Mengapa Bisa Wafat dalam Kondisi Tersenyum?
Benarkah ada orang yang ketika menghadapi kematian justru tampak tenang, damai, bahkan tersenyum?
Mengapa sebagian orang begitu takut menghadapi kematian, sementara sebagian lainnya seakan menyambutnya dengan hati yang lapang?
Apakah kematian bagi orang beriman hanyalah akhir kehidupan?
Ataukah justru awal dari perjumpaan dengan rahmat Allah?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat indah melalui Surah An-Nahl ayat 30–32.
Bagaimana Orang Bertakwa Memandang Wahyu Allah?
Allah berfirman:
«"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, 'Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Kebaikan.'"
(QS. An-Nahl: 30)»
Perhatikanlah perbedaan jawaban orang-orang bertakwa dengan orang-orang yang menolak kebenaran.
Mereka tidak melihat Al-Qur'an sebagai beban.
Mereka tidak menganggap syariat sebagai belenggu.
Mereka juga tidak memandang perintah Allah sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan.
Sebaliknya, mereka menjawab dengan satu kata yang sangat sederhana, tetapi penuh makna:
"Kebaikan."
Mengapa?
Karena mereka merasakan sendiri buah dari wahyu Allah.
Iman melahirkan ketenangan.
Ketaatan melahirkan keberkahan.
Akhlak yang baik melahirkan kebahagiaan.
Bagi mereka, seluruh ajaran Allah adalah rahmat, bukan beban.
Karena itulah Allah menjanjikan dua kebahagiaan sekaligus.
Kebahagiaan di dunia.
Dan kebahagiaan yang jauh lebih sempurna di akhirat.
Allah menegaskan:
«"Orang-orang yang berbuat baik di dunia memperoleh kebaikan. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. An-Nahl: 30)»
Kebahagiaan dunia selalu terbatas.
Sebesar apa pun nikmatnya, suatu saat akan berakhir.
Namun kebahagiaan akhirat tidak mengenal batas dan tidak mengenal akhir.
Seperti Apa Tempat Kembali Orang-Orang Bertakwa?
Lalu ke mana perjalanan mereka berakhir?
Allah melanjutkan firman-Nya:
«"(Yaitu) surga-surga 'Adn yang mereka masuki. Sungai-sungai mengalir di bawahnya. Di dalamnya mereka memperoleh apa saja yang mereka kehendaki."
(QS. An-Nahl: 31)»
Bukankah setiap manusia memiliki keinginan yang tidak pernah benar-benar habis?
Di dunia, sering kali seseorang harus memilih karena keterbatasan.
Ada yang memiliki harta tetapi kehilangan kesehatan.
Ada yang memiliki kedudukan tetapi kehilangan ketenangan.
Ada yang panjang umur tetapi penuh penyesalan.
Di surga tidak demikian.
Allah menjanjikan seluruh keinginan yang baik akan dipenuhi.
Tanpa rasa takut kehilangan.
Tanpa kesedihan.
Tanpa kematian.
Tanpa perpisahan.
Itulah balasan bagi orang-orang yang menjaga ketakwaannya sepanjang hidup.
Mengapa Mereka Wafat dengan Tenang?
Bagian yang paling menggetarkan terdapat pada ayat berikutnya.
Allah berfirman:
«"(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik. Para malaikat berkata, 'Salamun 'alaikum. Masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.'"
(QS. An-Nahl: 32)»
Mengapa sebagian orang tampak begitu damai ketika menghadapi kematian?
Karena bagi mereka, kematian bukanlah akhir yang menakutkan.
Kematian adalah awal dari kabar gembira.
Malaikat datang bukan dengan ancaman.
Melainkan dengan salam.
"Salāmun 'alaikum."
Betapa indahnya sambutan itu.
Kalimat pertama yang mereka dengar ketika meninggalkan dunia bukanlah celaan.
Bukan pula ancaman.
Tetapi doa keselamatan.
Lalu disusul dengan kabar yang paling membahagiakan:
"Masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan."
Bukankah setiap mukmin berharap dapat menutup hidupnya dengan husnul khatimah?
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan saat sakaratul maut bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.
Ia merupakan buah dari kehidupan yang dipenuhi iman, ketakwaan, dan amal saleh.
Siapakah Orang yang Mendapat Sambutan Itu?
Apakah mereka manusia tanpa dosa?
Bukan.
Mereka adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya terus berusaha kembali kepada Allah.
Mereka menjaga tauhidnya.
Menjauhi kemusyrikan.
Berusaha menaati perintah-Nya.
Memperbaiki akhlaknya.
Dan ketika tergelincir dalam dosa, mereka segera bertobat.
Karena itulah Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan ṭayyibīn—jiwa yang bersih, baik, dan dipenuhi keimanan.
Mereka menghadap Allah dengan hati yang lapang.
Bukan karena merasa amalnya sempurna.
Tetapi karena yakin kepada rahmat-Nya.
Kabar Gembira Itu Sudah Dijanjikan Sebelumnya
Janji tersebut juga ditegaskan dalam firman Allah:
«"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka seraya berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati. Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'"
(QS. Fussilat: 30)»
Perhatikan urutannya.
Jangan takut.
Jangan bersedih.
Bergembiralah.
Kalimat-kalimat itu menunjukkan bahwa ketakutan terbesar manusia saat menghadapi kematian diganti oleh Allah dengan rasa aman.
Kesedihan karena meninggalkan dunia diganti dengan kegembiraan menyambut kehidupan yang lebih baik.
Sebuah Riwayat yang Mengharukan
Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi meriwayatkan:
«"Apabila seorang hamba mukmin telah mendekati kematian, datanglah seorang malaikat seraya berkata, 'Salam sejahtera bagimu, wahai wali Allah. Allah menyampaikan salam kepadamu dan memberikan kabar gembira bahwa engkau akan masuk surga.'"
(Riwayat Ibnu Jarir ath-Thabari dan Al-Baihaqi)»
Bayangkan...
Seumur hidup seseorang berusaha mencari ridha Allah.
Lalu pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia mendapatkan salam dari utusan-Nya.
Adakah kemuliaan yang lebih besar daripada itu?
Penutup
Kematian bukanlah peristiwa yang sama bagi setiap manusia.
Bagi orang yang berpaling dari Allah, ia bisa menjadi awal penyesalan.
Namun bagi orang-orang yang bertakwa, kematian adalah pintu menuju perjumpaan dengan rahmat-Nya.
Karena itu, jangan hanya mempersiapkan kehidupan yang panjang di dunia.
Persiapkan pula kematian yang indah.
Sebab bukan panjangnya umur yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan bagaimana ia mengakhiri kehidupannya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, yang ketika malaikat datang menjemput, kita disambut dengan salam, ketenangan, dan kabar gembira:
"Salāmun 'alaikum. Masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan."
Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
0 komentar: