Teori Arab: Benarkah Islam Datang Langsung dari Tanah Arab ke Nusantara?
Dari manakah sebenarnya Islam pertama kali datang ke Nusantara?
Apakah melalui Gujarat di India, sebagaimana yang lama diajarkan dalam banyak buku sejarah? Ataukah justru langsung dari Tanah Arab, dibawa oleh para pedagang, ulama, dan dai yang berlayar melintasi Samudra Hindia sejak masa-masa awal Islam?
Pertanyaan ini telah menjadi salah satu perdebatan paling panjang dalam historiografi Islam Nusantara.
Di antara berbagai pendapat yang berkembang, Teori Arab menempati posisi penting karena didukung oleh berbagai bukti sejarah, catatan perjalanan, tradisi lokal, serta kajian terhadap perkembangan intelektual Islam di kawasan Melayu.
Pedagang Arab dan Awal Jaringan Islam
Sejarawan Thomas W. Arnold berpendapat bahwa penyebaran Islam di Nusantara tidak hanya berasal dari Coromandel dan Malabar di India Selatan, tetapi juga langsung dari wilayah Arab.
Menurutnya, sejak abad ke-7 dan ke-8 M, para pedagang Arab telah menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Walaupun tidak ditemukan catatan yang secara eksplisit menggambarkan aktivitas dakwah mereka, sangat mungkin mereka turut memperkenalkan Islam kepada masyarakat setempat melalui interaksi dagang, kehidupan sosial, dan keteladanan.
Dugaan ini diperkuat oleh catatan Tiongkok yang menyebutkan bahwa pada sekitar abad ke-7 telah berdiri sebuah permukiman Arab Muslim di pesisir barat Sumatra yang dipimpin oleh seorang Arab. Sebagian dari mereka menikah dengan penduduk setempat sehingga terbentuk komunitas-komunitas Muslim awal yang kemudian menjadi embrio penyebaran Islam di Nusantara.
Dengan demikian, perdagangan bukan sekadar pertukaran barang, tetapi juga menjadi jalur pertukaran agama, budaya, dan peradaban.
Jejak Muslim Pribumi di Masa Sriwijaya
Apakah masyarakat Nusantara sudah mengenal Islam sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan Islam?
Salah satu petunjuk menarik berasal dari karya 'Ajā'ib al-Hind karya Buzurg bin Syahriyar al-Ramhurmuzi yang disusun sekitar tahun 1000 M.
Dalam catatan tersebut dikisahkan adanya pedagang-pedagang Muslim yang berkunjung ke Kerajaan Zabaj (Sriwijaya). Menariknya, penulis menyebut bahwa di kerajaan itu telah terdapat penduduk pribumi yang beragama Islam.
Walaupun jumlah mereka tidak diketahui, keberadaan komunitas Muslim pribumi menunjukkan bahwa proses islamisasi telah berlangsung jauh sebelum munculnya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.
Namun demikian, sumber tersebut tidak menjelaskan siapa yang pertama kali mengislamkan mereka. Apakah para pedagang Arab, para ulama, atau melalui jalur lain, masih menjadi ruang kajian sejarah.
Dukungan Para Sejarawan terhadap Teori Arab
Teori bahwa Islam datang langsung dari Tanah Arab tidak hanya dikemukakan oleh Arnold.
Beberapa orientalis dan sejarawan lain juga menyampaikan pendapat serupa, meskipun dengan argumentasi yang berbeda-beda.
Crawfurd berpendapat bahwa Islam diperkenalkan langsung dari Arab, walaupun ia tetap mengakui pentingnya hubungan dengan pesisir India.
Keyzer mengaitkan asal-usul Islam Nusantara dengan Mesir karena kesamaan mazhab Syafi'i yang berkembang di kedua wilayah.
Niemann dan de Hollander lebih menekankan peranan Hadramaut di Yaman sebagai daerah asal para penyebar Islam.
Sementara itu, Veth berpendapat bahwa para pedagang Arab yang menikah dengan penduduk pribumi memiliki peran besar dalam memperluas dakwah Islam di Nusantara.
Pandangan-pandangan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan bangsa Arab dalam proses islamisasi tidak dapat diabaikan.
Kesimpulan Seminar Sejarah Islam Indonesia
Pandangan serupa juga berkembang di kalangan para sarjana Indonesia.
Dalam seminar nasional mengenai masuknya Islam ke Indonesia yang diselenggarakan pada tahun 1963 dan 1978, para peserta menyimpulkan bahwa Islam datang langsung dari Tanah Arab, bukan dari India.
Mereka juga berpendapat bahwa kedatangan Islam telah dimulai sejak abad pertama Hijriah atau sekitar abad ke-7 M, jauh lebih awal daripada teori Gujarat yang menempatkannya pada abad ke-12 atau ke-13.
Kesimpulan ini memperkuat pandangan bahwa proses islamisasi berlangsung secara bertahap selama beberapa abad.
Naquib al-Attas dan Kritik terhadap Teori Gujarat
Salah seorang pendukung paling berpengaruh dari Teori Arab adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Ia mengkritik penggunaan batu nisan Pasai dan Gresik sebagai bukti bahwa Islam berasal dari Gujarat.
Menurutnya, batu nisan memang mungkin dibuat di India karena pusat produksi batu berada di sana. Namun, asal batu nisan tidak otomatis menunjukkan asal para pembawa Islam.
Bagi Al-Attas, bukti yang lebih penting justru terdapat pada karakter Islam itu sendiri.
Ia mengkaji bahasa, istilah keagamaan, karya-karya intelektual, serta pandangan hidup masyarakat Melayu setelah menerima Islam.
Dari kajian tersebut ia menyimpulkan bahwa corak intelektual Islam di Nusantara sangat dipengaruhi oleh tradisi Timur Tengah, bukan tradisi India.
Bahkan menurutnya, banyak ulama yang selama ini dianggap berasal dari India ternyata memiliki latar belakang Arab atau Arab-Persia, baik secara etnis maupun budaya.
Dengan kata lain, jejak intelektual Islam Nusantara lebih banyak mengarah ke pusat-pusat keilmuan Islam di dunia Arab.
Apa Kata Historiografi Tradisional?
Selain bukti-bukti akademik modern, tradisi lokal Nusantara juga menyimpan narasi yang menarik.
Berbagai hikayat dan silsilah kerajaan secara konsisten menghubungkan awal islamisasi dengan para ulama dari Tanah Arab.
Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan bahwa Syekh Ismail datang dari Makkah melalui Malabar dan mengislamkan Merah Silu yang kemudian bergelar Sultan Malik al-Shalih.
Sejarah Melayu menyebut Sayyid Abdul Aziz dari Jeddah sebagai tokoh yang mengislamkan Parameswara, pendiri Kesultanan Malaka.
Hikayat Merong Mahawangsa mengisahkan Syekh Abdullah Yamani yang mengislamkan Raja Kedah.
Historiografi Aceh juga menyebut nama Syekh Jamal al-'Alam dan Syekh Abdullah Arif sebagai penyebar Islam di wilayah tersebut.
Demikian pula silsilah Kesultanan Sulu di Filipina yang menghubungkan islamisasi wilayah itu dengan para syarif keturunan Arab, seperti Syarif Karim al-Makhdum dan Sayyid Abu Bakar.
Di Pulau Jawa, tradisi Wali Sanga juga banyak dikaitkan dengan garis keturunan Arab, seperti Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, dan Maulana Malik Ibrahim.
Walaupun unsur legenda dalam sumber-sumber tersebut perlu dikaji secara kritis, keberulangannya di berbagai wilayah menunjukkan adanya ingatan kolektif masyarakat mengenai hubungan yang kuat antara islamisasi Nusantara dan dunia Arab.
Empat Pesan Penting Historiografi Tradisional
Jika dirangkum, historiografi tradisional Nusantara menyampaikan empat gagasan utama.
Pertama, Islam datang langsung dari Tanah Arab.
Kedua, penyebaran Islam dilakukan oleh para ulama dan dai yang memang memiliki misi dakwah, bukan semata-mata oleh pedagang.
Ketiga, para penguasa menjadi kelompok pertama yang memeluk Islam sehingga mempercepat proses islamisasi masyarakat.
Keempat, percepatan islamisasi berlangsung terutama pada abad ke-12 hingga abad ke-16, meskipun kontak antara Nusantara dan dunia Islam telah terjadi sejak abad ke-7.
Refleksi
Lalu, apakah Teori Arab sepenuhnya meniadakan peranan India?
Belum tentu.
Sebagaimana banyak proses sejarah lainnya, penyebaran Islam di Nusantara tampaknya tidak berlangsung melalui satu jalur saja.
Jalur perdagangan Arab, pesisir India, Persia, bahkan jaringan Asia Tenggara saling terhubung membentuk sebuah proses panjang yang berlangsung selama berabad-abad.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar "dari mana Islam datang?", melainkan "bagaimana Islam diterima dengan damai oleh masyarakat Nusantara?"
Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan islamisasi bukan semata-mata ditentukan oleh asal para pembawanya, tetapi oleh akhlak, ilmu, keteladanan, jaringan perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan kemampuan para ulama berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan kemurnian ajaran Islam.
0 komentar: