Mengapa sebuah negara yang sejak berdirinya pada tahun 1948 memperoleh dukungan politik, ekonomi, militer, dan diplomatik dari banyak kekuatan besar dunia justru terus berada dalam pusaran konflik?
Apakah kekuatan militer dan dukungan internasional mampu menjamin kelanggengan sebuah negara?
Ataukah sejarah justru menunjukkan bahwa kejayaan suatu bangsa lebih ditentukan oleh keadilan dan ketaatannya kepada hukum Allah daripada oleh besarnya kekuatan yang dimilikinya?
Sebagian ulama memandang bahwa Al-Qur'an telah memberikan pelajaran penting melalui kisah Bani Israil. Menurut penafsiran ini, ketika suatu kaum terus-menerus melakukan kerusakan, kesombongan, dan pengingkaran terhadap peringatan Allah, maka kehancuran pada akhirnya menjadi bagian dari sunnatullah yang tidak dapat dihindari.
Mereka berpendapat bahwa sebesar apa pun dukungan manusia, tidak ada yang mampu menggagalkan ketetapan Allah apabila waktu yang Dia tetapkan telah tiba.
Pandangan ini kemudian mengaitkan keadaan modern dengan firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 14:
«"Mereka tidak akan memerangi kamu secara bersama-sama, kecuali di dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dari balik tembok. Permusuhan di antara mereka sangat keras. Engkau mengira mereka bersatu, padahal hati mereka tercerai-berai. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."»
Ayat tersebut menggambarkan adanya kekuatan lahiriah yang tampak kokoh, tetapi menyimpan perpecahan di dalamnya. Dari sinilah sebagian penafsir melihat bahwa keretakan internal merupakan salah satu sebab runtuhnya suatu kekuatan.
Janji Allah dalam Surah Al-Isra'
Lebih jauh lagi, Surah Al-Isra' ayat 4–7 menceritakan bahwa Bani Israil akan melakukan kerusakan di bumi sebanyak dua kali dan meninggikan diri dengan kesombongan yang besar.
Allah berfirman bahwa ketika waktu hukuman itu datang, Dia akan mengutus hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar untuk menghancurkan kesombongan tersebut. Setelah hukuman pertama, mereka diberi kesempatan bangkit kembali. Namun apabila kerusakan kedua telah mencapai puncaknya, maka datang pula hukuman berikutnya yang menghancurkan apa saja yang mereka kuasai.
Di sinilah muncul perbedaan pendapat di kalangan para mufasir.
Sebagian memahami bahwa kedua hukuman tersebut telah selesai terjadi pada masa kerajaan Babilonia dan Romawi.
Sebagian lainnya berpendapat bahwa hukuman kedua masih akan mencapai puncaknya pada akhir zaman.
Karena itu, mengaitkan ayat ini secara langsung dengan negara Israel modern merupakan wilayah ijtihad tafsir yang tidak disepakati seluruh ulama.
Pelajaran dari Surah Al-Ma'idah
Al-Qur'an juga mengisahkan bagaimana Nabi Musa 'alaihissalam memerintahkan kaumnya memasuki tanah suci yang telah Allah tetapkan bagi mereka.
Namun apa yang terjadi?
Mereka menolak perintah Allah karena takut menghadapi musuh.
Akibat pembangkangan tersebut, mereka dihukum dengan tersesat selama empat puluh tahun di padang pasir.
Kisah ini mengajarkan bahwa keberkahan suatu negeri tidak pernah bergantung pada identitas suatu kaum semata.
Yang menjadi ukuran adalah ketaatan kepada Allah.
Ketika ketaatan hilang, keberkahan pun dicabut.
Hadits tentang Peristiwa Akhir Zaman
Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ mengabarkan akan terjadi peperangan menjelang hari kiamat antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi.
Hadits tersebut merupakan bagian dari berita tentang tanda-tanda akhir zaman (asyrāṭ as-sā'ah). Para ulama menegaskan bahwa rincian waktu, tempat, dan pihak-pihak yang dimaksud merupakan perkara gaib yang hanya diketahui Allah hingga peristiwa itu benar-benar terjadi. Oleh karena itu, hadits tersebut tidak menjadi dasar untuk membenarkan tindakan permusuhan terhadap orang Yahudi secara umum pada setiap masa.
Renungan
Sejarah selalu mengulang satu pelajaran yang sama.
Fir'aun pernah merasa kekuasaannya tidak akan runtuh.
Kaum 'Ad membanggakan kekuatan mereka.
Kaum Tsamud merasa tidak ada yang mampu menembus benteng-benteng mereka.
Begitu pula berbagai kerajaan besar dalam perjalanan sejarah.
Namun ketika kesombongan, kezaliman, dan kerusakan telah mencapai batas yang Allah tetapkan, tidak ada satu pun kekuatan yang mampu mempertahankan mereka.
Inilah sunnatullah yang berlaku kepada siapa pun, tanpa memandang bangsa maupun zamannya.
Karena itu, pelajaran utama dari ayat-ayat tersebut bukanlah sekadar membahas nasib suatu bangsa, melainkan mengingatkan seluruh manusia bahwa kezaliman tidak akan berlangsung selamanya, dan setiap kekuasaan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra' ayat 7:
«"Jika kamu berbuat baik, maka (manfaatnya) untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (akibatnya) kembali kepada dirimu sendiri."»
Ayat ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa hukum Allah berlaku adil bagi seluruh manusia. Siapa pun yang menegakkan kebenaran akan memperoleh kebaikan, sedangkan siapa pun yang memilih jalan kezaliman akan memikul akibat dari perbuatannya sendiri.
0 komentar: