Burung Ababil: Mukjizat, Sunnatullah, atau Keduanya?
Bagaimana sebenarnya Allah membinasakan pasukan bergajah Abrahah?
Apakah burung Ababil benar-benar melemparkan batu-batu kecil yang menghancurkan mereka secara langsung?
Ataukah batu-batu itu menjadi sebab munculnya wabah penyakit yang meluluhlantakkan pasukan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah lama menjadi bahan kajian para ulama tafsir. Menariknya, perbedaan mereka bukan terletak pada apakah Allah menghancurkan pasukan Abrahah, melainkan bagaimana Allah melakukannya.
Dua Pendekatan dalam Memahami Peristiwa Al-Fil
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa pada tahun peristiwa Pasukan Gajah itulah penyakit cacar dan campak pertama kali muncul di Jazirah Arab.
Berangkat dari riwayat tersebut, sebagian ulama—terutama yang cenderung menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an melalui hukum-hukum alam yang dikenal manusia—berpendapat bahwa burung Ababil mungkin bukan burung besar dengan bentuk yang luar biasa.
Mengapa demikian?
Karena kata ath-thair dalam bahasa Arab dapat digunakan untuk setiap makhluk yang terbang. Dengan demikian, sebagian menafsirkan bahwa yang dimaksud bisa saja berupa burung kecil, lalat, bahkan serangga yang membawa bibit penyakit.
Di antara tokoh yang mengemukakan pandangan ini ialah Imam Muhammad Abduh.
Menurut beliau, wabah cacar atau campak menyebar di tengah pasukan Abrahah sehingga tubuh mereka mengalami kerusakan yang hebat. Beliau bahkan membuka kemungkinan bahwa batu-batu dari tanah yang terbawa kaki makhluk-makhluk terbang tersebut mengandung unsur yang menjadi penyebab penyakit itu.
Bagi Muhammad Abduh, hal itu sama sekali tidak mengurangi kemahakuasaan Allah.
Bukankah Allah memiliki tentara dari segala sesuatu?
Makhluk yang tampak lemah justru dapat menjadi sarana untuk meruntuhkan kekuatan yang paling besar.
Serangga kecil, virus yang tak terlihat, atau mikroorganisme yang tak mampu disaksikan mata manusia, semuanya tetap berada di bawah perintah Allah.
Apakah Penjelasan Ilmiah Mengurangi Nilai Mukjizat?
Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar.
Apabila Allah menggunakan mekanisme yang dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan, apakah peristiwa itu menjadi kurang luar biasa?
Jawabannya tidak.
Baik Allah menghancurkan pasukan itu melalui wabah penyakit maupun melalui cara yang sepenuhnya di luar kebiasaan manusia, keduanya tetap merupakan bagian dari kehendak dan kekuasaan-Nya.
Sunnatullah tidak hanya mencakup apa yang telah diketahui manusia.
Pengetahuan manusia hanyalah sebagian kecil dari hukum-hukum Allah yang terbentang di alam semesta.
Masih banyak ketentuan-Nya yang belum mampu dijangkau oleh akal maupun ilmu pengetahuan.
Pandangan Sayyid Quthb
Sayyid Quthb menghargai penafsiran Muhammad Abduh.
Namun beliau memilih pendapat yang berbeda.
Menurutnya, tidak ada alasan untuk membatasi peristiwa Al-Fil hanya pada penjelasan yang lazim menurut ukuran ilmu pengetahuan manusia.
Mengapa?
Karena suasana Surah Al-Fil sendiri menggambarkan sebuah peristiwa yang benar-benar istimewa.
Allah sedang menjaga Baitullah.
Rumah suci itu dipersiapkan menjadi pusat lahirnya risalah terakhir dan tempat berkumpulnya manusia untuk menyembah Allah.
Bukankah sangat wajar apabila penjagaan terhadap rumah-Nya juga berlangsung dengan cara yang luar biasa?
Karena itu, Sayyid Quthb lebih cenderung memahami bahwa Allah benar-benar mengirim burung Ababil dengan cara yang tidak biasa, membawa batu-batu yang juga tidak biasa, lalu menimbulkan kehancuran yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui hukum-hukum alam yang umum dikenal manusia.
Namun beliau juga mengingatkan agar kaum Muslimin tidak larut dalam kisah-kisah yang berlebihan tentang bentuk burung, ukuran batu, atau rincian-rincian yang tidak memiliki dasar yang kuat.
Yang terpenting bukanlah rupa burung itu.
Yang terpenting adalah siapa yang mengutusnya.
Sunnatullah Lebih Luas daripada Pengetahuan Manusia
Sering kali manusia mengira bahwa sunnatullah hanyalah hukum-hukum alam yang telah berhasil dipahami oleh ilmu pengetahuan.
Benarkah demikian?
Sayyid Quthb mengingatkan bahwa apa yang kita ketahui hanyalah setetes dari samudra ilmu Allah.
Peristiwa yang dianggap "luar biasa" sesungguhnya tetap berada dalam sunnatullah, hanya saja belum menjadi bagian dari pengalaman manusia yang lazim.
Bukankah terbitnya matahari setiap hari adalah keajaiban?
Bukankah kelahiran seorang bayi merupakan mukjizat yang terus berulang?
Karena sering terjadi, manusia menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal tidak ada satu pun manusia yang mampu menciptakannya.
Demikian pula jika Allah menggunakan makhluk-makhluk kecil untuk menghancurkan pasukan besar, ataupun mengirim burung Ababil dengan cara yang tidak pernah dikenal manusia, keduanya sama-sama menunjukkan kemahakuasaan-Nya.
Mengapa Tidak Harus Dipaksa Menjadi Penjelasan Ilmiah?
Lalu mengapa sebagian orang merasa perlu menjelaskan seluruh mukjizat dengan teori ilmiah?
Menurut Sayyid Quthb, hal itu berkaitan dengan konteks sejarah.
Pada masa Muhammad Abduh, dunia Islam sedang menghadapi dua tantangan besar.
Di satu sisi, masyarakat dipenuhi khurafat, dongeng, dan kisah-kisah Israiliyat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, umat Islam mengalami kekaguman yang sangat besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan Barat.
Dalam situasi seperti itu, Muhammad Abduh berusaha menunjukkan bahwa Islam selaras dengan akal dan tidak bertentangan dengan hukum alam.
Upaya tersebut merupakan jasa besar bagi pembaruan pemikiran Islam.
Namun, menurut Sayyid Quthb, pendekatan itu terkadang melangkah terlalu jauh sehingga hampir semua peristiwa luar biasa diarahkan kepada penjelasan yang sepenuhnya rasional.
Siapakah yang Menjadi Hakim?
Di sinilah letak persoalan yang paling mendasar.
Apakah Al-Qur'an harus ditafsirkan mengikuti teori manusia?
Ataukah teori manusialah yang harus dibangun berdasarkan petunjuk Al-Qur'an?
Sayyid Quthb menegaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menjadikan Al-Qur'an sebagai titik tolak berpikir.
Akal memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Namun akal tetap memiliki batas.
Ia dibentuk oleh pengalaman manusia yang terbatas, sedangkan Al-Qur'an datang dari ilmu Allah Yang Mahasempurna.
Karena itu, apabila makna suatu ayat telah jelas, maka seorang mukmin tidak boleh menolaknya hanya karena belum menemukan penjelasan ilmiahnya.
Sebaliknya, ia menjadikan Al-Qur'an sebagai fondasi dalam membangun cara pandang terhadap alam semesta.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
Pada akhirnya, perbedaan pendapat mengenai burung Ababil bukanlah persoalan pokok.
Baik Allah menghancurkan pasukan Abrahah melalui wabah penyakit, melalui batu-batu yang dibawa burung Ababil, maupun melalui mekanisme lain yang hanya diketahui-Nya, semuanya tetap menunjukkan satu hakikat yang sama.
Tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan kehendak Allah.
Pasukan terbesar dapat dihancurkan oleh makhluk yang paling kecil.
Dan rumah Allah akan selalu berada dalam penjagaan-Nya sesuai dengan cara yang Dia kehendaki.
Karena itu, Surah Al-Fil bukan sekadar kisah tentang burung dan batu.
Ia adalah pelajaran tentang keterbatasan manusia, keluasan sunnatullah, dan kemahakuasaan Allah yang tidak dapat dibatasi oleh jangkauan akal maupun pengetahuan manusia.
0 komentar: