Teori "Balapan" antara Islam dan Kristen di Nusantara
Benarkah penyebaran Islam di Nusantara berlangsung tanpa tantangan?
Ataukah justru perkembangan Islam dipercepat oleh hadirnya kekuatan lain yang berusaha menghalanginya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita kepada salah satu teori yang paling banyak diperdebatkan dalam historiografi Islam Nusantara, yaitu teori "balapan" (race theory) yang dikemukakan oleh Schrieke.
Schrieke berangkat dari sebuah pengamatan yang menarik. Menurutnya, penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dipahami secara utuh tanpa memperhitungkan kedatangan Portugis beserta semangat keagamaan yang mereka bawa. Bahkan ia menegaskan,
«"Tidak mungkin memahami penyebaran Islam di Nusantara jika orang tidak memperhitungkan permusuhan antara para pedagang Muslim dan bangsa Portugis."»
Pernyataan ini memunculkan sebuah pertanyaan penting.
Apakah benar ekspansi Portugis ke Asia hanyalah ekspansi ekonomi? Ataukah di baliknya terdapat semangat keagamaan yang merupakan kelanjutan dari Perang Salib?
---
Kritik terhadap Teori Schrieke
Tidak semua sarjana menerima pandangan tersebut.
Salah satu pengkritik paling keras adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Menurut Al-Attas, tidak tepat jika penyebaran Islam di Nusantara dipahami sebagai akibat dari persaingan dengan Kristen. Islam, menurutnya, telah hadir di Nusantara sejak abad pertama Hijriah (abad ke-7 M), jauh sebelum Portugis datang. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa islamisasi merupakan respons terhadap misi Kristen.
Al-Attas juga berpendapat bahwa pada masa-masa awal, Kristen belum menjadi kekuatan yang cukup signifikan di Nusantara. Pengaruhnya baru tampak secara nyata pada abad ke-19. Oleh sebab itu, menurutnya, tidak tepat jika dinamika penyebaran Islam dipandang sebagai kelanjutan Perang Salib.
Sekilas, kritik ini tampak sangat kuat.
Namun, benarkah Al-Attas sedang membantah teori Schrieke secara utuh?
---
Apakah Terjadi Salah Pembacaan?
Di sinilah letak persoalannya.
Schrieke sebenarnya tidak mengatakan bahwa seluruh proses islamisasi sejak abad ke-7 dipicu oleh persaingan dengan Kristen.
Fokus utamanya justru berada pada abad ke-16, ketika Portugis mulai menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara dan secara aktif membawa misi politik sekaligus agama.
Dengan kata lain, Schrieke berbicara tentang fase tertentu dalam sejarah Islam Nusantara, bukan keseluruhan proses islamisasi.
Karena itu, kritik Al-Attas sesungguhnya lebih tepat dipahami sebagai koreksi terhadap generalisasi teori Schrieke, bukan penolakan terhadap seluruh argumennya.
---
Kajian-Kajian Mutakhir
Perdebatan ternyata tidak berhenti di situ.
Sejumlah penelitian yang lebih baru justru menemukan bahwa sebagian pokok pikiran Schrieke memiliki dasar historis yang cukup kuat.
Salah satunya adalah penelitian Anthony Reid.
Reid melihat bahwa sejak pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-17 terjadi polarisasi yang semakin tajam antara komunitas Muslim dan Kristen di Asia Tenggara.
Mengapa?
Karena kedua komunitas sama-sama berusaha memperoleh pemeluk baru.
Dengan kata lain, terjadi semacam "perlombaan" dakwah dan misi keagamaan.
Pada masa itu, banyak masyarakat di kota maupun desa memeluk Islam, kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari komunitas Islam internasional.
Menurut Reid, fenomena tersebut diperkuat oleh dua faktor utama.
Pertama, semakin intensifnya hubungan pelayaran antara Asia Tenggara dan kawasan Laut Merah.
Kedua, semakin kuatnya identitas dunia Islam (Dar al-Islam) yang berhadapan dengan wilayah-wilayah non-Islam (Dar al-Harb).
---
Seberapa Relevan Teori Schrieke?
Lalu, bagaimana seharusnya teori Schrieke diposisikan?
Barangkali tidak tepat jika teori itu diterima secara mutlak.
Namun, tidak pula bijaksana jika ditolak seluruhnya.
Beberapa sejarawan, seperti M. A. P. Meilink-Roelofsz, mengingatkan bahwa motif Perang Salib dalam ekspansi Portugis memang ada, tetapi tidak boleh dilebih-lebihkan. Faktor perdagangan, politik, dan perebutan jalur ekonomi tetap memainkan peranan yang sangat besar.
Karena itu, teori Schrieke akan jauh lebih kuat jika dipadukan dengan teori-teori lain mengenai perdagangan, jaringan ulama, mobilitas pelaut Muslim, dan dinamika politik kerajaan-kerajaan Nusantara.
Dengan pendekatan seperti inilah sejarah islamisasi maupun kristenisasi di Nusantara dapat dipahami secara lebih utuh.
Menariknya, gagasan tentang "balapan" dakwah ini bahkan masih terasa relevan hingga masa kini ketika dakwah Islam dan misi Kristen sama-sama berusaha menjangkau masyarakat melalui berbagai cara yang damai sesuai dengan konteks zamannya.
---
Mengapa Portugis Datang ke Nusantara?
Jika teori Schrieke diterima sebagian, muncul pertanyaan berikutnya.
Apa sebenarnya yang mendorong bangsa Portugis datang ke Asia?
Menurut Schrieke, ekspansi Portugis bukan sekadar pencarian rempah-rempah.
Di balik pelayaran panjang itu terdapat perpaduan antara ambisi politik, kepentingan ekonomi, semangat petualangan, dan dorongan keagamaan yang diwarisi dari pengalaman panjang Perang Salib.
Setelah berhasil mengusir kaum Muslim dari Semenanjung Iberia melalui Reconquista, Portugis melanjutkan ekspansinya dengan merebut Ceuta di pesisir Afrika Utara. Dari sana mereka bergerak menyusuri pantai barat Afrika, mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan, hingga akhirnya mencapai India dan Kepulauan Melayu.
Bagi Schrieke, semangat Perang Salib masih hidup dalam ekspansi tersebut.
Ia bahkan menulis bahwa kenangan panjang peperangan melawan kaum Muslim di Semenanjung Iberia terus menjadi salah satu kekuatan pendorong kebijakan Portugis.
Namun, konflik itu tidak semata-mata didorong oleh agama.
Di baliknya terdapat kepentingan ekonomi yang sangat besar.
Setelah jatuhnya Konstantinopel dan berubahnya jalur perdagangan internasional, perdagangan rempah-rempah semakin banyak dikuasai para pedagang Muslim melalui Laut Merah, Mesir, Gujarat, hingga Asia Tenggara.
Para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat menguasai banyak pelabuhan penting, termasuk Pasai dan Malaka. Pada abad ke-14 dan ke-15, jaringan perdagangan Samudra Hindia mencapai masa kejayaannya. Catatan perjalanan Ibnu Battutah, Abd al-Razzaq Samarqandi, Niccolò de' Conti, dan Stefano da Santo menggambarkan betapa luasnya jaringan perdagangan kaum Muslim pada masa itu.
Keadaan inilah yang kemudian mendorong Portugis masuk ke Samudra Hindia.
Bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga untuk mematahkan dominasi perdagangan Muslim sekaligus membangun pengaruh politik dan keagamaan mereka sendiri.
Dengan demikian, jika konflik antara Islam dan Portugis memang terjadi, akar persoalannya bukan semata-mata persoalan teologi. Ia merupakan pertemuan antara agama, politik, ekonomi, dan perebutan jalur perdagangan dunia yang saling bertaut dalam panggung sejarah Nusantara.
0 komentar: