Kitab Allah yang Tersurat dan yang Terlihat
Bagaimana manusia mengenal Allah?
Apakah cukup hanya dengan membaca Al-Qur'an?
Ataukah cukup hanya dengan mengagumi keindahan alam semesta?
Sesungguhnya Al-Qur'an mengajarkan bahwa ma'rifatullah—mengenal Allah—tidak dibangun hanya melalui satu jalan. Allah membuka dua "kitab" yang sama-sama dapat dibaca oleh manusia: kitab yang tersurat dan kitab yang terlihat.
Yang pertama adalah Al-Qur'an, wahyu yang dibaca, didengar, dipahami, dan ditadabburi.
Yang kedua adalah alam semesta, ciptaan Allah yang terbentang luas dan dapat disaksikan oleh siapa saja.
Keduanya saling menguatkan. Yang satu berbicara dengan wahyu, yang lain berbicara dengan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Mengenal Allah Melalui Alam Semesta
Pernahkah kita bertanya, mengapa Al-Qur'an begitu sering mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, lautan, hujan, tumbuhan, hewan, bahkan diri manusia sendiri?
Allah berfirman:
«"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan muatan yang bermanfaat bagi manusia... terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(QS. Al-Baqarah: 164)»
Dan firman-Nya:
«"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
(QS. Ali 'Imran: 190)»
Mengapa Allah berulang kali mengarahkan pandangan manusia kepada alam?
Karena seluruh alam semesta adalah ayat-ayat Allah yang terlihat.
Setiap ciptaan merupakan jejak dari perbuatan-Nya.
Dan setiap perbuatan menunjukkan sifat-sifat Sang Pencipta.
Mengenal Allah Melalui Al-Qur'an
Namun, apakah mengamati alam saja sudah cukup?
Tidak.
Allah juga memerintahkan manusia untuk merenungi wahyu-Nya.
Firman-Nya:
«"Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an?"
(QS. An-Nisa': 82)»
Dan firman-Nya:
«"Tidakkah mereka menghayati firman Allah?"
(QS. Al-Mu'minun: 68)»
Serta firman-Nya:
«"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya."
(QS. Shad: 29)»
Jika alam mengajak manusia melihat kebesaran Allah dengan mata, maka Al-Qur'an mengajak manusia melihatnya dengan hati dan akal.
Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya membaca Al-Qur'an tanpa memperhatikan alam, dan tidak cukup pula mengagumi alam tanpa bimbingan wahyu.
Apa yang Diajarkan Alam Tentang Allah?
Setiap ciptaan selalu menunjukkan adanya Pencipta.
Sebuah bangunan menunjukkan adanya pembangun.
Sebuah lukisan menunjukkan adanya pelukis.
Lalu mungkinkah alam semesta yang jauh lebih sempurna hadir tanpa Sang Pencipta?
Mustahil.
Keberadaan ciptaan menuntut adanya Zat yang hidup, berilmu, berkehendak, berkuasa, dan mampu bertindak sesuai kehendak-Nya.
Tidak mungkin suatu perbuatan lahir dari sesuatu yang tidak ada.
Tidak mungkin pula lahir dari sesuatu yang ada tetapi tidak memiliki ilmu, kehendak, atau kekuasaan.
Karena itu, setiap fenomena alam sesungguhnya sedang memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada manusia.
Apa yang Diceritakan Ciptaan-Ciptaan Allah?
Ketika kita melihat keragaman makhluk yang begitu menakjubkan, bukankah itu menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak yang bebas?
Ketika kita menyaksikan keteraturan alam yang penuh manfaat, bukankah itu menunjukkan hikmah dan kebijaksanaan-Nya?
Ketika hujan turun menyuburkan bumi, tumbuhan tumbuh memberi kehidupan, udara menopang seluruh makhluk, dan matahari memberi cahaya tanpa meminta balasan, bukankah semua itu memperlihatkan kasih sayang Allah?
Sebaliknya, ketika Al-Qur'an mengisahkan kehancuran kaum-kaum yang durhaka, bukankah itu menunjukkan keadilan dan murka-Nya terhadap kezaliman?
Ketika Allah memuliakan hamba-hamba yang taat dengan pertolongan dan kemenangan, bukankah itu menjadi bukti cinta-Nya kepada orang-orang beriman?
Dan ketika manusia dibiarkan tenggelam dalam kesombongannya hingga menuai akibat perbuatannya sendiri, bukankah itu menunjukkan bahwa Allah membenci kezaliman?
Alam Mengajarkan Kehidupan Setelah Kematian
Ada pertanyaan yang sering muncul sejak dahulu.
Bagaimana mungkin manusia yang telah menjadi tanah akan dibangkitkan kembali?
Allah menjawabnya melalui alam.
Bukankah bumi yang kering dapat hidup kembali setelah hujan turun?
Bukankah sebutir benih yang tampak mati mampu tumbuh menjadi pohon yang besar?
Bukankah manusia sendiri memulai kehidupannya dari setetes air yang sangat lemah, kemudian tumbuh menjadi makhluk yang sempurna, lalu kembali menjadi lemah sebelum akhirnya meninggal?
Jika Allah mampu menciptakan semua itu, apakah membangkitkan manusia setelah kematian merupakan sesuatu yang mustahil?
Alam setiap hari sedang memberikan jawabannya.
Rahmat Allah di Balik Kehidupan
Orang yang mengenal Allah melalui kedua kitab-Nya akan memandang hidup secara berbeda.
Ketika nikmat datang, ia melihat kasih sayang Allah.
Ketika musibah datang, ia tetap melihat kasih sayang Allah.
Mengapa?
Karena ia percaya bahwa tidak ada satu pun ketetapan Allah yang sia-sia.
Kasih sayang Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan.
Sering kali ia hadir dalam bentuk ujian yang menguatkan jiwa.
Orang yang saleh mampu melewati berbagai musibah dengan ketegaran karena hatinya sibuk menyaksikan hikmah Allah, bukan tenggelam dalam penderitaan semata.
Al-Qur'an dan Alam Saling Membenarkan
Allah berfirman:
«"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar."
(QS. Fushshilat: 53)»
Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat indah.
Al-Qur'an menjelaskan alam.
Alam membenarkan Al-Qur'an.
Keduanya berasal dari Allah Yang Maha Esa.
Karena itu, tidak mungkin terjadi pertentangan antara wahyu yang benar dan alam ciptaan-Nya.
Semakin manusia memahami keduanya, semakin kokohlah keyakinannya kepada Allah.
Allah Adalah Bukti atas Diri-Nya Sendiri
Pada akhirnya, mungkinkah Allah memerlukan bukti sebagaimana makhluk memerlukan bukti?
Seorang ulama pernah berkata dengan ungkapan yang sangat indah:
«"Bagaimana aku mencari bukti tentang Allah, sedangkan Dia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu? Bukti apa pun yang aku cari, keberadaan Allah jauh lebih nyata daripada bukti itu sendiri."»
Karena itulah para rasul berkata kepada umatnya:
«"Apakah masih ada keraguan terhadap Allah?"
(QS. Ibrahim: 10)»
Sesungguhnya Allah adalah Zat yang paling nyata.
Segala sesuatu dikenal karena Dia.
Walaupun manusia mengenal-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya, pada hakikatnya seluruh ciptaan itu hanyalah jendela yang memperlihatkan kebesaran Sang Pencipta.
Penutup
Semakin seseorang mentadabburi Al-Qur'an, semakin ia mampu membaca alam.
Semakin ia memperhatikan alam, semakin ia memahami Al-Qur'an.
Kedua "kitab" itu tidak pernah saling bertentangan.
Al-Qur'an adalah kitab Allah yang tersurat.
Alam semesta adalah kitab Allah yang terlihat.
Keduanya sama-sama mengajak manusia menuju satu kesimpulan yang agung: bahwa Allah Maha Ada, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, dan Maha Benar.
Maka, mengenal Allah bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan belajar melihat jejak-Nya pada setiap ayat yang dibaca dan pada setiap ciptaan yang disaksikan.
0 komentar: