Mengapa Islam telah dikenal di Nusantara sejak berabad-abad sebelumnya, tetapi baru berkembang menjadi agama mayoritas sekitar abad ke-13?
Apakah perdagangan semata cukup untuk mengubah keyakinan sebuah masyarakat?
Ataukah diperlukan sosok-sosok yang bukan hanya membawa ajaran, tetapi juga mampu menyentuh hati dan budaya masyarakat setempat?
Sejarawan A.H. Johns menawarkan sebuah jawaban yang menarik. Menurutnya, keberhasilan islamisasi Nusantara tidak dapat dilepaskan dari peran para guru sufi pengembara. Berbagai sumber lokal di Nusantara hampir selalu menghubungkan masuknya Islam dengan kedatangan para syekh, sayyid, makhdum, atau ulama pengembara yang berkeliling dari satu daerah ke daerah lain menyebarkan ajaran Islam.
Siapakah Para Sufi Pengembara Itu?
Mereka bukanlah pendakwah yang hidup dalam kemewahan. Sebaliknya, mereka memilih hidup sederhana, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan rela merasakan kehidupan masyarakat yang mereka dakwahi.
Mereka sering memiliki hubungan dengan jaringan perdagangan atau serikat kerajinan yang berafiliasi dengan tarekat tertentu. Jaringan inilah yang memungkinkan mereka menjangkau pelabuhan-pelabuhan dan pusat-pusat perdagangan di seluruh Nusantara.
Namun, apakah yang membuat dakwah mereka begitu mudah diterima?
Menurut Johns, para sufi mampu menjelaskan ajaran Islam dengan bahasa yang akrab bagi masyarakat setempat. Mereka memperkenalkan konsep-konsep ketuhanan yang tetap berpegang pada akidah Islam, tetapi disampaikan melalui istilah-istilah budaya yang telah dikenal sebelumnya. Mereka juga dikenal memiliki kemampuan pengobatan, kebijaksanaan spiritual, dan kharisma pribadi yang menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
Dengan cara seperti itu, Islam tidak hadir sebagai kekuatan yang memutus seluruh tradisi lama, melainkan sebagai cahaya yang memberi makna baru terhadap unsur-unsur budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Mengapa Dakwah Mereka Begitu Berpengaruh?
Kharisma para sufi tidak hanya menarik perhatian rakyat biasa.
Dalam sejumlah kisah lokal, mereka bahkan diterima di lingkungan istana. Sebagian di antaranya menikah dengan putri-putri bangsawan sehingga keturunan mereka memperoleh legitimasi sosial sekaligus kewibawaan keagamaan.
Akibatnya, dakwah Islam tidak hanya menyentuh lapisan bawah masyarakat, tetapi juga memperoleh tempat di kalangan elite politik.
Berdasarkan kenyataan inilah A.H. Johns menyimpulkan bahwa Islam baru benar-benar berakar kuat di Nusantara setelah gerakan dakwah kaum sufi berkembang secara luas.
Pendapat ini diperkuat oleh sejarawan S. Q. Fatimi yang menunjukkan bahwa pola serupa juga terjadi di Anak Benua India. Di sana pun para sufi memainkan peranan besar dalam mempercepat penyebaran Islam.
Mengapa Baru Aktif pada Abad ke-13?
Pertanyaan berikutnya tentu muncul.
Jika para sufi begitu berpengaruh, mengapa gelombang dakwah mereka baru tampak dominan sejak abad ke-13?
Menurut Johns, jawabannya berkaitan erat dengan perubahan besar yang terjadi di Dunia Islam.
Runtuhnya Baghdad akibat serangan Mongol pada tahun 1258 M menjadi titik balik sejarah. Setelah pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyah hancur, dunia Islam kehilangan otoritas politik yang selama berabad-abad menjadi pemersatu.
Siapa yang kemudian menjaga persatuan umat?
Dalam situasi itulah tarekat-tarekat sufi berkembang menjadi lembaga yang semakin terorganisasi, disiplin, dan memiliki jaringan lintas wilayah. Mereka bukan sekadar kelompok spiritual, tetapi juga menjadi penghubung masyarakat Muslim yang tersebar di berbagai negeri.
Melalui hubungan erat dengan para pedagang dan perajin, jaringan tarekat mampu membawa para guru sufi melintasi samudra, dari Timur Tengah menuju India, Asia Tenggara, hingga Nusantara.
Dengan demikian, jalur perdagangan tidak hanya mengangkut rempah-rempah dan barang dagangan, tetapi juga membawa ilmu, ulama, dan peradaban Islam.
Islamisasi Tidak Berdiri Sendiri
Teori A.H. Johns memperlihatkan bahwa penyebaran Islam tidak dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang.
Perdagangan memang penting.
Migrasi ulama juga berpengaruh.
Perubahan politik di Dunia Islam turut memberi dampak.
Begitu pula perkembangan lembaga-lembaga Islam seperti madrasah, tarekat, serikat pedagang, perkumpulan pemuda, dan komunitas ulama yang semakin kuat sejak abad ke-11 hingga ke-13.
Semua unsur tersebut saling berkaitan dan membentuk jaringan besar yang mempercepat penyebaran Islam ke berbagai kawasan.
Dampak Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Kemunduran Dinasti Abbasiyah justru melahirkan dinamika baru.
Ketika kekuasaan politik melemah, lembaga-lembaga sosial dan keagamaan mengambil peran yang lebih besar dalam memelihara kehidupan umat.
Pada masa yang sama, banyak ulama dan kaum sufi meninggalkan pusat-pusat Islam seperti Baghdad dan Persia untuk berdakwah ke wilayah-wilayah baru.
Migrasi besar-besaran ini membawa ilmu, tradisi keilmuan, dan pengalaman peradaban Islam ke berbagai penjuru dunia, termasuk Kepulauan Melayu-Indonesia.
Sebagian sejarawan melihat perpindahan ulama ini sebagai salah satu faktor penting yang mempercepat proses islamisasi di Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Eropa Timur.
Sebuah Proses yang Kompleks
Lalu, pelajaran apa yang dapat kita ambil?
Islamisasi Nusantara ternyata bukanlah hasil dari satu faktor tunggal.
Ia merupakan perpaduan antara perdagangan, dakwah, migrasi ulama, perkembangan tarekat, perubahan politik dunia Islam, serta kemampuan para pendakwah dalam berdialog dengan budaya setempat tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
Karena itulah, sejarah islamisasi Nusantara menjadi salah satu contoh transformasi keagamaan paling damai dan paling luas dalam sejarah dunia.
Ia tidak dibangun semata-mata dengan kekuatan politik, tetapi melalui keteladanan, ilmu, akhlak, jaringan keilmuan, dan kedekatan para pendakwah dengan kehidupan masyarakat yang mereka layani.
0 komentar: