Palestina: Bumi yang Mendapat Berkah
Mengapa Allah menyebut suatu wilayah sebagai tanah yang diberkahi?
Apakah keberkahannya hanya karena tanahnya subur, airnya melimpah, dan letaknya strategis? Ataukah ada makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemakmuran material?
Al-Qur'an beberapa kali menyebut adanya sebuah wilayah yang diberkahi Allah. Salah satunya terdapat dalam firman-Nya:
«"Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam."
(QS. Al-Anbiyā': 71)»
Firman Allah yang lain menyebutkan:
«"Dan Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi beberapa negeri yang berdekatan, dan Kami tetapkan jarak-jarak perjalanan di antaranya. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan siang hari dengan aman."
(QS. Saba': 18)»
Dalam ayat-ayat tersebut, para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah wilayah Syam, yang di dalamnya terdapat Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa.
Lalu, apa sebenarnya makna keberkahan itu?
Keberkahan yang Melampaui Kemakmuran
Keberkahan bumi Syam bukan hanya terletak pada kesuburan tanahnya, banyaknya sumber air, atau hasil pertaniannya.
Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa wilayah ini diberkahi karena menjadi negeri yang subur sekaligus tempat lahir dan berjuangnya banyak nabi. Dari sanalah cahaya wahyu menyinari umat manusia.
Dengan demikian, keberkahannya memiliki dua dimensi sekaligus.
Pertama, keberkahan material, berupa tanah yang subur, air yang melimpah, dan letak strategis sebagai jalur perdagangan.
Kedua, keberkahan spiritual, karena wilayah ini menjadi pusat turunnya wahyu dan perjuangan para nabi dalam membimbing manusia menuju Allah.
Di sinilah Nabi Ibrahim dan Nabi Lut berhijrah. Di kawasan inilah banyak nabi diutus. Di sanalah pula berdiri Baitul Maqdis yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah risalah.
Masjidil Aqsa dalam Sejarah Islam
Masjidil Aqsa bukan sekadar bangunan bersejarah.
Ia merupakan kiblat pertama kaum muslimin selama sekitar tujuh belas bulan setelah hijrah ke Madinah sebelum Allah memerintahkan perubahan kiblat menuju Ka'bah.
Dari tempat inilah Rasulullah ﷺ memulai perjalanan Isra' Mi'raj menuju Sidratul Muntaha.
Karena kemuliaannya, Rasulullah ﷺ bersabda:
«"Tidak boleh dilakukan perjalanan khusus (untuk beribadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsa."
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Hadis ini menunjukkan kedudukan Masjidil Aqsa sebagai salah satu dari tiga masjid yang memiliki keutamaan khusus dalam Islam.
Mengapa Tanah Ini Selalu Menjadi Pusat Pergulatan?
Jika tanah ini diberkahi, mengapa justru sepanjang sejarah ia menjadi medan konflik?
Pertanyaan ini mengajak kita merenungkan bahwa keberkahan tidak selalu berarti kehidupan tanpa ujian.
Justru tanah yang menjadi pusat risalah sering kali menjadi tempat berlangsungnya ujian besar bagi umat manusia.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika kaum muslimin menjadikan Islam sebagai sumber persatuan dan kekuatan, mereka mampu menjaga kemuliaan Baitul Maqdis.
Sebaliknya, ketika mereka tercerai-berai dan menjauh dari nilai-nilai Islam, kelemahan itu membuka peluang bagi pihak lain untuk menguasai wilayah tersebut.
Pelajaran dari Perang Salib
Salah satu contoh yang sering dikemukakan para ulama adalah peristiwa Perang Salib.
Ketika pasukan Salib berhasil merebut Al-Quds, banyak yang mengira kemenangan mereka telah bersifat permanen.
Namun, justru tekanan itu membangkitkan kesadaran umat Islam untuk kembali bersatu.
Nuruddin Zanki memulai proses penyatuan berbagai wilayah Islam yang sebelumnya terpecah.
Perjuangan itu kemudian dilanjutkan oleh Salahuddin al-Ayyubi hingga mencapai kemenangan besar dalam Perang Hattin pada tahun 1187 M. Setelah itu, Al-Quds berhasil dibebaskan dan Masjidil Aqsa kembali berada di bawah pemerintahan kaum muslimin.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh sejarah bahwa persatuan, kepemimpinan, dan keteguhan dapat mengubah keadaan yang tampaknya mustahil.
Renungan
Ayat-ayat tentang bumi yang diberkahi mengajarkan bahwa keberkahan bukan semata-mata diukur dari kekayaan alam.
Keberkahan sejati lahir ketika suatu negeri menjadi tempat tegaknya petunjuk Allah, berkembangnya ilmu, tumbuhnya keadilan, dan terpeliharanya akhlak.
Bumi yang diberkahi bukan hanya menghasilkan panen yang melimpah, tetapi juga melahirkan manusia-manusia yang membawa rahmat bagi sesama.
Karena itu, ketika Al-Qur'an menyebut Syam dan Baitul Maqdis sebagai negeri yang diberkahi, yang dimaksud bukan hanya keberlimpahan sumber daya alamnya, melainkan juga kedudukannya sebagai pusat sejarah kenabian dan penyebaran hidayah bagi seluruh alam.
Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI, keberkahan wilayah Syam mencakup kesuburan alam sekaligus kemuliaannya sebagai tempat para nabi diutus dan wahyu diturunkan. Kedua dimensi inilah yang menjadikan bumi tersebut memiliki kedudukan yang istimewa dalam sejarah peradaban manusia.
0 komentar: