sekadar catatan sejarah.
Ia adalah cermin.
Cermin yang mengajak setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah aku mensyukuri nikmat Allah atau justru mengingkarinya?
Apakah aku menjaga amanah kebenaran atau menukarnya dengan keuntungan sesaat?
Apakah aku mengajak kepada kebaikan sekaligus berusaha menjadi teladannya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan kisah Al-Qur'an selalu hidup, melampaui ruang dan waktu, serta terus berbicara kepada hati setiap orang yang bersedia mengambil pelajaran.
0 komentar: