Renungan Ibnu Jauzy: Kejatuhan Orang yang Berilmu
Mengapa ada orang yang begitu gigih menuntut ilmu, tetapi justru kehilangan kemuliaan setelah berhasil meraihnya?
Mengapa seseorang rela menghabiskan masa mudanya untuk belajar, bersabar menghadapi kesulitan, meninggalkan berbagai kesenangan, bahkan membenci kebodohan, namun pada akhirnya justru merendahkan dirinya di hadapan orang-orang yang tidak menghargai ilmu?
Bukankah ilmu seharusnya mengangkat derajat manusia?
Saya menyaksikan banyak orang yang menghabiskan masa mudanya demi ilmu. Mereka rela begadang, menahan lapar, menghadapi berbagai kesulitan, serta meninggalkan berbagai hal yang melalaikan. Mereka mencintai ilmu karena meyakini bahwa ilmu adalah jalan menuju kemuliaan.
Allah pun mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di atas kebanyakan manusia.
Namun, setelah ilmu itu diraih, tidak sedikit di antara mereka yang justru terjatuh.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Karena mereka memahami banyak perkara agama, tetapi kurang memahami bagaimana menjalani kehidupan. Mereka tidak menyiapkan kemandirian ekonomi sehingga akhirnya menggantungkan kebutuhan hidup kepada orang-orang yang miskin akhlak.
Mereka berkeliling dari satu pintu ke pintu yang lain, berharap pemberian dari orang-orang yang tidak menghormati ilmu. Mereka menundukkan kepala demi memperoleh sedikit harta, padahal dahulu mereka menegakkan kepala demi mempertahankan kehormatan.
Tidakkah ini sebuah ironi?
Lalu saya bertanya kepada sebagian dari mereka,
"Ke manakah perginya kebencianmu terhadap kebodohan?"
Bukankah dahulu engkau rela bersusah payah siang dan malam demi keluar dari kehinaan kebodohan?
Mengapa setelah ilmu itu engkau peroleh, justru engkau kembali merendahkan dirimu sendiri?
Di manakah ilmu yang selama ini engkau banggakan?
Apakah ilmu itu tidak lagi mampu menahanmu dari kehinaan?
Apakah tidak tersisa sedikit pun kekuatan dalam ilmu itu untuk membimbingmu menjaga harga diri?
Ataukah sejak awal perjuanganmu menuntut ilmu memang bukan karena Allah, melainkan karena berharap memperoleh dunia?
Pertanyaan-pertanyaan itu memang pahit.
Namun terkadang hati hanya dapat dibangunkan oleh pertanyaan yang jujur.
Sesungguhnya mencari penghasilan yang halal hingga tidak bergantung kepada orang-orang yang buruk akhlaknya jauh lebih mulia daripada terus menambah ilmu, tetapi akhirnya ilmu itu menjadi sebab seseorang diperbudak oleh mereka.
Ilmu tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan ikhtiar mencari nafkah.
Justru kemandirian menjaga kemuliaan ilmu.
Sebab, ketika seseorang telah mencukupi kebutuhannya dengan usaha yang halal, ia tidak perlu menjual kehormatannya demi mendapatkan belas kasihan manusia.
Tidakkah engkau menyadari bahwa terlalu sering menundukkan diri di hadapan manusia sedikit demi sedikit mengurangi wibawa agamamu?
Bukankah engkau telah menghabiskan bertahun-tahun menjaga kehormatan dirimu?
Lalu mengapa kini engkau sendiri yang menjualnya dengan harga yang begitu murah?
Padahal engkau diciptakan bukan untuk menjadi pengemis pujian dan pemberian manusia.
Engkau diciptakan untuk menjadi hamba Allah yang hanya bergantung kepada-Nya.
Karena itu, bekerjalah.
Carilah rezeki yang halal.
Penuhi kebutuhan hidupmu dengan usaha yang terhormat.
Dengan demikian, engkau tidak perlu menadahkan tangan kepada siapa pun.
Harta yang berada di tanganmu suatu saat akan habis.
Jabatan akan berlalu.
Pujian manusia akan lenyap.
Yang akan tetap tinggal hanyalah amal saleh yang pernah engkau lakukan dan manfaat yang pernah engkau berikan kepada orang lain.
Alangkah ruginya seseorang yang mengetahui kebenaran, tetapi justru melakukan kebalikannya.
Sebab ilmu yang tidak diamalkan bukanlah kemuliaan, melainkan hujjah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Sebaliknya, siapa yang sejak awal menjaga keikhlasan, memelihara kehormatan dirinya, mengamalkan ilmunya, serta berusaha hidup mandiri, niscaya Allah akan menjaga kemuliaannya hingga akhir hayat.
Karena orang yang berbuat baik pada masa mudanya, dengan izin Allah, akan memetik kebaikan itu pada sisa-sisa usianya.
0 komentar: